Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Uwais dan Teman Tak Kasat Mata

Uwais dan Teman Tak Kasat Mata

mamiekbobo | Tamat
Jumlah kata
32.4K
Popular
100
Subscribe
13
Novel / Uwais dan Teman Tak Kasat Mata
Uwais dan Teman Tak Kasat Mata

Uwais dan Teman Tak Kasat Mata

mamiekbobo| Tamat
Jumlah Kata
32.4K
Popular
100
Subscribe
13
Sinopsis
FantasiFantasi TimurDunia GaibKekuatan SuperZero To Hero
Uwais, remaja yatim piatu di lingkungan kumuh, menghadapi kemiskinan dengan humor yang tak terpatahkan. Di balik keceriaannya, ia ditemani "Si Bayang", sahabat tak kasat mata yang ternyata manifestasi cinta mendiang ayahnya. Dari usia 12 hingga 16 tahun, Uwais bertransformasi dari pemulung cerdik menjadi seniman berbakat. Dengan bimbingan Si Bayang, ia mengubah barang rongsokan menjadi karya seni bernyawa, menjaga integritas di tengah godaan ketenaran, dan membuktikan bahwa tawa adalah senjata terkuat untuk menaklukkan kerasnya dunia.
Bab 1. Sepatu Bolong dan Tawa yang Nyaring

Aroma pagi di Gang Kelinci tidak pernah berubah. Ia adalah simfoni antara bau selokan yang menggenang, asap kayu bakar dari dapur Mak Sumi, dan bau apek baju-baju yang tidak kering sempurna karena matahari enggan mampir ke celah sempit pemukiman itu. Di sebuah rumah kayu yang miring ke kiri—seolah-olah sedang kelelahan menahan beban hidup—seorang anak laki-laki berusia dua belas tahun sedang sibuk berduel dengan sepasang alas kaki.

​Uwais, nama anak itu, sedang menatap nanar pada sepatu kets hitamnya yang sudah tidak lagi berwarna hitam, melainkan abu-abu kecokelatan. Masalah utamanya bukan warnanya, melainkan bagian depannya. Sol karetnya sudah lepas sepenuhnya dari kain, menciptakan celah lebar yang jika ia berjalan, akan tampak seperti mulut binatang yang sedang mengunap-ngunap kelaparan.

​"Wais, sarapan dulu, Nak. Cuma ada kerak nasi dan sedikit garam," suara lembut ibunya, Aminah, terdengar dari balik tirai kain yang membatasi kamar dan dapur.

​Uwais segera menyembunyikan sepatunya di balik punggung. Ia tidak ingin ibunya melihat "mulut buaya" itu. Ia tahu benar, semalam ibunya pulang dengan tangan yang gemetar karena terlalu lama merendam baju cucian orang. Menambah beban pikiran ibu dengan urusan sepatu adalah hal terakhir yang ingin ia lakukan.

​"Siap, Kanjeng Ratu! Kerak nasi adalah makanan para raja, hanya mereka yang punya gigi baja yang boleh memakannya!" seru Uwais dengan nada riang yang dibuat-buat.

​Ia melompat menuju meja kayu kecil, duduk bersila, dan mulai menyantap butiran nasi yang agak keras itu dengan lahap. Aminah menatap putranya dengan tatapan sayu namun penuh kasih. Ia tahu Uwais sedang berakting. Ia tahu anaknya lapar, tapi ia juga tahu anaknya punya harga diri setinggi langit yang tidak membiarkan kesedihan masuk ke rumah mereka.

​"Ayahmu dulu suka sekali kerak nasi," gumam Aminah tanpa sadar.

​Gerakan sendok Uwais terhenti sejenak. Ayah. Sebuah kata yang bagi Uwais terasa seperti mitos atau karakter dalam dongeng yang hilang di tengah bab. Ia tidak tahu ayahnya di mana, apakah masih hidup, atau sudah menjadi tanah. Ibunya hanya bilang ayahnya "pergi mencari warna". Sebuah jawaban puitis untuk kenyataan yang pahit.

​"Mungkin Ayah sedang jadi raja di negeri kerak nasi, Bu. Makanya dia belum pulang, sibuk mengurus rakyatnya yang giginya ompong semua," canda Uwais, memecah suasana haru. Aminah tersenyum kecil, meski matanya tetap berkaca-kaca.

​Perjalanan menuju sekolah adalah panggung pertunjukan bagi Uwais. Setiap kali kakinya melangkah, plok-plok-plok, sepatu itu berbunyi. Uwais tidak malu. Ia justru berjalan dengan irama tertentu, seolah-olah ia sedang memainkan perkusi jalanan.

​Namun, dunia luar tidak selalu seramah imajinasinya. Di gerbang sekolah, Rian sudah menunggu. Rian adalah kontras sempurna dari Uwais: sepatu bermerek yang mengkilap, tas punggung yang masih kaku karena baru, dan aroma parfum jeruk yang tajam.

​"Heh, Wais! Gue kira tadi ada buaya lepas masuk sekolah, ternyata cuma sepatu lo yang lagi minta makan!" teriak Rian, disambut tawa riuh oleh antek-anteknya.

​Uwais berhenti tepat di depan Rian. Ia melihat ke bawah, ke arah sepatunya yang menganga. Alih-alih menunduk malu atau membalas dengan makian, Uwais justru berjongkok. Ia mengelus ujung sepatunya dengan lembut.

​"Sst, Rian, pelankan suaramu. Sepatuku ini sedang dalam masa pertumbuhan. Dia ini jenis 'Sepatu Karnivora'. Kalau dia dengar suara berisik, dia bisa lompat dan menggigit betis orang yang pakai kaos kaki putih bersih,"

kata Uwais dengan ekspresi wajah yang sangat serius, seolah-olah ia sedang menjinakkan hewan buas.

​Anak-anak yang tadinya tertawa mengejek, kini mulai tertawa karena geli. Rian yang tadinya ingin mempermalukan Uwais, justru merasa canggung. Ia secara tidak sadar mundur satu langkah, seolah takut sepatu butut itu benar-benar akan menerkamnya.

​"Dasar sinting!" umpat Rian sambil berlalu, namun sisa tawa teman-temannya kini bukan lagi milik Rian, melainkan milik Uwais.

​Uwais tersenyum, tapi saat ia berdiri dan masuk ke kelas, hatinya terasa sedikit perih. Ia merasakan gesekan aspal langsung pada jempol kakinya yang menyembul keluar. Sakit, tapi ia sudah terbiasa.

​Di dalam kelas, saat pelajaran matematika yang membosankan, Uwais merasakan sesuatu yang akrab. Semilir angin dingin yang hanya bisa ia rasakan, meski semua jendela tertutup rapat. Itu dia. Si Bayang.

​Uwais pertama kali menyadari kehadiran Si Bayang saat ia berusia tujuh tahun, ketika ia tersesat di pasar dan ketakutan setengah mati. Sosok itu tidak punya wajah yang jelas, hanya seperti gumpalan cahaya redup atau bayangan yang lebih gelap dari malam. Dia tidak bicara dengan suara yang bisa didengar telinga, tapi suaranya bergema langsung di kepala Uwais.

​“Nomor empat, jawabannya empat puluh dua, Wais. Jangan melamunkan bakso,” bisik suara itu di benak Uwais.

​Uwais tersentak. Benar saja, Pak Guru sedang menatapnya dengan penggaris kayu yang diketuk-ketukkan ke telapak tangan. "Uwais! Dari tadi kamu senyum-senyum sendiri melihat papan tulis. Coba kerjakan soal nomor empat!"

​Uwais maju dengan percaya diri, meskipun sebenarnya ia tidak tahu cara menghitung volume kerucut itu. Namun, tangannya seolah digerakkan oleh sesuatu. Ia menuliskan angka-angka itu dengan cepat. Di sela-sela menulis, ia menyempatkan diri menggambar sebuah topi ulang tahun kecil di atas kerucut tersebut.

​"Ini hasilnya Pak, 42. Dan ini bukan cuma kerucut, ini adalah topi untuk tikus yang sedang merayakan ulang tahun ke-5 di gudang sekolah kita," ujar Uwais sambil meletakkan kapur.

​Pak Guru terdiam, melihat jawaban yang benar secara matematis namun konyol secara estetika. Seisi kelas tertawa. Uwais kembali ke tempat duduknya, dan di sudut matanya, ia melihat bayangan hitam di pojok kelas seolah-olah sedang memberikan jempol padanya.

​Sepulang sekolah, langit mendung. Ini adalah kabar buruk. Jika hujan turun, rumah Uwais akan bocor di lima titik berbeda, dan sepatunya akan berubah menjadi spons yang menampung air kotor.

​Saat ia melewati jalan pintas melalui sebuah lapangan kosong yang penuh dengan tumpukan material bangunan, Rian dan dua temannya muncul lagi. Kali ini tidak ada orang lain. Suasana berubah menjadi intimidatif.

​"Wais, gara-gara lo tadi pagi, gue jadi bahan ledekan di grup chat. Katanya gue takut sama sepatu lo," Rian mendorong bahu Uwais hingga anak itu terjajar ke tumpukan pasir.

"Sini, kasih gue liat seberapa hebat sepatu 'karnivora' lo itu!"

​Salah satu teman Rian mencoba menarik kaki Uwais, hendak melepas sepatunya untuk dibuang ke selokan. Uwais meronta. Baginya, sepatu itu—meski rusak—adalah satu-satunya harta yang ia punya untuk sekolah.

​"Jangan! Ini sepatu buat sekolah!" seru Uwais.

​Tiba-tiba, suasana di lapangan itu terasa sangat dingin. Debu-debu di tumpukan pasir mulai berputar kecil seperti tornado mini. Tanpa ada yang menyentuh, sebatang kayu panjang yang menyandar di tumpukan bata jatuh tepat di antara Rian dan Uwais, hampir mengenai kaki Rian.

​Rian melompat kaget. "Siapa yang lempar?!"

​Tidak ada siapa-siapa di sana selain mereka. Tiba-tiba, suara tawa yang sangat aneh—suara yang seperti ribuan daun kering yang bergesekan—terdengar dari arah balik tumpukan bata. Padahal tidak ada orang di sana. Lalu, sebuah ember plastik bekas semen tiba-tiba melayang dan tumpah tepat di atas kepala teman Rian yang tadi mencoba memegang kaki Uwais.

​"Lari! Ada hantunya!" teriak mereka ketakutan, lari tunggang langgang meninggalkan lapangan.

​Uwais masih terduduk di pasir, napasnya tersengal. Ia tahu itu bukan hantu. Ia melihat Si Bayang berdiri di dekat tumpukan bata, wujudnya kali ini sedikit lebih padat.

​"Kamu terlalu baik, Wais. Sesekali, mereka butuh sedikit 'pelajaran fisika' tentang gravitasi dan ember jatuh," bisik Si Bayang.

​Uwais menghela napas, membersihkan pasir dari celananya. "Terima kasih, tapi jangan sampai mereka jantungan. Kalau Rian pingsan, siapa yang mau pamer parfum jeruk lagi di kelas?"

​Si Bayang seolah terkekeh, meski tak ada suara keluar dari mulutnya.

​Malam harinya, hujan turun deras seperti yang dikhawatirkan. Uwais sibuk menaruh ember dan panci di bawah titik-titik kebocoran atap. Ting, tong, tung, suara air jatuh mengenai logam menciptakan irama yang berantakan.

​Di sudut ruangan, ibunya sudah tertidur pulas karena kelelahan. Uwais duduk di lantai, menatap sepatunya yang makin mengenaskan setelah terkena pasir dan sedikit air hujan tadi. Ia mengambil seutas tali rafia bekas yang ia temukan di jalan, lalu mulai mengikat sol sepatunya ke bagian kain.

Ia melakukannya dengan teliti, seolah sedang melakukan operasi medis tingkat tinggi.

​"Nanti kalau aku sudah besar dan punya banyak uang, aku akan membelikan Ibu rumah yang atapnya dari beton, supaya Ibu tidak usah bangun malam-malam untuk memindahkan tempat tidur," bisik Uwais pada kegelapan.

​Si Bayang muncul di sampingnya, duduk bersila dengan gaya yang persis meniru Uwais. "Dan sepatu?" tanya Si Bayang.

​"Dan sepatu yang bisa terbang, supaya jempolku tidak usah kenalan sama aspal lagi," jawab Uwais sambil tersenyum lebar, menampakkan deretan giginya yang putih di tengah temaram lampu minyak.

​Malam itu, di bawah atap yang bocor dan perut yang hanya berisi kerak nasi, Uwais tidur dengan nyenyak. Ia tidak tahu apa yang menantinya di masa depan, atau siapa sebenarnya sosok ayahnya. Yang ia tahu, ia punya tawa untuk membalas dunia, dan ia punya seorang sahabat tak terlihat yang selalu memastikan ia tidak pernah benar-benar sendirian.

​Dunia mungkin miskin memberinya kemewahan, tapi Uwais kaya akan imajinasi. Dan di Gang Kelinci, imajinasi terkadang lebih mengenyangkan daripada seuntai roti.

Lanjut membaca
Lanjut membaca