

BUM!
Ledakan meriam mengguncang perairan Pulau Nakula yang selalu ditutupi kabut tebal.
Pulau tersembunyi yang merupakan salah satu pulau dari sekian juta pulau di Benua Borneo Celebes.
Rojak tersentak dari lamunannya.
Mongki... monyet kecil di sampingnya juga ikut terkejut dengan bunyi dentuman meriam ini.
Tanpa ragu, ia meraih teropong dari pinggangnya dan mengarahkannya ke lautan berkabut.
Napasnya tertahan.
“Itu…!”
Bayangan besar muncul dari balik kabut.
Lambung kapal yang dikenalnya.
“Bang Zacky kembali!” teriaknya, suaranya penuh harap.
Tapi, harapan itu hancur dalam sekejap saat kapal tampak lebih jelas keluar dari kabut tebal.
Tubuhnya terdiam dengan wajah pucat pasi.
Di balik lensa teropong, ia melihat darah.
Bercak merah gelap di seluruh dek kapal abangnya.
Tiang kapal juga patah.
Layar robek berkibar diterpa angin.
BUM! BUM! BUM!
Rentetan meriam kembali menghantam kapal itu, menghancurkan sisa-sisa kejayaannya.
“Bang Zacky!”
Tanpa berpikir lagi, Rojak melompat.
BYUR!
Air laut yang dingin seperti ribuan jarum menusuk tubuhnya. Namun ia tidak peduli. Rasa cemas terhadap keselamatan abangnya mengalahkan segalanya. Ia berenang sekuat tenaga, menembus ombak, menabrak arus, mendekati kapal yang sekarat itu.
Tangannya meraih tali yang menggantung dari lambung kapal.
Ia memanjat dengan cepat.
Nafasnya memburu saat ia meloncat ke atas dek.
Mayat-mayat bergelimpangan dengan tubuh bersimbah darah.
Tubuh-tubuh yang ia kenal sejak kecil kini terbujur kaku. Mata terbuka tanpa kehidupan. Darah mengalir di sela-sela papan kayu.
Di antara mereka ada orang-orang berseragam putih.
Marinir.
Pasukan pemburu bajak laut dunia yang sangat ditakuti di seluruh Bumi Archipelago.
Jantung Rojak berdegup semakin keras.
Ia tidak peduli lagi dengan rasa lelah di tubuhnya.
“Bang Zacky!” teriaknya, suaranya hilang terbawa angin kencang.
Firasat buruk terus menghantuinya.
Ia berlari dengan sembarangan.
Tidak mempedulikan lagi tubuh-tubuh yang terbujur kaku menghalangi jalannya.
Ia bergerak cepat menyusuri dek yang licin oleh darah.
Sampai akhirnya, ia melihatnya.
Abangnya... Zacky Sadewa.
Terbaring di dekat kemudi kapal.
Tubuhnya penuh luka parah.
Napasnya berat… nyaris tak terdengar.
Rojak terjatuh berlutut di sampingnya.
“Bang!” suaranya bergetar.
Mata Zacky yang mulai redup perlahan terbuka.
“Rojak...” bisiknya. “Kau datang...”
Senyum tipis muncul di bibirnya yang berlumuran darah.
“Bang... kenapa jadi begini?” tanya Rojak dengan linangan air mata.
“Cepat… tinggalkan kapal ini… kau tidak akan mampu melawan… Laksamana Raxin…”
“Bang! Aku harus bawa abang pulang!” Rojak mencoba mengangkat tubuhnya.
Namun tangan Zacky mencengkeram bajunya dengan kuat.
“Jangan bodoh!” bentaknya, memaksakan sisa tenaga. “Kalau kau tetap di sini… Keluarga Sadewa akan musnah tak bersisa!”
Air mata mulai mengaburkan pandangan Rojak.
“Diam! Jangan bicara lagi!” suaranya semakin keras dan tak mau dibantah.
Tapi, Zacky hanya tersenyum tenang.
Seolah sudah menerima segalanya.
“Ada kapal… di goa pesisir timur…” bisiknya lirih. “Aku buatkan untuk kita… untuk melanjutkan mimpi ayah mencari Pusaka Tujuh Samudera…”
Tangannya mulai melemah.
“Tadinya aku mau buat kejutan untuk ulang tahunmu hari ini, tapi sekarang… aku percayakan… padamu…”
Napasnya tersendat-sendat tapi ia masih memaksakan diri untuk bicara.
“Kapten… Rojak…”
Tubuhnya terkulai diam.
Nyawanya pergi untuk selama-lamanya.
“Bang? Sadar, bang!”
Ia menguncang-guncang tubuh Zacky tapi tubuh itu telah kaku tanpa adanya kehidupan.
Wajah Rojak tampak pucat pasi dan kebingungan.
Tapi, ia tak diberi waktu lama untuk berduka.
“Sudah terlambat untuk melarikan diri sekarang, bocah.”
Suara berat dan kasar itu datang dari arah belakang.
Rojak menoleh perlahan.
Seorang pria berdiri di sana dengan seragam putih bersih.
