Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
SANG PENDEKAR

SANG PENDEKAR

king•hareM | Bersambung
Jumlah kata
41.1K
Popular
100
Subscribe
4
Novel / SANG PENDEKAR
SANG PENDEKAR

SANG PENDEKAR

king•hareM| Bersambung
Jumlah Kata
41.1K
Popular
100
Subscribe
4
Sinopsis
18+PerkotaanSupernatural21+HaremSistem
⚠️Warning ⚠️Novel ini mengandung konten khusus dewasa,[Area2️⃣1️⃣➕]dan ditujukan bagi pembaca yang sudah cukup umur. Cerita ini dibuat bertujuan murni untuk hiburan semata. Kebijaksanaan pembaca sangat diharapkan. Raka Pratama adalah seorang pemuda berusia 20 tahun dengan tinggi hanya 175 cm.yang hidupnya jauh dari kata mudah. Seharusnya ia sudah duduk di bangku perkuliahan, namun nasib memaksanya untuk mengalah pada keadaan,raka harus mengukur mimpinya untuk bisa lulus SMA. Setelah insiden berdarah di Desa Malaya beberapa tahun silam—yang merenggut nyawa ayahnya akibat serangan kelompok misterius—Raka terpaksa bekerja serabutan demi menyambung hidup. Selama setahun, ia bekerja membanting tulang untuk membantu ibu tirinya, Shiren Putri Ayu (35 tahun). Shiren adalah sosok wanita cantik dan anggun yang tetap setia merawat Raka meskipun mereka tidak memiliki ikatan darah. Berkat kerja keras dan tabungan yang ia sisihkan sedikit demi sedikit, Raka akhirnya berhasil kembali mengenyam pendidikan, meski ia harus rela menjadi siswa tertua di kelas 12 SMA Bina Nusantara. Di tengah usahanya mengejar ketertinggalan, sebuah fenomena aneh terjadi. Sebuah Sistem Misterius tiba-tiba tersemat di dalam kesadarannya.
BAB 1 Sisa-sisa Luka Di Desa

Fajar baru saja menyingsing di ufuk timur Negara Arkandiya, membiaskan warna jingga yang hangat sekaligus pilu di atas langit Desa Malaya. Desa ini dulunya adalah permata ketenangan, tempat di mana tawa anak-anak berpadu dengan gemericik air sungai.

Namun, bagi siapa pun yang memandang lebih dekat, bekas-bekas luka dari penyerangan kelompok misterius beberapa tahun silam masih terasa di setiap sudutnya—tembok yang menghitam karena api dan tanah yang seolah masih menyimpan aroma mesiu.

Bagi Raka Pratama, desa ini bukan sekadar tempat tinggal; ia adalah saksi bisu hancurnya masa depan yang pernah ia susun rapi, sekaligus tanah keras tempat ia mencoba membangun kembali sisa-sisa harapannya yang nyaris padam.

Raka berdiri mematung di depan cermin tua yang permukaannya sudah mulai retak dimakan usia. Pemuda berusia 20 tahun itu memiliki tinggi badan 175 cm, sebuah proporsi tubuh yang cukup atletis namun nampak sedikit kurus. Beban kerja keras yang ia jalani selama setahun terakhir sebagai buruh serabutan telah membentuk otot-ototnya menjadi keras seperti kawat.

Wajahnya memiliki garis rahang yang tegas dengan tatapan mata tajam, namun jika diperhatikan lebih dalam, mata itu menyiratkan kedewasaan dan kepahitan yang melampaui usianya. Kulitnya yang sedikit kecokelatan akibat sering terpapar matahari memberikan kesan maskulin yang alami dan tangguh.

Pagi ini terasa berbeda. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia kembali mengenakan seragam putih abu-abu SMA Bina Nusantara. Meski ia merasa sangat canggung harus kembali ke bangku kelas 12 di usia yang seharusnya sudah berada di semester akhir kuliah, Raka tidak punya pilihan. Baginya, pendidikan adalah satu-satunya tiket emas untuk keluar dari jerat kemiskinan yang mencekik ini.

