

Kabut turun perlahan di lereng Gunung Ciremai.
Udara dini hari begitu dingin hingga embun menggantung seperti kristal kecil di ujung daun. Dari kejauhan, istana kayu agung berdiri dalam diam—megah, namun terasa berat. Pilar-pilar ukiran khas Kerajaan Pajajaran menjulang kokoh, memantulkan cahaya obor yang bergetar ditiup angin pegunungan.
Di halaman utama, para prajurit berjajar. Tidak ada sorak kemenangan. Tidak ada bunyi gamelan perayaan.
Hanya sunyi.
Sunyi yang terlalu rapi.
Di dalam balairung, seorang pemuda berdiri tegak di hadapan singgasana kosong. Usianya belum genap tiga puluh, namun sorot matanya menyimpan usia peperangan dan pengkhianatan.
Dialah putra mahkota Pajajaran.
Jubah merah tua menyentuh lantai kayu. Ikat kepala emas terpasang di dahinya, tetapi malam ini, mahkota itu terasa seperti beban, bukan kehormatan.
“Paduka,” suara seorang panglima memecah kesunyian. “Utusan dari barat belum kembali.”
Pemuda itu tidak menoleh.
“Aku tahu,” jawabnya tenang.
Namun ketenangan itu tidak lahir dari kedamaian. Ia lahir dari kesadaran.
Ada sesuatu yang bergerak dalam bayangan istana.
Sejak kecil, ia dididik untuk menjadi pemimpin. Ia diajari strategi perang sebelum ia mengenal arti ketakutan. Ia dilatih membaca gerak mata orang sebelum belajar mempercayai senyum.
Ayahandanya sering berkata,
“Takhta bukan tempat duduk. Ia adalah bara api. Siapa pun yang tak siap terbakar, akan hangus olehnya.”
Kini, ia memahami.
Takhta memang membakar.
Bukan kulitnya.
Melainkan hatinya.
Langit mulai memucat ketika langkah kaki tergesa terdengar di lorong.
Seorang prajurit terhuyung memasuki balairung. Dadanya bersimbah darah.
“Paduka… gerbang timur… telah dibuka dari dalam…”
Balairung membeku.
Panglima menoleh cepat. “Pengkhianatan?”
Prajurit itu jatuh berlutut. “Ada yang membiarkan mereka masuk…”
Sebelum kalimatnya selesai, tubuhnya roboh.
Sunyi berubah menjadi gema langkah kaki.
Teriakan.
Dentang besi.
Api menyala di sudut-sudut istana.
Putra mahkota tidak bergerak.
Ia sudah menunggu ini.
“Panglima,” ucapnya pelan. “Evakuasi ibu suri.”
“Lalu Paduka?”
Ia tersenyum tipis.
“Seorang raja tidak lari.”
Api menjalar cepat. Bau kayu terbakar bercampur darah dan asap. Prajurit berjatuhan. Panah melesat dari balik kabut.
Di tengah kekacauan itu, ia melangkah menuju halaman.
Pedangnya terhunus.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, matanya benar-benar hidup.
Pertempuran tidak berlangsung lama.
Bukan karena ia lemah.
Melainkan karena pengkhianatan lebih cepat dari keberanian.
Ia bertarung dengan ketepatan dan kemarahan yang terpendam bertahun-tahun. Setiap tebasan adalah janji. Setiap langkah adalah warisan.
Namun ketika tombak menembus lambungnya dari belakang, dunia terasa berhenti.
Ia menunduk.
Darah hangat mengalir.
Seseorang berdiri di hadapannya—seorang bangsawan istana yang selama ini menunduk hormat.
Kini matanya dingin.
“Maafkan hamba, Paduka,” ucap lelaki itu lirih. “Takhta membutuhkan penguasa yang lebih… mudah diarahkan.”
Putra mahkota tertawa pelan.
Bukan tawa bahagia.
Melainkan tawa yang memahami ironi.
“Takhta tidak pernah mudah diarahkan,” bisiknya. “Ia hanya memilih siapa yang layak.”
Lelaki itu memberi isyarat.
Panah dilepaskan.
Langit yang mulai terang menyambut tubuh sang pewaris yang terjatuh di halaman istana yang terbakar.
Api memakan ukiran.
Kabut bercampur asap.
Mahkota emas terlepas dan bergulir di tanah.
Matanya menatap langit.
Ia tidak merasa takut.
Ia merasa… belum selesai.
Dalam napas terakhirnya, ia berbisik pada angin pegunungan:
“Jika tanah ini masih mengingat namaku… aku akan kembali.”
Dan kabut menelan tubuhnya.
Berabad-abad berlalu.
Istana menjadi legenda.
Nama pangeran itu hanya tersisa dalam cerita rakyat.
Namun tanah tidak pernah benar-benar lupa.
Fajar menyingsing di lereng Gunung Papandayan.
