

Gelas kristal berisi sampanye mahal itu terlepas dari jemari lentik Mely Triwanggono, pecah berkeping-keping di lantai marmer yang berkilau. Detik berikutnya, sang CEO muda yang menjadi primadona malam itu ambruk. Tubuhnya yang terbalut gaun sutra berwarna zamrud meluncur jatuh ke pelukan lantai dingin di tengah aula pesta ulang tahunnya sendiri.
"Mely!" teriak Tuan Triwanggono, suaranya menggelegar menembus musik klasik yang mendadak mati.
Dalam hitungan detik, kerumunan elit Jakarta itu berubah menjadi lautan kepanikan. Dua pria berjas putih, dokter pribadi keluarga, segera berlutut di samping tubuh Mely yang mulai membiru.
"Napasnya berhenti! Ini serangan jantung!" teriak salah satu dokter, tangannya gemetar saat mencoba mencari denyut nadi di leher Mely.
"Lakukan sesuatu! Berapa pun harganya, selamatkan putriku!" teriak Tuan Triwanggono, wajahnya memerah karena takut sekaligus murka.
"Kami butuh defibrilator! Ambulans tidak akan sampai tepat waktu!"
Di sudut ruangan, seorang pria muda dengan jas hitam yang tampak terlalu sederhana untuk acara semegah ini melangkah maju. Ranu Rewantaka mengamati dari kejauhan, matanya yang tajam menangkap getaran kecil di ujung jemari Mely. Itu bukan serangan jantung. Itu adalah penyumbatan meridian Yin yang parah, efek dari racun lambat yang disamarkan sebagai kelelahan kronis.
"Minggir. Kalian hanya akan membunuhnya jika terus menekan dadanya," suara Ranu terdengar dingin, memotong histeria di tengah ruangan.
Semua mata tertuju padanya. Tuan Triwanggono menoleh dengan tatapan membunuh. "Siapa kau? Beraninya kau bicara begitu!"
Ranu tidak menjawab. Dia berjalan menembus kerumunan, auranya begitu dominan sehingga orang-orang secara refleks membukakan jalan. Dia berlutut di sisi lain tubuh Mely, mengabaikan dua dokter yang menatapnya dengan kemarahan.
"Anak muda, ini keadaan darurat medis! Jangan ikut campur atau kau akan dipenjara!" bentak dokter yang lebih tua.
Ranu menatap mata dokter itu dengan sorot yang membuat sang dokter terdiam membeku. "Jika kau tahu ini keadaan darurat, kenapa kau masih membiarkan darahnya membeku di paru-paru?"
Ranu mengulurkan tangan, jemarinya bergerak secepat kilat. Srek!
Suara kain sutra yang robek membelah kesunyian yang mencekam. Ranu merobek bagian belakang gaun Mely, memperlihatkan punggung mulusnya yang kini dipenuhi bintik-bintik merah samar.
"Kurang ajar! Apa yang kau lakukan pada putriku!" Tuan Triwanggono berteriak, memberi isyarat pada lima pengawal bersenjata untuk maju. "Tangkap dia!"
"Jika kalian menyentuhku satu inci saja, putri kalian akan mati dalam tiga menit," ucap Ranu tanpa menoleh. Tangannya sudah memegang sebatang jarum perak panjang yang muncul entah dari mana. Ini dia, beban Yang Murni, pikir Ranu saat merasakan hawa panas mulai membakar telapak tangannya.
Para pengawal ragu-ragu. Tuan Triwanggono terengah-engah, matanya beralih antara wajah pucat putrinya dan tatapan tenang Ranu. "Hentikan mereka," bisik Triwanggono pada pengawalnya, sebuah pertaruhan putus asa.
Ranu tidak membuang waktu. Dia menusukkan jarum perak itu ke titik Tianzhu di pangkal tengkorak Mely, lalu satu lagi ke titik saraf sensitif di tulang belikatnya.
"Apa yang dia lakukan? Itu bukan teknik medis modern!" seru dokter pribadi itu, meski matanya tidak bisa berpaling dari kecepatan tangan Ranu.
"Ini bukan medis modern," gumam Ranu, fokusnya kini sepenuhnya pada aliran energi di bawah kulit Mely. "Ini adalah Sembilan Jarum Langit."
