Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Mata Ilahi: Warisan Ireng De Teng

Mata Ilahi: Warisan Ireng De Teng

El Mufied | Bersambung
Jumlah kata
26.0K
Popular
100
Subscribe
1
Novel / Mata Ilahi: Warisan Ireng De Teng
Mata Ilahi: Warisan Ireng De Teng

Mata Ilahi: Warisan Ireng De Teng

El Mufied| Bersambung
Jumlah Kata
26.0K
Popular
100
Subscribe
1
Sinopsis
18+FantasiFantasi TimurPertualanganKultivasiDokter Genius
Malam itu, dunia Abang hancur tak bersisa. Desanya dibumihanguskan, ayah angkatnya dibunuh dengan kejam, dan adik perempuan satu-satunya diculik oleh sekte penguasa tiran, Klan Matahari. ​Di ambang keputusasaan dan kematian, darahnya tanpa sengaja membangkitkan sebuah cincin kuno kusam peninggalan sang ayah. Siapa sangka, di dalam benda rongsokan itu bersemayam jiwa Ireng De Teng, seorang Legenda Jagat Sanga sekaligus Herbalis terhebat yang pernah ditakuti dunia.​ Berbekal bimbingan sang legenda yang angkuh dan racikan herbal penempa tubuh, Abang melangkah di jalur kultivasi yang berdarah. Namun, ada satu hal yang bahkan membuat Ireng De Teng gemetar ketakutan. Sebuah kekuatan kuno ikut terbangun di telapak tangan anak desa itu.​Cincin kuno... Roh legenda... Mata misterius yang bisa melahap energi alam semesta... Menatap pusaran energi mengerikan di tangan muridnya, sang legenda hanya bisa menelan ludah dan bertanya:"Bocah... kau sebenarnya apa?"
1. Sang Legenda

​"Sial!" umpat seorang pendekar dengan suara serak, memuntahkan gumpalan darah hitam. Napasnya memburu di ambang kematian.

​Dialah Ireng De Teng.

​Legenda hidup itu akhirnya menuai kesombongannya sendiri. Tulang-tulangnya remuk redam, auranya yang dulu menakutkan kini tercerai-berai bak kaca pecah.

Ambisinya menembus Ranah 9 dengan menantang para petarung terkuat di benua sekaligus harus dibayar mahal.

Kini, raganya hancur dan ia diburu layaknya anjing liar oleh mereka yang mengincar inti kekuatannya.

​Dalam pelarian putus asa, sisa kesadarannya menangkap keberadaan ruang dimensi usang di dalam sebuah cincin kuno yang terselip di saku seorang pria desa pencari kayu.

​Tanpa ragu, Ireng membuang tubuh fisiknya yang sekarat dan menyusupkan jiwanya ke dalam cincin kusam itu untuk bersembunyi.

​Beberapa hari kemudian, malam turun dengan pekat di Desa Guyon. Angin berembus kencang, membawa bau tanah basah dan firasat buruk yang mencekam. Ketenangan desa kecil itu tiba-tiba terkoyak.

​Pasukan elite dari Klan Matahari, penguasa wilayah tersebut, datang menyerbu tanpa peringatan.

Rombongan yang dipimpin oleh seorang pria berjubah ungu itu tidak datang untuk menjarah harta. Tujuannya hanya satu: mencari tujuh gadis dengan tubuh langka pemegang elemen murni alam.

​Di dalam sebuah gubuk reyot berlantai tanah yang hanya diterangi lampu minyak temaram, Abang yang baru berusia sepuluh tahun mendekap erat adiknya, Quning.

Tubuh mereka bergetar hebat. Di luar, suara derap sepatu kuda bercampur dengan jeritan melengking warga desa membelah keheningan malam.

​Si pria desa, ayah mereka, memberanikan diri mengintip dari celah dinding anyaman bambu. Wajahnya yang penuh peluh seketika berubah sepucat mayat. Matanya membelalak ngeri melihat para prajurit berzirah hitam mendekati halaman gubuk mereka.

​"Celaka!" desis si pria desa dengan napas memburu. Ia berbalik, langsung menarik kedua tangan anaknya. "Cepat! Kita harus lari lewat pintu belakang!"

​Namun terlambat.

​BRAK!