Kabut tipis menyelimuti hamparan sawah di Garut. Burung-burung mulai bersuara, dan udara pagi membawa aroma tanah basah.
Seorang pemuda berdiri di pematang.
Kakinya telanjang, celananya tergulung hingga lutut. Tangannya menggenggam sabit kecil.
Ia bukan bangsawan.
Ia anak petani.
Namun pagi itu, ia terbangun dengan dada sesak.
Mimpi itu datang lagi.
Istana terbakar.
Suara pedang beradu.
Mahkota yang jatuh di tanah.
Ia mengusap wajahnya.
“Kau baik-baik saja?” suara ibunya terdengar dari kejauhan.
Ia menoleh.
“Ya, Bu.”
Namun ia tahu itu bohong.
Ia tidak baik-baik saja sejak mimpi itu mulai datang beberapa bulan lalu.
Setiap malam, ia berdiri di halaman istana yang sama.
Setiap malam, ia mati dengan cara yang sama.
Dan setiap kali terbangun, jantungnya berdetak seperti genderang perang.
Di sawah, ia bekerja seperti biasa. Menanam, memotong, mengangkat karung padi.
Tetangga menyapanya. Anak-anak berlarian.
Hidup berjalan sederhana.
Namun di sela suara alam, ia kadang mendengar gema yang tak seharusnya ada—dentang besi, teriakan perang, atau suara seseorang memanggilnya dengan sebutan yang asing.
“Paduka…”
Ia berhenti bekerja.
Angin berembus.
Hanya angin.
Ia menggeleng.
“Aku bukan siapa-siapa,” gumamnya.
Namun ketika matahari mulai naik dan cahaya menyentuh wajahnya, bayangan di tanah tampak berbeda.
Sekilas—sangat sekilas—ia melihat siluet seseorang berjubah.
Ia berkedip.
Bayangan itu kembali menjadi dirinya.
Siang itu, seorang lelaki tua datang ke desa.
Rambutnya putih, langkahnya pelan, tetapi matanya tajam.
Ia berhenti di depan rumah panggung tempat pemuda itu tinggal.
“Anak siapa kau?” tanyanya.
Pemuda itu menyebut nama ayahnya.
Lelaki tua itu mengangguk pelan.
“Apakah kau sering bermimpi tentang api?”
Jantungnya berhenti sejenak.
“Apa maksud Kakek?”
“Apakah kau pernah merasa tanah memanggilmu dengan nama yang tidak pernah kau kenal?”
Sunyi.
Angin berdesir di antara padi.
Pemuda itu menatap lelaki tua itu, untuk pertama kalinya merasa ketakutan yang tidak bisa ia jelaskan.
“Aku hanya anak petani.”
Lelaki tua itu tersenyum tipis.
“Tanah Pajajaran pernah kehilangan pewarisnya.”
Nama itu membuat dada pemuda itu bergetar.
Pajajaran.
Sebuah kata yang tidak asing—padahal tak pernah ia pelajari secara mendalam.
“Beberapa jiwa,” lanjut lelaki tua itu pelan, “tidak pernah benar-benar pergi.”
Pemuda itu menelan ludah.
“Dan jika aku tidak ingin menjadi siapa pun selain diriku sendiri?”
Lelaki tua itu memandang ke arah gunung yang menjulang di kejauhan.
“Takdir tidak selalu menanyakan keinginan.”
Kabut turun perlahan dari arah puncak.
Dan untuk sesaat—hanya sesaat—pemuda itu merasa tanah di bawah kakinya berdenyut.
Seolah mengenali langkahnya.
Seolah menunggu.
Babak baru telah dimulai.
Dan mahkota yang pernah terbakar… belum benar-benar menjadi abu.
Pemuda itu menatap kedua tangannya.
Tangan yang kasar.
Tangan yang setiap hari mencabut rumput liar dan memanggul karung padi.
Bukan tangan yang terbiasa menggenggam pedang.
Namun ketika ia menutup mata, ia bisa merasakan gagang besi di telapak tangannya. Berat. Seimbang. Akrab.
Ia membuka mata cepat-cepat.
“Apa yang Kakek inginkan dariku?” tanyanya akhirnya.
Lelaki tua itu tidak langsung menjawab. Ia berjalan pelan menuju pematang sawah, menatap hamparan hijau yang bergoyang pelan diterpa angin.
“Aku tidak menginginkan apa pun,” ucapnya lirih. “Aku hanya datang memastikan.”
“Memastikan apa?”
“Bahwa jiwa itu benar-benar telah kembali.”
Dada pemuda itu terasa sesak.
“Kakek salah orang.”
“Mungkin,” lelaki tua itu tersenyum samar. “Atau mungkin kaulah yang selama ini salah mengenali dirimu sendiri.”
Sunyi kembali turun di antara mereka.
Dari kejauhan terdengar suara ibu-ibu bercengkerama, anak-anak tertawa, dan suara cangkul beradu dengan tanah. Kehidupan berjalan biasa. Terlalu biasa untuk percakapan yang terasa seperti membuka pintu masa lalu.
Pemuda itu menarik napas dalam.
“Kalau pun… kalau pun benar aku pernah hidup sebelumnya,” katanya hati-hati, “itu sudah berakhir. Aku hidup di sini. Aku punya orang tua. Punya ladang. Itu cukup.”
Lelaki tua itu memandangnya dengan tatapan yang sulit diterjemahkan.
“Apakah mimpimu terasa seperti kenangan… atau sekadar bunga tidur?”
Pertanyaan itu menusuk.
Ia teringat detail-detail kecil yang tak masuk akal—ukiran dinding istana yang begitu jelas, bau kayu terbakar yang hampir nyata, rasa perih di lambungnya ketika tombak menembus tubuhnya.
Itu terlalu rinci untuk sekadar mimpi.
“Itu…” suaranya melemah. “Itu terasa seperti aku benar-benar ada di sana.”
Lelaki tua itu mengangguk pelan, seolah telah mendengar jawaban yang ia tunggu.
“Tanah Kuningan pernah menyimpan darah seorang pewaris,” katanya pelan. “Darah itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu waktu.”
Nama Kuningan membuat kepala pemuda itu berdenyut.
Sekilas—hanya sekilas—ia melihat kilatan cahaya. Pilar kayu. Singgasana. Api menjalar.
Ia terhuyung satu langkah.
Lelaki tua itu sigap memegang lengannya.
“Tenang,” bisiknya. “Jangan paksa ingatan itu bangkit sekaligus.”
Pemuda itu terengah. Keringat dingin membasahi pelipisnya.
“Aku tidak ingin mengingat,” katanya dengan suara hampir pecah. “Jika masa lalu itu penuh darah dan pengkhianatan… untuk apa aku membawanya kembali?”
Lelaki tua itu tersenyum tipis.
“Karena masa lalu yang tidak diselesaikan, akan selalu mencari jalan untuk diselesaikan.”
Angin bertiup lebih kencang. Padi-padi bergoyang serempak seperti lautan hijau yang berdesir.
Pemuda itu menatap gunung di kejauhan. Gunung itu berdiri kokoh, diam, namun terasa mengawasi.
“Siapa Kakek sebenarnya?” tanyanya pelan.
Lelaki tua itu terdiam sesaat.
“Hanya seseorang yang dulu bersumpah setia… dan gagal menepatinya.”
Kalimat itu membuat jantungnya berdegup lebih cepat.
“Kakek hidup… di masa itu?”
Lelaki tua itu tidak menjawab langsung. Ia melepaskan pegangannya dan melangkah mundur.
“Akan ada waktunya kau memahami semuanya,” katanya lembut. “Tapi tidak hari ini.”
“Aku tidak mengerti apa pun!”
“Justru itu yang membuatmu masih selamat.”
Pemuda itu menatapnya bingung.
Lelaki tua itu menoleh sekali lagi sebelum berjalan menjauh.
“Ingat satu hal,” katanya tanpa berbalik. “Mahkota tidak selalu berarti takhta. Kadang ia berarti tanggung jawab yang tak bisa kau abaikan.”
Langkahnya makin jauh, menyatu dengan kabut tipis yang mulai turun kembali dari arah gunung.
Pemuda itu berdiri terpaku.
Dadanya masih berdebar.
Ia ingin berlari mengejar lelaki tua itu. Ia ingin memaksa jawaban. Namun kakinya terasa berat, seolah tanah benar-benar menahannya di tempat.
Beberapa saat kemudian, suara ibunya memanggil lagi.
“Kenapa diam saja di situ?”
Ia tersentak.
“Tidak apa-apa, Bu!” jawabnya cepat.
Ketika ia menoleh kembali ke arah jalan desa, lelaki tua itu sudah tidak terlihat.
Seolah tak pernah ada.
Pemuda itu menatap sawahnya.
Hidupnya.
Kesederhanaannya.
Namun untuk pertama kalinya, ia merasa semua itu berdiri di atas sesuatu yang jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan.
Sore itu, ketika matahari mulai condong dan langit berubah keemasan, ia duduk sendirian di tepi sungai kecil di belakang desa.
Air mengalir tenang.
Ia menatap pantulannya.
Untuk sesaat—sekali lagi—yang ia lihat bukan hanya wajahnya sendiri.
Ada sorot mata lain di sana.
Lebih tajam.
Lebih tua.
Seolah membawa beban sejarah.
Ia menyentuh air. Riak memecah bayangan itu.
“Aku bukan pangeran,” bisiknya pada dirinya sendiri.
Namun angin yang melintas terdengar seperti bisikan balasan.
Paduka.
Ia menutup mata.
Dan jauh di dalam hatinya, sesuatu mulai terbangun.
Bersambung.......