

Bayu Pratama, 30 tahun. Sedang dilanda dilema hari ini. Antara percaya dengan teman masa kecilnya atau Maya kekasihnya. Hidupnya penuh dengan penderitaan sedari ia dilahirkan yatim piatu di dunia ini, besar di panti asuhan bersama Nara.
Berharap bisa membangun sebuah keluarga idaman bersama kekasihnya. Namun kabar menyesakkan itu datang.
"Bay, Maya bukan wanita baik," perkataan itu keluar dari bibir Nara, teman masa kecil Bayu.
Bayu menyentak tangan Nara, "Nara, nggak sopan menjelekkan Maya di belakangnya kayak gini. Kamu mau buat aku bertengkar sama dia?"
Nara menggeleng kuat, "bukan gitu maksudku Bay, kalau kamu nggak percaya. Aku bisa buktikan pengkhianatan Maya."
Bayu mengangguk, "baiklah, tapi kalau aku tahu kamu hanya membual. Aku nggak akan menganggap kamu sebagai teman baikku lagi, Ra."
Nara mengangguk, ia kemudian menarik Bayu dan bergegas menuju sebuah kamar.
Sesampainya di depan pintu kamar, Bayu terdiam. Jantungnya berdegup kencang, darah mengalir deras ke kepala.
Tangannya terkepal erat, buku-buku jarinya memutih. Suara desahan itu terdengar sangat familiar di telinganya. Itu suara Maya. Kekasihnya.
Ia sudah bekerja lembur tiga hari berturut-turut, pulang larut malam dengan tubuh remuk, hanya untuk mengumpulkan uang sewa bulan depan. Dan ini yang ia dapatkan?
"Brakh!"
Bayu menendang pintu hingga terbuka dengan keras. Engsel pintu nyaris copot, menabrak dinding dengan bunyi keras yang membuat dua sosok di atas ranjang tersentak kaget.
Seorang pria bertubuh kekar langsung melompat berdiri, dengan panik memasang celananya.
Sedangkan Maya, kekasih yang sudah dua tahun bersamanya, menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya. Wajahnya merah padam, entah karena malu atau marah.
"Ba-Bayu! Gimana kamu bisa masuk?!" bentak Maya, suaranya bergetar.
Bayu mendengus, dadanya naik turun menahan amarah yang membara. Ia menunjuk keduanya dengan tangan gemetar.
"Haruskah aku menjawab pertanyaan konyol mu itu? Lihat, apa yang kalian lakukan di rumahku, di kamarku?!"
Pria itu, Jonathan, teman kampus Maya yang sering dipuji-puji sebagai "orang sukses", menyeringai sambil merapikan kemejanya.
"Cih, kalau bukan karena Maya ingin melakukannya di sini, aku nggak sudi bercinta di tempat kumuh ini!"
Bayu merasakan sesuatu di dadanya hancur berkeping-keping.
"May..." suaranya serak. "Kenapa? Apa yang kurang dariku?"
Maya mengalihkan pandangannya, bibirnya bergetar sebelum akhirnya mengeluarkan kata-kata yang bagaikan belati bagi Bayu. Sementara Nara masih setia menggenggam tangan Bayu, menenangkan pemuda itu.
"Bayu, kita putus aja. Kamu nggak memiliki masa depan. Aku butuh pria yang bisa memberiku kehidupan yang layak, bukan orang yang hidupnya pas-pasan sepertimu."
"Hahaha!" Jonathan tertawa keras, suaranya penuh ejekan.
"Dengar nggak pecundang?! Maya sudah mutusin kamu! Yang kerjanya hanya sampingan, tinggal di kontrakan sempit, hidup dari gaji harian."
Jonathan menepuk dadanya dengan bangga dan melanjutkan ejekannya.
"Kamu nggak mungkin bisa sepertiku. Aku punya mobil, rumah, dan karir cemerlang. Maya tahu siapa yang lebih pantas untuknya."
Bayu menatap Maya dengan tatapan hancur.
"Apa pengorbananku selama dua tahun ini nggak ada artinya buat kamu? Setiap hari aku bekerja keras, menabung, bahkan sering melewatkan makan hanya agar bisa membelikanmu hadiah."
Air matanya hampir tumpah, tapi ia menahannya. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan dua pengkhianat ini.
Maya menghela napas panjang, seperti merasa lelah dengan percakapan ini.
"Bayu, aku pernah mencintaimu. Tapi cinta aja nggak cukup. Kamu nggak bisa menjanjikan masa depan yang lebih baik. Sementara Jonathan ...."
