
RATUSAN SURAT YANG TAK TERBALAS
dwoney|Bersambung
- Jumlah kata
- 20.9K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 1
- Jumlah kata
- 20.9K

dwoney|Bersambung
Tahun 1982, di sebuah kota kecil yang masih dipenuhi sepeda ontel, kaset pita, dan lagu-lagu sendu dari radio tua, Bima dan Arini menemukan cinta pertama mereka. Bima adalah pemuda cerdas dari keluarga sederhana yang bermimpi mengubah dunia lewat rancangan bangunan. Arini, putri seorang pejabat daerah, hidup dalam aturan dan gengsi keluarga. Di balik perbedaan status, mereka mencintai dengan tulus—polos, hangat, dan penuh harapan masa depan. Namun cinta mereka tak pernah diberi kesempatan untuk tumbuh. Raka, pria kaya yang terobsesi memiliki Arini, merancang fitnah keji yang membuat Arini percaya bahwa Bima telah mengkhianatinya. Dalam sekejap, kepercayaan berubah menjadi kebencian. Bima diusir dari kota, meninggalkan Arini tanpa kesempatan menjelaskan apa pun. Malam itu menjadi malam terakhir mereka saling menatap tanpa tahu bahwa tujuh tahun berikutnya akan diisi oleh rindu yang tak pernah sampai. Di Jakarta, Bima memulai hidup dari nol. Dari kuli bangunan hingga menjadi arsitek sukses, ia menanggung luka dalam diam. Namun satu hal tak pernah berubah: cintanya pada Arini. Setiap minggu, tanpa pernah absen, ia menulis surat. Satu surat tentang perjuangan. Satu surat tentang penjelasan. Satu surat tentang harapan. Hingga ratusan surat terkirim atas nama cinta yang tak pernah mati. Sayangnya, tak satu pun sampai. Karena ancaman dan tekanan Raka terhadap ekonomi keluarga Arini, ibunya terpaksa menyembunyikan semua surat itu di dalam kotak sepatu tua di loteng rumah. Arini pun hidup dalam keyakinan pahit bahwa Bima telah melupakannya. Ia menutup hatinya, membiarkan kebencian tumbuh sebagai pelindung dari luka yang tak ia pahami. Tahun 1989 mempertemukan mereka kembali. Bima telah menjadi pria yang tegar dan dingin. Arini menjadi perempuan yang keras dan penuh gengsi. Pertemuan itu bukan lagi tentang pelukan, melainkan tentang tatapan yang menyimpan ribuan pertanyaan dan ego yang terlalu tinggi untuk direndahkan. Kesalahpahaman yang mengendap selama bertahun-tahun menjelma menjadi jurang yang sulit diseberangi. Hingga suatu sore di awal dekade 90-an, di tengah hujan deras yang mengguyur atap rumah masa kecilnya, Arini menemukan kotak sepatu berdebu itu. Satu per satu surat ia baca. Tinta yang memudar, kertas yang menguning, dan kalimat-kalimat yang penuh doa membuat waktunya seakan mundur. Ia menyadari bahwa pria yang selama ini ia benci adalah satu-satunya orang yang tak pernah berhenti mencintainya. Kini Arini harus menghadapi kenyataan paling menyakitkan: memohon maaf kepada seseorang yang telah ia sakiti tanpa pernah ia beri kesempatan berbicara. Akankah cinta yang terkubur oleh kebohongan dan waktu masih memiliki sisa harapan? Ataukah beberapa cinta memang ditakdirkan untuk hidup selamanya… hanya dalam kenangan?
Kota Baru, November 1982.
Langit di atas SMA Garuda tidak lagi sekadar mendung. Awan hitam pekat menggantung rendah, seolah-olah tumpah menindih atap-atap kelas yang mulai sepi. Angin kencang bertiup, membawa aroma tanah basah dan desis dedap yang bergesekan kasar. Di dalam perpustakaan sekolah yang berbau kertas tua dan kayu lembap, Arini masih terpaku di depan rak buku sastra.
Ia seharusnya sudah pulang tiga puluh menit yang lalu. Namun, novel Layla Majnun yang baru ditemukannya seakan mengunci kakinya. Arini menghela napas, menoleh ke arah jendela besar di sudut ruangan. Kilat menyambar, membelah langit dengan cahaya putih kebiruan yang menyilaukan, disusul dentum guntur yang menggetarkan kaca jendela.
"Hujan badai," gumamnya pelan.
Arini merapatkan seragam putih-abunya yang tipis. Pendingin ruangan alami dari badai di luar mulai menusuk tulang. Perpustakaan itu hampir kosong, hanya menyisakan aroma debu dan kesunyian yang mencekam. Arini melangkah menuju meja panjang di tengah ruangan, berniat merapikan tasnya, namun langkahnya terhenti.
Di sudut paling belakang, di balik tumpukan ensiklopedia yang berdebu, seorang laki-laki duduk bersandarkan kursi kayu. Namanya Bima. Semua orang di sekolah tahu siapa dia—atau lebih tepatnya, tahu bahwa dia ada, tapi tak pernah benar-benar mengenalnya. Bima adalah bayangan yang berjalan di koridor sekolah dengan jaket denim belel yang seolah menjadi kulit keduanya. Ia pendiam, tatapannya selalu jatuh ke lantai atau ke dalam buku-buku teknis tentang arsitektur.
Bima mendongak. Mata mereka bertemu sejenak. Arini buru-buru membuang muka, merasa canggung. Ia kembali fokus pada tasnya, mencoba memasukkan buku dengan tangan yang sedikit gemetar karena hawa dingin yang kian ekstrem.
