Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Garis Kuasa

Garis Kuasa

Abulstory | Bersambung
Jumlah kata
44.2K
Popular
100
Subscribe
5
Novel / Garis Kuasa
Garis Kuasa

Garis Kuasa

Abulstory| Bersambung
Jumlah Kata
44.2K
Popular
100
Subscribe
5
Sinopsis
FantasiSci-FiSpiritualKekuatan SuperPria Dominan
Tahun 2050. Dua puluh delapan tahun setelah meteorit misterius jatuh di sekitar wilayah India dan memicu perubahan besar pada umat manusia, dunia tidak pernah kembali sama. Manusia berevolusi. Mereka disebut Arkatra, orang-orang yang mampu memanifestasikan energi dan kemampuan di luar nalar. Tapi alih-alih membawa kemajuan, kemunculan Arkatra justru menghancurkan tatanan dunia lama. Pemerintahan runtuh, hukum tak lagi berlaku, dan kota-kota terbagi menjadi wilayah kekuasaan yang dikuasai geng-geng kuat. Di tengah dunia kacau, Fares Argantara, pemuda 19 tahun berbalut tuxedo hitam, berjalan dari satu wilayah ke wilayah lain dengan satu tujuan, mencari sosok yang cukup kuat untuk berdiri di puncak. Saat pencariannya membawanya ke sebuah wilayah brutal, Fares bertemu seorang pria 22 tahun yang mampu menumbangkan Arkatra hanya dengan tangan kosong. Pertemuan itu menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar, sebuah perjalanan menembus garis-garis kuasa yang membelah dunia, demi menemukan siapa yang benar-benar pantas memimpin era baru.
Lelaki Berjas Hitam

Kalau ada satu hal yang disepakati hampir semua orang yang masih hidup di dunia ini, itu adalah ”dunia sudah lama berhenti jadi tempat yang normal”.

Dua puluh delapan tahun lalu, sebuah meteorit misterius jatuh di sekitar wilayah India. Orang-orang zaman itu menamainya Arka. Awalnya semua orang mengira itu hanya fenomena luar angkasa biasa. Sebuah batu raksasa jatuh dari langit, lalu selesai.

Ternyata mereka salah.

Benda itu membawa sesuatu yang tidak pernah bisa dijelaskan bahkan oleh orang paling cerdas sekalipun. Setelah hantamannya, langit berubah warna selama berhari-hari di berbagai belahan dunia. Laut tampak mengamuk. Hewan-hewan liar menjadi agresif. Suhu di beberapa wilayah berubah tak menentu. Dan yang paling mengerikan, manusia mulai berubah.

Awalnya hanya terasa gejala aneh. Demam tinggi yang tidak normal diiringi hidung yang mengeluarkan darah.

Tubuh terasa panas dari dalam.

Mata perih saat terkena cahaya.

Lalu, dalam hitungan minggu, satu per satu manusia mulai membangkitkan kemampuan yang sebelumnya hanya ada dalam cerita fiksi. Ada yang bisa mengeluarkan api dari telapak tangan. Ada yang mampu memanipulasi listrik. Ada yang tubuhnya mengeras seperti logam. Ada pula yang mampu mengendalikan energi, kabut, bahkan tekanan udara.

Para ilmuwan mendefinisikan manusia-manusia yang berevolusi itu sebagai Arkatra.

Pada awalnya, pemerintah dunia mencoba mengendalikan situasi dengan mengerahkan militer dan melakukan penelitian khusus. Zona karantina dibangun. Namun semua usaha itu tidak membuahkan hasil

Karena semenjak munculnya kekuatan itu, tatanan dunia yang lama mulai runtuh.

Tentara tak lagi mau tunduk.

Polisi memilih menguasai wilayahnya sendiri.

Pejabat yang tak punya kekuatan diburu dan dibinasakan.

Negara-negara memang masih terlihat ada di peta, tapi sejatinya, yang paling kuat lah yang berkuasa.

Lima tahun setelah Kejatuhan Arka, dunia telah berubah menjadi tempat yang baru. Kota-kota besar pecah menjadi sektor-sektor. Jalanan dikuasai geng. Wilayah-wilayah saling diperebutkan. Orang kuat membentuk kelompoknya sendiri. Orang lemah membayar upeti atau jadi korban kebengisan. Dan mereka yang tak punya siapa-siapa… biasanya tak mampu bertahan.

Di era seperti itu, seorang pemuda berusia sembilan belas tahun berjalan santai di jalanan yang setengah hancur, mengenakan tuxedo hitam rapi.

Namanya Fares Argantara.

