Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Codename : Tanpa Nama

Codename : Tanpa Nama

DSuwandhy | Bersambung
Jumlah kata
68.0K
Popular
512
Subscribe
174
Novel / Codename : Tanpa Nama
Codename : Tanpa Nama

Codename : Tanpa Nama

DSuwandhy| Bersambung
Jumlah Kata
68.0K
Popular
512
Subscribe
174
Sinopsis
18+PerkotaanAksiMafiaKriminalHarem
Aku hanyalah pria biasa. Sampai insiden itu membuatku menjadi sesuatu yang tak bisa disebut dengan nama. Di dunia ini, identitas adalah kelemahan. Dan aku memilih untuk tidak memilikinya.
BAB I : Malam Tanpa Peringatan

"Akhirnya selesai juga acara perpisahannya. Aku pulang duluan, ya. Mau siap-siap berangkat ke Jakarta," ucapku berpamitan kepada teman-teman.

Tidak seperti mereka yang masih bisa bersantai menikmati masa setelah kelulusan, kondisi ekonomi keluargaku tidak memungkinkan. Aku harus bekerja untuk membantu perekonomian di rumah.

"Dengan jadi anggota paskibra selama sekolah, harusnya kamu nggak bakal kaget nanti pas kerja," ujar mandor yang akan membawaku ke Jakarta.

Aku hanya tersenyum kecil.

Akhirnya aku berangkat ke ibu kota bersama rombongan tukang lainnya untuk mengerjakan proyek bangunan. Perjalanan panjang namun tidak begitu melelahkan karena kita bercanda dan sempat tertidur juga. Saat kami tiba di mess, jam sudah menunjukkan pukul dua pagi.

"Istirahat semua. Besok pagi langsung kerja," kata mandor singkat sebelum meninggalkan mess.

Hari-hari kulalui sebagai kuli bangunan. Tak terasa hampir satu bulan aku di Jakarta. Mandor terlihat senang dengan hasil kerjaku karena aku rajin dan jarang mengeluh. Di sisi lain, tubuhku semakin terbentuk karena pekerjaan fisik yang berat.

Sore ini cuaca tampak mendung. Pekerjaan hampir selesai, dan aku masih punya banyak tenaga karena sudah mulai terbiasa dengan ritmenya.

"Cong, tolong panggil mandor!" suruh salah satu tukang kepadaku.

Aku pun bergegas mencarinya. Setelah berkeliling area proyek dan tak menemukannya, aku melihat seseorang sedang mengobrol di gang sempit tak jauh dari lokasi.

Perawakannya mirip mandor.

Aku berjalan perlahan untuk memastikan.

Namun saat aku hendak memanggil—

Sesuatu yang mengejutkan terjadi.

Mandor tiba-tiba ditusuk dengan pisau.

Aku membeku. Tubuhku kaku. Nafasku tercekat.

"Sialan! Kenapa ada orang?" umpat si penusuk sambil mencabut pisaunya dari dada mandor.

Darah mengalir.

"Komeng! Beresin nih mayat. Ilangin bukti sesuai SOP. Gue mau beresin satu anjing dulu!" teriaknya.

Beberapa detik kemudian, dia sudah berdiri tepat di depanku.

"Mati lu, anjing!"

Pisau itu mengarah ke perutku.

Refleks aku menghindar. Nafasku memburu karena panik. Kakiku bergerak sendiri, berusaha menjauh dari serangan berikutnya.

"Si anjing ini boleh juga," katanya sambil terus mengejarku.

Gang sempit itu terasa seperti lorong tanpa ujung.

Dan aku sadar—

Hari ini bukan lagi tentang mencari nafkah.

Ini tentang bertahan hidup.

"Jangan bergerak."

Suara dingin terdengar dari dalam bangunan. Seorang pria berdiri di ambang pintu, menatapku tajam sambil menodongkan pistol.

"Mati lu, setan!" teriak si pembunuh yang tadi menusuk mandor.

