Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Roda Dua

Roda Dua

Artamara | Bersambung
Jumlah kata
42.5K
Popular
284
Subscribe
60
Novel / Roda Dua
Roda Dua

Roda Dua

Artamara| Bersambung
Jumlah Kata
42.5K
Popular
284
Subscribe
60
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalTeka-tekiBalas DendamPria Miskin
Setelah bekerja di luar negeri, Jono pulang. Bermaksud merawat orang tua dan berwirausaha. Namun, uang yang selama ini dikirimkan Jono pada keluarga disalahgunakan oleh kakak-kakaknya. Ibunya ternyata sakit dan pergi selamanya. Rumah warisan dan peninggalan orang tua juga dijual oleh saudaranya. Di tengah duka itu, Jono menemukan Roda Dua yang 'bernyawa' warisan mendiang sang ayah. Sejak itu, laki-laki ini di penuhi keberuntungan. Banyak wanita cantik mulai berdatangan, meminta dan bergantian ingin merasakan dibonceng di atas roda dua. Namun, ada sebuah misi besar agar warisan itu abadi yaitu mengumpulkan pecahan surat wasiat yang tersebar di seluruh Nusantara.
1

Suasana di dalam kabin, besi terbang ini terasa membosankan. Padahal, aku sudah memilih tiket kelas menengah yaitu premium ekonomi dalam penerbangan kali ini. Iya sedikit mahal memang, tetapi aku berharap fasilitas sebanding.

Belajar dari pengalaman saat berangkat dulu. Aku tidak mau mengulanginya lagi.

Lima tahun lalu, karena berangkat dengan biaya seadanya aku memilih kelas penerbangan paling terjangkau. Itupun, sudah terasa menjebolkan tabungan. Maklum, aku ke luar negeri dengan persiapan ala kadar. Pokok hati, niat merubah nasib, begitu saja. Entah, nasib yang seperti apa.

Karena nasib ternyata tidak bisa berubah seperti keinginan empunya subjek hidup begitu saja. Aku memang masuk via jalur resmi ketenagakerjaan, juga dengan sertifikat resmi bisa berbahasa internasional. Hanya tetap nekat karena visa yang kugunakan saat itu hanya via kunjungan, karena aku berangkat tidak pada waktu yang ditentukan. Tentu dari itu, ada batas waktu dalam regulasi internasional dan itulah kesalahanku.

Tujuanku ke luar negeri saat itu adalah bekerja. Merubah nasib. Mandiri. Meski awalnya Ikut tetangga. Namun, kalau visa kunjungan iya hanya berkunjung. Jadi meski diawal aku katakan resmi nyatanya aku seperti imigran gelap.

Sekitar empat mau lima bulan sebelumnya aku sudah belajar bahasa negara yang akan kutuju. Karena aku bisa dibilang nol protol dalam bahasa tersebut, maka aku selama sebulan harus belajar Bahasa Inggris terlebih dahulu sebagai dasar penyetaraan makna kata. Baru sekitar tiga bulan lebih terakhir, belajar bahasa negara yang akan aku tuju. Ribet memang, begitulah nasib orang yang tidak kebagian kecerdasaan seperti Presiden pertama atau ketiga Republik Indonesia yang konon, katanya bisa lebih dari 4 bahasa internasional.

Nasib buruk tidak masuk dalam kalender. Baik kalender masehi atau kalender bulan.

Pertama datang, aku diberi tahu bahwa tetanggaku bisa memasukan aku ke tempat kerjanya. Dia bilang negara itu tidak ada bedanya dengan Indonesia yang pasti ada saja orang dalam.

“Pokoknya kamu ikut dan datang saja, lagi butuh tenaga kerja banyak. Gak harus profesional atau punya keahlian tertentu, niat saja mereka sudah di hargai bro.” begitu tutur Purnomo, tetanggaku yang selisih sekolah dulu 3 tingkat denganku. Dia kelas 4 aku baru masuk SD. Tetapi kami akhirnya lulus bersama karena dia tidak naik kelas beberapa kali.