Jas hitamnya pas di badan. Kemeja putihnya bersih. Dasi kupu-kupunya terpasang rapi. Sepatu kulit hitamnya mengilap, terlalu bersih untuk jalanan yang penuh debu, pecahan kaca, dan noda darah lama. Rambut hitamnya disisir ke belakang, meski beberapa helai jatuh ke dahi karena angin kering yang berembus di antara bangunan-bangunan rusak.

Kalau orang melihatnya sekilas, mereka akan berpikir hal yang sama.

Anak ini gila.

Atau terlalu percaya diri.

Atau mungkin dua-duanya.

Fares berhenti di ujung jalan besar yang separuh aspalnya amblas. Di kiri dan kanan, gedung-gedung tua berdiri seperti kerangka raksasa yang menolak tumbang. Sebuah papan reklame raksasa tergantung miring, seolah tinggal menunggu waktu untuk jatuh. Kabel-kabel listrik menjuntai seperti akar pohon mati. Di kejauhan terdengar suara generator tua, teriakan orang, dan sesekali ledakan kecil yang entah datang dari mana.

Wilayah ini dikenal sebagai Sektor 17.

Dulu, sebelum dunia berubah, tempat ini adalah kawasan bisnis dan penjualan properti.

Sekarang, tempat ini milik siapa pun yang cukup kuat untuk mempertahankannya.

Fares memasukkan kedua tangan ke saku celana. Tatapannya menyapu jalanan di depannya dengan tenang, seperti seseorang yang sedang menilai sebuah tempat sebelum memutuskan apakah tempat itu layak untuk dibeli.

“Bukan di sini,” gumamnya pelan.

Nada suaranya datar. Tidak kesal. Tidak kecewa. Hanya seperti seseorang yang sudah terlalu sering tidak menemukan apa yang ia cari.

Sudah hampir tiga bulan dia berkeliling dari satu sektor ke sektor lain.

Tujuannya Cuma satu.

Mencari orang kuat.

Tapi bukan kuat seperti Arkatra kebanyakan. Fares tidak tertarik pada orang-orang yang merasa hebat hanya karena bisa menyalakan api di tangan atau menghancurkan dinding dengan satu pukulan. Dunia sudah dipenuhi orang seperti itu. Jumlahnya terlalu banyak. Dan kebanyakan dari mereka bodoh.

Yang dicari Fares bukan sekadar orang gila bertarung.

Dia mencari seseorang yang pantas berada di depan.

Karena Fares tidak ingin membangun geng biasa.

Dia ingin membentuk kelompok yang tidak hanya menguasai satu sektor, tapi menelan sektor lain satu per satu. Sampai semua nama besar di kota ini hilang. Sampai semua penguasa kecil, semua bos wilayah, semua raja jalanan, dipaksa memilih, tunduk, bergabung, atau hancur.

Anehnya, untuk seseorang dengan ambisi sebesar itu, Fares justru tidak tertarik duduk di kursi tertinggi.

Dia tidak ingin menjadi raja.

Dia ingin menemukan raja.

Dan ketika orang itu muncul, Fares akan menjadi bayangan di belakangnya.

Fares mengangkat kepala saat mendengar suara gaduh dari arah gang sempit di seberang jalan.

Benturan keras.

Teriakan.

Makian.

Dia memiringkan kepala sedikit.

“Hmm.”

Langkahnya berubah arah. Santai. Tidak terburu-buru. Seolah apa pun yang terjadi di sana tidak akan pergi ke mana-mana.

Begitu mendekati mulut gang, suara keributan makin terdengar jelas.

“Pegang dia!”

“Jangan kasih napas!”

“Bunuh aja sekalian!”

Fares berhenti tepat di depan gang.

Pemandangan di depannya cukup menarik.

Ada enam orang preman mengepung satu pria.

Pria itu tampak berusia sekitar dua puluh dua tahun. Tubuhnya tinggi, bahunya lebar, dan posturnya kokoh seperti orang yang sudah akrab dengan kerasnya jalanan. Kaos abu-abunya robek di bagian lengan. Jaket tanpa lengan yang ia pakai sudah kotor penuh debu. Di pelipis kirinya ada darah segar mengalir tipis. Namun ia memancarkan sorot mata yang tajam.

Tenang.

Tidak panik.

Tidak takut.

Seolah dikeroyok enam orang bukan sesuatu yang baru baginya.

Enam preman di sekelilingnya jelas bukan orang biasa. Salah satu tangannya menyala merah seperti bara. Yang lain punya lengan kanan membesar dan dilapisi semacam batu hitam. Ada yang memunculkan bilah energi biru dari telapak tangan. Sisanya memancarkan aura tipis yang membuat udara di sekitar mereka bergetar.

Arkatra.

