
Rahasia Giok Warisan
Batara Kanna|Bersambung
- Jumlah kata
- 95.4K
- Popular
- 6.5K
- Subscribe
- 828
- Jumlah kata
- 95.4K
- Popular
- 6.5K
- Subscribe
- 828
Sinopsis
"Kamu itu cuma karyawan UMR, Bima. Mau sampai kapan aku makan cinta?" Kata-kata menusuk itu menjadi akhir dari hubungan Bima Adhikara (27) dan kekasihnya. Hancur, hilang arah, dan ditinggal nikah karena uang, Bima pulang ke kampung halaman kakeknya untuk mengurung diri. Melihat cucunya hampir gila karena patah hati, Sang Kakek menyerahkan sebuah kalung berliontin giok hijau tua, warisan rahasia keluarga yang mengubah segalanya secara drastis. Sejak memakai giok itu, aura Bima berubah total. Langkah kakinya mampu memikat perhatian setiap wanita, layaknya bintang ternama. Tak hanya itu, mata Bima kini memiliki kemampuan ajaib: melihat menembus objek! Dari selembar cek Rp100 juta yang tak sengaja ia lihat di dalam karung pemulung, Bima memulai kebangkitannya di Jakarta. Dari pria yang dihina dan dibuang, Bima Adhikara melesat menjadi sosok pria berkuasa yang tak tersentuh. Ketika sang mantan dan orang-orang yang dulu meremehkannya datang memohon kembali, Bima hanya tersenyum tipis, karena baginya, permainan baru saja dimulai.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1
"Sayang," Bima tersenyum hangat saat melihat kedatangan kekasihnya.
Siska, bagaikan sebuah oase ditengah gurun. Semua rasa lelah yang dia rasakan setelah bekerja, kini sirna saat bertemu sang kekasih.
"Kamu mau pesen apa?" tanya Siska.
Suaranya terdengar datar. Matanya tak menatap langsung ke arah Bima, terkesan melayang mencari objek lain di dalam ruangan.
Sudah menjadi kebiasaan, setiap kali jam istirahat kantor, Bima akan menyempatkan diri makan siang di tempat Siska bekerja.
Biasanya, gadis itu akan menyambutnya dengan senyuman manis yang sanggup meluruhkan seluruh rasa lelah Bima akibat tumpukan berkas di kantor. Tapi hari ini sangat berbeda.
Ekspresinya datar, dingin, dan terkesan sangat malas melayaninya.
"Kaya biasa," jawab Bima ramah, mencoba mengabaikan nada dingin itu. "Kita makan bareng ya?"
"Aku udah makan," balas Siska singkat, lalu berbalik tanpa menunggu jawaban Bima.
Bima mengerutkan dahi. Ada denyut aneh di dadanya.
Tak lama kemudian, Siska kembali membawa nampan berisi sepiring nasi goreng dan es teh manis. Ia meletakkannya di atas meja dengan dentakan yang sedikit keras.
"Nih," ucap Siska dingin, hendak membalikkan badan untuk pergi.
"Tunggu! Kamu kenapa?" tanya Bima cepat.
Ia menahan pergelangan tangan Siska, merasakan jemari gadis itu agak gemetar. Siska menarik tangannya pelan tapi tegas.
Gadis itu menarik napasnya dalam-dalam, mengembuskannya kasar, lalu menatap Bima lekat-lekat. Tidak ada lagi pendar kasih sayang di mata bening itu. Yang ada hanyalah rasa jenuh, amarah, dan kekecewaan yang tertahan.
"Aku capek, Bim!" kata Siska mendadak.
Bima mengerutkan dahi. Rasa bingung makin menguasai pikirannya. "Capek? Maksudnya gimana, Sis? Capek kerjaan?"
"Aku gak munafik, Bim! Aku capek hidup miskin kaya gini! Aku capek kerja dibentak-bentak pelanggan, dihina, direndahin, serba kekurangan! Aku capek!" kata Siska dengan suara yang mulai bergetar. Pelupuk matanya tampak berkaca-kaca.
"Tiap kali mau beli sesuatu, harus nunggu nabung dulu. Mau beli baju bagus, harus mikir dua kali. Mau makan enak, harus nunggu kamu gajian!"
Mendengar jeritan hati kekasihnya, Bima merasa bersalah. Ia mengira Siska hanya sedang lelah dan butuh perhatian lebih.
"Sayang, kamu mau beli sesuatu?" tanya Bima sangat lembut. Ia mencoba menggapai jemari Siska kembali. "Nanti sore, aku udah gajian. Nanti sebagian gajiku langsung aku transfer ke kamu ya? Kamu bisa beli tas yang kamu mau."
"Bima! Kamu ngerti gak sih maksud aku!" teriak Siska tiba-tiba.
Suaranya melengking menembus kebisingan restoran, membuat beberapa pengunjung dan rekan kerja Siska menoleh ke arah mereka.
Bima terkejut setengah mati. Wajahnya memerah karena malu, namun rasa khawatirnya pada Siska jauh lebih besar.
Bima segera berdiri, berusaha menenangkan Siska.
"Sis, pelan-pelan... Gak enak, dilihat orang." Ia mengajaknya duduk di kursi kosong berseberangan, lalu menggenggam kedua tangan Siska erat-erat.
‘’Tapi aku capek Bim!’’
"Aku ngerti, Aku paham kamu capek," lanjut Bima membujuk, berusaha menyalurkan kehangatan. "Makanya aku bilang sabar dulu sebentar. Nanti sore begitu gaji masuk, aku langsung transfer kamu. Jadi pulang kerja, kamu bisa langsung beli apa yang kamu mau. Ya?"
Siska terkekeh sinis. Ia membuang muka, lalu menatap Bima dengan pandangan yang begitu tajam dan penuh kejelakan.
"Kamu itu cuma karyawan UMR, Bima! Mau sampai kapan aku makan cinta?!" seru Siska penuh nada penekanan.
Deg!
Bima mendadak diam. Kata-kata itu meluncur bagai pisau belati yang langsung menghujam tepat di dada kirinya.
Napasnya tertahan. Ia masih menatap Siska lekat, berusaha mencari tanda bahwa gadis ini hanya sedang bercanda. Tapi tidak ada.
Gadis itu menarik napas panjang, merapikan sedikit kerah seragamnya, lalu menatap Bima tanpa keraguan sedikit pun.
"Aku mau kita putus."
Seketika itu juga mata Bima membola. Seluruh persendian di tubuhnya serasa meloloskan diri. "Putus...? Sis, kamu ngomong apa sih?"
"Aku akan menikah, Bim! MINGGU DEPAN!" imbuh Siska dengan penekanan di setiap kata. "Dia kaya. Dia bisa memberikan apapun yang aku inginkan tanpa perlu nunggu berbulan-bulan!"
Bima masih diam membeku. Rasa terkejut melumpuhkan pita suaranya. Sepuluh tahun. Sepuluh tahun mereka menjalin hubungan, melewati suka dan duka bersama, dan kini frasa 'menikah minggu depan' diucapkan seolah itu hanyalah hal sepele.
"Aku gak perlu kerja lagi," lanjut Siska tanpa memedulikan raut wajah Bima yang sudah sepucat kertas. "Gak perlu mikir bayar kontrakan yang selalu nunggak. Bahkan, gajinya berkali-kali lipat dari kamu! Dia punya rumah sendiri di kawasan elit, punya mobil. Sementara kamu?"
Siska tertawa getir, sebuah tawa ejekan yang paling menyakitkan yang pernah Bima dengar sepanjang hidupnya.
"Kamu aja masih numpang di rumah orang tua kamu! Jangankan mobil... motor aja kamu gak punya, Bim!"
"Sis! Kamu kan tahu sendiri, motor aku rusak berat karena kecelakaan dulu. Aku sudah berencana memperbaikinya, tapi kamu selalu maksa harus mengutamakan tabungan pernikahan kita!" kata Bima dengan nada bergetar, menahan rasa sesak yang menghimpit dadanya.
"Makanya itu!" potong Siska cepat, tidak memberi Bima ruang untuk membela diri.
"Aku gak bisa sama kamu lagi! Aku udah capek, Bim! Aku gak sanggup kalau harus nunggu kamu sukses yang gak tahu kapan datangnya. Aku gak sanggup nemenin kamu dari nol lagi!"
Dada Bima makin sesak. Rasanya seperti ada batu besar yang dihantamkan ke dadanya hingga ia sulit bernapas.
Ia tidak pernah menyangka, kekasih yang begitu ia agungkan, gadis yang ia bela mati-matian, sanggup melontarkan kata-kata sebejat ini.
Mereka berpacaran sejak masih duduk di bangku SMA. Berbagi satu porsi mie ayam bersama saat uang saku menipis, bermimpi bersama di bawah guyuran hujan, hingga akhirnya sama-sama merantau dan bekerja di ibu kota.
Mereka pernah berjanji untuk saling menggenggam tangan sampai pelaminan. Namun kini, semua kenangan manis itu sirnah begitu saja, terbakar oleh kesombongan dan lembaran rupiah.
"Ini, undangan pernikahanku. Minggu depan,’’ tangan Siska mengulurkan undangan itu tapi Bima tak menerimanya.
Tubuhnya masih mematung membeku ditempat.
"Aku gak mau kita musuhan, Bim," lanjut Siska dengan nada seolah ia adalah pihak yang paling bijaksana. "Tolong ikhlasin aku buat laki-laki lain. Dia lebih pantas buat aku... jauh lebih pantas daripada kamu."
Bima menatap wanita di depannya dengan tatapan nanar. "Siska... kamu yakin ngomong kaya gini ke aku? Setelah sepuluh tahun kita bareng-bareng?"
Daftar bab
89 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








