

'Duaarrr!'
Alistair yang sedang meneliti sebuah senjata pemusnah masal, sama sekali tidak pernah menyangka kalau senjata di tanganya akan meledak tiba-tiba dan dia tidak sempat untuk mengelak.
Tubuhnya langsung hancur menjadi serpihan ketika senjata yang sedang ditelitinya itu meledak.
Ketika sadar, Alistair merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
Dia mengeratkan gigi untuk menahan rasa sakit yang menusuk dan membuatnya merasa seperti ingin pingsan kembali.
Terdengar suara makian dan bentakan kasar dari seorang pria berbadan besar disertai suara lecutan cambuk yang terus menghantami tubuh Alistair.
"Sial, siapa di dunia ini yang masih menggunakan cambuk sebagai senjata? Benar- benar terbelakang sekali," gumam Alistair tanpa sadar sambil mengerutkan keningnya menahan rasa sakit.
"Kamu terbelakang! Nenekmu terbelakang!" seru Kiera, pria yang sedang mencambukinya dengan nada marah.
Jika bukan karena perintah tuannya, mana mungkin dia melewatkan kesempatan untuk membunuh Jenderal Kerajaan musuh yang telah membunuh kakak kandungnya ini.
Dengan kesal dia kembali mengikatkan cambuknya ke pinggang ketika melihat Alistair kembali pingsan.
"Huh!" dengusnya seraya menendang tubuh Alistair dengan mimik jijik.
Setelah Kiera meninggalkan tenda tempat Alistair ditahan, sesosok wanita mendekati tubuh Alistair yang tergeletak di tanah dan berlumuran darah.
Wanita itu adalah Sina, salah satu pengagum Alistair dari Kerajaan Astrape yang menyamar menjadi prajurit Alistair dan sekarang menyamar sebagai pelayan samping kamar tidur Pangeran Aris.
Dia merelakan dirinya mendapatkan pelecehan dari Pangeran Aris yang memiliki kelainan seksual dan hoby mengumpulkan wanita cantik untuk membantu melepaskan Jenderal idolanya dari tahanan musuh.
"Jenderal," panggil Sina di telinga Alistair. Dia membalikkan tubuh Alistair dan memeriksa pernapasan dan denyut nadinya.
"Syukurlah ...."
Sina menghela napas lega ketika mendapati Alistair masih bernapas walaupun telah menerima puluhan cambuk dari Wakil Jenderal Kerajaan Lea (Kerajaan yang merupakan musuh bebuyutan Kerajaan Astrape).
Dia memberikan air kepada Alistair setelah melihatnya kembali siuman.
"Siapa kamu?" tanya Alistair waspada.
"Aku Sina, aku rakyat Astrape yang menyamar ke Kerajaan Lea untuk membantu Jenderal melepaskan diri."
Alistair terdiam. Dia mencoba mencerna kata-kata wanita yang mengaku bernama Sina di hadapannya.
Sejak kapan di bumi modern ini berdiri sebuah Kerajaan?
Pakaian wanita di hadapannya ini juga terlihat kuno sekali hingga membuat Alistair menyangsikan kalau dirinya sekarang benar-benar masih berada di dunia nyata.
Dia merasa seperti sedang bermain film kolosal.
Tanpa sadar Alistair berusaha mengangkat tubuhnya yang letih dan melihat pakaiannya sendiri.
" ... "
Dia benar-benar memakai pakaian perang yang kuno dan sangat berat.
Alistair merasakan beberapa kenangan yang bukan miliknya mulai memenuhi kepalanya.
Jadi, saat ini dia telah masuk ke dalam tubuh seorang Jenderal Kerajaan Astrape yang juga bernama Alistair.
Sebelumnya, Jenderal Alistair diperintahkan oleh Pangeran Erick untuk masuk ke wilayah musuh dan memata-matai mereka.
Sebenarnya tugas ini bukan merupakan tugasnya. Alistair sangat sadar kalau tugas ini benar-benar berbahaya untuk dia lakukan seorang diri.
Ini sama saja seperti melemparkan Mentri ke wilayah musuh tanpa perlindungan dan strategi yang jelas di dalam sebuah permainan catur.
Jika tugas ini hanya dilakukan oleh seorang pion atau mata-mata, pihak musuh tidak akan memberikan hukuman yang berat dan kejam.
Berbeda dengan dirinya yang merupakan seorang Jenderal dan jelas-jelas dibenci oleh pihak musuh.
Sebab, dia telah berulang kali mengakibatkan kerugian pada pihak musuh dan melakukan pembunuhan beberapa Jenderal mereka saat saling berhadapan di medan perang.