​Pintu depan gubuk didobrak hingga hancur berkeping-keping. Angin malam yang dingin berembus masuk, memadamkan satu-satunya lampu minyak di ruangan itu.

Di ambang pintu, berdirilah si pria berjubah ungu. Matanya yang tajam menyapu isi gubuk yang remang, dan seketika terkunci pada Quning yang bersembunyi di balik punggung Abang.

​Pria itu tersenyum tipis. "Energi murni berelemen cahaya," gumamnya puas. "Gadis yang kelima."

​Dengan satu isyarat jari, dua pengawal bertubuh besar merangsek masuk.

​"Jangan bawa adikku!" teriak Abang. Ia merentangkan tangan kecilnya, mencoba menjadi tameng. Namun, salah satu pengawal menepisnya dengan kasar, membuat tubuh kurus Abang terpental menghantam dinding bambu hingga retak.

​"Bapak! Tolong!" jerit Ning meronta-ronta saat lengannya dicengkeram dan ditarik keluar secara paksa.

​Melihat putrinya diperlakukan kasar, si pria desa tidak bisa tinggal diam. Ia meraih sebatang kayu bakar dari perapian dan menerjang maju. "Lepaskan anakku!"

​Sayangnya, keberanian seorang warga desa bukanlah tandingan petarung kelas atas. Pria berjubah itu hanya mendengus dingin dan melepaskan sedikit gelombang energi dari telapak tangannya.

​BUM!

​Si pria desa terlempar ke udara dengan dada melesak ke dalam, lalu jatuh berdebum di atas meja kayu hingga hancur. Darah segar menyembur dari mulutnya.

​"BAPAK!" Abang memaksakan diri bangkit, namun pria berjubah itu menatapnya dengan tekanan batin yang begitu berat hingga Inti Spiritual di dalam perut Abang terasa retak. Rasa sakit yang luar biasa membuat anak itu kembali ambruk dan memuntahkan darah. Tubuhnya lumpuh total.

​Pria berjubah itu berbalik dan berjalan keluar, mengabaikan rintihan sekarat di belakangnya. Suara roda kereta kuda perlahan menjauh, membawa pergi tangisan Quning yang terus memanggil nama kakaknya di tengah malam yang dingin.

​Setelah derap kuda itu memudar, hanya ada keheningan yang mencekik. Angin malam membawa bau asap dari rumah-rumah yang terbakar di kejauhan, bercampur dengan anyir darah yang menggenang di lantai tanah gubuk. Semuanya terasa hampa dan sunyi senyap.

​Si pria desa, dengan sisa tenaga terakhirnya, merangkak susah payah. Setiap gerakannya meninggalkan jejak darah yang pekat. Ia meraih tangan Abang yang terkapar tak berdaya, lalu meletakkan cincin kuno kusam dari sakunya ke telapak tangan putranya.

​"Abang... ambil ini..." ucapnya terbata-bata dengan darah mengucur dari sudut bibir.

​Abang menangis tanpa suara, air matanya bercampur dengan darah. "Bapak... jangan bicara lagi..."

​"Maafkan aku, Nak..." Pria itu memejamkan mata sejenak, menahan sakit yang merenggut nyawanya. "Kalian... sebenarnya bukan anak kandungku. Cincin ini... satu-satunya petunjuk tentang siapa dirimu yang sebenarnya. Hiduplah, Nak..."

​Tangan pria itu perlahan melemah dan jatuh terkulai.

​Abang terbaring kaku di samping jasad ayah angkatnya. Dunianya hancur dalam semalam. Ayahnya dibunuh, adiknya diculik, dan kini ia tahu identitasnya hanyalah sebuah tanda tanya. Amarah meledak di dadanya, mengalahkan rasa sakit fisik yang ia derita.

​Kenapa aku begitu lemah? jeritnya dalam hati.

​Dengan jari-jari yang gemetar, ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, menggenggam cincin peninggalan itu. "Aku... aku harus menjadi lebih kuat!"

​Pandangannya perlahan memudar, kesadarannya retak di ambang kematian yang dingin. Namun, tepat saat jiwanya seolah akan terlepas dari raga, cincin kusam dalam genggamannya bergetar pelan. Merespons.