Dengan refleks cepat, aku menghindar dari tebasannya.

"Kelarin. Gue nggak mau tahu. Jangan sampai dia ganggu," ujar pria bersenjata itu sambil menunjuk ke ujung gang.

Jantungku berdegup keras.

Di kedua ujung gang sudah ada orang berjaga.

Dan mayat mandor… sudah tidak ada.

"Sialan! Gara-gara lu gue bisa kena SP!" umpat si pembunuh sambil berlari ke arahku.

Tidak ada pilihan lain.

Dalam hitungan detik, aku memaksa diriku tenang. Menilai situasi.

Di tanganku masih ada cetok dan palu.

Aku harus bertahan.

Dia mengayunkan pisaunya membabi buta. Aku terus menghindar. Saat ujung pisau hampir menyentuh perutku, aku melihat celah kecil.

Aku bergerak ke kanan.

Palu di tangan kananku menghantam pergelangan tangannya sekuat tenaga.

Retakan terdengar.

Dia menjerit. Pisau terlepas.

Tanpa memberi kesempatan, aku menyerangnya. Cetok dan palu menghujani tubuhnya. Dia terjatuh. Aku mengunci kedua tangannya dengan kakiku dan memukulnya tanpa henti.

Darah muncrat, berhamburan mengenai muka dan pakaianku.

"Sepertinya dia barang bagus," gumam pria bersenjata dari dalam bangunan sambil menelepon seseorang. "Cepat bungkus anak itu."

Aku berhenti hanya ketika tubuh pria itu tak lagi melawan.

Aku tidak tahu dia masih hidup atau tidak.

Yang kupikirkan hanya satu: bertahan.

Buuk!!

Benda tumpul menghantam bagian belakang kepalaku.

Pandangan berkunang-kunang. Telingaku berdenging keras.

Aku terjatuh, tapi belum sepenuhnya kehilangan kesadaran.

Samar-samar kudengar seseorang menelepon. Mereka hendak membawaku.

Dengan sisa tenaga, aku melempar cetok ke arah suara itu.

Dia terkejut dan menghindar.

Namun sebelum aku bangkit, tongkat bisbol besi kembali diayunkan ke arahku.

Aku menendang kakinya dan berguling.

Saat tubuhnya goyah, aku bangkit dan

Boom!!

Palu menghantam kepalanya dan diapun terkapar.

Kepalaku terasa seperti pecah. Dunia berputar. Aku berjalan sempoyongan menjauh dari gang.

"Woi, anjing! Mau ke mana lu?" teriak pria itu sambil mengejarku.

"Lu nggak bakal ke mana-mana! Jangan melawan! Lu udah dikepung! Liat sekeliling lu!"

Aku berhenti.

Benar.

Aku sudah terkepung.

"Tuh, dengerin. Bos gue mau ngomong," kata si pemukul bisbol sambil mengaktifkan loudspeaker.

Suara berat terdengar dari telepon.

"Tenang aja. Kejadian ini nggak bakal panjang kalau lo ikutin arahan gue."

Aku terdiam.

"Lo punya bakat. Sayang kalau nggak dipakai. Kucing jalanan kayak lo bisa jadi macan kalau sama gue."

Kesadaranku perlahan kembali. Aku mengenali suara itu.

Pria yang sama yang tadi berdiri di dalam bangunan.

"Gimana? Kalau lo mau, sekarang masuk ke mobil."

Dia kembali menodongkan pistol, memberi isyarat agar aku keluar dari gang.

Aku tidak punya pilihan. Mereka membawaku masuk ke mobil. Jakarta yang tadi terasa luas, kini terasa seperti perangkap. Mobil melaju menuju tempat yang bahkan aku tidak tau di mana.

"Istirahat dulu. Jangan coba-coba kabur," ujar si pemukul bisbol saat mendorongku ke sebuah kamar.

Pintu tertutup.