Saat jarum ketiga menusuk titik di dekat jantung, tubuh Mely tersentak hebat. Hawa panas dari tangan Ranu mulai mengalir masuk ke tubuh Mely, menetralisir dinginnya racun yang membeku. Bagi orang awam, itu tampak seperti keajaiban; bagi Ranu, itu adalah beban. Stamina dewa yang ia miliki melonjak, menuntut penyaluran yang lebih besar.
"Dia tidak bernapas! Kau membunuhnya!" teriak Tuan Triwanggono saat melihat Mely tidak bergerak.
"Tunggu," potong Ranu.
Detik berikutnya, Mely menghirup napas panjang yang terdengar seperti orang yang baru saja muncul dari permukaan air setelah tenggelam. Warna merah kembali ke pipinya secara instan. Matanya terbuka perlahan, tampak berkaca-kaca dan linglung.
Ranu menarik jarum-jarumnya dengan gerakan yang nyaris tak terlihat. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Energi Yang Murni dalam dirinya bergejolak, mendidih karena penggunaan teknik tingkat tinggi ini. Dia butuh menstabilkan diri, atau jantungnya sendiri yang akan meledak.
"Mely! Kau sadar?" Tuan Triwanggono berlutut di samping putrinya, suaranya parau karena lega.
Dua dokter itu segera memeriksa denyut nadi Mely. Wajah mereka pucat pasi. "Ini... ini tidak mungkin. Tekanan darahnya normal. Denyut nadinya lebih kuat dari sebelumnya."
Mely tidak memperhatikan ayahnya. Pandangannya terkunci pada pria muda yang masih berlutut di hadapannya. Dia merasakan sisa-sisa kehangatan yang menjalar dari tusukan jarum tadi, sebuah sensasi yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Rasanya seperti setiap sel dalam tubuhnya baru saja terbangun dari tidur panjang.
Ranu menatapnya datar. "Kau beruntung aku ada di sini, Mely Triwanggono. Jangan biarkan sembarang orang menyentuh minumanmu mulai sekarang."
Ranu mulai bangkit untuk pergi, namun tangan lembut Mely yang terasa panas secara tiba-tiba meraih pergelangan tangannya. Tenaga gadis itu luar biasa kuat untuk seseorang yang baru saja pingsan.
"Tunggu..." bisik Mely.
Tuan Triwanggono menatap Ranu dengan pandangan yang sulit diartikan. "Siapa kau sebenarnya? Sebutkan permintaanmu. Uang? Jabatan? Aku akan memberikannya karena kau telah menyelamatkan pewaris Triwanggono Group."
Ranu tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung dendam yang tersembunyi rapi. "Aku tidak butuh uangmu, Tuan Triwanggono. Aku hanya menagih hutang lama yang mungkin sudah Anda lupakan."
Kerumunan kembali berbisik. Hutang apa? Siapa pemuda ini?
Ranu mencoba melepaskan tangan Mely, namun gadis itu menariknya lebih dekat. Mely bangkit dengan bantuan ayahnya, gaun sutranya yang robek di bagian punggung membuatnya terlihat liar sekaligus rapuh. Dia mendekatkan wajahnya ke telinga Ranu, mengabaikan tatapan ratusan pasang mata yang menonton mereka.
Aroma tubuh Ranu—campuran antara rempah kuno dan hawa maskulin yang kuat—membuat kepala Mely berputar. Hasrat yang asing dan membara tiba-tiba meledak di dalam dadanya.
"Jarummu... rasanya sangat nikmat," bisik Mely di telinga Ranu, suaranya serak dan provokatif. "Datanglah ke kamarku malam ini, atau aku akan memastikan kau tidak bisa keluar dari gedung ini hidup-hidup."
Ranu merasakan aliran listrik menyambar sarafnya. Dia menatap mata Mely dan melihat kegilaan yang mulai tumbuh di sana. Mely bukan sekadar pasien yang sembuh; dia adalah wanita yang baru saja terikat secara biologis dengan energi dewa miliknya.
"Kau sedang mengancam penyelamatmu sendiri?" tanya Ranu dengan nada rendah.
"Aku sedang memberikan penawaran yang tidak bisa kau tolak," balas Mely dengan senyum menantang, matanya berkilat penuh obsesi.
Ranu tahu, ini adalah awal dari kekacauan yang ia rencanakan. Namun, melihat gairah di mata putri musuhnya itu, ia menyadari bahwa membalas dendam mungkin akan jauh lebih menyenangkan daripada yang ia bayangkan.
***