Dari itu aku sih yakin kalau, maaf. Orang yang seperti Purnomo saja bisa sukses, pasti aku juga. Motivator di televisi berita berwarna biru itu bukankah selalu bilang begitu, bukan?

“masak gak ada syaratnya, bang?” Tanyaku setengah tidak percaya. Purnomo melirik, lalu tersenyum kecut. Beneran, matanya menyipit dan hidungnya bersungut. Lalu, melempariku rokok Surya Gudang Garam satu bungkus begitu saja.

“Wah, sukses benar nih orang.” Batinku kala itu.

“begini saja, kamu sudah kursus dan dapat sertifikat bukan? Besok ngurus paspor dan VISA bersamaku. Aku bantu semua, sampai beres, aku ada orang kenalan di imigrasi.” Ucap Purnomo lagi dengan begitu yakin. Bibirnya menggelap karena asap.

“hee? Ya jangan besok lah bang. Aku belum siap, ibuku juga harus aku pastikan mengizinkanku. Kau tahu sendiri begitu loh, bang kalau kesehatan ibuku semakin menurun, sudah gak bisa jualan lagi.”

“Aku Cuma dapat izin cuti seminggu karena emakku meninggal, itu saja izinnya susah bukan main, setelah itu ya harus kembali lagi. Mereka itu butuh tenaga kerja yang harus mau bekerja penuh waktu. Jadi…”

Purnomo menghentikan penjelasan sejenak. Mulutnya mulai dimasuki sebatang rokok lagi, lalu tangannya seperti kesulitan memasukan ke saku celana. Aku tahu dia mencari harta karun perokok disana.

“Sial, gak ada lagi korekku, mana sudah mati rokok yang tadi.” Umpat Purnomo begitu dia frustasi mencari benda itu di semua saku. “Lek Nur, korek satu.” Ucap Purnomo pada Bu Nur, penjual kopi.

“jadi apa bang?” Tanya penasaran.

“Korekmu hilang lagi? senang aku. Kamu disini tiga hari, korek satu dusku sudah kebeli setengah.” Kata Bu Nur seraya memberikan korek api ke Purnomo.

“Dibawa Jono lagi korekku, tangan panjang memang nih anak dari dulu.” Kata Purnomo sembari mencoba menyalakan korek. “jreng,, hitung semua tagihanku hari ini. Aku abis dari ATM tadi, biar sekalian kubayar.”

Purnomo mengeluarkan dompet, kulirik sejenak. Isi dompet itu tebal dan mayoritas berwarna merah biru.

“jangan ngintip, benjol nanti matamu.” Ucap Purnomo, lalu menggerakan dompetnya ke arah lain.

“Kalau aku suka mencuri, sudah hilang dari tadi uang di dompetmu. Ngapain juga aku ambil korek yang harganya paling dua ribu.” Sahutku kemudian, sedikit kesal.

Purnomo terkekeh, asap di mulutnya mulai menguar. Dikeluarkan beberapa lembar uang dari dompet lalu berjalan ke arah Bu Nur, berbincang sebentar lalu kembali ke arahku sambil tertawa lebar. Dia memang gila pujian sejak dulu.

“Nih, buat tambahan beli rokok. Itung-itung persenan karena kamu dulu mengantarku ke terminal.” Kata Purnomo memberikan tiga lembar uang berwarna biru padaku.

“lanjutkan yang tadi, jadi bagaimana?” Aku masih penasaran.

“Iya mereka sedang kurang tenaga kerja, butuh banget tenaga daru negara kita. Makanya masuk mudah, hanya keluar nanti susah. Mereka pasti melarang kita kembali ke Indonesia begitu saja, siap-siap kamu harus merelakan kewarganegaraan.“

“Wah, Ibuku bagaimana kalau mau pulang saja susah begitu? Kau tahu sendiri aku anak terakhir Pur.”

