Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pria Menulis Takdirnya Sendiri

Pria Menulis Takdirnya Sendiri

mawarhirang94 | Bersambung
Jumlah kata
50.4K
Popular
100
Subscribe
17
Novel / Pria Menulis Takdirnya Sendiri
Pria Menulis Takdirnya Sendiri

Pria Menulis Takdirnya Sendiri

mawarhirang94| Bersambung
Jumlah Kata
50.4K
Popular
100
Subscribe
17
Sinopsis
FantasiIsekaiHaremUrbanBalas Dendam
Raka Wiradama adalah pria yang pernah dihancurkan oleh kegagalan dan penghinaan. Hidupnya berubah ketika ia menemukan sebuah buku misterius yang mampu mewujudkan apa pun yang ia tulis di dalamnya. Dari karyawan rendahan menjadi pengusaha sukses dalam waktu singkat.Dalam perjalanannya, Raka bertemu dengan Aurelia, wanita cerdas pewaris perusahaan besar yang membencinya di awal.Nayla, gadis sederhana yang ia tolong dari kebangkrutan keluarganya.Clara, model terkenal yang menyimpan luka masa lalu.Rania, mantan yang dulu menolaknya dan kini menyesal.Namun kesuksesan Raka tidak datang tanpa konsekuensi. Setiap perubahan takdir menciptakan retakan di kehidupan orang lain. Ia mulai menyadari bahwa buku itu bukan sekadar alat keberuntungan. Itu adalah ujian.Saat rahasia buku terbongkar, Raka harus memilih:Menjadi pria paling berkuasa…Atau menjadi pria yang benar-benar dicintai.Di antara ambisi, cinta, pengkhianatan, dan plot twist yang tak terduga, Raka akan belajar bahwa takdir bukan hanya tentang kekuasaan. Tapi tentang siapa yang tetap berdiri di sisinya ketika segalanya runtuh.
Bab 1 Dipecat dan Dihina

Langit Jakarta siang itu cerah. Terlalu cerah untuk hari yang akan menghancurkan hidup Raka Wiradama.

Ia berdiri di depan gedung kaca 32 lantai tempat ia bekerja selama lima tahun terakhir. Logo perusahaan properti itu berkilau terkena matahari, seolah mengejek siapa pun yang berdiri di bawahnya tanpa kuasa.

Raka merapikan dasinya.

Hari itu ia datang lebih awal. Ia tidak tahu bahwa itu adalah kali terakhir ia masuk sebagai karyawan.

---

Flashback — Tiga jam sebelumnya.

“Mas Raka, Pak Direktur minta Anda ke ruangannya sekarang.”

Nada suara sekretaris itu datar. Terlalu datar.

Raka sempat bercanda kecil.

“Wah, jangan-jangan mau naik jabatan nih.”

Sekretaris itu tidak tersenyum.

Seharusnya sejak saat itu ia sadar ada yang tidak beres.

Lorong menuju ruang direktur terasa lebih panjang dari biasanya. Setiap langkahnya memantul di lantai marmer, seperti hitungan mundur menuju eksekusi.

Tok.

Tok.

Tok.

“Masuk.”

Ruangan itu luas. Dingin. Terlalu rapi. Di dalamnya sudah ada tiga orang: Direktur Utama, manajer keuangan, dan—yang paling membuat jantungnya bergetar—Rizky.

Sahabatnya sendiri.

Raka tersenyum kecil.

“Loh, Ky? Ngapain di sini?”

Rizky tidak menatapnya.

Direktur membuka map merah.

“Raka Wiradama. Anda dituduh menggelapkan dana proyek Cendana Residence sebesar 2,3 miliar rupiah.”

Seisi ruangan terasa sunyi.

Raka bahkan tidak langsung mengerti kalimat itu.

“…Maaf, Pak?”

Manajer keuangan mendorong beberapa lembar dokumen ke hadapannya.

“Tanda tangan ini milik Anda, bukan?”

Raka menatap kertas itu.

Itu memang tanda tangannya.

Tapi angka-angka di sana… bukan angka yang ia setujui.

“Ini salah. Ini bukan.”

“Bukti transfer juga ada,” potong direktur dingin.

Raka menoleh ke Rizky.

“Kamu tahu kan proyek itu dipegang bareng? Kamu tahu ini nggak masuk akal.”

Rizky menelan ludah. Lalu berkata pelan, tanpa menatapnya,

“Semua bukti mengarah ke kamu, Ka.”

Seperti petir menyambar.

Seketika Raka paham.

Ia sedang dikorbankan.

---

Alur mundur — Dua bulan sebelumnya.

Proyek Cendana Residence adalah proyek terbesar yang pernah mereka pegang. Raka dan Rizky bekerja siang malam. Bahkan sering tertidur di kantor.

“Kalau proyek ini sukses, kita naik jabatan bareng,” kata Rizky waktu itu sambil tertawa.

Raka percaya.

Ia selalu percaya pada sahabatnya.

Ia tidak tahu bahwa pada saat yang sama, Rizky diam-diam sudah membuat kesepakatan dengan salah satu komisaris.

Satu tanda tangan palsu.

Satu aliran dana yang diputar.

Dan satu kambing hitam.

---

Kembali ke ruang direktur.

“Saya tidak pernah ambil uang itu,” suara Raka mulai bergetar, tapi tetap tegas.

Direktur menutup mapnya.

“Perusahaan tidak ingin kasus ini sampai ke polisi. Jika Anda menandatangani surat pengunduran diri hari ini, kami tidak akan menuntut.”

Itu bukan pilihan.

Itu ancaman yang dibungkus belas kasihan.

