
kalung pemberian nenek
AbA3108|Bersambung
- Jumlah kata
- 80.5K
- Popular
- 354
- Subscribe
- 110
- Jumlah kata
- 80.5K
- Popular
- 354
- Subscribe
- 110

AbA3108|Bersambung
Raka Adinata tidak pernah menganggap dirinya istimewa. Ia hanya seorang pria biasa yang bekerja, pulang ke rumah, membantu keluarganya, dan menjalani hidup tanpa banyak berharap pada cinta. Semuanya berubah setelah neneknya memberikan sebuah kalung tua kepadanya. “Jangan pernah memakainya untuk mendapatkan seseorang,” pesan sang nenek. Raka tidak memahami maksudnya. Sampai malam ketika ia pertama kali mengenakan kalung tersebut. Sejak saat itu, hidupnya berubah. Tatapan perempuan terasa berbeda. Percakapan sederhana menjadi penuh ketegangan. Perempuan-perempuan yang sebelumnya tidak pernah tertarik kepadanya mulai mencari alasan untuk berada di dekatnya. Namun daya tarik itu bukan sekadar keberuntungan. Kalung tersebut memiliki kemampuan untuk memperkuat perasaan yang sudah ada di dalam hati seseorang. Masalahnya, Raka tidak dapat mengetahui apakah seseorang benar-benar mencintainya atau hanya terpengaruh oleh kalung. Di tengah kekacauan itu muncul Alya, perempuan yang sejak awal tampaknya kebal terhadap pengaruh kalung. Alya justru membenci Raka. Semakin Raka berusaha memahami dirinya, semakin perempuan itu mendekat. Dan semakin dekat mereka, semakin Raka menyadari bahwa Alya mengetahui sesuatu tentang keluarganya. Sesuatu yang bahkan tidak diketahui oleh neneknya. Sementara itu, muncul perempuan lain bernama Vania, seorang wanita dewasa yang karismatik, cerdas, dan mengetahui sejarah Kalung Arunika. Ia mengatakan satu hal kepada Raka: “Kalung itu bukan hadiah.” Menurut Vania, kalung tersebut adalah sebuah warisan sekaligus kutukan. Setiap pemiliknya akan mendapatkan apa yang paling diinginkannya. Tetapi pada akhirnya akan kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga. Raka kemudian berada di antara cinta, godaan, kekuasaan, dan rasa takut. Ia dapat memiliki perhatian hampir siapa pun. Tetapi ia mulai mempertanyakan satu hal: Bagaimana jika orang yang paling dicintainya ternyata hanya mencintainya karena kalung itu?
Hujan turun sejak sore.
Bukan hujan deras yang menggelegar dan membuat jalanan kota tenggelam dalam air, melainkan hujan tipis yang seolah sengaja turun untuk membuat malam terasa lebih panjang.
Raka Adinata berdiri di depan jendela kamar rumah sakit.
Tangannya masuk ke dalam saku celana, sementara matanya memandangi lampu-lampu kota yang tampak buram di balik kaca.
Di belakangnya terdengar suara mesin monitor.
Bip.
Bip.
Bip.
Suara itu sudah menemaninya hampir tiga jam.
Namun semakin lama, suara tersebut justru membuat dadanya semakin sesak.
Di atas ranjang rumah sakit, Nenek Sri Rahayu terbaring dengan tubuh yang tampak jauh lebih rapuh daripada yang Raka ingat.
Perempuan tua itu adalah orang yang membesarkannya setelah kedua orang tuanya meninggal ketika Raka masih kecil.
Bagi Raka, neneknya bukan sekadar keluarga.
Nenek adalah rumah.
Tempat ia pulang ketika dunia terasa terlalu keras.
Tempat ia bisa mengeluh tanpa takut dihakimi.
Tempat ia selalu menemukan secangkir teh hangat dan seseorang yang berkata, “Tidak apa-apa. Besok kita coba lagi.”
Raka menoleh.
“Nek?”
Tidak ada jawaban.
Ia berjalan mendekati ranjang.
“Nenek tidur?”
Kelopak mata wanita tua itu bergerak perlahan.
Kemudian terbuka.
Tatapan yang lemah itu langsung menemukan wajah cucunya.
“Raka…”
Suara itu begitu pelan.
Raka tersenyum.
“Iya, Nek. Aku di sini.”
“Kamu belum pulang?”
“Belum.”
“Sudah malam.”
“Aku tahu.”
“Besok kamu kerja.”
Raka menarik kursi dan duduk di samping ranjang.
“Besok aku izin.”
“Kamu selalu begitu.”
“Memangnya kenapa?”
“Kalau Nenek bilang hujan, kamu ikut kehujanan.”
Raka terkekeh kecil.
“Kalau Nenek sakit, masa aku malah pulang?”
Nenek Sri tersenyum.
Untuk sesaat wajahnya terlihat seperti dulu.
Seperti wanita yang selalu berdiri di dapur pada pagi hari.
Seperti wanita yang memarahinya karena pulang terlalu malam.
Seperti wanita yang diam-diam memasukkan uang ke dalam dompetnya ketika Raka sedang kehabisan uang.
“Nenek masih ingat waktu kamu kecil?” tanya Nenek.
“Yang mana?”
“Kamu pernah menangis hanya karena layanganmu putus.”
Raka tertawa.
“Itu waktu umur tujuh tahun.”
“Kamu menangis seperti kehilangan dunia.”
“Karena layangannya mahal.”
“Lima ribu rupiah.”
“Bagi anak tujuh tahun, lima ribu itu mahal.”
Nenek ikut tertawa kecil.
Tetapi tawa itu segera berubah menjadi batuk.
Raka langsung berdiri.
“Nek?”
“Tidak apa-apa.”
“Aku panggil perawat.”
“Jangan.”
“Nenek—”
“Duduk.”
Nada suara itu lemah, tetapi masih memiliki ketegasan yang sama.
Raka menurut.
Nenek memandangnya cukup lama.
Terlalu lama.
Senyum kecil perlahan menghilang dari wajahnya.
“Raka.”
“Iya?”
“Ada sesuatu yang harus Nenek berikan kepadamu.”
Raka mengernyit.
“Apa?”
“Di laci meja.”
Raka menoleh ke meja kecil di samping jendela.
“Yang mana?”
“Laci paling bawah.”
Raka berdiri.
Ia membuka laci tersebut.
Di dalamnya hanya ada beberapa benda lama: saputangan, buku catatan kecil, sebuah foto keluarga, dan kotak kayu berwarna hitam.
Raka mengambil kotak itu.
“Nek, ini?”
“Bawa ke sini.”
Raka kembali duduk.
Ia menyerahkan kotak tersebut.
Nenek tidak langsung mengambilnya.
Sebaliknya, ia memandang kotak itu dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
Seperti seseorang yang sedang melihat masa lalu.
“Sudah lebih dari lima puluh tahun,” bisiknya.
Raka mengerutkan kening.
“Lima puluh tahun apa?”
Nenek menghela napas.
“Buka.”
Raka membuka pengait kecil di bagian depan.
Klik.
Penutup kotak terangkat.
Di dalamnya terdapat sebuah kalung.
Tali kalung itu berwarna hitam pekat.
Namun liontinnya membuat Raka langsung terdiam.
Liontin tersebut terbuat dari logam berwarna perak tua.
Bentuknya menyerupai mata.
Di tengahnya terdapat batu hitam kecil yang memantulkan cahaya seperti permukaan air di malam hari.
Raka mengangkatnya perlahan.
“Apa ini?”
“Kalung.”
Raka menatap neneknya.
“Ya, aku tahu ini kalung.”
Nenek tersenyum tipis.
“Pertanyaanmu sebenarnya adalah, kenapa Nenek memberikannya kepadamu.”
Raka terdiam.
“Tepat.”
Nenek mengulurkan tangan.
Raka memberikan kalung itu.
Jari-jari tua Nenek menyentuh liontin tersebut.
Anehnya, batu hitam di tengah liontin seperti memancarkan cahaya tipis.
Raka melihatnya.
“Nek…”
“Apa?”
“Barusan kalungnya…”
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
Nenek tersenyum.
“Kamu masih suka meragukan apa yang tidak bisa kamu jelaskan.”
“Karena biasanya sesuatu yang tidak bisa dijelaskan itu memang aneh.”
“Kalau begitu, kali ini percayalah pada Nenek.”
Raka memandangnya.
“Kalung ini milik siapa?”
“Dulu milik Nenek.”
“Dari mana mendapatkannya?”
“Dari seseorang.”
“Siapa?”
Nenek diam.
“Laki-laki?”
Pertanyaan itu membuat Nenek tersenyum samar.
“Kenapa kamu langsung berpikir begitu?”
“Karena wajah Nenek berubah.”
“Wajah Nenek memang sudah tua.”
“Bukan itu.”
Nenek tertawa kecil.
“Kamu mulai pandai membaca orang.”
