

Gerimis tipis di Kota Bogor pagi itu terasa seperti ejekan bagi Ucok. Dengan jaket kulit imitasi yang mulai mengelupas di bagian bahu dan tas ransel besar yang talinya diganjal peniti, pria bertubuh tegap itu berdiri mematung di depan Tugu Kujang. Wajahnya yang kotak dengan rahang tegas dan kumis tipis ala penguasa terminal Medan Amplas tampak kontras dengan ekspresi bingungnya yang menyerupai anak ayam kehilangan induk.
"Bah... Cemana pulak ini? Katanya Jakarta itu banyak gedung tinggi, lha ini kenapa banyak pohon sama angkot hijau semua? Macam masuk hutan aku rasa," gumam Ucok dengan logat Medan yang kental, suaranya berat tapi bergetar karena panik.
Ucok baru saja menempuh perjalanan jauh dari Medan dengan modal nekat. Tujuannya satu: mencari abang sepupunya, Parlin, yang katanya sudah jadi "orang sukses" di Jakarta. Masalahnya, Ucok yang buta peta dan hanya mengandalkan bertanya pada orang di kapal, malah salah naik bus saat tiba di pelabuhan. Bukannya mendarat di Terminal Kalideres, dia malah terdampar di Baranangsiang.
Dengan langkah ragu, Ucok menghampiri seorang pemuda yang sedang asyik bermain ponsel di trotoar.
"Woi, Lae! Izin dulu aku bertanya," seru Ucok. Si pemuda mendongak, matanya membelalak melihat pria setinggi 185 cm dengan tampang sangar menodongnya dengan pertanyaan.
"I-iya, Pak? Ada apa?" jawab si pemuda gagap.
"Ini Jakarta belah mana? Dari tadi aku keliling, mana Monas-nya? Mana Bundaran HI? Kok yang kulihat cuma Istana penuh rusa sama Kebun Raya? Jangan kau main-main sama aku ya, jauh aku datang dari Medan ini!" Ucok mulai frustasi. Nada suaranya yang tinggi, khas orang Medan yang sedang bertanya, terdengar seperti ajakan berkelahi bagi warga lokal Bogor yang terbiasa dengan kehalusan budi pekerti.
"Aduh, Pak, santai Pak... Ini bukan Jakarta. Ini Bogor! Jakarta mah masih jauh, harus naik Commuter Line atau bus lagi ke utara," jelas si pemuda sambil beringsut mundur, takut kena bogem mentah.
"Bogor?! Macam mana pulak bisa sampai Bogor aku? Ah, sial kali nasibku ini! Bah, sudahlah uang menipis, alamat Si Parlin pun cuma modal kertas lecek ini," Ucok mengacak-acak rambutnya yang kaku karena pomade murah.
Selama tiga jam berikutnya, Ucok benar-benar merasakan ujian mental. Dia bertanya ke sana kemari dengan gaya bicaranya yang meledak-ledak. Di terminal, dia nyaris baku hantam dengan sopir angkot karena salah paham.
"Eh, Bang! Kau bilang lewat Jakarta, kenapa malah muter-muter di jalan Pajajaran ini aja? Kau mau merampok aku ya?!" teriak Ucok di dalam angkot.
"Aduh, Abang... ini kan angkot trayek 03, emang muter sini. Kalau ke Jakarta mah ke stasiun!" sahut sopir angkot yang ciut melihat otot lengan Ucok yang menyembul dari balik kaos oblongnya.
Frustasi, lapar, dan kehujanan, Ucok akhirnya terduduk lemas di emperan sebuah butik mewah di kawasan elite Bogor. Perutnya berbunyi nyaring, mengalahkan suara klakson kendaraan yang melintas. Dia merasa kecil di kota yang asing ini. Pengetahuan umumnya yang seadanya tentang "Pulau Jawa adalah satu kota besar bernama Jakarta" ternyata salah besar.
Tiba-tiba, sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilap berhenti tepat di depan butik. Pintu mobil terbuka, dan keluarlah seorang wanita paruh baya yang penampilannya bisa membuat silau siapapun yang melihat.
Wanita itu mengenakan setelan blazer sutra berwarna merah marun, kacamata hitam besar, dan perhiasan emas yang melingkar di leher serta pergelangan tangannya. Langkah kakinya tegas, aromanya wangi parfum mahal yang langsung menusuk hidung Ucok yang sedang mampet karena flu.
Dia adalah Hj. Andi Fatimah, seorang pengusaha berlian dan kuliner asal Makassar yang sudah lama menetap di Bogor. Orang-orang mengenalnya sebagai sosok yang tegas, bicara blak-blakan, dan punya aura "Alpha Female" yang tak terbantahkan.
"Eh, kau! Kenapa duduk-duduk di depan butik orang? Mau jadi patung selamat datang atau mau minta sumbangan?" suara Hj. Fatimah menggelegar, namun ada nada wibawa yang dingin di sana.
Ucok mendongak. Biasanya, dia tidak takut pada siapa pun. Di Medan, dia ditakuti sebagai penagih utang koperasi yang paling disegani. Tapi melihat wanita ini, ada sesuatu yang membuat nyali Ucok menciut seketika. Mungkin karena tatapan mata di balik kacamata hitam itu, atau mungkin karena aura kekayaan yang begitu pekat.
"Ampun, Kak... eh, Puan... eh, Bu. Bukan maksudku mau mengganggu. Aku cuma bingung, tersesat aku di sini. Mau ke Jakarta nyari saudara, tapi malah terdampar di Bogor ini. Capek kali kurasa," jawab Ucok dengan suara yang entah kenapa mendadak jadi pelan dan sopan. Logat Medannya masih ada, tapi kegarangannya menguap.
Hj. Fatimah melepas kacamata hitamnya, menatap Ucok dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dia melihat sepatu bot Ucok yang berlumpur, ranselnya yang menyedihkan, tapi dia juga melihat bahu lebar dan otot pria itu yang luar biasa.
"Medan kau?" tanya Hj. Fatimah singkat.
"Betul, Bu. Ucok namaku. Asli dari Medan Denai aku," jawab Ucok sambil mengangguk-angguk patuh.
Hj. Fatimah tersenyum tipis, jenis senyuman yang sulit diartikan. "Badanmu besar, muka macam preman pasar, tapi bicara sama saya kok lemes begitu? Mana nyalimu?"
Ucok menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ah, Ibu ini... Aku memang begini Bu kalau sama orang tua yang... yang... cantik macam Ibu," rayu Ucok kikuk, mencoba mencairkan suasana meskipun malah terdengar lucu.
Hj. Fatimah tertawa renyah. "Sudah, jangan banyak bicara. Kebetulan sopir sekaligus pengawal pribadiku baru saja berhenti karena tidak tahan saya omeli setiap hari. Kau punya SIM? Bisa bawa mobil?"
"Bisa, Bu! Jangankan mobil, truk fuso pun bisa kubawa lari kalau Ibu mau!" jawab Ucok semangat, matanya berbinar melihat peluang.
"Jangan bawa lari mobil saya, bisa saya jadikan perkedel kau nanti! Namanya juga orang Bugis, kami ini keras kalau dikhianati," ancam Hj. Fatimah sambil menunjuk ke arah mobilnya. "Ayo ikut. Makan dulu kau, habis itu saya tes. Kalau kau bagus kerja, kau saya gaji dua kali lipat dari gaji orang Jakarta. Tapi ingat, di depan saya, kau harus patuh. Tidak boleh ada 'Bah-Bah' kalau saya tidak suka. Mengerti?"
"Mengerti, Bos! Siap, Bos!" Ucok berdiri tegak, melakukan hormat ala militer yang agak miring.
Saat berjalan menuju mobil, Ucok dengan sigap membukakan pintu untuk Hj. Fatimah. Si pria garang dari Medan itu kini tampak seperti kucing rumahan yang baru saja menemukan majikan.
"Ayo cepat masuk! Jangan bengong macam kerbau!" teriak Hj. Fatimah dari dalam mobil.
"Iya, Bos! Sebentar, Bos, tas aku nyangkut!" seru Ucok panik sambil bergelut dengan ranselnya sendiri.
Di dalam mobil mewah yang kedap suara itu, Ucok duduk di kursi pengemudi dengan sangat hati-hati, seolah takut berat badannya akan memecahkan jok kulit tersebut. Dia melirik lewat kaca spion, melihat Hj. Fatimah yang sibuk dengan ponselnya.
Mati aku, pikir Ucok dalam hati. Tujuannya nyari Parlin di Jakarta, kok malah jadi babu Ibu-Ibu Bugis di Bogor. Tapi ya sudahlah, daripada mati kelaparan jadi gelandangan, mending jadi pengawal. Yang penting perut kenyang.
Namun, Ucok belum tahu bahwa menjadi asisten Hj. Andi Fatimah bukan hanya soal menyetir mobil. Ini adalah awal dari konflik-konflik ringan yang akan menguji kesabarannya, antara harga diri pria Medan yang tinggi dan dominasi wanita Bugis yang tak tergoyahkan. Dan di sinilah petualangan Ucok dimulai, di kota hujan yang dingin, dengan hati yang mendadak selembut hello kitty.