Rambut perak dengan tatapan tajam tanpa emosi.
Laksamana Raxin.
“Siapa, kau?” tanya Rojak dengan gigi gemeratakan menahan amarah.
“Laksamana Raxin.”
“Bangsat!” Rojak berdiri, matanya merah menyala. “Kenapa kau bunuh Bang Zacky!”
Raxin tidak bergerak sama sekali.
Ia tdak terpengaruh oleh kemarahan Rojak.
“Karena dia itu bajak laut,” jawabnya datar. “Tentu saja... aku adalah penegak hukum yang harus membasmi bajak laut sampai ke akar-akarnya.”
“Bangsat, Kau!”
Rojak menerjang ke arah Raxin dengan tenaganya yang meledak keluar.
Amarahnya sudah tak tertahankan lagi.
“Tapak Seribu Dewa!”
Tangannya melesat dengan kekuatan yang mengguncang udara.
Raxin hanya mengangkat satu tangan.
Menepisnya dengan mudah sekaligus menyerang saat pertahanan Rojak terbuka.
“Jurus yang hebat... tapi tidak ada kekuatan sama sekali.”
BUGH!
Tinju Raxin menghantam perut Rojak dengan telak.
Darah menyembur dari mulutnya.
Tubuhnya terpental, menghantam dek dengan keras.
Namun, Raxin tidak memberinya waktu sama sekali untuk bangkit.
“Matilah, Kau!”
Tinju apinya membuat hawa di kapal semakin panas.
Tinju dengan kekuatan penuh ini langsung mengarah ke dada Rojak.
Tiba-tiba, Rojak menghilang dari tempatnya berdiri.
“Langkah Seribu Dewa!”
Sosoknya muncul beberapa meter di samping.
Napasnya terputus-putus kelelahan tapi masih berdiri.
Raxin tersenyum tipis.
“Ternyata kau punya sedikit kemampuan…” gumamnya. “Sangat menarik.”
Tawa rendah keluar dari mulutnya.
“Aku jadi ingin membunuhmu sendiri.”
Rojak mengangkat kepalanya.
Darah menetes dari dagunya tapi matanya membara.
“Aku akan membunuhmu hari ini, Raxin!” teriaknya.
“Kau harus membayar mahal kematian abangku!”
“Tinju Dewa Petir!”
Tangan Rojak terkepal dengan kilatan petir dan langsung diarahkan ke tubuh Raxin.
“Masih terlalu lemah,” ucap Raxin yang hanya menggeser sedikit tubuhnya untuk menghindar.
“Tinju Bintang Utara!”
KRAAAK!
Rojak merasakan tulang rusuknya retak dan dingin terkena tinju dari Raxin.
Tubuh Rojak kembali terpental oleh kekuatan tinju Raxin.
“Kalian... bereskan bocah sampah ini!” perintah Raxin kepada beberapa marinir bawahannya.
Tatapannya beralih ke Rojak.
“Ternyata kemampuanmu hanya segini... aku kecewa denganmu,”
Rojak mulai merasa tertekan dan bahaya besar jika beberapa marinir ini mengeroyok dan menghabisinya.
Ia menyeka darah di bibirnya sambil tersenyum sinis.
Tiba-tiba ia teringat sesuatu.
“Aku menantangmu duel, Laksamana Raxin!”
Seketika itu juga, tawa pecah dari para marinir.
“Hah?! Bocah ini sudah gila!”
“Dia menantang Laksamana? Bukankah sudah jelas tadi ia kalah dari Laksamana?”
Raxin tersenyum lebar.
“Ah… akhirnya,” katanya pelan.
Matanya berkilat tajam.
“Keturunan terakhir Sadewa… datang menyerahkan nyawanya secara terhormat.”
Rojak menggertakkan gigi.
“Kau membunuh abangku! Apa salahnya merampok beberapa bangsawan kaya? Kenapa harus dibunuh?!”
Raxin melangkah mendekati Rojak.
“Keluarga Sadewa memang harus lenyap dari dunia ini... apa kau mampu meloloskan diri sekarang, Rojak?” bisiknya.
Tubuh Rojak masih gemetar.
Bukan karena takut tapi karena dingin… dan amarah yang membakar dari dalam.
Ia semakin terkejut Raxin tahu namanya padahal ia tidak pernah keluar dari Pulau Nakula, tapi sekarang bukan saatnya memikirkan keanehan itu.
Ia harus bisa meloloskan diri dari tangan marinir kejam yang telah membantai seluruh kru kapal abangnya.
“Terlalu berisik! Kau terima… atau tidak?” tantang Rojak, suaranya tajam. “Atau kau takut kalah?”
Raxin hanya tertawa tapi mengandung ancaman mematikan.
“Baiklah, bocah…” katanya, membuka sarung tangannya.
Aura membunuh Raxin seketika meledak.
“Aku terima duelmu.”
Angin di atas kapal langsung berubah menjadi jauh lebih kencang.
Laut juga bergolak membuat kapal bergoyang kencang.
Dan di atas dek yang penuh darah itu... Takdir mulai bergerak.
Pertarungan hidup dan mati… akan segera dimulai.