Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pusaka Tumpul Pak Kosim

Pusaka Tumpul Pak Kosim

Pena Langit | Bersambung
Jumlah kata
30.3K
Popular
5.2K
Subscribe
725
Novel / Pusaka Tumpul Pak Kosim
Pusaka Tumpul Pak Kosim

Pusaka Tumpul Pak Kosim

Pena Langit| Bersambung
Jumlah Kata
30.3K
Popular
5.2K
Subscribe
725
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalPria MiskinHarem21+
Pak Kosim adalah seorang duda beranak 1. Dan ia hanya seorang petani yang miskin. Suatu hari, saat ia sedang mencangkul di salah satu sawah milik warga, Pak Kosim malah menemukan sebuah benda di dalam tanah, bentuknya keris kecil. Namun tanpa di duga dan ia sadari, keris itu malah hinggap dan merasuk ke dalam lengannya. Setelah kejadian itu, hidup Pak Kosim berubah menjadi lebih baik, banyak sekali perubahan dalam hidupnya, termasuk beberapa wanita yang tertarik padanya.
Bab 1. Menemukan Pusaka Di Ladang

Pak Kosim adalah seorang duda beranak 1, berusia 45 tahun, dan ia hanya pria biasa yang miskin.

Bekerja serabutan, menjadi kuli bangunan, bahkan pergi ke sawah apabila sedang ada musim tanam padi.

Begitulah cara Pak Kosim mencari uang untuk menghidupi anak semata wayangnya, Nilam, yang saat ini  berusia 9 tahun dan sedang sekolah pada sebuah SD di desa.

Pagi ini, Pak Kosim dimintai oleh salah satu warga untuk mencangkul di sawahnya, karena sawahnya akan di tanami kacang-kacangan. Dan dia adalah seorang juragan tanah, namanya Sanusi.

"Pak Kosim. Tolong cangkul sawah saya ya, dan nanti sekalian tanam bibit kacang, uangnya saya kasih setelah pekerjaan selesai," pinta Sanusi, salah satu warga setempat pada Pak Kosim.

"Baik, Pak," jawab Pak Kosim setuju.

Saat ini sedang musim kemarau, jadi tak ada air di sawah dan tak bisa menanam padi. Lantas dari pada tanah sawahnya menganggur, Sanusi pun berpikir untuk menanam kacang di sawahnya, sehingga tanahnya bisa menghasilkan.

Lalu sebelum menuju ke ladang milik Sanusi, terlebih dahulu Pak Kosim mengurus Nilam yang hendak berangkat ke sekolah.

"Nilam. Ini uang jajanmu," ucap Pak Kosim memanggil Nilam yang masih ada di dalam kamarnya.

"Ya, ayah," ucap Nilam menerima uang sebesar 5 ribu rupiah dari ayahnya. Lalu Nilam pun akan berangkat ke sekolah dengan jalan kaki.

"Nilam pigi dulu ya, Yah," ucap Nilam sambil salim pada ayahnya.

"Ya, nak," ucap Pak Kosim.

Setelah Nilam pergi ke sekolah, Pak Kosim pun sarapan pagi berupa nasi putih dan telur dadar. Lalu barulah ia akan berangkat ke ladang milik Sanusi dengan menggunakan sepeda ontel tua milik ayahnya terdahulu, walaupun agak karatan, namun masih bisa di pakai olehnya untuk berpergian.

"Ok, perut sudah terisi. Saatnya bekerja untuk anakku," ucap Pak Kosim sambil membawa cangkul di atas pundaknya. Tak lupa ia memakai topi caping untuk menutupi kepalanya, agar bisa terhindar dari panas dan teriknya matahari.

"Sekarang berangkat," ucap Pak Kosim dengan semangat empat limanya.

Sampai di sawah milik Sanusi, Pak Kosim mampir ke sebuah gubuk, dan disana sudah ada Sanusi yang sedang menunggunya.

"Ngopi dulu, Pak. Setelah itu baru kerja, dari pada kopinya dingin," ucap Sanusi yang telah menunggu Pak Kosim di gubuk tersebut.

"Oh, iya juga ya Pak," ucap Pak Kosim yang kemudian duduk di gubuk sambil menikmati segelas kopi dan 2 potong kue.

Lalu Sanuni pun berbincang-bincang dengan pria berkepala empat itu.

"Akhir-akhir ini kemarau panjang ya, Pak. Padahal kita butuh air buat nanam padi," ucap Sanusi bercerita pada Pak Kosim.

"Ya mau gimana lagi, Pak. Hujannya ngak bisa di undang. Dan lagi pula, musim kemarau itu memang akan ada setiap tahun. Lalu bulan depan pasti akan hujan lagi," ucap Pak Kosim pada Sanusi.

