Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Gejolak Hasrat Arjuna

Gejolak Hasrat Arjuna

Losakata | Bersambung
Jumlah kata
90.1K
Popular
6.9K
Subscribe
791
Novel / Gejolak Hasrat Arjuna
Gejolak Hasrat Arjuna

Gejolak Hasrat Arjuna

Losakata| Bersambung
Jumlah Kata
90.1K
Popular
6.9K
Subscribe
791
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalPria MiskinHaremSupernatural
Dari pria miskin menjadi triliuner. Kemiskinan dan caci maki adalah keseharian nya. hingga suatu hari sebuah keajaiban menimpa dirinya dan menjadikan nya seorang Triliuner.
Bab 1: Kesulitan Seorang Ibu

"Aahhh..... Ouh.... emmm..."

Seorang pria di dalam dunia magis itu terus memacu tubuhnya semakin cepat. Keringat bercucuran, napasnya memburu berkejaran dengan waktu.

"Ahh... Ah.... Ah..."

Pinggul nya terus bergerak maju mundur dengan ritme yang semakin lama semakin cepat, matanya terpejam menikmati setiap cengkaraman pada batang nya.

Di bawahnya, seorang perempuan terlihat begitu cantik dan seksi, dengan pipi yang merona dan terus mendesah di bawah Kungkungan nya.

"Ouhhh aahhh, lebih dalam lagi...." Rengek perempuan itu dengan begitu manja dan menggoda.

Pria itu semakin bersemangat, ia terus bergerak semakin liar, dengan tangan yang bertumpu pada kedua bukit kembar perempuan.

"Ouuuhhh, ....."

"Aahhkk..."

Namun, tepat begitu sang pria hendak menuju puncak pelepasannya, tiba-tiba saja—

BYURRRRR!!!!

"Banjir! Banjir!!!" teriak Arjuna dengan panik. Tangannya refleks menyilang di depan dada, menahan sisa-sisa hasrat yang gagal total keluar akibat mimpi indahnya yang mendadak buyar dan hanyut bersama air sumur.

Arjuna terperanjat. Ia gelagapan, mengusap wajahnya dengan kasar untuk menghalau air yang masuk ke mata dan hidungnya.

"Banjir mata lu peang! Astaga Juna.... lu mau sampai kapan sih molor terus?!" Cerocos seorang wanita paruh baya yang berdiri di samping ranjang dengan ember plastik kosong di tangannya.

Itu Bu Mala, ibunya. Wajah wanita itu merah padam, napasnya memburu menahan dongkol. "Ini udah jam sepuluh siang, Juna! Lu masih aja molor bukannya nyari kerja! Percuma lu sekolah tinggi-tinggi sampai lulus SMK kalau ujung-ujungnya cuma jadi pengangguran. Malu Emak sama tetangga! Anak mereka ada yang gak sekolah, tapi sekarang udah pada gawe, udah bisa ngasilin duit!"

Arjuna mengusap sisa air di lehernya sambil merengut. "Astaga Mak, kirain Juna ada banjir bandang. Ganggu orang tidur aja sih! Mana lagi enak-enaknya mimpi, malah diguyur. Tega banget sih Emak sama Juna."

Bu Mala melotot, berkacak pinggang. "Pantesan tidur lu itu berisik banget dari tadi, gak tahunya lu ngimpi jorok! Udah, gak usah banyak alasan. Mandi sono!"

"Iya Mak, iya..." Juna bergumam pasrah.

Dengan langkah gontai dan tubuh yang basah kuyup, Arjuna berjalan menuju kamar mandi di sumur belakang rumah mereka. Rumah itu masih semi permanen, berdinding papan yang sebagian sudah lapuk dan berlantai semen kasar yang mulai retak-retak.

Saat Arjuna sedang mengguyur tubuhnya dengan air sumur yang segar, samar-samar terdengar suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa datang ke area depan rumahnya. Suasana yang tadinya sepi mendadak berubah tegang.

Prakkk!