Raka memandang satu per satu wajah di ruangan itu.

Tak ada yang membelanya.

Tak ada yang ragu.

Bahkan tidak ada yang peduli.

Tangannya gemetar saat memegang pena.

Lucu.

Selama ini ia bangga dengan tanda tangannya. Ia merasa dewasa setiap kali menorehkan tinta di dokumen besar.

Dan hari itu, tanda tangan itu menjadi simbol kehancurannya.

Ia menandatangani.

---

Kabar itu menyebar lebih cepat dari gosip artis.

Saat ia keluar dari ruangan, bisik-bisik mulai terdengar.

“Katanya gelapin dana.”

“Padahal kelihatannya alim.”

“Ya ampun, tega banget sih.”

Ada yang pura-pura sibuk. Ada yang terang-terangan memandang rendah.

Seseorang bahkan tertawa kecil.

Raka berjalan lurus.

Ia menahan semua emosi di tenggorokan.

Sampai seseorang memanggil.

“Mas Raka!”

Ia menoleh.

Dinda.

Wanita yang selama ini ia perjuangkan. Wanita yang ia rencanakan untuk ia lamar akhir tahun ini.

Wajah Dinda terlihat panik.

“Itu nggak bener kan? Kamu nggak mungkin.”

“Enggak,” jawab Raka cepat.

Dinda terdiam.

Beberapa detik yang terasa seperti satu abad.

Lalu kalimat itu keluar.

“Tapi semua bukti ada atas nama kamu, Ka…”

Nada suaranya berubah.

Bukan lagi penuh percaya.

Tapi penuh ragu.

Dan keraguan itu lebih menyakitkan daripada tuduhan direktur.

“Aku bisa jelasin.”

“Papa pasti nggak akan setuju kalau kamu terlibat kasus kayak gini.”

Kalimat itu seperti palu terakhir.

Bukan “aku percaya kamu”.

Bukan “aku di pihakmu”.

Tapi tentang restu papanya.

Raka tersenyum tipis.

Senyum paling pahit dalam hidupnya.

“Jadi kamu percaya mereka?”

Dinda tidak menjawab.

Dan diamnya adalah jawaban.

---

Sore itu, Raka keluar dari gedung dengan kotak kardus berisi barang-barangnya.

Satu foto keluarga.

Satu cangkir bertuliskan “Best Project Leader”.

Dan satu surat pengunduran diri.

Satpam yang biasa menyapanya kini hanya mengangguk canggung.

Di parkiran, ia melihat Rizky berdiri di dekat mobil barunya.

Mobil yang bahkan belum pernah ia ceritakan pada Raka.

Rizky mendekat pelan.

“Maaf, Ka. Ini bukan personal.”

Raka tertawa kecil.

Bukan tawa bahagia.

Tawa seseorang yang baru sadar hidupnya cuma bahan transaksi.

“Bukan personal?” ulangnya pelan.

“Kamu hancurin hidup gue, dan bilang ini bukan personal?”

Rizky menghela napas.

“Kalau bukan kamu, yang jatuh gue.”

Kejujuran itu justru lebih kejam.

Raka mendekat, menatap sahabatnya tepat di mata.

“Semoga lo bisa tidur nyenyak.”

Lalu ia pergi.

---

Malamnya, ia duduk sendirian di kamar kontrakannya.

Kipas angin berdecit. Lampu berkedip pelan.

Ia menatap langit-langit.

Lima tahun kerja keras.

Lembur tanpa dibayar.

Mengorbankan waktu, tenaga, bahkan kesehatan.

Semua runtuh dalam satu hari.

Ponselnya berbunyi.

Pesan dari Dinda.

“Kita sebaiknya jaga jarak dulu ya, Ka. Sampai semuanya jelas.”

Ia menutup mata.

Lucu.

Saat ia masih punya jabatan, semua terasa hangat.

Saat ia jatuh, bahkan cinta pun ikut menjauh.

Raka bangkit, mengambil foto dirinya dan Dinda dari meja.

Ia menatapnya lama.

Lalu meletakkannya kembali.

Tidak dibuang.

Belum.

Hujan mulai turun.

Suara rintiknya menabrak atap seng, seperti ribuan ejekan kecil dari langit.

Raka keluar kamar.

Tanpa payung.

Tanpa arah.

Ia berjalan menyusuri trotoar, membiarkan air membasahi wajahnya.

Orang-orang berlari menghindari hujan.

Ia justru melangkah semakin dalam.

Di taman kota yang hampir kosong, ia duduk di bangku kayu tua.

Dadanya sesak.

Bukan karena kehilangan pekerjaan.

Tapi karena kehilangan harga diri.

Ia menatap tangannya sendiri.

“Tangan ini nggak pernah nyolong…”

Bisiknya pelan.

Dan untuk pertama kalinya sejak sore tadi, air mata jatuh.

Bercampur hujan.

Tak ada yang tahu.

Tak ada yang peduli.

Di kejauhan, kilat menyambar.

Dan di samping bangku tempat ia duduk, sesuatu tergeletak.

Sebuah buku tua berwarna cokelat.

Basah oleh hujan.

Seolah menunggunya.

Raka menoleh perlahan.

Ia belum tahu…

Bahwa malam kehancurannya adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Dan penghinaan hari ini…

akan menjadi bahan bakar untuk takdir yang belum pernah ia bayangkan.

Bab ini belum mengubah hidupnya.

Tapi telah menghancurkannya.

Dan kadang…

untuk membangun sesuatu yang besar,

Tuhan membiarkan semuanya runtuh terlebih dahulu.

Bersambung…

Lanjut membaca
Lanjut membaca