

Rangga celingukan, mengabaikan hidangan mewah di hadapannya. Terlihat kampungan memang, karena ini adalah kali pertama ia pergi ke tempat mewah seperti itu hanya untuk mengisi perut.
Hari itu tiba-tiba saja Sonya yang merupakan pacar Rangga mengajaknya untuk makan malam. Rangga pikir mereka akan makan di tempat biasanya, tapi Sonya justru membawa Rangga ke restoran mewah.
"Kok nggak dimakan?" tegur Sonya.
"Oh?" Rangga tersenyum canggung dan meraih garpu di atas meja.
"Bagaimana aku bayarnya nanti?" gumam Rangga dalam hati ketika harus dihadapkan dengan hidangan mewah berupa steak yang harganya ratusan ribu per-porsinya. Sementara gajinya sebagai kuli bangunan hanya bisa menghasilkan seratus ribu per-hari. Itu berarti harga steak yang akan ia makan hari ini lebih mahal dari gaji hariannya.
"Cicilan motor juga belum lunas. Tapi, kan sudah dipesan. Sayang kalau tidak dimakan," Rangga kembali menggerutu dalam hati.
"Kamu nggak suka tempatnya?" Sonya kembali menegur.
"Suka... ini aku mau makan."
Dengan senyum pahit Rangga seolah terpaksa memakan hidangan mewah itu. Tapi cara Rangga makan membuat Sonya terdiam. Rangga menusuk sepotong daging itu dan langsung memakannya seperti orang kampung.
"Rangga," tegur Sonya.
"Hmm?"
Sonya menghela napas. "Kamu itu kampungan banget sih. Ini bukan warteg tahu! Buat malu saja."
Rangga tampak canggung, ia memandang sekitar. Tentu saja semua orang tampak berkelas kecuali dirinya. Meski sudah mengenakan pakaian terbaiknya, ia masih terlihat kampungan di tempat mewah itu.
"Maaf, aku terbiasa makan di warteg."
"Kamu bisa bayar, kan?"
Rangga mengeluarkan dompetnya dan memeriksa isi dompetnya yang tipis. Tapi kali ini dia membawa jumlah yang cukup besar, sekitar lima ratus ribu.
"Lima ratus ribu, cuma steak sama minum, cukup lah," gumam Rangga dalam hati.
Sonya kemudian memanggil pelayan restoran.
"Loh? Nggak dihabiskan dulu?"
"Aku kenyang."
"Tapi, kan masih banyak. Sayang kalau dibuang."
"Ya sudah, kamu bayar dulu terus nanti kamu makan lagi."
Rangga merasa sikap Sonya kali ini berbeda, agak ketus dan seperti sengaja mencari masalah. Tapi Rangga berusaha untuk memahami, mungkin suasana hati Sonya sedang buruk.
"Berapa semuanya, Mbak?"
"Totalnya satu juta lima ratus ribu, Kak."
Rangga refleks menyemburkan air yang baru masuk ke mulutnya hingga menghujani wajah Sonya.
"Astaga! Rangga!" Sonya berdiri sembari berteriak marah.
"Kamu ini jorok banget."
"M-maaf, maaf. Aku tak sengaja."
Sonya tampak kesal, ia mengambil tisu untuk menyeka wajahnya.
"Berapa tadi, Mbak?" Rangga memastikan, ia pasti salah dengar.
"Totalnya satu juta lima ratus, Kak."
Rangga dibuat melongo, ia memandang meja, memastikan tidak ada menu yang ditambahkan tanpa sepengetahuannya.
"Satu juta lima ratus."
"Benar, Kak."
"Hanya untuk dua porsi?"
"Betul, Kak?"
"Rangga, kenapa kamu tanya-tanya terus? Jangan kampungan," Sonya menegur layaknya seorang nyonya besar.
Rangga menggaruk kepalanya, wajahnya frustasi. Di dompetnya hanya ada uang lima ratus ribu dan beberapa recehan, tak mungkin ia bisa membayar tagihan semahal itu.
"Aku harus bayar pakai apa?" Rangga bergumam dalam hati.