“Jelaskan pada kakak-kakakmu itu, mereka masih sehat dan bisa diandalkan. Jangan terpaku kalau anak terakhir harus terkungkung dirumah. Ini sudah zaman modern bro. Toh, kalau dirumah hanya jadi beban keluarga saja, untuk apa? Laki-laki harus merantau. Biar tahu kalau burungmu bukan untuk kencing saja. ”

Purnomo memang selalu berotak miring sejak masih kecil, sekarang tak ubah beda.

Laki-laki berjambang tipis itu masih menyebulkan asap rokok, aku terbatuk. Aku juga perokok, hanya tidak seaktif Purnomo yang sehari bisa sampai 4 bungkus. Terlebih, aku tidak tahan dengan asap rokok kretek.

“Nih lihat, aku beberapa kali jumpa mereka disana. Kamu kalau kerja ikut aku, bakalan gak ada kesempatan buat tidur tuh adikmu.” Terang Purnomo sembari menujukan layar ponselnya padaku.

Aku mendekat, penasaran dengan apa yang dimaksud Purnomo. Di layar pipih dengan cahaya yang terang tersebut muncul beberapa foto perempuan cantik-cantik yang hanya mengenakan atasan beha saja. Beberapa wajah di depan aku hafal, eh kenal, eh..maksudnya… aku tahu.

“Ini Eimi Fukada, kiri Sora Aoi, tengah itu Ai Uehara,” Ucap Purnomo lalu menggulir layar kembali, rokok itu tetap tidak lepas dari mulutnya, “Ini Meguri, tengah Kanna Seto, kanan Ako Kimura.”

Aku menelan ludah, Purnomo lebih hafal dariku ternyata.

“Kamu pernah ketemu mereka semua, Pur?” Tanyaku penasaran. Jelas, semua nama yang disebutkan tadi artis terkenal. Maksudku, terkenal bagi yang mencari tahu. Eeh, jangan dicari tahu.

“Aku?” Purnomo menoleh padaku dengan mata yang memicing sebagian.

“Iya, kamu pernah ketemu dengan mereka semua? Atau salah satu?”

“Kamu ini bagaiaman sih Jon? Ngapain harus ditanyakan, mereka satu negara denganku di tempat kerja sana. Iya jelaslah.” Jawab Purnomo dengan sombong.

Aku menggeleng. Menyangsikan ucapan Purnomo itu.

“Pur…aku tinggal di Indonesia juga sudah lebih dari 18 tahun. Di Indonesia juga ada Luna Maya, Chelsea Islan, Dian Sastro, Pevita Pearce, Syifa Hadju, Prilli dan siapalah seleb instagram itu yang suka bilang manjah…Tetapi aku belum pernah ada yang ketemu mereka Pur. Aku setiap hari loh di Indonesia, belum pernah meninggalkan negara ini.” Jelasku, setengah jengkel.

Kuambil rokok yang tadi diberikan Purnomo dan menyulutnya sebatang. Masih kesal aku sama Purnomo.

Memang dari dulu, jawaban Purnomo selalu seperti itu. Aku sudah berteman dengannya sejak kecil, makan dari itu aku hafal. Dia pandai mendongeng, tetapi terkadang masuk akal atau akal bisa masuk di cerita.

Mendengar aku yang kesal, Purnomo tidak merasa bersalah.

“besok kita ke kantor imigrasi, dan kamu harus ke Jepang bersamaku. Selebihnya, biar aku yang urus. Beres.” Tutup Purnomo dengan segera mengambil kunci sepeda motor Honda Scoopy Hijau dan meninggalkanku di kursi panjang warung Bu Nur.

Srkk…

“Mohon perhatian, penumpang yang kami hormati, sebentar lagi pesawat akan tiba di Bandara Internasional Djuanda Surabaya di Sidoarjo….”

Lanjut membaca
Lanjut membaca