

Teriakan yang menggema di lobi sekolah itu berhasil memancing para siswa dan siswi semakin berdatangan. Bahkan, wajah para guru kali ini, berhasil membuat siapapun akan terpaku karna sifat ekspresinya yang memberikan kesan lucu. Laki-laki beralis tebal yang di stick pada ujung nya itu berhasil membuat manusia-manusia di sekolah ikut meringis kesakitan. Vredan, laki-laki sawo matang yang sudah terkenal jauh di kota N-gaur-A, dengan uang serta kekayaan nya yang sangat melampau tinggi. Tidak bekerja seperti layak nya anak muda di sekolah LIBA tersebut, Vredan hanya bertugas menghabiskan hasil kerja orang tua nya yang tersisa.
"Biar gua ingetin, Vredan Aragac, orang yang gak bisa lo sentuh walaupun pake ujung rambut, lo..!!!! SE-KA-LI-PUN"
Ucap seorang laki-laki dengan anting bintang ditelinga kiri nya itu, seraya menepuk-nepuk pipi siswa yang sedang merasa sangat kesakitan dengan punggung tangan kanan nya itu.
"Jadi ini mau di gimanain, Vred??"
"Lepasin, gua lagi capek"
"Damn! Beruntung banget lo, hari ini.."
"Woyyy mana OSIS nih?? bawa noh ke rumah sakit, kasian"
Teriak nya keras seraya langsung mengekori laki-laki yang mereka sebut-sebut sebagai, Vredan Aragac.
***
"Lo pergi aja"
suara nya terdengar lirih. mungkin tak akan bisa membuat orang menyangka, bahwa, lirih nya seperti... Melelahkan. Tempat yang tak akan ada orang datang karna, siapa yang masih tak tahu, bahwa rooftop adalah tempat yang seakan sudah menjadi milik Vredan. Tak akan ada yang berani datang. Bahkan menurut mereka, angin nya bukan lah sejuk, tapi mematikan. Seperti yang di kabarkan. Vredan memang orang yang sangat keras, tanpa ampun, dan selalu memanjakan egois nya. Tak ada yang ingin menjelaskan, dan tak ada yang ingin mendengarkan. Menyebut nama nya saja, sudah seperti memanggil kematian. Tampan, namun seperti tak ada kuman penyayang dalam diri nya. Sorot mata nya berkaca-kaca.
"Bahkan di setiap detik nya, gua masih sendirian"
Sorot matanya seakan menggenang. Senyum nya mengembang seraya menghisap rokok yang ada di sela jari telunjuk dan jari tangan nya.
"Semoga di sisa hidup gua nanti, ada lo yg buat kesan nya jadi lebih baik"
Asap rokok nya mengepul. Kepala nya kembali mendongak setelah menatap se ekor anak anjing lucu di bawah tempat nya berdiri.
***
Rumah besar yang hanya di tinggali satu orang itu, terlihat sangat mencekam. Lampu rumah yang hanya hidup untuk menerangi lorong-lorong dan tangga-tangga yang menuju pada setiap lantai, benar-benar membuat kesan horor pada siapapun yang baru datang. Vredan berjalan menuju kamar besar nya di lantai tujuh. Terlihat mengada-ada, namun rumah besar Vredan memanglah berdiri kokoh di pinggiran kota N-gaur-A itu. Di buka nya perlahan pintu besar berwarna hitam polos itu. Setiap sudut rumah nya tak perlu di lihat detail oleh para manusia-manusia yang baru masuk. Pada intinya, hanya tentang hitam dan abu-abu. Sorot mata Vredan membulat. Urat leher nya semakin terlihat timbul. Di buka nya laci hitam yang berada tepat di samping tempat tidur nya. Lagi-lagi berwarna hitam. Entah Vredan yang menyuruh orang untuk membuat pil serta wadah pil nya berwarna hitam. Namun, ini sangat lah tidak masuk akal. Seperti bukan hanya menyukai hitam, namun lebih terlihat, obsesi. Nafas nya seakan tercegat. Laki-laki bermata hooded itu terlihat sangat tersiksa. Beberapa kali ia terus mencengkram erat kerah baju mandi nya. Namun entah kenapa, kuasa untuk menahan rasa sakit nya itu sudah tidak ada sama sekali. Padahal semua orang tau. Teriakan menggema di setiap lorong rumah besar milik keluarga Aragac itu. Para pekerja yang sudah terbiasa mendengar nya hanya bisa menetralkan ekspresi dan ketenangan emosinya. Vredan duduk di tepi kasur nya dengan mulut dan hidung yang terus saja dengan sekuat tenaga menetralkankan nafas pada paru-paru nya. Kelopak matanya terbuka lebar. Pupil matanya terlihat hitam pekat pada beberapa titik detailnya.
"Damn!!! Gua lagi capek"
Nafas nya kembali tenang, tubuh nya tak lagi merasakan bergetar. Seperti merasa, sudah biasa, namun sakit nya tetap terasa. Malam kali ini terlihat lebih sunyi, dan lebih, sendiri. Tak ada siapapun yang datang, tak ada siapapun yang menunjukkan sayang, dan tak ada siapapun di rumah ini, walaupun hanya sekedar mengajak nya berbincang. Cara jalan yang pelan dan sedikit lunglai itu, pasti akan membuat orang yang melihatnya berfikir, bahwa dia laki-laki gila yang sedang putus asa. Pohon-pohon besar serta dedaunan yang terus saja di peluk angin berhasil membuatnya sedikit tenang mengikuti alunan angin nya. Ada banyak yang hal didunia ini, yang dari pada disyukuri malah lebih pantas untuk di sesali. Tidak, ini bukanlah sebuah dukungan untuk membenci. Hanya ketidak terimaan pada takdir yang terus saja mempermainkan. Jika setiap orang bisa meminta, setidaknya, ada sekitar, tujuh puluh satu persen orang yang menolak untuk hidup. Jika sudah begitu dalam tersakiti, lantas apa yang harus di syukuri. Pikiran-pikiran itu terus saja membuat Vredan kelelahan. Hidupnya kali ini, seakan, hidup adalah mati, dan mati sama dengan hidup.
"Tapi kalo gua mati, siapa yang mau ngabisin uang sebanyak ini? Segini banyak kagak mungkin selalu gua bagi-bagiin dengan cara percuma..?"
Gumam nya yang semakin terdengar lucu. Banyak sebagian besar orang yang memiliki sifat cenderung pendiam seperti Vredan memilih untuk mati tanpa memikirkan apa pun. Bahakan orang tua, pun tak memiliki tempat dalam hidup nya. Vredan menyunggingkan senyum tipis nya seraya mengacak-acak rambut kepala nya pelan.
"Jika pada angin kita meminta tenang, maka pada mati, mintalah kedamaian"
"Bjirrrr....! Puitis banget lo. Bukan nya tidur, udah malem juga..!!"
Sedikit terkejut, namun Shaka memang selalu mengunjungi Vredan setiap malam nya. Sebagai teman masa kecil yang sudah sangat mengerti, serta begitu memahami keadaan Vredan, Shaka selalu saja berusaha menjaga dan jika bisa, ia terus saja mengusir sepi yang masih berada sebagain dalam ruang bayang Vredan. Tawanya terkekeh pelan.
"Becanda doang gua, Vred.. kagak usah di ambil serius gitu dongg... Mana ngeliatin nya mirip banget apa gua ngeliatin soal matematika. kagak usah MELOTOT."
Bibir nya terkatup rapat. Namun Shaka sudah sangat mengerti. Vredan bukanlah orang yang mudah bergaul karna memang dia tipe orang yang tidak akan berbicara jika tidak ada rasa aman dan, nyaman. Namun, lagi-lagi sebagai teman yang sudah sangat mengetahui bagaimana perjalanan Vredan bisa sampai sebesar ini. Dia begitu bersyukur, karna pendiam seperti Vredan masih mau berteman dengan nya. Maka dari itu, Shaka terus saja berusaha melindungi dan menjaga Vredan layak nya seorang adik, karna memang umur nya, berkisar lebih tinggi dari umur Vredan. Langkah pelan berjalan menuju kamar Vredan dengan mangkok dan sendok yang barusan ia ambil sebelum menyusul Vredan.
"Lo makan yak... Gua gak bisa nyuapin lu,karna gua masih lurus" ucap nya yang disusul kekehan pelan.
"Sat!!! Lo pikir gua apaan??.."
"Becanda tuan muda Aragac, kenapa melolot mulu dah!!!..."
"Pulang sana, gua mau tidur...!"
"Iya, iyaaa tuan muda Aragac, hamba pamit dulu. Ini bubur ayam kesukaan tuan. Mohon di makan."
Ucap Shaka yang lagi-lagi bercandanya membuat Vredan geram. Jika itu orang lain, maka bersiaplah untuk kehilangan bagian dalam mulut nya. Tapi ini adalah, Shaka. Orang yang selalu menemani nya pada setiap keadaan yang ada.
"Thanks, Sha. Nanti kalo gua udah nemuin orang yang bisa rawat gua. Lo pasti beristirahat dari tanggung jawab ini...!!!"
Lirih Vredan seraya melangkah mepelan menghampiri mangkok bubur tersebut.