"Ada tamu kayaknya, siapa ya..." gumam Arjuna, menghentikan gerakan gayungnya.

Ia menempelkan telinganya ke celah dinding papan kamar mandi, mendengar dengan seksama. Detik berikutnya, jantung Arjuna mencelos. Terdengar suara bentakan melengking yang diarahkan tepat pada emaknya. Suaranya begitu menggelegar dan penuh keangkuhan.

"Orang itu... marahin Emak?!"

Amarah Arjuna langsung tersulut. Dengan cepat ia meraih handuk usangnya, melilitkannya ke pinggang, dan segera berlari setengah basah menuju bagian depan rumah.

Begitu sampai di balik sekat ruang tengah, Arjuna tertegun. Pemandangan di depannya membuat darahnya mendidih seketika. Ia melihat bagaimana emaknya—wanita yang telah melahirkannya—sedang bersimpuh pasrah di bawah kaki seorang wanita paruh baya berbadan gemuk yang mengenakan perhiasan emas mencolok di leher dan jemarinya. Itu Bu Lastri, lintah darat paling ditakuti di kampung mereka.

"Pokoknya saya gak mau tahu, ya! Kamu harus bayar utang kamu yang semakin banyak itu!" bentak Bu Lastri sambil menunjuk-nunjuk wajah Bu Mala dengan jari telunjuknya yang gempal. "Bunganya per bulan itu lima persen, kamu hitung aja sendiri berapa utang kamu sekarang! Dikira saya ini badan amal apa? Minjem bisa, giliran ditagih gak mau bayar! Kalau minggu depan utang ini masih gak dibayar, rumah ini bakal menjadi milik saya! Ingat itu!"

Dengan dengusan angkuh, wanita gemuk namun bengis itu membalikkan badan dan pergi meninggalkan teras rumah mereka, membiarkan debu jalanan berterbangan menyapu wajah Bu Mala yang terisak.

Arjuna menyandarkan tubuhnya ke tembok papan, menyembunyikan dirinya agar tidak terlihat. Napasnya tercekat. "Jadi selama ini Ibu ngutang... cuma untuk biayai hidup kita? Untuk biaya sekolah Juna?" batinnya menjerit. Rasa bersalah yang teramat sangat menghantam dadanya. "Maafin Juna, Bu. Juna janji bakal serius cari kerja sekarang. Juna gak akan malas-malasan lagi."

Setelah menenangkan diri dan menyeka sudut matanya yang mendadak panas, Juna melangkah keluar, mendekati ibunya yang sedang berusaha bangkit sambil menghapus air mata dengan ujung daster kumalnya.

"Ibu kenapa?" tanya Juna, pura-pura tidak tahu apa yang baru saja terjadi demi menjaga harga diri ibunya.

Bu Mala tersentak kaget, lalu dengan cepat memaksakan sebuah senyuman di wajah kuyu-nya. "Eh, Juna... Emang Ibu kenapa? Enggak, Ibu enggak apa-apa. Ibu hanya lelah aja habis ngerjain pekerjaan rumah dari subuh. Mana dagangan Ibu hari ini juga belum ada yang laku," ujar ibunya dengan suara yang agak serak.

Arjuna memandang ke arah teras. Di sana terdapat sebuah meja kayu kecil berisi wadah plastik yang memuat aneka gorengan—tempe, bakwan, dan tahu isi—yang mulai mendingin. Semenjak ayahnya pergi menikah lagi dengan wanita lain beberapa tahun lalu, Bu Mala memang sudah tidak pernah dinafkahi lagi. Berjualan gorengan adalah satu-satunya napas kehidupan mereka.

Mendengar jawaban ibunya yang berusaha tegar, hati Arjuna terenyuh. Selama ini ia terlalu buta dan acuh, tidak pernah tahu kalau ibunya menyimpan kesusahan dan penderitaan yang begitu besar seorang diri.

