Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pusaka Sang Penolong Arwah

Pusaka Sang Penolong Arwah

Kang Nun | Bersambung
Jumlah kata
28.7K
Popular
100
Subscribe
12
Novel / Pusaka Sang Penolong Arwah
Pusaka Sang Penolong Arwah

Pusaka Sang Penolong Arwah

Kang Nun| Bersambung
Jumlah Kata
28.7K
Popular
100
Subscribe
12
Sinopsis
18+HorrorHorror21+Dunia GaibHaremMisteri
Karena sebuah kecelakaan kerja di pabrik, David yang juga merangkap sebagai selebgram belum terkenal, kini bisa melihat dan berkomunikasi dengan para arwah. Karena kemampuan ini, David mau tidak mau harus membantu "mereka" untuk menyelesaikan keinginan terakhir mereka di dunia. Tidak hanya itu, kemampuan ini juga membuat para wanita terpesona oleh David. Masalahnya tidak semua arwah baik, dan semakin lama hal ini mulai memberi resiko besar untuknya.
Tak Jadi Main Kuda-Kudaan

"Sudah keras banget punyamu, Mas. Langsung masuk saja kalau begitu."

Wanita itu menarik tanganku agar aku segera masuk ke dalam kontrakannya. 

Aku laki-laki normal. Meski belum menikah, jika disuguhi buah besar nan kenyal seperti silicon, tentu aku tergoda.

Apalagi, wanita itu cantik.

Aku tinggal di kontrakan 500 pintu yang terkenal akan kebebasannya. Tak perlu aku jelaskan seperti apa bebasnya, kalian bisa mengerti sendiri. 

Hari ini rupanya ada tetangga baru dan aku belum mengenalnya.

Aku baru pulang lembur dan suasana begitu sepi. Aku sengaja membuka seragam kerjaku di teras. Hal yang memang sering aku lakukan. 

Ada yang menikmatinya, ada yang malu, ada yang mencuri foto, bahkan ada yang sampai sange. 

Nah si wanita ini menjadi pengikut yang terakhir.

Mungkin saja mereka tertarik denganku karena aku ini memiliki perut yang sixpack, dengan dada bidang. Otot lenganku juga terbentuk natural. Tidak terlalu besar dan berurat.  

Kendati demikian, aku ini tidak mudah jatuh cinta, jatuh ke dalam kasur mungkin sering. Hahaha.

Aku punya akun Inigram yang followersnya baru mencapai lima ribu. Masih sedikit tetapi aku bersyukur karena ada saja yang sesekali menawarkan kerja sama untuk memasarkan produk. Tapi perlu digaris bawahi di sini, meskipun aku mengiklankan produk tersebut, pusaka keramatku ini sudah besar dan panjang dari sananya, bukan karena efek obat.

Di dalam kontrakan wanita ini yang belum aku ketahui siapa namanya, penataannya begitu lega. Barang-barang yang ada juga terlihat mahal. 

Tak mau buang-buang waktu, wanita ini langsung menurunkan celanaku tanpa ku suruh. Dia langsung mengasah pedang yang sudah tegak tersebut agar lebih mantap ketika bertarung nanti.

"Waw, pengalaman banget ini cewek. Jangan-jangan pekerjaannya sebagai laba-laba malam," pikirku sambil memperhatikan gayanya yang nakal dan juga begitu menikmati setiap gerigi yang menyentuh pusakaku.

Disela-sela kenikmatan ini, tiba-tiba aku melihat sosok pria yang berdiri di lorong pintu dapur, menatapku dengan tajam. 

Kaget, aku refleks mendorong wanita itu sampai ia terjengkang ke belakang. Aku menarik celanaku ke atas lagi dengan gugup. Keringat sudah membasahi seluruh tubuhku.

"Mas kenapa?"

"Kamu menyimpan pria lain tapi kenapa malah mengajakku untuk bermain!" Ucapku kesal, mataku terus menatap ke arah pria itu.

"Pria? Pria mana yang kamu maksud? Di sini hanya ada aku dan kamu, Mas," wanita itu berdiri, berjalan menghampiriku.

"Lantas, dia siapa!" Aku menunjuk ke arah pria itu. Mata si wanita mengekor arah telunjukku.

"Mana, tidak ada orang. Ngaco kamu! Jangan cari alasan ah, udah diambang kenikmatan nih," wanita itu Kembali membelai wajahku, tapi aku langsung menepisnya. 

"Jangan sentuh aku! Pacarmu marah!" Aku berkata lagi sambil menelan ludah.

"Pacarku? Aku tidak punya pacar loh!"