Arkatra kelas jalanan.

Tipe yang sering merasa dunia milik mereka hanya karena berhasil membangkitkan kemampuan lebih dulu daripada orang lain.

Fares bersandar santai di dinding retak, lalu memperhatikan.

Salah satu preman bergerak duluan. Yang tangannya menyala merah.

Dia mengayunkan pukulan lurus ke wajah pria itu.

Pria tersebut hanya memiringkan kepala sepersekian detik.

Pukulan meleset.

Belum sempat si preman menarik tangan, sebuah sikut menghantam rahangnya.

Krak.

Tubuh preman itu terangkat setengah putaran sebelum jatuh menabrak tumpukan besi tua.

Fares sedikit mengangkat alis.

“Oh?”

Dua lainnya maju bersamaan. Yang berlengan batu mengayunkan tangan seperti palu, sementara yang punya bilah energi menusuk dari samping.

Pria itu mundur setapak, lalu merendah. Bilah energi hanya memotong udara. Dalam posisi jongkok, dia memukul lutut si lengan batu.

Bunyi retak terdengar jelas.

Preman itu berteriak.

Belum selesai, pria tersebut berdiri sambil menghantam dagu lawannya dengan uppercut brutal. Gigi beterbangan.

Lalu dia memutar badan.

Satu tendangan samping menghajar rusuk pemilik bilah energi.

Orang itu terpental sampai membentur tembok gang dengan suara yang bikin ngilu.

Tiga lawan tumbang dalam hitungan detik.

Fares kini benar-benar fokus memperhatikan pertarungan itu.

Preman lain memaki sambil mundur satu langkah.

“Brengsek! Pakai kekuatanmu, bodoh!”

Pria itu meludahkan darah dari mulutnya ke samping sembari menyeringai tipis.

“Lawan kalian?”

Suaranya berat, sedikit serak, dan terdengar benar-benar meremehkan.

“Belum perlu.”

Kalimat itu membuat Fares tersenyum tipis.

Menarik.

Sangat menarik.

Tiga preman tersisa saling pandang, lalu menyerang bersamaan.

Yang pertama melompat sambil membawa gelombang udara dari tinjunya.

Yang kedua menumbuhkan duri tulang dari lengan.

Yang ketiga memadatkan energi di telapak tangan sampai memercik.

Serangan mereka cukup berbahaya. Untuk orang biasa, satu serangan saja mungkin cukup membuat tulang patah atau kerusakan organ dalam.

Tapi pria itu tetap tidak mengeluarkan kemampuan apa pun.

Dia justru melangkah maju.

Gelombang udara menghantam dinding di belakangnya karena dia lolos dengan gerakan kepala yang nyaris tak terlihat. Tangannya menangkap pergelangan si pemilik duri tulang, memutarnya sampai terdengar suara sendi lepas, lalu menghantamkan kepala lawan ke wajah si pengguna energi.

Dua orang tumbang sekaligus.

Yang terakhir mencoba mundur, mungkin akhirnya sadar mereka salah memilih target.

Pria itu meraih kerahnya dari belakang.

Lalu mengangkatnya.

Dengan satu tangan.

Dan membantingnya ke tanah.

Tubuh si preman kejang sebentar sebelum tak bergerak.

Sunyi.

Hanya suara napas berat dan tetesan darah yang jatuh ke tanah.

Fares menatap pria itu beberapa detik.

Tidak ada manifestasi aura di sekujur tubuhnya.

Tidak ada ledakan energi yang dia keluarkan.

Kalau pun pria itu seorang Arkatra, dia sama sekali belum memakainya.

Artinya, dia baru saja merobohkan enam pengguna kemampuan… hanya dengan murni fisik dan naluri bertarung.

Senyum kecil muncul di wajah Fares.

Akhirnya.

Pria itu mengibaskan tangan, lalu menoleh ke arah Fares seolah baru sadar sejak tadi ada penonton.

Tatapan mereka bertemu.

“Kalau mau nonton, bayar,” kata pria itu dingin.

Fares terkekeh pelan.

“Padahal hanya melawan sampah tapi sudah berbicara jumawa ya.”

Pria itu menatapnya dari kepala sampai kaki.

Dari sepatu mengilap.

Ke celana rapi.

Ke jas hitam.

Ke dasi kupu-kupu.

Lalu kembali ke wajahnya.

“Kau kelihatan semakin menyebalkan dengan pakaian terlalu bersih di tempat sekotor ini.”

“Bagus,” jawab Fares ringan. “Berarti aku gampang diingat.”