"Rangga, cepat bayar!" sentak Sonya.
Rangga kemudian berdiri dengan wajah bingung. "Sonya, begini... kamu ada uang, nanti akan kuganti. Aku cuma punya lima ratus ribu di dompet."
Sonya menatap tak percaya. "Rangga, kamu jangan membuatku malu. Kamu itu laki-laki, yang harus bayar itu ya kamu."
"Iya, nanti akan kuganti. Sekarang aku pinjam dulu."
"Kalau miskin jangan ngajak pacar ke sini lah, Kak," sinis si pelayan restoran tanpa basa-basi.
"Kamu dengar, kan mbaknya bilang apa?"
"Mbak, tolong dijaga bicaranya. Saya memang miskin, tapi bukan berarti bisa dihina seenaknya seperti ini."
"Ya kalau begitu bayar dong, Kak. Masa pacarnya yang disuruh bayar."
"Ya sudah, kamu tunggu di sini. Aku pulang ambil uang dulu."
"Loh? Kok malah mau kabur, Kak?" tegur si pelayan yang langsung membuat mereka menjadi pusat perhatian.
"Saya bukan mau kabur, saya mau ambil uang."
"Pasti cuma alibi, kan? Kakaknya pasti mau kabur. Bayar dulu lah, Kak. Jangan asal kabur."
"Kampungan, orang miskin saja sok makan di sini," celetuk dari meja seberang.
Rangga memandang sekitar, kini orang-orang berkelas itu benar-benar menghinanya dengan mulut mereka, bukan lagi dengan tatapan mata. Rangga sakit hati, dia memang miskin, dia hanya kuli bangunan, tapi tak pernah sekalipun ia mengemis hanya untuk mengisi perutnya.
"Kalau tidak bisa bayar, biar saya yang bayar." Seorang laki-laki berumur datang dan berdiri di samping Sonya.
"Tidak perlu, Pak. Saya akan bayar sendiri."
"Dari penampilan kamu saja sudah meragukan kamu bisa membayar tagihannya. Kurangi harga diri kamu, kalau memang miskin, jangan sombong. Biar saya yang bayar."
Pria itu langsung mengeluarkan kartu ajaib yang bisa membuat seseorang disanjung ke mana pun mereka pergi dan tentunya Rangga tidak memiliki kartu ajaib tersebut.
"Ini, Mbak. Langsung bayar semuanya."
Rangga menahan tangan pria itu. "Tidak perlu, Pak. Saya tidak kenal dengan Bapak, jadi—"
"Saya bukan ingin membayarkan tagihan kamu," ujar pria itu dan membuat Rangga bingung.
"Maksud, Bapak?"
"Saya membayarkan tagihan pacar saya."
Sonya langsung menggandeng lengan pria berumur itu dan membuat Rangga terdiam bodoh selama beberapa detik.
"Sonya?"
"Terima kasih ya, sayang." Sonya mengecup pipi pria itu di hadapan Rangga.
"Sonya, ini apa maksudnya? Kamu pacarku, orang ini siapa?"
"Aku lupa belum memberitahumu, kita putus."
Rangga terperangah, kata yang seharusnya keluar justru tercekat di tenggorokan.
"Putus? Sejak kapan? Kenapa?"
"Mulai hari ini dan detik ini. Kenapa? Karena kamu miskin. Coba pikirkan sendiri siapa yang mau hidup miskin denganmu? Membayar tagihan makan saja tidak mampu, bagaimana mau membiayai hidupku. Kamu harus introspeksi diri, Rangga. Perempuan mana yang mau hidup miskin denganmu."
Rangga terpukul mendengar ucapan Sonya. Dia sudah sering dihina karena miskin, tapi mendengar itu dari wanita yang ia cintai membuat rasa sakitnya bertambah berkali-kali lipat.
"Aku memang miskin, tapi aku tulus padamu."
"Wanita itu tidak hanya butuh ketulusan, mereka juga butuh uang," ujar pria itu.
"Kamu terima saja, anggap saya membeli harga dirimu."
Pria itu kembali menyerahkan kartu ajaib di tangannya.
"Bayar semuanya."
"Jangan, Mas." Sonya menyergah.
"Rangga, kamu bilang punya lima ratus ribu, kan? Kamu bayar lima ratus ribu dan sisanya kami yang bayar. Anggap sebagai biaya putus."
"Cuma mokondo, pantas ditinggal." Pria di meja sebelah mencibir, semakin menjatuhkan harga diri Rangga.
Dengan sisa harga dirinya Rangga pun berbicara, dengan harapan bisa menjaga namanya di depan publik.
"Sonya, kalau kamu memang mau putus, jangan seperti ini lah. Kamu hanya perlu menjelaskan baik-baik alasannya. Apa untungnya kamu mempermalukanku seperti ini?"
Wanita itu tertawa, seolah tak ada ketulusan dalam hubungan mereka selama ini.
"Kamu mau tahu kenapa aku meminta putus di sini? Itu supaya kamu sadar, Rangga. Perempuan itu bukan hanya butuh cinta. Memang selama pacaran kamu bisa membelikanku apa? Ada barang branded?"
"Aku belikan kamu handphone keluaran terbaru. Meskipun nyicil, aku berusaha memberimu yang terbaik."
Kini pria berumur itu yang tertawa dan mengejek Rangga.
"Hidup kamu itu dipenuhi dengan cicilan. Mau mendapatkan perempuan cantik? Ya jangan bermimpi!"
Rangga kembali berbicara pada Sonya. "Kamu putuskan aku hanya demi bersama om-om ini? Yakin dia akan menikahimu? Aku yakin orang ini sudah punya anak-istri dan kamu hanya dijadikan simpanan."
Plak!
Tangan ringan Sonya menampar wajah Rangga.
"Jangan asal bicara kamu!"
Pria itu mendorong bahu Rangga. "Orang miskin seperti kamu hanya dipenuhi dengan kedengkian. Tidak terima dihina? Makanya jangan miskin! Jadi orang kaya!"
Kedua tangan Rangga terkepal, seandainya ia adalah orang sakti, mungkin detik itu juga ia akan mengutuk pria tua di hadapannya. Sayangnya dia hanyalah pria miskin yang bahkan tak memiliki rekening tabungan. Bagaimana ia bisa menabung jika uangnya pun tak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhannya.
"Kalau aku jadi kaya, kamu jangan sampai mengemis di kakiku. Penghinaan ini akan aku ingat sampai kapan pun itu, kamu ingat itu Sonya!" tandas Rangga.
Rangga mengambil uang di dompetnya dan melempar uang itu ke meja lalu melenggang pergi.
"Rangga," sergah Sonya.
"Jangan panggil namaku!" bentak Rangga seraya berbalik.
"Kurang seratus ribu."
Rangga tertegun, seolah-olah dunia ikut tertawa dengan kebodohannya. Seisi restoran tampak tengah menertawakan dan meremehkannya.
"Sudah, Sayang. Hanya seratus ribu, untuk ongkos dia pulang," ujar pria yang merebut Sonya dari Rangga.
Rangga kemudian kembali dengan membawa uang seratus ribu.
"Seratus ribu?" Rangga melemparkan selembar uang itu ke wajah Sonya.
"Anggap aku menyewamu selama ini!"
Dengan harga diri yang sudah terinjak-injak dan hati yang sakit, Rangga pun pergi sembari menahan rasa kesal dan malu. Ia hanyalah orang miskin yang datang ke tempat yang salah. Di dalam sana hanya ada orang-orang kaya dan tentu saja orang kaya selalu berada di pihak orang kaya lainnya. Dia yang miskin menjadi benalu yang harus diinjak sampai mati.
Rangga pergi ke parkiran untuk mengambil motornya. Ia memeriksa dompetnya dan hanya uang receh yang tersisa.
"Aku tidak menyangka Sonya tega melakukan ini padaku."
Rangga menggerutu sembari berjalan menuju di mana ia memarkirkan motornya. Namun, saat sampai Rangga celingukan. Memang hanya dia yang membawa motor ke sana, tapi satu-satunya motor di sana sudah tidak ada.
"Loh? Motorku kok hilang?"
Rangga berkeliling parkiran guna mencari motornya. Tapi tingkahnya yang celingukan justru disalahpahami oleh satpam di sana.
"Heh! Mas, mau maling ya!"
Rangga tampak kesal.
"Apa tampangku seperti maling? Aku yang kemalingan malah aku yang dituduh."
Rangga menghampiri si satpam berwajah sangar itu.
"Mau ngapain di sini?" tanya si satpam dengan nada menantang.
"Saya mencari motor saya, Pak. Tadi saya parkir di situ, tapi sekarang hilang."
Si satpam memandang sekeliling. "Seperti yang Mas lihat, tidak ada motor di sini. Semua yang datang itu pakai mobil."
"Ada, satu. Saya datang pakai motor, anda tadi juga melihat saya waktu saya datang. Sekarang motor saya di mana?"
Si satpam tampak tak acuh seolah keluhan Rangga bukanlah masalah besar.
"Mas taruh motornya tadi di mana?"
"Di situ."
"Sekarang motornya di mana?"
"Ya saya tidak tahu, harusnya saya yang tanya. Kenapa malah anda yang menginterogasi saya? Keamanan di sini siapa? Yang harusnya menjaga barang milik pengunjung itu siapa? Anda, kan? Ini kenapa motor saya bisa hilang di parkiran?"
"Kehilangan sesuatu di parkiran itu bukan tanggung jawab saya, Mas. Masnya saja yang kurang hati-hati."
Kekesalan Rangga semakin bertambah. Tak cukup dengan dipermalukan di dalam, sekarang pun dia tengah diremehkan hanya karena ia datang naik motor, bukan dengan mobil.
"Kalau begitu saya mau melihat rekaman CCTV." Rangga tak ingin mendebatkan hal yang tidak perlu, dia sedang patah hati.
"Tidak bisa, Mas. Tidak sembarang orang bisa mengakses CCTV."
Rangga geram hingga mencengkram kepalanya sendiri.
"Pak! Anda tolong mengerti keadaan saya. Itu motor saya cicilannya belum lunas. Jelas-jelas motor saya hilang di parkiran, itu berarti tanggung jawab pihak resto."
"Ya sudah, kalau begitu Mas lapor polisi saja. Kalau polisi ke sini, saya baru buka CCTV."
Rangga tak terima, tapi ia masih cukup waras untuk mengamuk di tempat umum seperti ini.
"Pak!"
"Lapor polisi saja, Mas," sahut si satpam dengan entengnya.
"Tidak bisa begitu dong, Pak. Motor saya hilang di sini, anda yang harus bertanggungjawab."
"Oh... tidak bisa, Mas. Di sini itu kawasan anti maling. Mas bisa lihat sendiri, semua yang datang ke sini naik mobil. Tidak ada motor di parkiran, Mas. Mas kalau butuh uang, bukan seperti ini caranya."
"Pak! Saya itu kemalingan!"
Rangga berteriak, tak terima karena dia telah disalahpahami. Tapi sepertinya tidak pegawai restoran atau pun pengunjung, semua orang di tempat itu sama saja.
"Ya sudah, lapor polisi."
"Dikira lapor polisi itu gratis?!"
"Miskin, kan?" celetuk si satpam. "Kalau miskin jangan bertingkah, Mas. Muka ganteng sia-sia kalau miskin."
Lagi, Rangga dibuat sakit hati. Bahkan wajah tampannya pun tak bisa mengangkat status kemiskinannya.
"Tunggu sampai saya kaya, saya beli tempat ini, saya pecat anda!" tandas Rangga, tak tahan lagi dengan semua hinaan yang ia dapatkan hari ini.
"Mimpi, Mas? Jangan ketinggian, kalau jatuh nanti bisa jadi gila."
Rangga tak peduli, ia meninggalkan parkiran sembari mencari-cari motornya. Tapi seolah hari apesnya sudah tertulis di kalender, tak cukup dengan kehilangan pujaan hati, Rangga juga harus kehilangan motornya. Pacar hilang, motor hilang tapi cicilan masih tetap berjalan. Begitulah nasib pemuda miskin ini.