"Raka, sarapannya sudah siap. Cepat turun nanti kamu terlambat," sebuah suara lembut memanggil dari arah dapur, memecah lamunannya.

Raka bergegas turun ke lantai bawah rumah kayu mereka yang sederhana namun sangat rapi. Di sana, ia melihat ibu tirinya, Shiren Putri Ayu, sedang menata piring di atas meja. Shiren adalah wanita berusia 35 tahun yang kecantikannya seolah menolak untuk pudar dimakan waktu. Ia memiliki tinggi sekitar 162 cm dengan bentuk tubuh yang masih sangat terjaga—lekuk tubuhnya yang proporsional dan berisi seringkali membuat mata pria mana pun di desa itu sulit untuk berpaling.

Wajahnya berbentuk oval sempurna dengan hidung mancung dan bibir merah alami yang selalu nampak lembap. Rambut hitam panjangnya biasanya ia ikat sederhana, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih mulus. Pagi itu, Shiren mengenakan daster rumahan berbahan tipis yang sedikit ketat, memperlihatkan bentuk tubuhnya yang matang saat ia membungkuk untuk meletakkan mangkuk sayur di meja.

"Terima kasih, Ma," ucap Raka sambil duduk, mencoba mengabaikan debar aneh di dadanya.

Shiren tersenyum, lalu duduk di hadapan Raka. Matanya menatap penuh haru ke arah putra tirinya yang kini sudah berseragam kembali. "Mama bangga kamu bisa sekolah lagi, Raka. Uang yang kamu kumpulkan sendiri... Mama minta maaf tidak bisa banyak membantu."

Raka menggeleng pelan. Ia meraih tangan Shiren yang halus namun memiliki sedikit kapalan karena pekerjaan rumah tangga yang berat. "Mama sudah menjaga rumah ini dan tetap tinggal bersamaku setelah Ayah pergi. Itu sudah lebih dari cukup bagiku."

Mendengar perkataan tulus itu, Shiren terdiam sejenak. Ia menatap dalam ke mata Raka, menyadari bahwa pemuda di depannya ini bukan lagi bocah kecil yang dulu sering ia dongengkan, melainkan seorang pria dewasa yang bisa diandalkan. Tatapan Raka yang dalam dan hangat tiba-tiba membuat jantung Shiren berdegup lebih kencang dari biasanya. Semburat warna merona merah muncul di pipi putihnya, menjalar hingga ke telinganya.

"E-eh, ayo makan. Nanti nasi gorengnya dingin," sahut Shiren terbata-bata, mencoba memecah suasana yang tiba-tiba terasa sangat intim.

Raka hanya tersenyum tipis dan mulai menyuap makanannya. Sambil mengunyah, ia memperhatikan kondisi rumah mereka yang dipoles bersih oleh Shiren. Aroma nasi goreng rempah khas Desa Malaya menyeruak, menciptakan rasa nyaman yang sudah lama tidak ia rasakan sejak tragedi berdarah itu.

"Ma," panggil Raka pelan setelah menghabiskan suapannya. "Aku berangkat sekarang. Jarak dari Desa Malaya ke sekolah cukup jauh kalau aku tertinggal angkutan desa."

Shiren ikut berdiri dan berjalan mendekati Raka. Ia menjangkau kerah baju Raka untuk merapikannya. Posisi mereka yang sangat dekat membuat Raka bisa mencium aroma lembut bunga melati dari sabun yang digunakan Shiren. Kulit tangan Shiren yang putih bersih sesekali bersentuhan dengan leher Raka, memberikan sensasi hangat yang menjalar ke seluruh tubuh pemuda itu.

"Hati-hati di jalan, Raka. Jangan terlalu memaksakan diri," bisik Shiren lembut. Saat jemarinya merapikan kancing paling atas seragam Raka, ia tidak sengaja menatap mata tajam Raka. Seketika, wajah Shiren kembali merona merah pekat. Ia segera menarik tangannya kembali seolah baru saja menyentuh bara api yang panas.

Raka tersenyum tipis, merasakan dinamika yang mulai berubah, namun ia segera menyambar tasnya dan melangkah keluar rumah menuju jalan raya.

Begitu sampai di gerbang SMA Bina Nusantara di pusat Kota Pelita, sosok Raka terlihat sangat menonjol di antara kerumunan siswa-siswi lainnya. Tinggi badan dan aura dewasanya membuat beberapa siswi kelas 10 menoleh ke arahnya sambil berbisik penasaran. Raka mengabaikan mereka, melangkah pasti menuju ruang kelas 12-A.

Di depan kelas, berdiri seorang wanita muda yang tampak anggun namun terlihat sedikit gugup. Wanita itu adalah Alya Kirana, wali kelas baru yang berusia 25 tahun. Mengenakan kemeja formal ketat dan rok span yang menonjolkan bentuk tubuhnya yang ramping namun berisi, Alya menatap Raka dengan tatapan yang sulit diartikan saat pemuda itu memperkenalkan diri.

"Namaku Raka Pratama. Aku dari Desa Malaya," suara bariton Raka yang dalam menggema di kelas yang mendadak sunyi. "Aku harus menunda impianku karena sebuah tragedi. Ayahku tewas dalam penyerangan di desa kami, dan aku harus bekerja untuk bertahan hidup."

Mendengar cerita itu, Alya Kirana tersentak. Ia tidak menyangka pemuda setangguh ini menyimpan luka yang begitu kelam. "Duduklah di pojok belakang, Raka," ujar Alya dengan suara yang sedikit bergetar, mencoba menyembunyikan rasa kagumnya yang berlebihan.

Bel istirahat berbunyi, dan Raka segera dikerumuni siswa-siswi yang penasaran. Namun, kerumunan itu bubar ketika Alya memintanya ke ruang guru untuk urusan administrasi. Di ruang guru yang sepi, aroma parfum floral dari tubuh Alya memenuhi indra penciuman Raka.

"Raka, saya sudah melihat datamu," ucap Alya lembut sambil sedikit memiringkan kepalanya, membuat helai rambutnya yang harum menyentuh pundak Raka. Raka merasa jauh lebih tertekan di sini daripada saat harus menghadapi preman pasar. Tubuhnya kaku, dan keringat dingin mulai membasahi punggungnya.

Melihat reaksi Raka yang sangat grogi, Alya hanya tersenyum simpul, menikmati pengaruh yang ia berikan pada pemuda itu. "Duduklah dulu, Raka. Kita bicara santai," ujar Alya sambil menunjuk kursi di sebelahnya, membuat Raka semakin terjepit dalam kecanggungan yang manis.

Sore harinya, Raka sampai kembali di rumahnya. Begitu pintu terbuka, aroma masakan Shiren kembali menyambutnya. Shiren berdiri di dekat meja makan, masih dengan daster yang sama, memberikan pemandangan yang meneduhkan sekaligus membingungkan bagi Raka.

"Sudah pulang, Raka?" sapa Shiren lembut.

Raka menatap ibu tirinya di bawah cahaya lampu sore yang temaram. Mengingat kegugupannya di depan Ibu Alya tadi, melihat Shiren sekarang membuat perasaan Raka menjadi jauh lebih campur aduk.

"Sudah, Ma," jawab Raka pendek. Ia menyadari bahwa mulai hari ini, kehidupannya di Negara Arkandiya akan menjadi sebuah perjalanan panjang yang penuh godaan dan misteri yang menanti untuk diungkap.

Lanjut membaca
Lanjut membaca