
Jodohku Ternyata Anak Seorang Penghulu KUA
ipikahmad|Bersambung
- Jumlah kata
- 34.9K
- Popular
- 324
- Subscribe
- 61
- Jumlah kata

ipikahmad|Bersambung
Ahmad Zaidan Al-Fariz, seorang perwira menengah TNI Angkatan Udara dengan pangkat Mayor, dikenal sebagai sosok yang gagah perkasa, tegas, dan berwibawa. Di balik seragam birunya yang gagah dan kemampuannya mengendalikan jet tempur di angkasa, Ahmad adalah pria yang rendah hati meskipun memiliki kekayaan tujuh turunan dari bisnis keluarga yang dikelola secara profesional. Baginya, integritas adalah segalanya, namun ada satu hal yang belum berhasil ia "taklukkan": restu sang Ibu untuk memilih pasangan hidup sendiri. Di sisi lain, hidup seorang gadis bernama Rahma Az-Zahra. Ia adalah personifikasi dari keanggunan yang sederhana. Rahma adalah putri tunggal dari Pak Pahlevi, seorang penghulu senior di Kantor Urusan Agama (KUA) yang sangat dihormati di lingkungannya. Pak Pahlevi dikenal sebagai pria yang bijaksana, teguh pada prinsip agama, dan telah menikahkan ribuan pasangan, namun ia selalu menyimpan doa khusus agar putrinya mendapatkan jodoh yang tidak hanya mencintainya, tetapi juga mencintai Sang Pencipta. Pertemuan yang tidak terduga Pertemuan mereka bermula dari sebuah kejadian unik. Ahmad, yang baru saja pindah tugas ke pangkalan udara baru, diminta oleh komandannya untuk mengurus berkas administrasi pernikahan salah satu prajurit bawahannya di KUA setempat. Di sana, ia bertemu dengan Pak Pahlevi yang sedang sibuk merapikan berkas. Namun, bukan Pak Pahlevi yang pertama kali mencuri perhatiannya, melainkan seorang gadis yang sedang membawakan segelas teh hangat untuk sang ayah. Gadis itu adalah Rahma. Tatapan mata Ahmad yang biasanya tajam bagaikan elang, seketika melunak saat melihat keteduhan di wajah Rahma. Ujian dan Ketulusan Ahmad yang terbiasa dengan strategi perang kini harus menyusun strategi "pendekatan" yang jauh berbeda. Ia tidak bisa menggunakan kekayaan atau pangkatnya untuk memikat hati keluarga Pak Pahlevi. Pak Pahlevi adalah sosok yang melihat laki-laki dari tanggung jawab dan akhlaknya, bukan dari seberapa banyak bintang di pundak atau nol di saldo rekeningnya. Perjalanan cinta mereka tidak berjalan mulus begitu saja. Ahmad harus membuktikan bahwa meskipun ia terbiasa hidup mewah dan berada di puncak karier, ia tetaplah pria yang bersedia sujud rendah di hadapan Tuhan dan berbakti kepada orang tua. Di sisi lain, Rahma merasa rendah diri. Ia hanyalah anak seorang penghulu, sementara Ahmad adalah "pangeran angkasa" dengan masa depan yang berkilauan. Garis Takdir di Meja Akad Konflik memuncak saat Ahmad harus menjalankan misi mendadak yang mempertaruhkan nyawa tepat sebelum prosesi khitbah (lamaran). Di saat itulah, Rahma dan Pak Pahlevi diuji kesabarannya. Keikhlasan Rahma dalam menanti sang perwira membuktikan bahwa cinta mereka bukan sekadar ketertarikan fisik. Akhirnya, takdir membawa Ahmad kembali ke kantor KUA yang sama. Namun kali ini, ia datang bukan untuk mengurus berkas orang lain. Dengan mengenakan seragam Pakaian Dinas Upacara (PDU) yang gagah, Ahmad duduk berhadapan dengan Pak Pahlevi sang calon mertuanya.
2 ulasan
windy lunara
14/4/26 18:22
novel romansa tapi dikemas dengan simpel dan mudah dipahami.. sangat menarik dan pasti bikin penasaran. semangat kak author. ditunggu selalu karyanya 🔥🔥
Seesaw
14/4/26 12:31
keren kak, aku nyaman bacanya. bahasa tulisnya mudah aku mengerti. semangat terus ya, aku tunggu episode selanjutnya. salam hangat dari aku Seesaw, jangan lupa mampir MENJADI IDOL.
