

"Woi, Rian! Paket gue jangan ditumpuk sama karung beras dong, lecek semua nih!" teriak seorang pria dari balik pagar rumah mewah di kawasan perumahan elit yang asri.
Rian menyeka keringat yang bercampur debu jalanan di dahinya menggunakan punggung tangan yang legam. "Maaf, Pak. Tadi di jalan memang penuh banget, motor saya juga goyang kalau tidak diganjal begitu supaya tidak jatuh."
"Alasan aja kamu! Tipikal kurir malas. Lihat nih, pojokannya penyok sedikit! Saya komplain ke aplikasi ya, biar rating kamu hancur sekalian," ancam pria itu sambil membanting pintu pagar otomatis yang menutup dengan suara berdenting mahal.
Rian hanya bisa terdiam di samping motor tuanya yang suaranya lebih mirip rintihan kesakitan daripada mesin kendaraan. Di dashboard yang sudah kusam, layar ponselnya yang retak seribu menampilkan notifikasi berwarna merah menyala, 'Saldo Anda tidak cukup untuk melakukan penarikan'.
"Sial," umpatnya pelan, nyaris tidak terdengar oleh telinganya sendiri.
"Mas Rian, masih narik jam segini? Wajahnya kok kuyu banget," tegur seorang ibu pemilik warung kelontong di seberang jalan saat Rian menepi untuk sekadar meluruskan kaki.
Rian menoleh sambil memaksakan senyum yang terlihat lebih seperti ringisan. "Iya, Bu. Kejar setoran buat bayar kosan yang sudah nunggak dua minggu. Kalau tidak dapat target hari ini, alamat tidur di emperan saya."
"Duh, kasihan banget kamu ini. Tadi Mas Bayu yang punya kosan nyariin tuh ke sini. Katanya kalau besok belum lunas, kunci kamar Mas mau diganti paksa."
Rian menghela napas panjang, menghirup aroma aspal panas dan polusi yang sudah menjadi santapan harian. "Iya, Bu, ini saya usahakan semaksimal mungkin. Mungkin nanti malam ada mukjizat."
"Memangnya kamu belum makan dari pagi ya? Muka kamu pucat banget itu, kayak mayat hidup," tanya Ibu warung dengan nada prihatin yang tulus.
"Nanti aja Bu kalau sudah ada sisa buat beli obat maag. Perut saya udah biasa diajak kompromi kok," canda Rian miris, meski ulu hatinya terasa seperti diremas-remas.
"Jangan bercanda soal perut, Rian. Ini, ambil gorengan satu. Anggap saja sedekah hari Jumat."
"Terima kasih banyak, Bu. Besok kalau saya kaya, saya borong warung Ibu," jawab Rian sambil mengunyah bakwan dingin yang terasa seperti hidangan bintang lima di lidahnya yang pahit.
Ia kembali memacu motornya, menembus kemacetan Jakarta yang tidak pernah ramah. Pikirannya melayang pada nasibnya yang seolah dikutuk. Kuliah putus di tengah jalan karena biaya, orang tua sudah lama tiada, dan sekarang ia terjebak dalam siklus kemiskinan yang mencekik leher.
Setibanya di kontrakan sempit di gang buntu Jakarta Timur, firasat buruknya terbukti. Sebuah motor besar yang mengkilap sudah terparkir sombong di depan gerbang kayu yang reyot. Bayu, sang pemilik kosan yang badannya gempal, berdiri dengan tangan bersedekap di depan pintu kamar Rian.
"Mana duitnya, Rian? Gue nggak butuh muka melas lo," tagih Bayu tanpa basa-basi begitu melihat ban motor Rian menyentuh semen teras.
"Kasih saya waktu sampai lusa, Bang. Ini lagi banyak orderan yang nyangkut di sistem, biasanya cair dua hari lagi," bohong Rian, sebuah taktik bertahan hidup yang sudah sering ia gunakan.
"Lusa terus! Kuping gue sudah budeg dengar janji lo dari minggu lalu. Gue butuh kepastian, bukan dongeng! Kalau besok sore jam lima nggak ada uang di tangan gue, semua barang rongsokan lo ini gue buang ke tempat sampah!"
"Bang, tolonglah. Saya baru saja kehilangan Bibi saya satu-satunya bulan lalu. Pikiran saya masih kacau," pinta Rian dengan nada memelas.
"Bibi lo mati bukan urusan gue! Emang Bibi lo bisa bayar kosan ini pakai doa? Nggak bisa kan? Pokoknya besok sore titik!" Bayu meludah ke tanah sebelum menyalakan motornya dan pergi dengan suara knalpot yang memekakkan telinga.
Rian masuk ke kamarnya yang pengap dan hanya seluas tiga kali tiga meter. Bau apek langsung menyambut penciumannya. Ia melemparkan jaket hijaunya yang sudah memudar warnanya ke lantai semen yang dingin.