BRAKK!
Pintu perpustakaan yang tidak terkunci rapat terbanting oleh angin. Arini tersentak, bahunya menciut. Angin dingin menerobos masuk, membawa butiran air hujan yang membasahi lantai. Tubuh Arini menggigil hebat. Ia memeluk lengannya sendiri, mencoba mencari kehangatan yang tidak ada.
Tiba-tiba, sebuah bayangan mendekat. Arini mendongak dan mendapati Bima sudah berdiri di depannya. Tanpa sepatah kata pun, Bima melepas jaket denimnya. Jaket itu terlihat berat, dengan warna biru yang sudah memudar di bagian siku, khas gaya remaja awal 80-an.
Bima menyampirkan jaket itu ke bahu Arini.
"Pakai. Kamu menggigil," suara Bima rendah, serak, dan hampir tenggelam oleh deru hujan di atap seng.
Arini terpana. Jaket itu masih menyimpan panas tubuh Bima. Aroma cengkeh yang samar dan wangi sabun mandi yang maskulin menyerbak masuk ke indra penciumannya. Kehangatan instan merayap dari bahu Arini menuju seluruh tubuhnya.
"Terima kasih, Bim. Tapi... kamu nanti kedinginan," ujar Arini ragu, menatap Bima yang kini hanya mengenakan seragam putih pendek yang tampak kekecilan di tubuh tegapnya.
Bima hanya menggeleng pelan. Ia tidak tersenyum, tapi sorot matanya yang biasanya sedingin es, kini tampak sedikit melunak. "Aku terbiasa dengan hujan. Rumahku jauh, aku sering kehujanan saat pulang."
Bima kembali ke mejanya, mengambil tas kanvas kusamnya, dan berjalan menuju pintu. Ia berhenti sejenak, menatap Arini sekali lagi. "Tunggu sampai hujannya reda. Jangan nekat pulang sekarang."
Setelah itu, Bima hilang di balik pintu perpustakaan, meninggalkan Arini dalam keheningan yang kini terasa lebih hangat. Arini duduk di kursi, membiarkan dirinya tenggelam dalam jaket denim yang kebesaran itu. Ia membelai bahan kain yang kasar namun nyaman tersebut. Secara refleks, tangannya merogoh saku jaket bagian samping, sekadar ingin tahu apakah Bima meninggalkan sesuatu di sana—mungkin korek api atau kunci motor.
Namun, jemarinya menyentuh sesuatu yang lain. Secarik kertas.
Arini menariknya keluar. Itu adalah sobekan kertas buku tulis yang dilipat dengan sangat rapi hingga menjadi kotak kecil yang kaku. Dengan rasa penasaran yang membuncah, Arini membukanya perlahan.
Bukan puisi cinta yang ia temukan. Bukan pula nomor telepon.
Tulisan di kertas itu dibuat dengan tinta hitam yang tebal, ditekan begitu kuat hingga membekas ke sisi belakang kertas. Tulisannya berantakan, seolah ditulis dengan terburu-buru dan tangan yang gemetar.
"Arini, jangan pernah percaya pada senyum yang diberikan Raka malam ini. Pulanglah lewat jalan belakang sekolah. Jangan lewat gerbang depan. Ada mata yang mengawasimu dari dalam mobil hitam. Tetaplah di tempat terang."
Darah Arini seolah membeku. Jantungnya berdegup kencang, jauh lebih kencang dari suara guntur di luar. Bagaimana Bima bisa tahu tentang Raka? Raka adalah anak pengusaha kaya yang baru saja memberinya cokelat pagi tadi di kelas. Semua orang menganggap Raka adalah pria idaman, sopan, dan murah hati.
Arini menatap kertas itu sekali lagi. Peringatan itu terasa begitu nyata dan mendesak. Ia teringat bahwa Raka memang berjanji akan menunggunya di depan gerbang untuk memberinya tumpangan pulang sore ini.
"Ada mata yang mengawasimu..." Arini berbisik pelan, suaranya hilang ditelan suara petir yang kembali menggelegar.
Ia menoleh ke arah jendela. Di kejauhan, di bawah temaram lampu jalan yang bergoyang ditiup angin, ia melihat sebuah mobil sedan hitam terparkir diam di depan gerbang sekolah. Mesinnya tampak menyala, terlihat dari asap tipis yang keluar dari knalpotnya, bersaing dengan lebatnya hujan.
Siapa sebenarnya Bima? Mengapa seorang laki-laki pendiam yang jarang bicara bisa tahu tentang ancaman yang mengintai Arini?
Arini merapatkan jaket denim itu ke tubuhnya. Rasa hangat yang tadi menyelimutinya kini berganti dengan rasa waswas. Ia tahu, mulai detik ini, hidupnya di SMA Garuda tidak akan pernah sama lagi. Badai tahun 1982 ini bukan hanya membawa hujan, tapi juga membawa rahasia gelap yang baru saja dimulai.
Arini mengambil tasnya, memasukkan kertas peringatan itu ke dalam sakunya sendiri, dan melangkah menuju pintu belakang perpustakaan yang menuju ke arah kantin—jalan memutar yang lebih gelap, namun jauh dari jangkauan mobil hitam di gerbang depan.
Di luar, hujan semakin menggila, seolah-olah ingin menghapus jejak siapapun yang mencoba melarikan diri dari takdir.
26 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.