Ada yang bilang, takdir manusia sudah tertulis rapi di Lauhulmahfudz sebelum napas pertama berembus. Namun bagi seorang pilot tempur, takdir sering kali terasa lebih dekat di antara deru mesin jet dan hamparan awan yang membelah cakrawala. Di ketinggian puluhan ribu kaki, pangkat tak lagi berarti, harta tak bisa membeli nyawa, yang ada hanyalah ketaatan pada instruksi dan kepasrahan pada Sang Pemilik Langit.
Matahari baru saja naik sepenggalah di ufuk timur Pangkalan Udara Iswahjudi. Cahayanya memantul tajam pada badan logam pesawat tempur F-16 Fighting Falcon yang berjejer rapi di apron. Di tengah kebisingan teknisi yang sedang melakukan pengecekan terakhir, seorang pria berjalan dengan langkah tegap yang memancarkan aura otoritas alami.
Ahmad Zaidan Al-Fariz.
Setiap pasang mata yang berpapasan dengannya secara otomatis memberikan hormat. Ahmad, dengan setelan flight suit hijau zaitun yang melekat pas di tubuh tegapnya, hanya membalas dengan anggukan tipis dan senyum simpul yang sopan. Ia memegang helm penerbang di tangan kiri, sementara tangan kanannya sesekali membetulkan sarung tangan.
Ahmad bukan sekadar perwira. Ia adalah definisi dari "sempurna" di mata orang awam. Wajahnya memiliki garis rahang yang tegas, hidung mancung yang proporsional, dan sepasang mata elang yang mampu mengintimidasi lawan sekaligus menenangkan kawan. Lebih dari itu, rahasia umum di pangkalan menyebutkan bahwa Ahmad adalah putra mahkota dari dinasti bisnis Al-Fariz Group yang asetnya tersebar di seluruh penjuru negeri. Namun, jika Anda melihatnya sekarang, tidak ada satu pun atribut kemewahan yang ia pamerkan. Baginya, jet tempur ini adalah kantornya, dan pengabdian adalah nafasnya.
"Eagle One siap untuk take-off," suara Ahmad terdengar berat dan stabil melalui radio komunikasi.
Dalam hitungan detik, mesin jet menderu dahsyat, menciptakan getaran yang menggetarkan aspal landasan. Ahmad menarik tuas kendali. Gravitasi seolah menarik tubuhnya ke belakang saat pesawat itu melesat membelah gravitasi, menanjak vertikal menuju hamparan biru yang tak berbatas. Di atas sana, Ahmad merasa bebas. Di atas sana, ia bukan ahli waris miliaran rupiah; ia hanyalah seorang hamba yang menjaga kedaulatan tanah airnya.
Latihan tempur pagi itu berlangsung sengit. Ahmad melakukan manuver high-G turn dengan presisi yang mematikan. Kecerdasannya dalam membaca radar dan memprediksi pergerakan lawan fiktif membuatnya dijuluki "Elang Langit". Namun, di tengah adrenalin yang memuncak, batinnya tetap tenang. Ia adalah tipe pria yang mampu berpikir jernih di bawah tekanan ribuan ton besi.
Dua jam kemudian, roda pesawat menyentuh landasan dengan pendaratan yang sangat halus—sebuah bukti jam terbang dan ketenangan jiwa. Setelah mematikan mesin dan melepas segala atribut terbangnya, Ahmad turun dari kokpit. Keringat membasahi pelipisnya, menambah kesan maskulin yang sering kali membuat para perawat di RS Angkatan Udara salah tingkah jika ia lewat.
"Izin, Mayor. Mobil jemputan sudah siap di depan hangar untuk membawa Mayor ke restoran di pusat kota. Ibu besar sudah memesankan tempat untuk makan siang Anda," ujar Sersan Dua Bambang, ajudannya, sambil menyodorkan air mineral.
Ahmad berhenti melangkah. Ia menatap mobil sedan mewah yang sudah menunggu di kejauhan, lalu beralih menatap deretan prajurit muda yang sedang berjalan menuju kantin barak sambil tertawa lepas meski seragam mereka kotor oleh oli.
"Batalkan pesanannya, Bam," ucap Ahmad tenang.
"Tapi Mayor, ini instruksi langsung dari Ibu..."
Ahmad tersenyum kecil, sebuah senyuman yang meruntuhkan kesan kaku militernya. "Katakan pada Ibu, saya sedang ingin menikmati menu spesial hari ini. Sampaikan permohonan maaf saya karena tidak bisa hadir di restoran mewah itu."