Alistair tidak pernah memberikan kesempatan hidup untuk siapapun yang menjadi lawannya saat dia sedang berada di medan perang.
Itu sebabnya Alistair sadar, kalau dia sampai tertangkap oleh pihak musuh, sudah dapat dipastikan kalau mereka juga pasti akan membalas dendam kepadanya.
Namun, walaupun tahu apa yang diperintahkan oleh Pangeran Erick itu berbahaya, Alistair tetap melaksanakan perintah Pangeran Erick tanpa membantah. Baginya ketaatan tanpa batas kepada pimpinannya itu adalah hal yang mutlak.
'Cih! Ketaatan tanpa batas kepada pimpinan, benar-benar bodoh sekali,' batin Alistair berdecih sinis.
Sepertinya otak Jenderal Alistair ini benar-benar sudah rusak. Bisa-bisanya dia mentaati dogma sesat seperti itu.
Bagaimana kalau pimpinannya menyuruh dia masuk ke dalam jurang? Apakah dia akan tetap masuk?
Sekarang dirinya terperangkap di kamp musuh dan berakhir disiksa oleh mereka. Apakah Pangeran sialan itu peduli?
Ini sudah hari kesekian dia berada dalam tawanan musuh, bisa dipastikan kalau pihak Pangeran Erick sama sekali tidak melakukan upaya apapun untuk membebaskannya dari tawanan pihak musuh.
"Jenderal ... Pangeran Erick telah bersekutu dengan Pangeran Aris dari Kerajaan Lea untuk merebut tahta," bisik Sina lagi setelah melihat Jenderal Alistair lama terdiam.
"Dari mana kamu mendapatkan kabar itu?"
"Hamba mendengar langsung pembicaraan Pangeran Aris dengan Panglima Perang negaranya," kata Sina sungguh-sungguh.
Alistair berdecak di dalam hati. Benar-benar sial, bisa-bisanya Pangeran Erick yang merupakan Pangeran Kerajaan Astrape dan Panglima Perang malah berbalik bersekutu dengan musuh!
"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Jenderal?"
"Bisakah kamu mendapatkan denah pertahanan kamp milik musuh kita ini?"
"Aku akan berusaha."
"Bagus ... terima kasih," bisik Feng Alistair seraya menatap Sina tanpa lepas hingga membuat Sina tersipu.
Alistair ingin mengingat dan mengukir wajah wanita pemberani yang berdiri di hadapannya saat ini.
Wanita yang terlihat lemah ini tanpa diduga rela mengorbankan diri demi bangsa dan negaranya.
Di saat banyak wanita berlindung di dalam rumah di balik punggung suami dan orang tua laki-laki mereka, Sina malah memutuskan untuk memasuki kamp musuh dan menyamar sebagai pelayan dan membantunya.
Sina meninggalkan Alistair dengan hati riang. Dia senang bisa membantu Jenderal idolanya.
Sina bertekad untuk bisa mendapatkan peta pertahanan yang dibutuhkan oleh Jenderal Alistair secepatnya.
Di Kerajaan Astrape ....
Raja Arnold terlihat cemas dan kusut.
Berita penangkapan Jenderal Alistair oleh pihak musuh telah sampai ke telinganya.
"Ini benar-benar sial, mengapa Alistair begitu ceroboh? Bisa-bisanya dia masuk ke dalam perangkap musuh semudah itu," gerutu Raja Arnold kesal.
Raja Arnold khawatir Kerajaan bawahannya mendengar berita ini juga lalu menuntut kemerdekaan negaranya yang telah lama berada dalam kekuasaan Kerjaan Astrape.
"Raja ... ini tidak baik!"
Bobby, orang kepercayaan Raja Astrape bergegas masuk ke dalam aula dengan membawa sepucuk surat.
"Apa yang tidak baik?"
"Kerajaan Sienna ingin meminta kemerdekaannya."
"Apa katamu?" tanya Arnold terhenyak di tempat duduknya dan hampir pingsan karena marah dan terkejut.
"Hamba tadi bertemu dengan si kurir yang mengirimkan surat ini. Dengan sedikit suap dia memberitahukan kepada hamba kalau rajanya ingin menuntut kemerdekaan dari Astrape. Itu sebabnya Briyan, Raja Kerajaan Sienna mengutus dirinya untuk menyampaikan surat ini," jelas Bobby serius.
"Sial! Apa yang aku takutkan benar-benar menjadi kenyataan. Cepat panggil Pangeran Erick, suruh dia datang menghadap ku!" kata Raja Arnold tanpa dapat menyembunyikan rasa frustasinya.
"Siap!"