Matanya terpaku melihat lemari tua milik bibinya yang tiba-tiba ada di sana.
Di pojok ruangan, sebuah surat lusuh tergeletak di atas meja kayu yang kaki-kakinya sudah diganjal kertas.
Itu surat dari kantor pengacara almarhum Bibi Salma. Bibinya adalah seorang wanita tua yang sangat tertutup, bahkan tetangganya pun tidak ada yang tahu apa pekerjaannya selama ini.
Rian hanya ingat bibinya selalu memakai daster lama dan hobi mengumpulkan koran bekas.
Di tengah kamar itu, kini berdiri sebuah lemari jati raksasa yang tampak sangat tidak serasi dengan kondisi kamar Rian yang kumuh. Lemari itu adalah satu-satunya warisan yang ditinggalkan Bibi Salma untuknya.
"Buat apa kasih lemari kalau isinya cuma baju-baju tua," gumam Rian sambil menendang kaki lemari itu dengan kesal.
Ia duduk di tepi tempat tidur yang pernya sudah menusuk-nusuk punggung. Tangannya merogoh saku, mengeluarkan sebuah kunci besi tua yang permukaannya sudah kasar karena karat.
Tiba-tiba ponselnya yang berada di lantai berdering nyaring. Sebuah nomor tidak dikenal dengan kode area Jakarta Pusat muncul di layar.
"Halo, dengan Saudara Rian?" suara pria di seberang sana terdengar sangat berat dan formal, tipikal suara orang-orang yang bekerja di gedung pencakar langit.
"Iya, saya sendiri. Siapa ini? Kalau mau tawaran pinjaman online, saya tidak minat," jawab Rian ketus.
"Sabar sedikit, Saudara Rian. Saya asisten hukum almarhumah Ibu Salma. Saya diperintahkan melalui wasiatnya untuk menghubungi Anda malam ini, tepat setelah lemari itu sampai di tangan Anda."
Rian mengerutkan kening. "Oh, Bapak yang mengurus pengiriman lemari rongsok ini, ya? Terima kasih, tapi gara-gara lemari ini kamar saya jadi makin sempit."
"Saya hanya ingin memastikan Anda sudah memegang kuncinya. Apa Anda sudah sempat memeriksa isinya?"
"Belum, Pak. Saya baru pulang ngantar paket. Lagipula, paling isinya cuma kain jarik dan bau kapur barus. Rencananya besok pagi mau saya panggil tukang loak, lumayan kayunya bisa dijual buat bayar hutang kosan saya."
Hening sejenak di seberang sana. Rian bisa mendengar suara napas yang memburu dari pria tersebut.
"Jangan berani-berani Anda menjualnya kalau Anda tidak ingin menyesal seumur hidup, Rian," suara di seberang sana tiba-tiba berubah menjadi sangat serius, volume suaranya merendah hampir seperti berbisik.
"Maksudnya gimana, nih? Memangnya lemari ini dari kayu jati langka?" tanya Rian bingung.
"Ini bukan soal kayunya." Pria itu memutuskan ucapan beberapa detik sebelum melanjutkan, "Ibu Salma bukan orang sembarangan. Beliau adalah pemegang rahasia dari beberapa nama besar di negeri ini. Coba Anda lihat bagian alas bawah di dalam lemari itu sekarang, apa ada sesuatu yang menurut Anda janggal atau tidak rata?"
Rian terdiam. Ia menatap lemari jati itu dengan pandangan yang berbeda. Cahaya lampu bohlam yang temaram membuat ukiran di pintu lemari itu tampak seperti wajah yang sedang mengawasinya.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Rian sambil bangkit berdiri dan mendekati lemari tersebut.
"Karena saya baru saja mendapat konfirmasi bahwa aset-aset yang terdaftar atas nama Ibu Salma tidak pernah dilaporkan ke negara selama tiga puluh tahun. Dan kunci yang Anda pegang itu adalah satu-satunya akses menuju ke sana."
Rian memasukkan kunci karatan itu ke lubangnya. Suara klik yang keras menggema di ruangan yang sunyi. Ia menarik pintu lemari yang berat itu, dan aroma debu kuno langsung menyeruak keluar. Di dalamnya memang hanya ada tumpukan kain tua yang terlihat tak berharga.
"Saya sudah buka, Pak. Isinya cuma kain jarik. Tidak ada emas, tidak ada berlian. Bibi cuman orang biasa, mana mungkin punya barang begituan," lapor Rian sambil mengaduk-aduk tumpukan kain itu dengan kecewa.
"Jangan berasumsi terlalu dangkal. Ibu Salma benci pamer. Coba ketuk papan dasarnya. Gunakan obeng atau palu jika perlu. Apa suaranya terdengar nyaring?"