"Menu spesial? Di mana, Mayor?" tanya Bambang bingung.
"Kantin barak. Kabarnya hari ini ada sayur lodeh dan ikan asin, bukan?" Ahmad menepuk bahu Bambang, lalu melangkah menuju bangunan sederhana di pojok pangkalan tempat para prajurit rendahan makan.
Di kantin yang bising oleh suara kipas angin tua dan denting sendok aluminium, kehadiran Ahmad menciptakan keheningan sejenak. Para prajurit tamtama terperanjat, hendak berdiri untuk memberi hormat.
"Lanjutkan makannya. Di sini tidak ada Mayor, yang ada hanya orang lapar," kata Ahmad dengan nada santai.
Ia mengantre seperti yang lain, mengambil piring plastik, dan menyendok nasi serta sayur lodeh dengan porsi yang cukup. Ia duduk di bangku kayu panjang, bergabung dengan para teknisi mesin. Ahmad mendengarkan cerita mereka tentang keluarga di kampung, tentang cicilan motor yang belum lunas, hingga tentang kerinduan mereka pada orang tua.
Ahmad menyimak dengan takzim. Kekayaannya yang melimpah tidak membuatnya tuli terhadap realita kehidupan. Ia justru merasa lebih "hidup" di sini, di antara aroma keringat dan kejujuran, daripada di pesta-pesta mewah kelas atas Jakarta yang penuh kepalsuan.
"Mayor, apa benar Mayor akan segera pindah tugas ke Jakarta untuk memimpin skuadron baru?" tanya salah satu prajurit dengan ragu.
Ahmad mengangguk sambil mengunyah kerupuk. "Begitulah rencananya. Tapi sebelum itu, saya harus menyelesaikan beberapa urusan administratif."
Ia teringat pesan komandannya tadi pagi. Ada beberapa berkas pernikahan prajuritnya yang harus segera ditandatangani dan dikonsultasikan dengan kantor urusan agama setempat karena adanya kendala dokumen. Ahmad, yang selalu pasang badan untuk anak buahnya, memutuskan untuk mengurusnya sendiri sekalian memantau lingkungan tugas barunya nanti.
Siapa yang menyangka, keputusan sederhana untuk membantu anak buahnya itulah yang akan membawanya menuju sebuah pertemuan yang sudah digariskan Tuhan. Sebuah pertemuan yang akan mempertemukan sang penguasa langit dengan bunga bumi yang tumbuh di halaman kantor KUA.
Ahmad bangkit dari duduknya, membersihkan piringnya sendiri ke tempat pencucian, lalu berjalan keluar kantin. Sinar matahari siang itu terasa lebih hangat. Ia tidak tahu bahwa dalam beberapa jam ke depan, hatinya yang sekeras baja akan luluh oleh kesederhanaan seorang gadis bernama Rahma.
Jodoh memang unik, pikirnya sambil menatap langit biru. Ia tidak datang saat dicari dengan kemewahan, tapi ia hadir saat kita berjalan dengan kerendahan hati.
Ahmad melangkah menuju jip militer hitamnya yang terparkir tak jauh dari kantin. Ia menolak sopir, lebih memilih mengendalikan kemudi sendiri seolah-olah setir jip itu adalah tuas kendali F-16 yang baru saja ia tinggalkan. Angin siang yang terik menerpa wajahnya melalui jendela yang terbuka separuh, namun pikirannya tetap dingin, terfokus pada tumpukan berkas di kursi penumpang berkas pernikahan Kopda lukman, anak buahnya yang paling setia.
"KUA Kecamatan Melati," gumam Ahmad membaca alamat yang tertera.
Ia tersenyum tipis. Nama yang terdengar begitu lembut, kontras dengan dunianya yang penuh dengan dentuman sonik dan mesin turbofans. Baginya, tugas ini bukan sekadar administrasi, melainkan bentuk tanggung jawab seorang pimpinan kepada kesejahteraan batin prajuritnya. Ia tidak ingin kebahagiaan Lukman terhambat hanya karena urusan birokrasi yang berbelit.
Saat mobilnya memasuki kawasan pemukiman yang asri, kebisingan pangkalan udara perlahan memudar, digantikan oleh suara kicau burung dan lambaian pohon mahoni di sepanjang jalan. Ahmad memarkirkan jip gagahnya tepat di depan sebuah bangunan bersahaja dengan papan nama hijau bertuliskan "Kantor Urusan Agama".
Sesaat sebelum turun, Ahmad merapikan baret birunya di depan cermin tengah. Ia melihat pantulan dirinya seorang perwira yang memiliki segalanya; harta, pangkat, dan masa depan gemilang. Namun, di balik itu semua, ada ruang kosong di sudut hatinya yang tak mampu diisi oleh gemerlap kemewahan.
Ia melangkah keluar, sepatu larsnya beradu dengan ubin bersih teras kantor tersebut. Harum aroma melati sungguhan merasuk ke indra penciumannya, bercampur dengan suara lembut seseorang yang sedang membacakan ayat suci dari balik jendela kayu yang terbuka. Ahmad terpaku sejenak. Suara itu begitu tenang, seolah-olah setiap huruf yang dilafalkan mampu meredam riuh rendah ambisi dunianya.
"Permisi..." suara Ahmad yang berat memecah keheningan.
Tepat saat itu, seorang gadis dengan jilbab instan berwarna cokelat susu menoleh. Dunianya seolah berhenti berputar. Sang Elang Langit yang terbiasa menatap ufuk terjauh, kini terjatuh pada tatapan teduh seorang bunga bumi yang sederhana. Takdir baru saja mengetuk pintu, dan Ahmad tidak menyadari bahwa di sinilah, di kantor kecil ini, seluruh rencana hidupnya akan berubah selamanya.
Gadis itu tertegun sejenak, memegang mushaf kecil di tangannya. Tatapannya tidak lancang, melainkan penuh kesantunan yang membuat Ahmad—pria yang biasa menghadapi badai di ketinggian 40.000 kaki—tiba-tiba merasa oksigen di sekitarnya menipis. Ada kedamaian yang memancar dari wajah gadis itu, sebuah kecantikan yang tidak dipoles oleh kosmetik mahal, melainkan terpancar dari wudu yang terjaga.
"Mencari Bapak, Pak?" tanya gadis itu lembut. Suaranya halus, namun memiliki ketegasan yang sopan.
Ahmad berdeham, berusaha menguasai kembali wibawanya yang sempat goyah. "Ah, iya. Benar. Saya ingin bertemu dengan Kepala KUA di sini. Ada urusan administrasi anggota saya."
"Silakan masuk, Pak. Bapak sedang di ruang kerja, baru saja menyelesaikan pencatatan nikah di desa sebelah. Mari, saya antarkan," ucap gadis itu sembari mempersilakan Ahmad masuk ke dalam ruang tamu yang mungil namun tertata sangat rapi. Aroma kayu jati dan buku-buku tua menyambut indra penciuman Ahmad, memberikan rasa hangat yang asing namun menenangkan.
Gadis itu berlalu menuju pintu kayu di ujung lorong, meninggalkan Ahmad yang masih berdiri mematung di tengah ruangan. Di dinding, terpajang sebuah foto besar seorang pria paruh baya bersahaja yang sedang menjabat tangan seorang pengantin pria. Di bawahnya tertulis nama: H. Pahlevi, S.Ag. — Kepala KUA.
Tak lama kemudian, seorang pria dengan peci hitam dan kemeja batik rapi muncul dari balik pintu. Wajahnya dihiasi senyum ramah yang tulus, tipe wajah yang langsung membuat siapapun merasa diterima. Itulah Pak Pahlevi. Namun, yang membuat jantung Ahmad berdesir bukan hanya kehadiran sang penghulu, melainkan gadis tadi yang kini kembali dengan membawa sebuah nampan berisi segelas teh hangat dan piring kecil berisi singkong rebus.
"Silakan diminum, Nak. Maaf, hanya ada suguhan sederhana dari dapur kami," ucap Pak Pahlevi sambil menjabat tangan Ahmad dengan hangat.
Ahmad duduk, matanya sempat melirik sekilas ke arah gadis itu sebelum ia menghilang di balik tirai ruang tengah. Ia tidak tahu bahwa gadis itu adalah Rahma, putri kesayangan Pak Pahlevi. Ia juga tidak tahu bahwa kunjungannya hari ini bukan sekadar urusan dinas, melainkan awal dari sebuah misi paling sulit dalam hidupnya: memenangkan hati seorang penghulu yang tidak bisa dibeli dengan kekayaan, dan memikat putri sang penghulu yang hanya bisa didekati dengan ketulusan doa.
"Jadi, apa yang bisa saya bantu, Mayor?" tanya Pak Pahlevi, tatapannya menembus langsung ke mata Ahmad, seolah sedang membaca isi hati sang perwira.
Ahmad menarik napas panjang. Permainan takdir baru saja dimulai.
22 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.