"Bu, Juna mau siap-siap cari kerja ya sekarang. Ibu kalau lelah istirahat aja di dalam," kata Arjuna, mencoba memberikan ketenangan.

Bu Mala menghela napas panjang, menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. "Kalau Ibu istirahat... emang kita mau dapet duit dari mana, Juna?"

Arjuna terdiam, langsung tertunduk lesu. Kata-kata ibunya menghujam tepat di ulu hatinya. Ibunya benar. Di usianya yang sudah lulus SMK ini, dirinya bahkan belum bisa menghasilkan satu rupiah pun untuk meringankan beban keluarga.

"Aku berjanji, Bu. Kali ini Juna pasti akan dapat pekerjaan," ucap Arjuna dengan tekad yang bulat dan penuh keyakinan di dalam matanya. "Bu, Juna ke kamar dulu ya, mau pakai baju."

Arjuna melangkah masuk ke kamarnya. Ia membuka lemari plastik tiga susun miliknya yang salah satu pintunya sudah copot. Tangannya mengaduk-aduk tumpukan pakaian, mencari baju yang sekiranya masih paling layak untuk digunakan melamar pekerjaan.

"Ini aja deh," gumamnya pelan.

Ia mengeluarkan baju bekas seragam SMK-nya dulu. Kemeja putih yang bagian kerahnya sudah mulai menguning, dipadukan dengan celana kain bawahan berwarna hitam yang kondisinya tak jauh mengenaskan karena warnanya sudah pudar. Juna kemudian membongkar bagian bawah lemari, mengeluarkan sepasang sepatu hitam bekas sekolahnya dulu yang solnya sudah mulai longgar.

Sebelum beranjak, Juna meraih ponselnya yang tergeletak di atas kasur tipisnya. Layar ponsel pintar murah itu sudah dipenuhi banyak retakan seperti sarang laba-laba. Dengan ragu, ia membuka sebuah aplikasi menulis online yang beberapa hari lalu iseng ia gunakan untuk mengirimkan sebuah draf cerita.

"Cik... lama bener peninjauannya," desis Arjuna kecewa saat melihat status ceritanya masih dalam proses review oleh editor. "Semoga aja bisa dapat kontrak VIP, biar bisa dapat duit tambahan buat bantu Emak."

Arjuna menggelengkan kepala, mencoba membuang kecemasannya. Ia segera menyisir rambutnya dengan rapi, memasukkan map cokelat berisi ijazah SMK dan berkas-berkas pendukung ke dalam dekapan dadanya.

Ia melangkah ke depan rumah dengan mantap. "Bu, Juna berangkat ya! Doain biar Arjuna dilancarkan segalanya hari ini!" seru Arjuna.

Bu Mala yang sedang merapikan dagangan gorengannya menoleh. Matanya menatap putranya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ada rasa haru sekaligus sedih melihat anak lelakinya berjuang dengan pakaian seadanya.

"Iya nak, hati-hati ya di jalan. Doa Emak selalu menyertai kamu," ucap Bu Mala. Ia kemudian meraba kantong dasternya, mengeluarkan beberapa lembar uang yang sudah lecek. "Ini... buat bekel kamu di jalan. Uang lima belas ribu, buat ongkos naik angkot sama jajan kamu nanti kalau misalnya kamu lapar di jalan."

"Makasih, Bu..." ucap Arjuna dengan suara tercekat dan mata yang kembali berkaca-kaca.

Baru kali ini Arjuna merasakan kesedihan dan penyesalan yang begitu mendalam di dalam hidupnya. Ia melihat dengan jelas bagaimana ibunya yang sudah kesusahan dikelilingi utang, masih begitu memprioritaskan dan memperjuangkan perut anaknya agar tidak kelaparan di luar sana.

Arjuna tidak tahan lagi. Ia meraih tangan kanan ibunya yang kasar, menggenggamnya erat, lalu mencium punggung tangan itu dengan penuh takdzim dan rasa hormat yang mendalam.

"Juna berangkat, Bu..."

Lanjut membaca
Lanjut membaca