Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Bangkitnya Raja Harem

Bangkitnya Raja Harem

segelas kopi | Bersambung
Jumlah kata
63.3K
Popular
2.2K
Subscribe
344
Novel / Bangkitnya Raja Harem
Bangkitnya Raja Harem

Bangkitnya Raja Harem

segelas kopi| Bersambung
Jumlah Kata
63.3K
Popular
2.2K
Subscribe
344
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of life21+HaremRaja
Arka seorang pemuda miskin, Arka adalah definisi dari "pion yang sempurna." ia bertahan hidup dengan mengerjakan skripsi, proyek bisnis, hingga kode program rumit milik tiga gadis populer yang mengaku sebagai "kekasihnya." Arka memberikan segalanya untuk mendapatkan kasih sayang. Namun hari naas terjadi pada arka, dimana tiga gadis populer itu sudah mendapatkan semua, Arka di buang begitu saja. Rasa kecewa, marah bercampur jadi satu, Arka segera bangkit dengan kejeniusan yang di miliki menjadikan Arka Raja Harem, selamat tinggal "pion" dan selamat datang "Dunia Harem"!!!
1. Hujan dan Keheningan

Lampu neon temaram di sudut kamar kos ukuran 2x3 meter itu berkedip kedip, seolah ikut menertawakan Arka yang sedang sibuk dengan tiga laptop butut di depannya. Jemarinya menari lincah di atas keyboard, menyusun barisan kode dan strategi bisnis yang rumit.

"Selesai," gumam Arka. Senyum tulus merekah di wajahnya yang pucat. "Clara pasti senang. Analisis pasar ini akan membuat startup fashionnya menang di kompetisi nasional besok."

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari grup bernama 'Malaikatku'.

Clara:"Sayang, bisa ke Gedung Grand Imperial jam 7 malam ini? Aku, Bella, dan Sania ada kejutan buat kamu."

Arka melonjak kegirangan. "Kejutan? Apa mungkin mereka akhirnya ingin mengenalkan aku ke orang tua mereka?"

Ia segera bersiap. Mengambil kemeja satu satunya yang tidak luntur, meski lengannya sedikit kekecilan. Ia tidak peduli. Di otaknya, hanya ada bayangan senyum Clara, tawa Bella yang manja, dan tatapan lembut Sania.

Selama ini, Arka memberikan segalanya mengerjakan skripsi Bella hingga lulus cumlaude, mengelola algoritma akun Sania hingga punya jutaan pengikut, dan membangun pondasi bisnis Clara dari nol.

Arka berdiri di depan pintu aula mewah. Musik klasik mengalun lembut. Di sana, tiga wanita cantik berdiri mengenakan gaun desainer yang harganya mungkin setara dengan biaya hidup Arka selama lima tahun.

"Clara! Bella! Sania!" panggil Arka dengan napas tersengal.

Ketiganya berbalik. Namun, tidak ada pelukan hangat. Hanya ada tatapan dingin yang tajam.

"Oh, si Jenius sudah datang," ujar Clara sambil menyesap sampanye.

"Duduklah, Arka. Ada sesuatu yang harus kami selesaikan agar beban kami hilang," tambah Bella dengan nada datar yang menusuk.

Arka mengerutkan kening. "Beban? Apa maksudnya? Clara, ini analisis pasar yang kamu minta, aku mengerjakannya tiga hari tanpa ti..."

"Simpan saja sampah itu, Arka," potong Sania ketus. Ia melemparkan sebuah amplop cokelat ke arah Arka. "Di situ ada uang 10 juta. Anggap saja itu upah terakhirmu sebagai asisten pribadi kami."

Arka mematung. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. "Asisten? Sania, aku kekasihmu. Kita sudah jalan setahun. Bella, aku yang mengerjakan seluruh tesis kamu. Clara, aku yang membangun sistem keamanan perusahaanmu!"

Bella tertawa renyah, tawa yang biasanya terdengar merdu kini terdengar seperti suara iblis di telinga Arka. "Kekasih? Arka, lihat cermin. Kamu pikir wanita seperti kami benar benar bisa mencintai pemuda yang bau keringat dan tinggal di lubang tikus seperti kamu?"

"Lalu... kenapa selama ini kalian bilang sayang? Kenapa kalian mengajakku kencan?" tanya Arka, suaranya bergetar hebat.

Clara melangkah maju, ujung sepatunya yang mahal berkilat di bawah lampu kristal. "Karena kamu murah, Arka. Kamu jenius, tapi bodoh secara sosial. Kalau aku menyewa konsultan profesional, aku harus bayar miliaran. Tapi denganmu? Cukup dengan kata sayang dan janji palsu, kamu memberikan otakmu secara cuma cuma."

"Kalian... memanfaatkanku?" Arka berbisik, dunianya runtuh seketika.

"Tepat sekali. Dan sekarang, perusahaan Clara sudah stabil, aku sudah jadi influencer papan atas, dan Bella sudah punya gelar. Kami tidak butuh kamu lagi. Kamu merusak pemandangan di gedung ini," ujar Sania sambil melambaikan tangan ke arah pintu.

"Satpam! Tolong keluarkan orang asing ini. Dia mencoba mengemis di sini," teriak Clara tanpa ragu sedikit pun.

Dua pria berseragam besar segera mencengkeram lengan Arka.

"Lepaskan! Clara! Aku mencintaimu! Bella, tega kamu?!" Arka memberontak, tapi tubuhnya yang kurus karena kurang makan tak berdaya.

"Jangan pernah tunjukkan mukamu lagi di depan kami, Arka. Kamu itu cuma alat. Dan alat yang sudah rusak harus dibuang ke tempat sampah," teriak Bella sebagai kalimat terakhir sebelum pintu aula tertutup rapat.

*Brak!*

Arka dilempar keluar dari pintu lobi. Tubuhnya menghantam lantai trotoar yang keras.

"Pergi sana! Jangan bikin kotor lantai lobi!" bentak satpam itu.

Langit seolah mengerti kehancuran hati Arka. Guntur menggelegar, dan seketika hujan turun dengan sangat deras. Arka masih terdiam di lantai. Pakaian kemeja kebanggaannya kini basah kuyup dan kotor terkena lumpur.

Ia berdiri perlahan. Kepalanya tertunduk. Air hujan mengalir melewati wajahnya, menyamarkan air mata yang pecah.

"Cuma alat..." bisiknya di tengah gemuruh hujan.

Ia mulai berjalan. Satu langkah, dua langkah. Ia tidak lari berteduh. Ia membiarkan tubuhnya dihantam ribuan tetes air dingin. Orang orang di sekitar yang berteduh menatapnya dengan iba, sebagian lagi dengan jijik.

"Bodohnya aku," Arka tertawa kecil. Tawa yang getir. "Sangat bodoh."

Ia melewati toko elektronik yang memajang televisi besar di etalasenya. Di sana, wajah Clara muncul di berita bisnis sebagai "Pengusaha Muda Jenius Tahun Ini".

Arka berhenti. Ia menatap layar itu. Matanya yang semula redup tiba tiba berkilat. Sesuatu di dalam dirinya sesuatu yang selama ini ia tekan demi cinta mulai bangkit.

"Kalian bilang aku jenius," gumam Arka, suaranya kini terdengar berat dan dalam, tidak lagi bergetar. "Kalian bilang aku yang membangun sistem kalian."

Pintu kamar kos kayu yang sudah lapuk itu tertutup dengan bunyi berderit yang menyayat hati. Arka menyandarkan punggungnya di balik pintu, membiarkan air hujan dari pakaiannya merembes ke lantai semen yang retak. Napasnya tersengal, bukan karena lelah berlari, melainkan karena paru parunya seolah menyempit oleh sesak yang luar biasa.

Ia berjalan gontai menuju meja kayu kecil tempat laptop bututnya berada. Dengan tangan bergetar, ia menyalakan layar ponselnya yang retak. Cahaya biru dari layar itu menerangi wajahnya yang pucat pasi di tengah kegelapan kamar.

Ia membuka aplikasi perbankan. Sebuah angka muncul di sana.

**Rp1.042.500,00.**

Arka tertawa. Bukan tawa bahagia, melainkan tawa hampa yang terdengar seperti rintihan.

"Satu juta..." bisiknya. "Empat tahun kuliah, tiga perusahaan dibangun, ribuan malam tanpa tidur... dan ini harganya? Satu juta?"

Tiba tiba ponselnya berdering. Nama Clara muncul di layar. Jantung Arka sempat berdesir apakah dia menyesal? Apakah ini permintaan maaf? Dengan harapan yang tersisa, ia menggeser tombol hijau.

"Halo? Clara?"

"Arka," suara di seberang sana terdengar sangat dingin, diiringi suara denting gelas kaca dan musik pesta di latar belakang. "Aku lupa bilang. Kata sandi untuk server back end utama perusahaan sudah aku ganti. Dan ya, aku sudah menghapus semua akses administratif atas namamu. Jangan mencoba meretas atau aku akan melaporkanmu ke polisi karena percobaan sabotase."

Arka mematung. "Clara... aku yang menulis setiap baris kode di server itu. Kamu tahu aku tidak akan pernah menyakitimu."

"Kamu tidak mengerti ya?" Clara mendengus kasar. "Kamu itu masa lalu yang memalukan. Oh, tunggu, Bella ingin bicara."

Suara bergeser. Sekarang suara Bella yang manja namun beracun terdengar. "Hei, Arka. Tesis yang kamu buatkan buat aku? Aku baru saja mendapatkan tawaran beasiswa S2 ke London berkat itu. Makasih ya, pecundang. Tapi tolong, hapus semua foto kita. Aku tidak mau calon tunanganku yang kaya raya tahu kalau aku pernah berhubungan dengan gelandangan sepertimu."

"Bella... kamu berjanji kita akan ke London bersama," bisik Arka, suaranya nyaris hilang.

"Bersamamu? Di London? Mau tinggal di mana? Di kolong jembatan Thames? Hahaha!"

Lalu, suara Sania menyambar dari kejauhan. "Heii! Arka masih di telepon? Kasih tahu dia, algoritma engagement yang dia buat bulan lalu mulai lambat. Tapi tenang saja, aku sudah menyewa tim IT dari India untuk memperbaikinya. Kamu sudah tidak berguna, Arka. Bye bye!"

*Klik.*

Sambungan terputus. Arka menatap layar ponselnya yang kembali gelap. Sunyi kembali menyergap, hanya menyisakan suara tetesan air dari atap kos yang bocor. *Tik... tik... tik...*

"Satu juta rupiah," Arka menatap kembali saldonya. "Itu bahkan tidak cukup untuk membayar sewa kos bulan depan setelah aku diusir dari sini."

Lanjut membaca
Lanjut membaca