Ia melirik pria di sampingnya dengan tatapan lembut. "Jonathan berbeda. Dia bisa memenuhi semua kebutuhanku."
"Dengar ya, pecundang," Jonathan melangkah maju, dagunya terangkat dengan sombong.
"Kamu nggak berarti apa-apa lagi sekarang. Tapi aku akan berbaik hati padamu karena sudah meminjamkan kamarmu agar aku bisa bercinta dengan kekasihmu~ah, bukan! Mantan kekasihmu-"
"Sialan!"
Amarahnya meledak. Bayu menerjang dengan cepat, tinjunya melayang dan mendarat tepat di wajah Jonathan.
Buakh!
"Argh!"
Jonathan terpental ke belakang, punggungnya membentur dinding dengan keras. Darah mengalir dari sudut bibirnya. "Kurang ajar! Sampah nggak berguna sepertimu-!"
Tapi Bayu tidak memberinya kesempatan bicara.
Ia menerjang lagi, tinjunya berkali-kali mendarat di wajah dan tubuh Jonathan. Semua kekecewaan, sakit hati, dan amarahnya tercurah dalam setiap pukulan.
Buakh! Buakh! Buakh!
"Hentikan! Hentikan, Bayu!" teriak Maya panik.
Tapi Bayu tidak peduli. Matanya memerah, napasnya memburu. Ia terus memukul hingga-
"Bayu, awas!!"
"Prakh!"
Bayu melihat Nara melindunginya, tubuh wanita itu kini jatuh ke dalam pelukannya dengan kepala bersimbah darah.
"Ra, Nara ...?" Bayu bergetar memanggil Nara yang mulai kehilangan kesadarannya.
"Bay, maaf ... aku nggak bisa ... melindungimu-"
"Aaggghhh!!" Bayu berteriak sembari memeluk tubuh Nara, matanya menatap Maya dengan berang.
"Nara, bangun Ra ...."
Nara tidak bergerak, matanya tertutup rapat, tubuhnya lemah tak berdaya di dalam pelukan Bayu. Sedangkan Maya memasang wajah ketakutan tanpa rasa bersalah.
"Bukan salahku, ini karena kamu ingin menyakiti Jonathan!!" ujar Maya dengan tatapan angkuhnya kepada Bayu.
Setelah Bayu membaringkan Nara dengan hati-hati ke lantai, ia berdiri dan mendekati Maya yang masih memegang bagian dari botol kaca yang ia pukulkan kepada Nara.
"Kamu pembunuh, aku akan membalasmu-"
"Prakh!!"
Sesuatu yang keras menghantam belakang kepalanya. Dunia seketika berputar.
Bayu terhuyung, tangannya refleks memegangi kepala. Sesuatu yang basah dan hangat mengalir di tangannya. Darah.
Ia berbalik dengan perlahan. Jonathan berdiri di belakangnya, tangannya memegang pecahan botol kaca yang sudah berlumuran darah.
"Rasakan kamu sialan ..." bisik Jonathan, suaranya gemetar tapi wajahnya terlihat puas.
Bayu menatapnya dengan pandangan kosong. Kepalanya berdenyut hebat, pandangannya mulai kabur. "Kurang ... ajar ..."
Buakh!
Jonathan kemudian menendang perutnya dengan keras. Bayu terjatuh, tubuhnya terguling di lantai.
"Dasar sampah!" Jonathan menendangnya berkali-kali, tiap tendangan disertai makian. "Kamu pikir kamu siapa? Berani-beraninya memukulku!"
Bayu hanya bisa meringis, tubuhnya tidak bisa bergerak. Pandangannya semakin memburam.
Dalam penglihatan yang kabur, ia melihat Maya yang melepaskan botol kaca dari tangannya, wajahnya penuh ketakutan.
Bukan hanya itu, Bayu menatap Nara yang turut terbaring di sisinya dalam keadaan terluka. Melindunginya, tapi Bayu malah sempat mengabaikan wanita yang peduli padanya dan lebih mempercayai wanita pengkhianat seperti Maya.
"Ra, jika ada kesempatan bertemu lagi denganmu. Aku nggak akan membiarkan kamu terluka. Aku akan memegang tanganmu dengan erat."
"Nara ...," bisik Bayu lirih, air matanya akhirnya tumpah.
Kegelapan mulai menelan kesadarannya. Dingin. Kosong. Semuanya terasa sangat jauh.
Dan kemudian ... tidak ada lagi.