

Debu jalanan menempel pada pakaian compang-camping Bayu Jagat ketika kakinya melangkah gontai meninggalkan rumah petak yang sudah hampir roboh itu. Di belakangnya, teriakan ayahnya masih terngiang, memaki dan mengusirnya pergi karena dianggap beban keluarga yang tidak berguna.
"Pergi kau! Jangan kembali sebelum bisa membayar hutang kami!"
Mata Bayu memerah, namun tidak ada air mata yang keluar. Sudah terlalu sering ia mendengar kata-kata menyakitkan seperti itu. Anak laki-laki berusia tujuh belas tahun itu hanya bisa menggigit bibir, menahan sakit di dadanya yang jauh lebih perih daripada luka fisik.
Kota Serayu yang ramai tidak membuat hatinya lebih tenang. Pedagang berteriak menawarkan dagangan, pendekar-pendekar muda berlalu-lalang dengan jubah megah yang menandakan kekuatan mereka. Ada yang sudah mencapai ranah Besi, bahkan beberapa di antaranya sudah menyentuh ranah Perunggu. Sementara dia? Bahkan ranah Kayu bintang satu pun tak bisa dicapainya.
Dantian yang tak bisa menyerap energi spiritual, jalur meridian yang rusak sejak lahir, akar spiritual yang tidak ada sama sekali. Bayu Jagat adalah sampah di mata dunia kultivasi. Mimpinya menjadi pendekar kuat hanyalah ilusi yang menyakitkan.
Kakinya membawanya tanpa tujuan hingga ia melewati gang sempit di antara kedai-kedai tua. Di sanalah telinganya menangkap bunyi logam bertabrakan, diikuti erangan kesakitan. Tubuh Bayu menegang. Jantungnya berdegup kencang, adrenalin mengalir meski ia tahu dirinya tidak mampu berbuat apa-apa.
Dengan hati-hati, ia mengintip dari balik tong kayu. Tiga orang berpakaian hitam sedang mengelilingi seseorang yang tergeletak di tanah, darah menggenang di bawah tubuhnya. Pedang panjang salah satu penyerang masih menetes darah segar.
"Kau kira bisa mencuri Token Jahat Saksana dan lolos begitu saja?" suara dingin salah satu penyerang menusuk udara malam.
Korban itu terbatuk, darah muncrat dari mulutnya. "Kalian... tidak akan... bisa menghentikan rencana kami..."
Cahaya energi spiritual meledak. Bayu memejamkan mata, tubuhnya gemetar ketakutan. Ketika ia memberanikan diri membuka mata lagi, keempat orang itu sudah tidak bergerak. Mati. Semua mati.
Bayu ingin lari, namun kakinya terasa kaku. Napasnya tersengal, keringat dingin membasahi punggungnya. Setelah beberapa saat yang terasa seperti selamanya, ia yakin tidak ada orang lain di gang itu. Dengan langkah gemetar, ia mendekati mayat-mayat tersebut.
Di tangan mayat yang terlihat paling muda, sebuah token perunggu berkilauan redup. Tulisan kuno terukir di permukaannya. Meski tidak bisa membaca sepenuhnya, Bayu tahu ini bukan benda sembarangan. Tangannya terulur, ragu-ragu, sebelum akhirnya meraih token itu.
Dingin.
Logam itu terasa dingin di telapak tangannya, namun ada getaran halus yang aneh. Bayu memasukkannya ke dalam saku lusuh celananya dan berlari meninggalkan tempat itu secepat yang ia bisa.
Tiga hari kemudian, Bayu berdiri di antara ratusan pemuda dan pemudi di kaki Gunung Wirabumi. Padepokan Jahat Saksana, organisasi kultivasi yang terkenal kejam namun kuat, membuka pendaftaran murid baru. Token yang ia temukan ternyata adalah izin masuk ujian yang sangat langka.
"Kalian yang berdiri di sini adalah yang beruntung," suara menggelegar seorang pria bertubuh besar bergema di lapangan. Jubah hitam keunguan yang dikenakannya menandakan ia sudah mencapai ranah Langit. "Namun keberuntungan saja tidak cukup. Hanya yang kuat yang layak menjadi murid Jahat Saksana!"
Ujian pertama dimulai. Satu per satu peserta maju untuk diuji akar spiritual dan jalur meridian mereka. Penguji, seorang wanita paruh baya dengan tatapan tajam seperti elang, menyentuh dahi setiap peserta dengan dua jarinya.
"Ranah Kayu bintang tiga, lulus."
"Ranah Kayu bintang lima, lulus."
"Ranah Besi bintang satu, sangat bagus, lulus."
Giliran Bayu tiba. Ia menelan ludah, dadanya sesak. Jari dingin penguji menyentuh dahinya. Energi spiritual mengalir, menyelidik, mencari. Wajah wanita itu berubah dari serius menjadi bingung, lalu berubah menjadi jijik.
"Tidak ada akar spiritual. Jalur meridian rusak total. Dantian kosong." Suaranya datar, tanpa emosi. "Kenapa sampah sepertimu ada di sini?"
Tawa mengejek meledak dari peserta lain. Bayu menunduk, wajahnya memanas. Ia ingin menjelaskan tentang token, tapi tenggorokannya tercekat.
"Tunggu."
Suara berat menghentikan keributan. Seorang pria tua dengan janggut panjang berjalan mendekat. Jubahnya berwarna hitam pekat dengan bordir naga merah, tanda bahwa ia adalah Kepala Penguji yang sudah mencapai ranah Raja.
Mata tuanya menatap Bayu dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kau memiliki token masuk?"
Bayu mengangguk cepat, mengeluarkan token dari sakunya. Pria tua itu mengamatinya sejenak, lalu tertawa pelan.
"Menarik. Sangat menarik." Ia memutar tubuhnya menghadap semua peserta. "Kau, bocah tanpa bakat. Aku beri kau satu kesempatan terakhir."
Jari kurus pria itu menunjuk ke arah gunung. Di sana, sebuah tangga batu panjang menjulang tinggi, menghilang di antara awan. Tangga Surgawi. Ujian legendaris yang bahkan peserta berbakat sekalipun kesulitan menaikinya.
"Naiki tangga itu sebelum matahari terbenam. Jika berhasil mencapai puncak, kau diterima. Jika tidak ...." Pria tua itu tidak melanjutkan kalimatnya, tetapi maksudnya sudah jelas.
Bayu menatap tangga yang sepertinya tidak berujung itu. Ini gila. Mustahil. Namun apa pilihan lain yang ia punya? Tidak ada.
Dengan tekad yang menggebu meski tubuhnya gemetar, Bayu mulai melangkah. Anak tangga pertama terasa berat, seakan ada tekanan tak terlihat yang menekan tubuhnya. Anak tangga kesepuluh membuat napasnya tersengal. Anak tangga keseratus membuat lututnya hampir menyerah.
Matahari bergerak perlahan di langit, menuju ufuk barat. Keringat mengucur deras membasahi seluruh tubuh Bayu. Otot-ototnya berteriak kesakitan. Beberapa kali ia hampir jatuh, namun terus memaksakan diri berdiri.
Peserta lain di bawah sana sudah tidak memperhatikannya lagi. Mereka melanjutkan ujian mereka sendiri, menertawakan usaha sia-sia bocah tanpa bakat itu.
Anak tangga keseribu. Kedua ribu. Tiga ribu. Bayu tidak lagi menghitung. Penglihatannya mulai kabur. Matahari sudah menyentuh garis horizon, cahayanya memerah seperti darah.
Hampir. Ia bisa melihat puncak tangga tidak jauh di atasnya. Hanya beberapa langkah lagi.
Kaki-kakinya melangkah. Satu. Dua. Ti ....
Batu di bawahnya retak.
Tubuh Bayu kehilangan pijakan. Gravitasi menariknya ke bawah dengan kejam. Teriakan tertahan di tenggorokannya ketika tubuhnya jatuh bebas, melewati tebing curam yang tidak ia sadari ada di sisi tangga.
Angin menderu di telinganya. Dunia berputar dalam pusaran kacau. Ia menutup mata, menerima nasib yang sepertinya sudah ditentukan sejak lahir.
Benturan.
Bukan keras seperti yang dibayangkan. Tubuhnya menghantam sesuatu yang empuk, lalu bergulir beberapa kali sebelum akhirnya berhenti. Rasa sakit menjalar di sekujur tubuh, namun ia masih hidup. Masih bisa bernapas.
Bayu membuka mata perlahan. Gelap. Ia berada di dalam gua. Cahaya redup dari celah-celah batu memberikan sedikit penerangan. Aroma tanah basah dan sesuatu yang lebih tua, lebih kuno, memenuhi hidungnya.
Dengan susah payah, ia bangkit. Setiap gerakan terasa menyiksa, namun tidak ada tulang yang patah. Beruntung. Sangat beruntung.
Langkahnya tertatih menjelajahi gua itu. Semakin dalam ia masuk, semakin kuat aroma aneh itu. Ada sesuatu di sini. Ia bisa merasakannya.
Di tengah ruangan gua yang lebih luas, di atas altar batu kuno yang penuh lumut, tergeletak sebuah kipas. Putih. Lusuh. Terlihat sangat tua dan tidak terawat. Namun ada daya tarik yang aneh, sesuatu yang membuatnya tidak bisa mengalihkan pandangan.
Tangan Bayu terulur, jari-jarinya menyentuh gagang kipas itu.
Dunia meledak dalam cahaya putih menyilaukan.
Energi mengalir masuk ke tubuhnya dengan ganas, merobek, membangun kembali, mengubah segalanya dari dalam. Bayu berteriak, namun tidak ada suara yang keluar. Tubuhnya kejang, bergetar hebat.
Lalu ... semuanya berhenti.
Bayu Jagat jatuh terduduk, kipas putih lusuh itu tergenggam erat di tangannya. Napasnya terengah, keringat bercampur darah menetes ke tanah. Namun ada sesuatu yang berbeda. Sangat berbeda.
Ia merasakan energi mengalir di jalur meridiannya yang seharusnya rusak. Dantiannya yang kosong kini berdenyut dengan kekuatan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Akar spiritualnya...
Bayu tertawa. Pelan pada awalnya, lalu semakin keras. Tawanya bergema di dinding gua, gila dan riang pada saat bersamaan.
"Akhirnya!" teriaknya dengan senyum lebar yang terlihat agak gila. "Akhirnya aku punya kekuatan! Hahaha!"
Ia mengayunkan kipas putih itu dengan sembarangan, dan angin kencang meledak dari ujungnya, menghantam dinding gua hingga retak. Mata Bayu membulat, lalu ia tertawa lagi, kali ini lebih keras.
"Wah, mainan baru yang asyik!"
Kepribadiannya berubah seketika. Bocah yang tadinya penuh keputusasaan dan kesedihan kini digantikan oleh seseorang yang terlihat sangat santai, riang, dan... sedikit konyol.
Namun jauh di kedalaman gua, di balik altar tempat kipas itu berada, sebuah ukiran kuno bersinar redup sebelum padam kembali.
Ukiran yang berbunyi, "Siapa yang mengambil Kipas Angin Suci Bayu Rampai, akan menanggung kutukan dan berkah yang setara."
Di luar sana, di Padepokan Jahat Saksana, Kepala Penguji tua itu menghentikan langkahnya. Matanya menatap tajam ke arah gunung, ke tempat Bayu jatuh.
"Jadi sudah ada yang menemukannya," gumamnya pelan, senyum tipis terukir di wajah tuanya. "Dunia akan segera berubah."