Aneh, aku merasa aneh dengan jawaban wanita itu. Jelas-jelas ada pria yang berdiri di lorong menuju dapur. Tapi dia tidak melihatnya. Apakah dia sedang berbohong, atau memang hanya aku saja yang bisa melihatnya?

Pria itu maju beberapa langkah, auranya sangat dingin membuatku merinding hebat. Karena merasa bahaya, aku pun memutuskan untuk keluar dari kontrakan wanita itu. Tak ku hiraukan wanita itu memanggilku.

"Mas... Mas ... Tunggu dong! Jangan cari alasan untuk kabur, Mas. Kamu harus tanggung jawab. Mas...!" Wanita itu menyembulkan kepala dari pintu.

"Tanggung jawab apaan! Main aja belum!" Pikirku, masuk ke dalam kontrakan lalu menguncinya rapat-rapat.

Dadaku masih kembang kempis karena terciduk mau ahem-ahem dengan wanita itu. Tapi yang jadi masalahnya, kenapa hanya aku yang bisa melihatnya?!

"Jangan-jangan...aku mulai bisa melihat mereka lagi?"

Dua tahun yang lalu aku pernah mengalami kecelakaan kerja di pabrik tempatku bekerja, dan ketika terbangun dari koma, aku mulai bisa melihat para arwah. 

Namun, karena mulai merasa terganggu dengan kehadiran mereka, aku pergi ke dukun untuk menutup mata batinku. 

Aku menggelengkan kepala, "Gak mungkin aku bisa lihat arwah lagi. Tadi itu pasti cuma halusinasi aja."

Aku kemudian meraih handuk yang menempel di paku dinding. Ketika membuka pintu toilet, aku terkejut bukan main sampai aku melompat dan terjatuh ke belakang. 

"Astajim!" Ucapku tak terlalu fasih karena memang aku bukan orang yang ahli ibadah. Tapi aku bisa mengaji.

Napasku kembali memburu melihat penampakan pria yang tadi ada di kontrakan wanita itu, tiba-tiba pindah ke tempatku. Apa dia mau balas dendam hingga mengejarku ke sini? Tapi dia lewat mana? Manusia normal tidak mungkin bisa menembus pintu atau dinding, kan?

"S-siapa kamu!" Aku menunjuk pria itu dengan tangan bergetar.

Pria itu berjalan maju. Penampilannya tidak seram, dia seperti orang biasa, tapi cukup membuatku terkejut karena tiba-tiba saja sudah ada di hadapanku. 

"Beraninya kamu mau ambil kehormatan calon pengantinku!" Pria itu melotot sampai bola matanya keluar dan membesar.

Aku melongo, suaraku tercekat tak bisa keluar. Sudah dapat dipastikan pria ini pastilah bukan manusia. Jika manusia, mana ada yang matanya keluar dan membesar seperti baseball. Merah, lonjong, berurat, dan panjang.

"Wanita tadi yang hampir menjilat es gabus milikmu, dia adalah calon pengantinku!" Ucapnya lagi. Matanya mulai mengecil normal.

"Aku tidak tahu. Dia yang memaksaku dan bilang tidak ada pacar. Memangnya kamu ini siapa?" Dia memakai seragam sepak bola. Apakah dia seorang pemain?

Setelah kutanya, pria itu justru menangis tersedu-sedu membuatku semakin bingung. Pria itu memukul-mukul tembok sampai bergetar.

"Waduh, jangan nangis dong! Bisa roboh ini kontrakan! Kontrakan ini bukan milikku," ucapku bingung.

Tak tahu pria itu akan marah atau tidak, tetapi, Jurusku manjur. Pria itu berhenti menangis.

Pria itu melotot ke arahku, lalu melempar CD tahun 1990 itu ke arahku. Karena aku termasuk orang yang gesit, aku pun berhasil menangkapnya sebelum mengenai wajahku yang suci ini.

"Hap, gak kena!" Jawabku, lalu memakainya kembali. 

Lelah berdiri, aku dan pria itu duduk di lantai sambil menyandar di tembok.

Windu adalah seorang pemain sepak bola. Ketika sedang bertanding, lawan mainnya menendang bola dan mengenai burungnya yang sedang tidur nyenyak di dalam sangkar.

"Aku merasakan sakit luar biasa sampai ke ubun-ubun. Mungkin dua telor burungku yang sudah ku pelihara seperti anak sendiri itu, pecah. Aku di bawa ke rumah sakit dan sampai sekarang koma."

Aku meringis mendengar kisah burungnya dihantam. Ikut ngilu sampai ke ubun-ubun.

"Oleh karena itu, karena kamu satu-satunya yang bisa melihat arwahku, maka aku mau minta bantuanmu," lanjut Windu membuat mataku melebar kaget. 

Lanjut membaca
Lanjut membaca