Dan untuk pertama kalinya…

Aku sadar.

Aku bukan lagi anak desa yang merantau.

Sinar matahari menembus jendela kamar, menusuk tajam ke wajahku. Aku terbangun setelah tidur yang terasa panjang.

Sejenak aku bingung.

Di kamar ini sudah tersedia makanan dan satu set pakaian baru.

Setelah mandi, berganti pakaian, dan menghabiskan makanan yang disiapkan, aku keluar kamar. Bangunan ini cukup luas. Dari luar terlihat tua dan tak terawat, tapi di dalamnya terdapat banyak kamar dan beberapa ruangan lain yang tertata rapi.

"Kucing jalanan! Sini. Udah ditunggu sama bos."

Seseorang memanggilku dari ujung lorong. Aku mengikutinya sambil memperhatikan sekitar lebih detail.

Ternyata bangunan ini terhubung dengan sebuah percetakan. Mesin-mesin fotokopi berdengung. Beberapa orang bekerja seperti karyawan biasa.

Samar dan normal, seolah tidak ada yang aneh.

"Masuk," ujar pria yang mengantarku sambil membukakan pintu sebuah ruangan.

Aku melangkah masuk.

Pria yang semalam menodongkan pistol kini duduk santai di balik meja. Tatapannya tetap tajam.

"Selamat datang di percetakan," katanya tenang.

"Di sini lo bakal jadi anak buah gue. Kita nerima order dari klien. Dibayar sesuai permintaan."

Dia mengambil sebuah berkas dari meja.

"Dan lo nggak bisa nolak. Karena gue udah megang data lo."

Berkas itu dilempar pelan ke hadapanku.

"Tenang aja. Selama lo ngikutin SOP, hidup lo aman di sini."

Aku membuka berkas tersebut, nafasku terasa berat.

Data diri, alamat rumah, nama orang tuaku, bahkan detail tentang keluargaku tercantum lengkap.

Aku menutup berkas itu perlahan.

"Jadi apa pekerjaan gue?" tanyaku singkat.

Dia tersenyum tipis.

"Karena lo kemarin udah matiin anak buah gue, sekarang lo gantiin posisi dia."

Dia bersandar di kursinya.

"Lo bakal jadi algojo."

Ruangan terasa lebih dingin.

"Tentu nggak langsung. Lo bakal didampingi dan dilatih dulu karena gue nggak butuh kucing. Gue butuhnya singa."

Aku diam. Tidak menolak. Tidak menyetujui.

"Oke. Karena lo udah ngerti garis besarnya, sekarang lo bisa panggil gue Mitra," lanjutnya.

"Gue kepala di percetakan ini. Yang kemarin itu Komeng. Sama Rizal yang mukul lo pake tongkat bisbol."

Dia mengambil rokok dan menawarkannya padaku.

"Mau?"

"Maaf, Bang. Gue nggak ngerokok."

"Oh?" Dia terkekeh kecil. "Bagus. Bagus, kucing jalanan."

"Bang, kalau sekarang gue kerja sama lo, gue minta satu hal. Jaga identitas asli gue, jangan pernah panggil nama asli gue."

Aku tak ingin keluargaku tahu dunia seperti apa yang kini kumasuki.

Bang Mitra mengangguk pelan.

"Tenang aja, semua yang di sini punya nama panggilan masing-masing."

Dia berdiri.

"Tapi lo belum pantas dapet nama, beresin latian lo dulu."

Dia menunjuk ke arah pintu.

"Sekarang keluar, cari Rendy, dia yang bakal ngebimbing lo. Klo lo lulus, baru kita lihat, lo jadi kucing, atau jadi singa."

Aku berdiri.

Sebelum keluar, aku menoleh sekali lagi ke ruangan itu.

Percetakan.

Tempat yang mencetak kertas.

Dan mungkin, mulai hari ini, tempat yang akan mencetak ulang hidupku.

Lanjut membaca
Lanjut membaca