​Sesuatu yang hangat tiba-tiba menyentuh kulitnya. Sebuah cahaya hijau zamrud yang murni muncul, menyelimuti tubuh kecil Abang bak selimut air. Energi misterius itu meresap ke pori-porinya. Terdengar bunyi gemeretak pelan saat tulang-tulangnya yang patah bergeser kembali ke tempatnya. Sebuah panas yang menenangkan menjalar, memulihkan organ dalamnya yang hancur, mengembalikan tarikan napasnya yang nyaris terputus, dan membangkitkan sesuatu yang telah lama tertidur di dalam dirinya.

​Cahaya hijau itu tidak hanya menyembuhkan.

​Di dalam cincin kuno, kesadaran Ireng yang sedang beristirahat tersentak.

​"Apa ini…?"

​Ia merasakan energi asing yang bukan berasal dari sistem kultivasi mana pun. Energi itu murni dan lembut. Namun memiliki kualitas yang bahkan melampaui inti spiritual tingkat tinggi.

​"Mustahil…" gumamnya dalam kehampaan ruang dimensi. "Anak desa seperti ini…?"

​Cahaya itu berdenyut selaras dengan detak jantungnya.

​Di kedalaman kesadarannya yang nyaris padam, Abang melihat bayangan samar, sepasang mata hijau terang menatapnya dari kegelapan.

​Kegelapan itu perlahan berubah menjadi hamparan kabut tipis. Di antara kabut tersebut, berdirilah seorang gadis.

​Rambutnya panjang berwarna perak, berkilau lembut seperti disinari rembulan. Wajahnya halus dan pucat, seolah bukan milik manusia. Sepasang mata hijau zamrud itu menatap  dengan emosi yang tak bisa ia pahami.

​Gadis itu mengulurkan tangan, namun tidak benar-benar menyentuhnya. Hanya cahaya hijau yang mengalir dari jemarinya, menyatu ke dalam dada Abang.

​"Aku… tidak bisa terlalu lama di sini," bisiknya lirih. Suaranya seperti hembusan angin di antara dedaunan malam.

​Abang mencoba berbicara, tetapi bibirnya tak mampu bergerak.

​Gadis itu menunduk sesaat. Ada penyesalan tipis di matanya.

​"Maaf… aku hanya bisa membantu satu orang."

​Cahaya di sekelilingnya mulai memudar. Kabut bergulung kembali, menelan sosoknya perlahan.

​Sebelum benar-benar menghilang, ia berbalik seakan ingin mengatakan sesuatu lagi, namun urung. Dalam sekejap, sosok berambut perak itu lenyap seperti ilusi yang tak pernah ada.

​"Tu— tunggu…" suara Abang hanya bergema dalam kesadarannya sendiri.

​Detik berikutnya, tubuhnya terjatuh kembali ke lantai tanah.

​Cahaya hijau menyusut, terserap seluruhnya ke dalam nadinya.

​Sunyi.

​Hanya sisa bara api yang masih berpendar merah di sudut gubuk yang hancur.

​Napas Abang kembali stabil. Tulang-tulangnya yang retak menyatu sempurna. Luka dalamnya pulih, menyisakan rasa perih yang tumpul.

​Namun perubahan itu tidak berhenti di situ.

​Di dalam cincin kuno yang tergenggam erat di tangannya, ruang dimensi yang semula redup kini bergetar pelan.

​Ireng membuka mata jiwanya.

​Aura yang mengelilingi kesadaran Abang tidak lagi seperti anak desa biasa. Ada sesuatu yang baru saja bangkit. Sesuatu yang bahkan ia, seorang legenda yang hampir menembus Ranah 9, tidak mampu pahami sepenuhnya.

​"Energi itu…" gumamnya pelan.

​Ia mengamati sisa-sisa jejak cahaya hijau yang mengendap di inti spiritual bocah itu.

​Ireng terdiam cukup lama.

​Lalu, untuk pertama kalinya sejak kekalahannya yang memalukan, sudut bibir jiwanya terangkat.

​"Hah…"

​Tawa rendah bergema di dalam ruang dimensi.

​"Langit benar-benar belum ingin aku musnah rupanya."

​Ia menatap sosok Abang yang terkapar melalui resonansi cincin.

​"Baiklah, bocah…"

​"Saat kau membuka cincin itu nanti—"

​"Aku akan menjadikanmu senjata paling mengerikan yang pernah disesali dunia."

Lanjut membaca
Lanjut membaca