Raka memandangi kalung itu lagi.
“Apakah kalung ini berharga?”
“Sangat.”
“Berapa?”
“Tidak bisa dibeli dengan uang.”
Raka menatapnya serius.
“Kalau begitu kenapa diberikan kepadaku?”
Nenek mengambil tangan Raka.
Jari-jarinya menggenggam tangan cucunya erat.
“Karena Nenek tidak punya banyak waktu lagi.”
Raka langsung membeku.
“Nek…”
“Dengarkan dulu.”
“Aku tidak suka Nenek bicara seperti itu.”
“Nenek tahu.”
“Jangan bicara soal pergi.”
“Semua orang akan pergi suatu hari nanti.”
“Tapi bukan malam ini.”
Nenek tersenyum.
“Kamu masih sama.”
“Memangnya bagaimana?”
“Selalu ingin mengendalikan sesuatu yang tidak bisa dikendalikan.”
Raka menunduk.
Nenek kemudian meletakkan kalung itu di telapak tangannya.
“Bawa pulang.”
Raka menatap benda tersebut.
“Untuk apa?”
“Pakai jika suatu hari kamu benar-benar membutuhkan.”
“Membutuhkan apa?”
Nenek menatap mata Raka.
“Keyakinan.”
Raka terdiam.
“Kalung ini akan membuatmu melihat sesuatu yang selama ini tidak pernah kamu lihat.”
“Apa?”
“Bagaimana orang memandangmu.”
Raka tertawa kecil.
“Kalau begitu kalung ini semacam jimat keberuntungan?”
“Bukan.”
“Lalu?”
Nenek mendekatkan wajahnya sedikit.
Suaranya turun menjadi bisikan.
“Kalung ini membuat daya tarik seseorang menjadi jauh lebih kuat.”
Raka terdiam.
“Daya tarik?”
“Ya.”
“Daya tarik terhadap siapa?”
Nenek tersenyum.
“Terutama kepada orang yang memang sudah memiliki ketertarikan kepadamu.”
Raka mengangkat alis.
“Jadi… perempuan?”
Nenek tertawa pelan.
“Bisa jadi.”
“Bisa jadi?”
“Jangan terlalu senang dulu.”
Raka tersenyum.
“Memangnya kenapa?”
“Karena perhatian perempuan bukan selalu berarti cinta.”
Senyum Raka perlahan menghilang.
Nenek menatapnya tajam.
“Dan jangan pernah menggunakan kalung ini untuk membuat seseorang melakukan sesuatu yang tidak dia inginkan.”
Raka mengangguk.
“Aku tidak akan melakukan itu.”
“Janji?”
“Janji.”
Nenek menghela napas lega.
Kemudian ia menatap kalung tersebut.
“Karena semakin sering kau menggunakannya…”
Ia berhenti.
Raka menunggu.
“Semakin mahal harga yang harus kau bayar.”
Suasana kamar mendadak terasa lebih dingin.
“Apa maksudnya?”
Nenek tidak menjawab.
“Nek?”
“Kelak kamu akan tahu.”
Raka menggenggam kalung tersebut.
Untuk beberapa detik, batu hitam di tengah liontin kembali berdenyut.
Sekali.
Dua kali.
Raka merasakan hangat menjalar dari telapak tangannya ke dada.
Ia spontan menarik napas.
Nenek melihat reaksinya.
“Sudah dimulai.”
“Apa?”
Nenek tersenyum sedih.
“Tidak ada.”
Raka hendak bertanya lagi.
Namun tiba-tiba monitor di samping ranjang berbunyi lebih cepat.
Bip. Bip. Bip.
“Nek!”
Perawat segera masuk.
Raka berdiri dengan panik.
Tetapi sebelum matanya tertutup, Nenek Sri sempat menggenggam tangan Raka sekali lagi.
“Raka…”
“Iya?”
“Kalau suatu hari banyak perempuan datang kepadamu…”
Raka menatapnya.
“Pilihlah satu yang tetap tinggal ketika kalung itu tidak lagi ada.”
Kemudian genggaman tangan itu melemah.
Raka membeku.
“Nek?”
Suara hujan di luar jendela semakin deras.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Raka menyadari bahwa hadiah terakhir dari neneknya mungkin bukan sebuah keberuntungan.
Mungkin itu adalah sebuah ujian.
Sebuah ujian tentang keinginan.
Tentang cinta.
Dan tentang seberapa jauh seorang pria bersedia kehilangan dirinya sendiri demi merasa diinginkan.
75 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.