Pria itu melangkah keluar dari lingkaran tubuh-tubuh tumbang. Semakin dekat, semakin jelas kalau badannya penuh luka lama. Bekas sayatan di lengan. Bekas bakar di leher. Buku-buku jarinya kasar dan tebal. Orang seperti ini jelas hidup dari kerasnya pertarungan.

“Kalau kau anak buah mereka,” katanya, “bilang ke bosmu cari orang lain.”

“Aku bukan anak buah siapa-siapa.”

“Kalau begitu, minggir.”

Fares tidak bergeser.

Malah dia mengeluarkan satu tangan dari saku, lalu menepuk-nepuk debu imajiner di lengan jasnya.

“Aku sudah lama mencari orang seperti kamu.”

Pria itu berhenti.

Tatapannya menyempit.

“Kalimat paling aneh yang kudengar minggu ini.”

“Aku serius.”

“Sayangnya aku tidak.”

Fares tersenyum.

Lebih seperti senyum seseorang yang baru menemukan barang langka di pasar gelap.

“Namamu siapa?”

Pria itu diam sesaat, lalu menjawab pendek.

“Raka.”

“Raka.”

Fares mengulang nama itu pelan, seperti sedang menyimpannya baik-baik.

“Bagus. Gampang diingat.”

“Aku belum kasih izin kau untuk mengingat namaku.”

“Aku juga belum kasih izin kau pergi.”

Kalimat itu membuat udara di gang terasa berubah.

Raka menatapnya beberapa detik. Lalu bahunya sedikit turun, bukan karena santai, tapi karena tubuhnya masuk ke posisi siap tempur.

“Anak kecil,” katanya pelan. “Jangan bikin aku marah.”

Fares menghela napas kecil.

“Aku benci dipanggil anak kecil.”

“Terus?”

“Terus…” Fares menurunkan tangan kanannya ke samping. “Pukul aku.”

Raka menatapnya seperti sedang memastikan apakah pemuda di depannya waras.

“Kau serius?”

“Kalau kau bisa bikin aku mundur satu langkah, aku pergi.”

“Kalau tidak?”

“Kalau tidak,” jawab Fares, matanya menyipit tipis, “aku yang akan menguji apakah kau pantas jadi orang yang selama ini kucari.”

Sunyi sejenak.

Lalu Raka tertawa pendek.

Raka merasa pemuda ini konyol.

“Baiklah,” katanya. “Kau minta sendiri.”

Tanpa aba-aba, Raka melesat.

Sangat cepat.

Jarak tiga meter lenyap dalam satu kedipan. Tinjunya meluncur lurus ke wajah Fares dengan tenaga yang sebelumnya cukup untuk menjatuhkan preman-preman tadi.

Tapi tepat sebelum pukulan itu menyentuh

Bayangan di bawah kaki Fares bergerak.

Seperti cairan hitam hidup.

Naik.

Melilit.

Menahan.

Tangan Raka berhenti kurang dari lima sentimeter dari wajah Fares.

Mata Raka membelalak.

Ia terkejut.

Bayangan hitam pekat membungkus lengannya seperti rantai tak kasatmata.

Fares masih berdiri di tempat. Bahkan ekspresinya tidak berubah.

“Lumayan,” katanya pelan.

Dalam sekejap, bayangan di tanah merambat lebih jauh. Menjalar ke dinding, ke tubuh-tubuh pingsan di lantai, ke pecahan besi, ke seluruh gang yang sempit. Suhu udara mendadak turun. Cahaya matahari yang masuk dari ujung gang terasa redup, seolah ditelan sesuatu.

Raka menarik lengannya keras.

Tidak bergerak.

Otot lengannya menegang.

Urat di lehernya menonjol.

Tetap tidak bergerak.

Fares mendekat satu langkah. Sepatunya berhenti tepat di depan Raka.

“Aku suka orang yang bisa berdiri walau dikeroyok,” ucapnya pelan. “Aku lebih suka lagi orang yang menahan diri untuk tidak memakai kemampuan saat lawannya tidak pantas.”

Mata Raka menatapnya tajam.

“Apa maumu?”

Senyum Fares melebar tipis.

“Untuk sekarang?”

Dia mengangkat tangan kiri, lalu menjentikkan jari.

Seluruh bayangan di gang bergetar.

“Buat kau marah.”

Dan untuk pertama kalinya sejak pagi itu, mata pria bernama Raka benar-benar berubah.

Di kedalaman pupilnya, sesuatu yang liar mulai bangun.

Sesuatu yang bahkan enam preman tadi belum cukup bodoh untuk memaksanya keluar.

Fares melihat perubahan itu.

Dan justru tampak puas.

Akhirnya.

Mungkin, setelah berbulan-bulan mencari…

Dia menemukan calon raja pertamanya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca