

"Sekarang pergi dari sini! Pergi sejauh mungkin! Aku benar-benar sudah muak denganmu, Nevan!" Elisa berteriak, melemparkan koper Nevan ke jalanan dan kemudian melemparkan dokumen perceraian yang menandakan keseriusan Elisa ketika beberapa saat yang lalu dia berkata ingin berpisah dari Nevan.
"Sa, kita bisa bicara baik-baik. Kita bisa selesaikan masalah kita sama-sama, Sa. Aku janji bakalan lebih rajin lagi cari kerja yang bagus supaya bisa nafkahin kamu. Kamu tahu 'kan, selama ini aku selalu usahain yang terbaik buat kamu."
Nevan, pemuda yang berasal dari desa kecil, merantau ke kota besar dan kemudian menikah dengan Elisa—putri dari seorang dokter di rumah sakit besar yang ada di kota.
Pernikahan Nevan dan Elisa awalnya ditentang oleh keluarga Elisa karena mengingat status Nevan yang tidak setara dengan mereka, namun mengingat saat itu Elisa sudah hamil anak Nevan, keluarga Elisa terpaksa menerima Nevan untuk mempertahankan nama baik keluarga.
Pernikahan Nevan dan Elisa awalnya berjalan mulus, terlebih lagi saat itu Elisa sedang mengandung anak mereka. Namun karena kelalaian Nevan, Elisa akhirnya mengalami keguguran yang membuat hubungan di antara keduanya terasa mulai dingin dan tidak bergairah lagi.
Ditambah Nevan yang tiba-tiba di-PHK dari kantor tempatnya bekerja yang tidak memberikan gaji yang besar. Dan ketika berada di titik kehidupan berumah tangga, Nevan dan Elisa bahkan sampai kehilangan rumah mereka dan terpaksa menumpang di rumah orangtua Elisa.
"Karena kebodohan kamu kita kehilangan rumah hadiah dari papa aku. Kamu udah berkali-kali mengecewakan aku dan juga keluarga aku, Van. Dan aku udah capek! Aku muak, dan aku udah benar-benar nggak ada nafsu lagi sama kamu. Hubungan kita berdua itu udah hambar! Jadi aku mohon sama kamu, pergi dari sini, tanda tangan surat itu dan biarin aku hidup bebas!" pinta Elisa.
"Bagiku, lebih baik hidup sebagai janda dibanding hidup sebagai istri dari laki-laki tidak berguna yang cuma bisa numpang hidup sama istrinya! Kalau kamu masih punya muka dan masih punya malu, setidaknya kamu bisa pergi sekarang, dan kalau bisa, kembalikan rumah papaku yang hilang karena kamu!"
→→→
Dibuang oleh istri yang sangat ia cintai, hati Nevan begitu hancur. Dan kini, ia benar-benar sendiri di dunia ini. Tidak punya keluarga sama sekali, dan bahkan tidak punya tujuan untuk pergi. Nevan hanya berjalan tanpa arah di bawah guyuran hujan dengan membawa koper besar yang tampak lecet.
Hujan yang begitu deras menghapus air mata Nevan. Nevan berjalan dengan tatapan mata yang kosong, saat ia tidak menyadari apa-apa, tiba-tiba sebuah limusin hitam mendekatinya, perlahan-lahan semakin mendekat dan kemudian berhenti, lalu disusul dengan suara klakson yang membuat langkah kaki Nevan ikut terhenti.
Nevan memperhatikan limusin itu untuk beberapa saat, kemudian berniat ingin mengabaikannya saja dan melanjutkan perjalanan tanpa arahnya. Namun saat Nevan ingin mengambil langkah pertama, pintu limusin itu terbuka, menghalangi jalan Nevan.
Dari dalam limusin itu, seorang wanita dengan rambut panjang terurai, bibir tebal dengan lipstik merah, mini dres hitam yang memperlihatkan lekukan indah tubuhnya, memegang payung berwarna hitam yang ukurannya cukup untuk melindungi Nevan juga.
Wanita itu memberikan senyuman yang terasa sedikit aneh bagi Nevan, lalu kemudian dengan tangan halusnya, wanita itu memegang dagu Nevan, memutar wajah Nevan ke kiri dan ke kanan—dia saat itu seakan-akan sedang memeriksa kelayakan sebuah barang yang ingin dia beli.
"Kamu... apa yang kamu lakukan?" tanya Nevan, mengambil beberapa langkah mundur hingga keluar dari perlindungan payung yang dibawa oleh wanita itu.
"Jangan menghindar. Jika terkena hujan terlalu lama, kamu bisa demam," sahut wanita itu, kembali mendekati Nevan, membuat Nevan masuk ke dalam lindungan payungnya.
"Kamu siapa? Apa yang kamu inginkan dariku?" tanya Nevan lagi. Dan hal yang wajar bagi Nevan untuk bertanya. Karena aneh saja rasanya, kenapa seorang wanita yang cantik dengan limusin dan juga pakaian bermerek desainer terkenal mau menolong dirinya dan bahkan tampak sangat peduli kepadanya.
Dari cara wanita itu melihat Nevan benar-benar sangat berbeda dari cara Elisa melihat dirinya. Di mata Elisa, Nevan tidak lebih baik daripada sampah. Tetapi di mata wanita ini, Nevan tampaknya seperti emas dan perhiasan bernilai tinggi.
"Astaga, maafkan aku. Aku lupa memperkenalkan diri. Perkenalkan, namaku Isabella. Kamu Nevan bukan?"
Wanita itu mengaku jika namanya adalah Isabella. Dan satu hal lagi yang membuat Nevan kaget adalah: Bagaimana wanita dengan nama Isabella itu tahu namanya?
"Kamu tahu namaku? Bagaimana caranya?" tanya Nevan.
"Kamu ingin tahu?"
"Iya."
"Kalau kamu benar-benar ingin tahu, ayo ikut denganku. Kita pergi ke tempat yang lebih nyaman untuk bicara. Dan tentu saja tempat itu bukan di sini."
Tanpa banyak bicara, wanita bernama Isabella itu membawa Nevan pergi dengan limusinnya. Tidak peduli dengan penampilan Nevan yang seperti gembel, seperti tidak mempermasalahkan keadaan Nevan yang saat itu basah kuyup karena baru saja diguyur hujan deras.
Isabella yang misterius, tetapi tampak sangat ramah dan baik hati. Dia dengan penuh perhatian memberikan handuk bersih kepada Nevan agar Nevan bisa mengeringkan wajah dan rambutnya.
Namun, betapa terkejutnya Nevan saat melihat nama brand dari handuk itu. Itu brand mahal dan ekslusif. Brand Royal. Dan dari situlah Nevan mengetahui jika Isabella bukan wanita sembarangan. Jelas sekali jika dia adalah wanita dari keluarga kaya raya.
Setelah beberapa puluh menit, limusin itu berhenti tepat di depan sebuah mansion megah dengan gaya klasik serta taman yang indah dan ditambah lagi dengan air mancur yang menambah kesal mewah dan megah.
Koper Nevan dibawa oleh supir limusin, dan Nevan diminta untuk mengikuti Isabella, masuk ke dalam mansion itu.
Nevan mengikuti Isabella tanpa merasa curiga, bahkan Nevan pun patuh saat Isabella meminta Nevan masuk ke dalam kamar utama di mansion itu.
Kamar yang mewah dengan ranjang yang terlihat sangat nyaman. Melihatnya saja sudah membuat Nevan merasa mengantuk. Namun, saat itu satu pertanyaan terlintas dibenak Nevan.
'Kenapa Isabella membawanya ke kamar itu?'
Nevan terus memikirkan alasan apa yang membuat Isabella memungut dirinya di tengah jalan. Apa yang menjadi pemicu Isabella sampai mengambil keputusan untuk membawa laki-laki seperti Nevan masuk ke dalam mansion mewahnya.
Saat Nevan tidak punya jawaban atas semua pertanyaan itu, Nevan berencana ingin bertanya langsung kepada Isabella. Namun, betapa terkejut Nevan saat melihat Isabella telah meninggalkan pakaiannya, dan kini dia hanya menggunakan pakaian dalam saja. Dan yang lebih gila lagi, dia menatap Nevan dengan tatapan aneh... seakan-akan dia menginginkan sesuatu dari Nevan.
"Isabella... apa yang kamu lakukan? Ke mana pergi bajumu?" Nevan berusaha untuk menutupi pandangannya, tetapi Isabella tidak membiarkan Nevan menutup matanya.
"Kenapa kamu menutup mata dan menghindar seperti itu? Apakah kamu tidak suka melihat sesuatu seperti ini? Kupikir para laki-laki suka saat wanita berpakaian seksi seperti ini. Apakah aku tidak berhasil membangkitkan nafsumu, Nevan?"
-Bersambung-