"Ya, apa yang bapak katakan memang benar," ucap Sanusi setuju.

Matanya terus terpaku pada lahan yang kering, seolah tak ada arti kalau hujan tidak pernah turun.

"Hmm ... semoga ladangku menghasilkan," desah Sanusi di dalam batinnya.

Lalu Pak Kosim yang udah puas ngopi dan menghabiskan sebatang rokok. Ia pun turun dari gubuk dan mulai mencangkul tanah yang agak keras.

Duk!! Duk!! Duk!!

Sanusi yang tambun dan berperut buncit, tampak senang melihat Pak Sanusi mulai mencangkul lahannya.

"Ya, cangkul terus," ucap Sanusi dalam batinnya.

Tiba-tiba, seorang gadis manis muncul dan menyapa Sanusi. Dia adalah Desi, gadis ayu berusia 22 tahun berkulit kuning langsat, dan sedang kuliah kedokteran di kota.

"Yah, minta uang. Desi mau ke kampus," ucap Desi pada Sanusi.

Sanusi mengeluarkan dompetnya yang cukup tebal, lalu memberikan 2 lembar uang merah pada Desi.

"Nih uangnya," ucap Sanusi pada anak gadisnya itu.

"Makasih ayah, Desi pergi dulu," ucap Desi tanpa peduli pada Pak Kosim yang sedang mencangkul sawah.

Desi ini fisiknya cukup cantik, namun anaknya cukup sombong. Apalagi sama anak petani, entah kenapa ia enggan berteman, malah memilih anak kota sebagai temannya yang lebih berkelas.

Setelah melihat Desi meninggalkan area ladang dengan sepeda motornya, maka Sanusi pun ijin pamit pada Pak Kosim yang masih bekerja.

"Pak Kosim. Saya mau jalan-jalan dulu ya," ucap Sanusi pada Pak Kosim.

"Ya pak," jawab Pak Kosim terus mencangkul lahan yang kering itu.

1 jam ia mencangkul, dan menaman bibit kacang ke dalam tanah. Entah kenapa, pada cangkulan selanjutnya, tanah yang ia cangkul seperti menghantam sebongkah batu yang keras, padahal sebelumnya tidak ada batu sekeras itu di area lahan tersebut. Palingan cuma batu biasa yang bisa ia pindahkan dengan mudah, namun kali ini agak berbeda.

"Kok aneh?" pikir Pak Kosim.

Lalu ia pun menghentikan mencangkul dan mengorek tanah. Tanpa di duga, ia malah melihat sebuah benda hitam berbentuk keris kecil di dalam tanah itu.

"Keris?" pikir Pak Kosim mengernyit. Lalu perhatiannya teralihkan saat Siti datang dan memanggilnya.

"Pak Kosim! Pak Kosim!" teriak Siti yang membawa teko berisi air putih dan gelas di tangannya.

"Pak. Ini air minumnya, saya letakkan di gubuk ya," ucap Siti pada Pak Kosim.

"Ya, makasih Siti," ucap Pak Kosim melihat Siti.

Dia adalah seorang pembantu yang bohai, bekerja di rumah Sanusi. Dan penampilan Siti sempat menarik perhatian Pak Kosim.

Terkadang, Pak Kosim berpikir ingin bercinta dengan wanita seperti Siti ini, namun ia sadar, bahwa tak ada wanita yang menginginkannya, selain mendiang istrinya sendiri. Ia sadar bahwa dirinya cukup jelek, makanya ia terus menjomblo dan hampir tak mengenal yang namanya wanita dalam hidupnya.

Pusaka tumpulnya juga sudah lama tak pernah dia asah, padahal ia sangat ingin melepaskan hasratnya yang sempat tertahan.

Untuk senam jari pernah dia lakukan, tapi sensasinya jelas beda dengan melakukan hal itu pada wanita sungguhan.

Saat Pak Kosim masih merenung dengan kejombloannya, tanpa ia sangka bahwa Siti telah meninggalkan area ladang. Dan Pak Kosim hanya bisa melihat bongkahan bahenol milik Siti dari arah kejauhan. Sangat seksi dan menggoda.

"Wah, Siti benar-benar mantap. Sayang dia terlalu cuek padaku," pikir Pak Kosim melihat Siti semakin menjauh.

Dan setelah Siti pergi meninggalkan ladang, Pak Kosim pun kembali fokus pada tanah yang ia gali. Namun anehnya, keris yang tadinya sempat ia lihat, tiba-tiba sudah menghilang dari pandangan matanya.

"Loh, kemana keris itu?" tanya Pak Kosim heran dan bingung. Namun di sisi lainnya, salah satu lengannya yang berotot malah terasa kebas usai keris itu lenyap dari pandangannya.

"Lengan kananku kok kebas ya? Apa tadi aku mencangkulnya terlalu kencang?" Pikirnya.

"Ah yasudahlah, aku mau istirahat saja," ucap Pak Kosim menghentikan pekerjaannya dan menuju ke gubuk untuk meneguk air putih.

3 gelas masuk ke tenggorokannya, membuat ia kembali segar. Dan dahaganya pun terpuaskan.

"Ah, segarnya," ucap Pak Kosim setelah dahaganya terpuaskan. Tapi rasanya ada yang kurang, karena Siti hanya membawa air putih saja padanya, sedangkan pengganjal perut tidak ada.

"Ah, juragan tanah kok pelit ya? Masak cuma di kasih air putih doang? Padahal kerjanya kan ngak mudah," ucap Pak Kosim sedikit mengeluh.

Sebelumnya, ia terpaksa menerima pekerjaan dari Sanusi, karena uangnya tinggal sedikit, sedangkan kebutuhan Nilam harus ia siapkan. Lalu untuk pekerjaan lain seperti pekerjaan bangunan belum ada. Jadi mau tak mau harus menerima tawaran dari Sanusi.

"Hmm .... beginikah nasibku?" pikir Pak Kosim.

Tak mau ambil pusing, akhirnya Pak Kosim pun kembali bekerja. Hanya saja, entah kenapa kali ini pekerjaannya terasa enteng.

Sekali cangkul rasanya sangat ringan, membuat pekerjaannya cepat selesai.

"Akhirnya selesai juga. Tapi aku kok ngak capek ya?" pikir Pak Kosim sambil melihat area ladang sudah terpenuhi oleh gundukan tanah yang telah di bubuhi bibit kacang. Lalu Sanusi datang, dan melihat ladangnya udah beres. Hal itu membuatnya sangat puas.

"Wah, Pak Kosim hebat sekali ya. Padahal baru setengah hari. Tapi kok udah selesai?" tanya Sanusi takjub dengan pekerjaan Pak Kosim.

"Ngak tau juga ya. Saya aja bingung, kok bisa cepat selesai? Padahal lahannya kan luas," ucap Pak Kosim.

"Yasudah, kalau begitu. Hari ini Pak Kosim saya kasih 2 lembar, tapi besok harus pantau terus ladang saya ini. Dan jangan lupa di siram ya," ucap Sanusi pada Pak Kosim sambil menyerahkan 2 lembar uang merah.

"Ok juragan," sahut Pak Kosim tampak bersemangat.

Walau tadinya ia hanya di suguhkan air putih saja, namun kali ini menjadi tambah semangat setelah menerima 2 lembar uang merah.

Padahal, sebelumnya belum pernah ia menerima uang 200 ribu jika 1 hari bekerja. Terkecuali kalau angkat semen dari mobil dan di pindahkan ke dalam gudang.

"Yaudah, saya balik dulu ya. Udah lapar," kata Pak Kosim pada Sanusi.

"Ya," jawab Sanusi tanpa mau mengajak Pak Kosim untuk makan di rumahnya.

Lalu Pak Kosim pun akan meninggalkan ladang, dan pulang dengan sepeda ontel tuanya. Namun Hani, istrinya Sanusi yang agak pelit. Sempat melihat apa yang di lakukan oleh suaminya itu pada Pak Kosim. Dan ia merasa sangat keberatan dengan bayaran Pak Kosim yang agak tinggi.

"Yah, aku tadi sempat liat, kalau kamu itu ngasih uang sama Pak Kosim 200 ribu," ucap Hani dengan wajah cemberut pada suaminya.

"Emangnya kenapa, Han?" tanya Sanusi heran.

"Kok tanya kenapa? Seharusnya ayah mikir. 200 ribu itu kebanyakan, seharusnya 50 ribu aja udah cukup, apalagi kerjanya belum ada satu hari," ucap Hani jengkel.

"Enak kali ya si Kosim dapat duit gede," ucap Hani menambahkan. Membuat Pak Kosim sedih dan sakit hati, namun Pak Kosim enggan menanggapi hal itu, ia tahu bahwa mulut Hani sangat pedas ketika berucap. Jadi Pak Kosim memilih diam, dan berjalan menuju ke arah sepeda ontelnya.

"Kamu Han. Apa ngak bisa di jaga omonganmu itu?" tanya Sanusi setelah melihat Pak Kosim pergi.

"Udah, ayah diam aja, jijik aku sama dia," sahut Hani acuh, lalu ia pun meninggalkan area ladang dengan wajah jengkel.

Lanjut membaca
Lanjut membaca