Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Memperbaiki Masa Lalu Di Masa Depan

Memperbaiki Masa Lalu Di Masa Depan

bucin besar | Bersambung
Jumlah kata
27.3K
Popular
100
Subscribe
7
Novel / Memperbaiki Masa Lalu Di Masa Depan
Memperbaiki Masa Lalu Di Masa Depan

Memperbaiki Masa Lalu Di Masa Depan

bucin besar| Bersambung
Jumlah Kata
27.3K
Popular
100
Subscribe
7
Sinopsis
FantasiSci-FiPerangDunia Masa DepanTeknologi
Mengisahkan tentang devan seorang pria kantoran di tahun 3100 yang berjuang untuk mendapatkan hidup yang layak, namun disaat semua hampir tercapai di saat dia sudah mulai menikmati kehidupan nya, kejadian besar terjadi perang dunia meletus dan menghancurkan semua, apakah devan bisa selamat? lalu apa yang akan devan lakukan?
The Matrix

Pagi itu, Devan melihat keluar jendela dari bilik kamarnya. Sama seperti hari-hari lainnya setelah bangun tidur, ia sejenak menatap kota yang selalu sibuk seolah tanpa istirahat. Drone pengantar paket berterbangan di mana-mana, mobil-mobil terbang memenuhi langit, dan gedung-gedung tinggi dipenuhi kelap-kelip papan iklan. Seolah luasnya daratan dan langit tak pernah cukup untuk menampung manusia.

Devan bergegas mandi untuk memulai hari. Setelah itu, ia memanggang roti untuk sarapan—rutinitas klasik yang pasti dilakukan para pekerja korporat. Usai sarapan, ia menunggu di halte bus.

Jika kalian berpikir masa depan yang maju dengan teknologi berkembang pasti mempermudah manusia, itu ada benarnya. Namun, kenyataannya tidak mengubah bahwa hidup selalu didasari oleh kontrol. Dan orang yang dapat memegang kontrol adalah mereka yang berkuasa. Tidak perlu heran, manusia sudah melakukan hal ini bahkan sejak masa kerajaan.

Di dalam bus, Devan duduk dan lagi-lagi melihat ke luar jendela. Ia menatap langit yang dipenuhi mobil-mobil terbang. Walau di zaman ini kendaraan terbang sudah sangat umum, tidak semua kalangan bisa merasakannya karena harganya yang sangat mahal. Orang-orang biasa masih memilih kendaraan darat karena lebih ekonomis.

Tak lama kemudian, bus sampai di tujuan Devan. Ia turun dan melihat ke arah tempat kerjanya: gedung OBB Group, salah satu perusahaan besar di kota ini. Perusahaan itu hampir mencakup semua segmen, mulai dari elektronik, media, pangan, dan lain-lain, dengan anak perusahaan di berbagai tempat.

Devan bekerja sebagai tim desain untuk bagian produk pangan, sederhana nya pekerjaan Devan adalah mendesain bungkus produk makanan atau minuman dan memastikan kerapihan produk hingga ke tangan konsumen, walau di jaman ini AI sudah maju tapi detail dan intuisi desainer tetap masih unggul untuk mendesain suatu bungkus produk.

Di dalam kantor, semuanya terlihat ramai, namun juga terasa sepi. Semua orang fokus menyelesaikan pekerjaan masing-masing. Hanya sapaan singkat dan senyuman kecil yang terjadi selama bekerja, bahkan hingga jam makan siang. Tidak ada gosip, tidak ada canda tawa—hanya para karyawan yang menyantap makanan mereka masing-masing.

Walau susana seperti ini terasa sangat dingin dan kurang sehat tapi sebenar nya bukan karena pegawai nya yang mau saling individualistis tapi karena di jaman yang serba cepat semua dituntut rapi dan efisien sehingga memang terkesan membuat suasana kantor jadi dingin dan tidak ramah, sehingga para pegawai sudah terbiasa dengan rutinitas itu hingga jam pulang kerja.

Kali ini Devan tidak pulang dengan bus, melainkan dengan taksi terbang. Ia memilih itu karena pekerjaan di kantor hari ini cukup banyak, sehingga ia ingin segera pulang dan beristirahat, di dalam taksi Devan sedikit di ajak ngobrol dengan supir taxi, supir itu bercerita tentang ketakutan nya dengan kendaraan otonom atau tanpa supir karena bagi nya menyetir adalah satu2 nya keahlian dia, Devan yang mendengar itu hanya bisa sedikit tersenyum untuk mengiyakan cerita supir, karena Devan juga berada di posisi yang sama dia juga takut suatu saat AI bisa mendesain lebih baik dan efektif dari dia.

Sesampainya di rumah, Devan bergegas mandi. Setelah selesai mengeringkan badan dan mengganti pakaian, ia langsung berbaring di tempat tidurnya. Devan menatap langit-langit kamar, lalu melihat sekeliling rumahnya.

Devan tinggal di kontrakan sederhana yang cukup kecil—bahkan terlalu kecil untuk satu orang. Namun hal itu wajar karena kontrakan ini berada di pusat kota. Jadi, walaupun kecil, harga sewanya lumayan mahal.

Devan mulai berpikir. Ia mencoba mengingat kembali kapan terakhir kali ia bercengkerama dengan orang lain. Dalam ingatannya, terakhir kali ia benar-benar asyik mengobrol dan bercanda dengan orang lain adalah saat ia masih kelas enam SD, ketika ia masih akrab dengan teman-temannya.

Semua mulai terasa hening ketika ia menginjak kelas satu SMP hingga lulus SMK.

Semua ini terjadi karena lima puluh tahun lalu, tepatnya pada tahun 3050, manusia berhasil menyempurnakan AI atau kecerdasan buatan. Awalnya, pencapaian ini disambut dengan penuh kegembiraan oleh masyarakat. Namun, kesenangan itu tidak berlangsung lama.

AI segera mengambil alih berbagai sektor. Satu per satu manusia kehilangan pekerjaan karena AI.

Masyarakat sempat melakukan protes besar, tetapi apa daya—AI sudah terlalu mendominasi. Pada akhirnya, manusia tidak punya pilihan selain terus membuktikan bahwa mereka masih lebih baik dari AI.

Secara tidak langsung, persaingan antara manusia dan AI pun terjadi, sungguh ironi memang alat yang harus nya mempermudah manusia malah menjadi saingan terberat umat manusia itu sendiri.

Akibatnya, manusia tidak lagi memiliki waktu untuk bersantai, memikirkan perasaan, bahkan bersosialisasi dengan layak. Anak-anak yang sudah masuk SMP langsung dididik dengan keras. Mereka dipaksa terus-menerus mengeluarkan potensi maksimalnya.

Pendidikan menjadi sangat ketat dan tidak mentolerir kesalahan.

Karena satu kesalahan saja dianggap sama dengan kalah dari AI.

Oleh karena itu, Devan mulai bertekad untuk segera menjadi kaya. Ia harus menjadi orang yang memegang kontrol, karena hanya itu satu-satunya cara untuk kembali menjadi manusia yang normal—manusia yang bisa bebas memikirkan hal lain tanpa harus takut kalah atau digantikan oleh AI.

Devan meraih ponselnya yang terletak di samping tempat tidur. Layar transparan itu langsung menyala ketika disentuh. Berbagai notifikasi pekerjaan dan berita harian muncul berlapis-lapis di hadapannya.

Ia membuka salah satu berita yang sedang ramai dibicarakan hari itu.

Tentang meningkatnya ketegangan antara beberapa negara besar. Perselisihan soal sumber daya energi kembali memanas. Beberapa analis bahkan mulai menyebut kemungkinan konflik besar jika situasi terus memburuk.

Devan membaca berita itu sekilas, lalu menutupnya kembali.

Baginya, berita seperti itu sudah terlalu sering muncul untuk benar-benar dianggap serius. Dunia selalu penuh dengan konflik, namun semuanya terasa jauh dari kehidupan sehari-harinya.

Yang ia pikirkan saat ini hanya satu hal.

Bekerja lebih keras, mengumpulkan lebih banyak uang, keluar dari kehidupan sempit yang ia jalani sekarang.

Layar ponsel itu akhirnya ia matikan dan diletakkan kembali di samping tempat tidur, Devan menarik napas panjang sebelum memejamkan mata. Besok pagi semuanya akan kembali sama, bangun, bekerja, pulang lalu mengulanginya lagi.

Devan sebenarnya tahu hidupnya tidak buruk. Ia memiliki pekerjaan tetap, tempat tinggal di pusat kota, dan masa depan yang masih bisa diperjuangkan. Namun entah kenapa, semua itu tetap terasa kosong. Seolah ia hanya bagian kecil dari mesin besar yang terus bergerak tanpa henti. Sebuah roda kecil yang akan segera diganti jika berhenti berputar.

Dan malam itu pun berakhir dengan Devan yang tertidur setelah satu hari yang melelahkan.

Terimakasih untuk diriku hari ini dan semangat berjuang untuk diriku esok hari.

Walau mungkin, hari esok akan sama seperti hari-hari lain nya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca