

Aliran sungai yang mengalir deras membawa tubuh seseorang yang terluka parah dalam sebuah pertarungan sengit. Tubuh itu masih bernafas, dan dengan sisa tenaga yang ada, ia berusaha menarik dirinya menuju pinggiran sungai yang alirannya tenang. Namanya ialah Kohar, julukannya Elang Jawara, sosok laki-laki berbadan tegak perkasa dengan pakaian yang sudah compang-camping dihiasi beberapa titik noda darahnya sendiri. Dinginnya air sungai membuat badannya menggigil, tapi semua itu tak melumpuhkan semangatnya untuk tetap bertahan dan hidup.
“Aku tidak boleh mati. Perjuanganku belum selesai.” gumam Kohar dengan bibir yang sudah membiru dan bergetar.
Terdengar samar-samar seseorang memanggil namanya, Kohar yang saat itu sedang berada dalam kondisi lemah, sama sekali tidak mempunyai tenaga menggerakkan tubuhnya sendiri.
“Kohar.” kata seseorang memanggilnya, suara dari orang itu sepertinya suara yang sudah di kenal oleh Kohar, suara itu adalah suara Lastri, ibunya.
“Ibu.” gumam Kohar masih dalam posisi terbaring di pinggiran sungai.
Perlahan kedua matanya Kohar terbuka, dan samar-samar Kohar melihat sosok ibunya berjalan menghampirinya. Senyum sang ibu menenangkan hatinya Kohar.
Tangan sang ibu mulai meraba pipinya Kohar, sehingga membuat Kohar terkesima dan memejamkan kedua matanya, dan pikirannya membawa Kohar kembali ke masa lalu ketika ibunya masih hidup, dan Kohar saat itu masih berusia 10 tahun.
Di sebuah rumah yang sederhana area pedesaan yang masih asri, Kohar merebahkan kepalanya di kedua paha sang ibu.
“Ibu, kenapa aku terlahir lemah? Kenapa aku tidak seperti kakakku, Gendon, yang mempunyai tubuh kuat?” tanya Kohar pada ibunya.
Ibu tersenyum kecil menanggapi pertanyaan Kohar barusan, lalu dengan nada halus beliau mulai menjawab Kohar, “Kohar, anakku. Kekuatan seorang laki-laki itu bukan hanya di lihat dari fisik saja, tapi juga dari “dalam” kamu, dalam hatimu, dalam batinmu. Meksipun kamu mempunyai fisik yang tak sehebat kakakmu, Gendon, tapi ibu yakin kekuatan sejati kamu ada di dalam sini, di dalam hatimu.”
“Apa yang aku punya di dalam hatiku, bu?” tanya Kohar lagi.
“Kamu sendiri yang harus mencarinya, nak… Kekuatan sejati apa yang kamu miliki di dalam dirimu, kamu sendiri yang harus menemukannya.” jawab sang ibu sambil tetap mengelus-elus rambutnya Kohar.
“Seandainya aku mempunyai badan kekar seperti Gendon, pasti bapak akan sayang sama aku juga. Selama ini aku merasa bapak lebih bangga punya anak seperti Gendon daripada seperti aku.”
“Itu kan cuma pikiranmu saja. Ibu yakin jauh dalam lubuk hatinya bapak sayang juga sama kamu.”
Kedua matanya Kohar yang sedari tadi terpejam membayangkan kenangan waktu itu ketika masih bersama almarhumah ibunya, kini mulai terbelalak. Dalam kesadarannya Kohar hanya bisa terpaku diam, ketika ia tak melihat lagi sosok ibunya sudah tidak ada disampingnya.
Perlahan Kohar mulai berusaha menggerakan jari-jemari tangannya, namun kondisi tubuhnya yang lemah karena terluka parah membuat Kohar si Elang Jawara menjadi seseorang yang sangat tak berdaya.
Tiba-tiba terlintas dalam benak fikirannya Kohar, mengenai sosok Gendon, sang kakak, yang tertawa lepas penuh kemenangan ketika ia berhasil menendang Kohar yang terluka parah, jatuh ke jurang yang sangat curam, lalu terbawa oleh derasnya aliran sungai di bawah jurang.
“Tamat riwayatmu, Kohar!” seru Gendon dengan suara lantang.
Dalam posisi terjatuh dari ketinggian, Kohar sempat melihat Gendon yang berada di tepi jurang dengan tawanya yang merasa menang. Dalam hatinya Kohar tak pernah mengira jika sosok kakaknya yang seharusnya melindunginya sebagai adik, tapi malah mencelakakannya. Saat itu hatinya Kohar bergemuruh, pokoknya ia harus selamat, karena ia tak mungkin membiarkan keserakahan Gendon yang sudah menjadi anakbuahnya Abah Gentong memporak-porandakan dunia. Portal itu harus kembali di tutup, jika tidak maka mahkluk mengerikan dari dimensi iblis akan terus berdatangan ke dunia ini dan membuat kerusakan.
“Gendon!” seru Kohar dengan bibir yang gemetar.
Ingatan akan masa kecil kembali hadir dalam benak fikirannya Kohar. Waktu itu Kohar sedang jalan sendirian menyusuri jalanan desa yang sepi di sore hari. Mendadak Kohar menghentikan langkahnya ketika melihat sahabatnya, Laras, sedang di ganggu oleh Darwis dan dua temannya.
“Jangan ganggu aku! Biarin aku lewat.” kata Laras sembari menatap tajam kearah mereka.
Darwis dan dua temannya malah tertawa, lalu dengan wajah yang sengaja dibikin garang, Darwis menatap Laras, “Kalau kamu mau lewat sini, kamu harus bayar.”
“Aku nggak punya uang. Lagian jalan ini kan jalan umum, bukan jalan milik nenek moyang kamu. Tau!” balas Laras seakan tak mengenal takut pada Darwis.
“Ya sudah kalo kamu nggak mau bayar, kamu jangan lewat jalan sini. Lewat pinggiran hutan aja, sana.” balas Darwis semakin mengintimidasi Laras.
“Jangan ganggu Laras!” seru Kohar yang saat itu sedang berdiri tidak jauh dibelakangnya Laras, “Kalian jangan berani ganggu temenku Laras!” seru Kohar lagi untuk menegaskan maksudnya pada Darwis dan dua temannya.
Serentak perhatian Laras, Darwis dan dua temannya pun langsung teralihkan melihat kehadiran Kohar si bocah kurus. Darwis bukannya merasa takut pada Kohar, tapi malah mengejeknya.
“Heh kamu bocah cacingan, nggak usah sok ikut campur urusan kita.” kata Darwis dengan lantangnya untuk membuat Kohar ketakutan, “Pergi sana kamu!” lanjut Darwis mengusir Kohar.
“Aku nggak akan pergi sebelum kalian biarin Laras lewat jalan sini!” balas Darwis berusaha memberanikan dirinya di hadapan Darwis dan dua temannya.
Laras merasa was-was pada Kohar, “Kohar, kamu jangan ikut campur. Nanti kamu diapa-apain mereka.”
“Aku nggak takut.” balas Kohar pada Laras.
“Yakin kamu nggak takut sama kita?” kata Darwis menatap tegas pada Kohar, lalu bersama dua temannya, mereka beranjak menghampiri Kohar.
“Nggak. Aku sama sekali nggak takut sama kalian.” balas Kohar seakan menantang Darwis dan dua temannya.
Darwis tertawa lantang, “Punya nyali juga kamu hey bocah cacingan.”
Kohar bersiap untuk melawan Darwis dan dua temannya, “Maju sini!” lanjut Kohar semakin menantang Darwis.
Darwis dan dua temannya yang mempunyai perawakan lebih besar dibandingkan Kohar, tentu saja membuat Kohar tak berdaya menahan serangan mereka bertiga, dan akhirnya Kohar pun terjatuh ke tanah, mulutnya berdarah terkena pukulan Darwis.
“Heh!” seru seseorang yang berdiri tidak jauh dari mereka. Kohar merasa aman ketika seseorang itu ternyata adalah kakaknya sendiri, Gendon.
Gendon beranjak menghampiri mereka, sehingga sempat membuat Darwis dan dua temannya mundur beberapa langkah.
“Beraninya kalian pukulin adikku!” seru Gendon menatap Darwis dan dua temannya.
Gendon mengulurkan tangannya seakan mau membantu Kohar berdiri kembali dengan kedua kakinya, namun di saat Kohar menerima bantuan Gendon, tiba-tiba Gendon menjatuhkannya kembali, lalu menatap Kohar dengan tatapan licik.
“Harusnya kalian ajak-ajak aku dong kalo mau mukulin si bocah cacingan ini.” kata Gendon sambil menertawakan Kohar.
Saat itu Kohar terpaku diam dalam posisi tertelungkup di tanah, berusaha menahan pukulan bukan saja dari Darwis dan dua temannya, melainkan dari Gendon pula. Kohar merasa sakit, bukan saja sakit di sekujur badannya, tapi juga sakit dihatinya menanggapi perlakuan kakaknya sendiri terhadap Kohar.
“Udah. Stop. Kalian jangan pukulin Kohar lagi!” seru Laras yang berusaha melerai mereka supaya menjauh dari Kohar, tapi dengan satu hentakan tangannya Gendon menjatuhkan Laras.
“Nggak usah ikut campur. Ini urusan laki.” kata Gendon pada Laras, “Kalo kamu mau lewat, udah sana lewat.” lanjutnya lagi.
Ingatan akan masa lalu yang kelam itu kembali membawa Kohar dalam kesadarannya sendiri. Kohar tak pernah mengira begitu jijiknya Gendon memiliki adik seperti dirinya, sampai-sampai Gendon tega memukuli Kohar, adiknya sendiri.
Tak terasa Kohar merasakan tetesan air mata jatuh dari dua kelopak matanya.
Samar-samar dari ketinggian langit diatasnya, Kohar mendengar suara pekikan burung elang yang dikenalnya. Burung elang itu bernama Jawara, seekor burung elang raksasa yang selama ini selalu setia menemani perjuangan Kohar.
Kohar tersenyum ketika dari kejauhan ia melihat burung elang itu terbang semakin mendekati Kohar, lalu dengan cakarnya yang kuat burung elang itu mencengkram tubuh Kohar, lalu membawanya terbang melintasi langit tinggi.
***