Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Nocturnal

Nocturnal

Sagitarius | Bersambung
Jumlah kata
33.0K
Popular
100
Subscribe
6
Novel / Nocturnal
Nocturnal

Nocturnal

Sagitarius| Bersambung
Jumlah Kata
33.0K
Popular
100
Subscribe
6
Sinopsis
18+PerkotaanAksiPertualanganMafiaBadboy
Tentu, ini adalah sinopsis untuk cerita urban noir "NOCTURNAL", berdasarkan pengembangan cerita dan visual sampul yang telah dibuat. SINOPSIS: NOCTURNAL Di bawah guyuran hujan dan cahaya neon Jakarta yang tak pernah tidur, Aris, seorang pemuda berusia 23 tahun, memilih hidup di jalur cepat. Bukan sebagai pekerja kantoran yang terikat dasi, melainkan sebagai "pelari" malam—kurir lepas yang mengantarkan paket-paket sensitif yang tak boleh tersentuh hukum atau cahaya matahari. Dengan rambut lurus sebahu yang menjadi simbol pemberontakan sunyinya terhadap dunia yang kaku, Aris bergerak bagaikan hantu di antara labirin beton. Aturannya sederhana: terima koordinat, antar barang, dan jangan pernah bertanya soal isi. Namun, sebuah pesanan di dini hari mengubah segalanya. Aris menerima tugas dengan bayaran fantastis untuk mengambil sebuah tas pendingin misterius di Pelabuhan Sunda Kelapa yang suram. Belum sempat ia meninggalkan dermaga, sebuah SUV hitam memburunya dengan niat membunuh. Malam itu berubah menjadi arena kejar-kejaran mematikan melintasi Jakarta Utara. Aris harus mengerahkan seluruh kemampuan berkendaranya dan pengetahuannya tentang gang-gang tikus kota untuk bertahan hidup. Dari aroma amis pelabuhan hingga kemewahan dingin di kawasan Menteng, Aris menyadari bahwa ia tengah membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar barang selundupan. "NOCTURNAL" adalah kisah tentang bertahan hidup di rimba kota yang tak kenal ampun, di mana satu paket kecil bisa bernilai nyawa, dan kebebasan di atas roda dua adalah satu-satunya hal yang nyata bagi Aris.
Bab 1: Gema di Balik Cakrawala Beton

Kota ini adalah pemangsa yang tidak pernah kenyang, dan Aris adalah salah satu sel saraf yang memastikan aliran darahnya tetap berjalan. Di usianya yang baru menginjak 23 tahun, Aris telah mempelajari satu hukum rimba yang tidak diajarkan di universitas mana pun: jika kau ingin bertahan hidup di antara beton dan baja, kau harus menjadi bayangan. Jangan terlalu terang agar tidak diburu, jangan terlalu gelap agar tidak hilang.

Malam itu, Jakarta baru saja dibilas hujan. Aroma aspal basah bercampur dengan bau bensin dan asap sate dari pinggir jalan. Aris duduk di atas motor custom-nya yang berwarna hitam dof, terparkir di bawah bayangan jembatan layang yang perkasa. Ia merogoh saku jaket kulitnya, mengeluarkan sebatang rokok, dan menyalakannya dengan pemantik zippo yang sudah lecet di sana-sini.

Ia menyugar rambut lurus sebahu miliknya. Rambut itu adalah satu-satunya hal yang ia rawat dengan penuh perhatian—sebuah bentuk pemberontakan kecil terhadap ayahnya yang dulu menginginkannya menjadi pegawai bank dengan potongan rambut cepak yang membosankan. Bagi Aris, rambut panjangnya yang hitam pekat adalah tirai yang memisahkannya dari dunia luar yang penuh tuntutan.

Pesanan dari Kegelapan

Ponsel di kantongnya bergetar. Sebuah pesan terenkripsi muncul tanpa nama pengirim. Hanya koordinat dan sebuah instruksi singkat: “Ambil di dermaga lama. Antar ke lantai 52 Tower Kencana. Jangan lewat dari jam 03.00.”

Aris mematikan rokoknya dengan ujung sepatu boot-nya. Ia menarik ikat rambut dari pergelangan tangannya, mengumpulkan helai-helai rambut lurusnya, dan mengikatnya menjadi kuncir kuda rendah yang rapi. Ia mengenakan helm half-face, menurunkannya hingga menutupi sebagian matanya yang tajam namun terlihat lelah.

Perjalanan menuju dermaga lama adalah tarian di atas aspal. Aris memacu motornya, membelah kemacetan sisa-sisa pekerja lembur yang baru pulang. Di usianya yang muda, ia memiliki insting spasial yang luar biasa; ia tahu celah terkecil di antara dua bus kota, ia tahu trotoar mana yang bisa ia lompati jika polisi melakukan razia, dan ia tahu gang-gang sempit yang tidak terdaftar di peta digital.

Di dermaga yang berbau garam dan karat, seorang pria dengan setelan jas mahal yang tampak sangat tidak pas di tempat itu menunggunya. Pria itu menyerahkan sebuah tas koper aluminium kecil yang terasa dingin di tangan Aris.

"Jangan sekali-kali membukanya, Nak," bisik pria itu. Suaranya gemetar, kontras dengan penampilan mewahnya. "Isinya adalah masa depan seseorang, atau kehancuran bagi yang lain."

Aris hanya mengangguk tipis. Ia tidak peduli pada filosofi moral di balik barang yang ia bawa. Baginya, koper ini adalah tiket untuk membayar sewa apartemen studionya yang pengap dan tumpukan tagihan listrik yang sudah menunggak dua bulan.

Kejar-kejaran di Rimba Beton

Masalah dimulai saat Aris memasuki kawasan pusat bisnis. Di spion motornya, ia menangkap sepasang lampu depan dari sebuah SUV hitam yang terus membuntutinya sejak ia keluar dari area pelabuhan. Jaraknya tidak pernah berubah, konsisten dan mengancam.

"Sial," gumam Aris di balik helmnya.

Ia memutar gas lebih dalam. Suara mesin motornya menggeram, memantul di dinding-dinding gedung pencakar langit yang menjulang seperti raksasa diam. SUV itu tidak menyerah; mereka mulai melakukan manuver agresif, mencoba menjepit Aris di antara trotoar dan badan mobil.

Aris mengambil keputusan cepat. Ia membanting kemudinya ke arah sebuah gang kecil yang hanya cukup untuk satu motor. Suara gesekan logam pada tembok semen mengeluarkan percikan api saat ia memaksakan diri masuk. Di gang sempit itu, Aris melepaskan ikat rambutnya. Ia membiarkan rambutnya terurai liar, memberikan sensasi adrenalin yang lebih nyata saat angin menerjang wajahnya.

Ia berbelok tajam di antara tumpukan tong sampah dan jemuran warga, menembus perkampungan kumuh yang terjepit di tengah kemewahan kota. Para pengejarnya kehilangan jejak di labirin gang sempit itu. Aris berhenti sejenak di balik bayangan sebuah toko kelontong yang sudah tutup untuk mengatur napas. Jantungnya berdegup kencang, seirama dengan denyut nadi kota yang tak pernah berhenti.

Refleksi di Puncak Dunia

Pukul 02.45, Aris tiba di Tower Kencana. Gedung ini adalah puncak dari segalanya—lambang kesuksesan yang dingin. Dengan akses kartu yang telah diberikan sebelumnya, ia melewati penjagaan ketat tanpa suara. Di dalam lift menuju lantai 52, ia menatap bayangannya di dinding lift yang berkilau seperti cermin.

Ia melihat seorang pemuda berusia 23 tahun dengan wajah yang sudah terlalu banyak melihat sisi gelap dunia. Rambut lurus sebahunya sedikit berantakan, debu jalanan menempel di pipinya, namun matanya tetap jernih. Di usia ini, teman-temannya mungkin sedang sibuk mengerjakan skripsi atau mengunggah foto kopi di kafe estetik. Aris? Ia sedang membawa rahasia yang mungkin bisa meruntuhkan satu dinasti bisnis.

Di lantai 52, ia menyerahkan koper itu kepada seorang wanita elegan yang menunggunya di lobi pribadi yang sunyi. Wanita itu menatap Aris cukup lama, seolah heran melihat seorang pemuda dengan penampilan "seniman jalanan" bisa melakukan tugas yang begitu berbahaya dengan presisi yang sempurna.

"Kamu punya nama, Pelari?" tanya wanita itu sambil menyerahkan amplop cokelat berisi uang tunai.

"Aris," jawabnya singkat. Ia tidak butuh validasi atau percakapan basa-basi.

Fajar yang Menjanjikan

Aris keluar dari gedung itu tepat saat semburat jingga mulai memecah kegelapan di ufuk timur. Ia kembali ke motornya, merasa bebannya terangkat sesaat. Ia menuju ke jembatan penyeberangan favoritnya, tempat di mana ia bisa melihat matahari terbit di atas hutan beton.

Ia melepas helmnya, membiarkan rambut lurus sebahunya tertiup angin pagi yang dingin. Ia menyisir rambutnya dengan jari-jari tangan, merapikannya kembali sebelum pulang. Di tangannya, amplop uang itu terasa tebal. Cukup untuk hidup tenang selama satu bulan kedepan, atau mungkin cukup untuk membeli kebebasan yang lebih besar suatu hari nanti.

Aris tahu, esok malam kota ini akan memanggilnya lagi. Akan ada paket lain, pengejaran lain, dan rahasia lain. Namun untuk saat ini, di bawah cahaya pagi yang masih malu-malu, ia hanyalah seorang pria muda yang ingin pulang dan tidur di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak peduli padanya.

Ia menghidupkan motornya, rambut panjangnya melambai saat ia memacu kendaraannya menjauhi fajar, kembali ke tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri—seorang pelari yang tidak pernah berhenti mengejar sesuatu yang bahkan ia sendiri belum tahu apa itu.

Sebelum pulang ke kontrakan sempitnya, Aris mampir ke sebuah warung bubur langganannya di pinggir jalan. Warung itu hanya diterangi satu lampu kuning yang redup. Ia duduk di pojok, memesan semangkuk bubur panas dengan sate usus yang melimpah.

​Ia melepas jaketnya, merasakan angin subuh yang dingin menembus kaos hitamnya. Aris meraih sebotol air mineral, menyiram kepalanya untuk membersihkan debu, lalu menyisir rambut lurus sebahunya dengan jari.

​Di usia 23 tahun, banyak orang bermimpi tentang karier, cinta, dan masa depan. Aris? Ia hanya memikirkan bagaimana cara sampai ke esok malam dengan tubuh yang masih utuh. Ia menyuap buburnya perlahan, menikmati rasa hangat yang menjalar di perutnya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca