Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Balas Dendam Sang Lord Vampir

Balas Dendam Sang Lord Vampir

the anomaly | Bersambung
Jumlah kata
100.8K
Popular
100
Subscribe
67
Novel / Balas Dendam Sang Lord Vampir
Balas Dendam Sang Lord Vampir

Balas Dendam Sang Lord Vampir

the anomaly| Bersambung
Jumlah Kata
100.8K
Popular
100
Subscribe
67
Sinopsis
FantasiIsekaiIsekaiBalas DendamKonglomerat
Vladimir—seorang pemuda yang dituntut menjadi ahli waris keluarga Sudharma yang sempurna, hidupnya dipenuhi ekspektasi diluar nalar demi posisinya sebagai pewaris utama. Sayangnya posisi itu membuatnya tidak punya andil untuk dirinya sendiri dan hanya menjadi boneka kekuasaan ayahnya. Ibunya sudah meninggal, digantikan seorang ibu tiri yang membawa anak perempuan, tapi bukannya membuat hidupnya membaik, keduanya semakin memperkeruh kehidupan Vlad, sampai akhirnya adiknya—Valerie menjatuhkannya dari jendela, bersama dengan buku fantasi usang yang baru saja dia baca, dia terjatuh, dan membuatnya masuk ke dunia yang benar-benar baru. Berubah menjadi lord vampir dalam semalam, yang baru dia sadar memiliki masalah yang sama—tapi lebih pelik, lebih gelap, dan lebih kejam. Apakah Vlad pada akhirnya bisa menjadi lord vampir yang baik demi dunia Aethernox? Ataukah dia harus merelakan posisinya di salah satu dunia demi mencapai keinginan kecilnya—memiliki keluarga kecil yang hangat.
Bab 1 - Terjebak di dunia fantasi

Vlad membuka pintu ruang besar hingga terdengar bunyi 'brak' menggema di ruangan yang sunyi. Bau tumpukan buku lama tercium di udara, lelaki itu berjalan cepat menuju rak paling pojok ruangan, sambil meraih sebuah buku usang yang sampulnya tidak terlihat lagi.

"Kalo kamu nggak mau nurut apa kata ayah, kamu bukan pewaris keluarga Sudharma lagi!" Seorang lelaki berjalan cepat mengejar sosok Vlad yang keluar, jarinya menunjuk.

"Bukannya nurut apa nggak hasilnya tetep sama? Yang penting ayah bisa melampiaskan kemarahan, kan?!" Vlad tak kalah berseru, suara mereka menggema di lorong besar itu.

"Berani bentak orang tua! Dasar anak nggak tau diuntung! Punya anak laki tapi nggak berguna, adikmu lebih baik dari kamu!" Dibantingnya gulungan kertas di tangan, terhempas di lantai begitu saja.

"Di luar sana banyak orang rela melakukan apa saja buat ada di posisimu! Tapi kamu malah malas-malasan!" Kembali jarinya menunjuk-nunjuk pemuda di depannya, urat di pelipisnya menonjol, matanya membelalak, Vlad hanya bisa menggertakkan rahangnya erat.

"Aku cuma baca buku! Bagian mana yang malas-malasan?! Semua jadwal juga udah beres!" Tangannya terkepal erat hingga uratnya keluar, kesabaran Vlad hampir putus.

"Pokoknya berhenti baca novel bodoh itu! Sebagai hukuman, jadwalmu ayah tambah, sekalian aja kamu nggak bisa bersantai sama sekali!" Suara langkah kaki menghentak keras terdengar menjauh, Vlad memejamkan matanya sebentar, kepalanya serasa mau pecah.

Tangannya sudah mengepal dan mengayun ke dinding, tapi terhenti di tengah-tengah.

"Sialan, kalo emang gue serba salah, dibikin mati aja sekalian!" Pemuda itu berbalik, tangannya menghantam tembok, dia pergi berjalan cepat.

Bayangan pertengkarannya dengan sang ayah teringat kembali, membuat dadanya terasa sesak, dia menggebrak meja yang berada di pinggir jendela, menghembuskan nafas kasar.

"BAJINGAAAANNNNN!!!" suaranya terdengar keluar ruangan, dadanya sedikit lega dengan nafas sedikit terengah.

Vlad terkekeh kecil, bebannya terasa berkurang, dia berniat masuk ke dalam saat sesuatu mendorongnya dengan kuat, membuat badannya bergantung di kusen jendela.

Diraihnya apapun yang dia bisa—buku novel usang di meja, sayangnya benda itu tidak bisa menahan bobot tubuhnya, dan terjatuh bedebum lemah di lantai semen bawah, mata Vlad menatap buku yang jatuh, giginya menggeretak sementara tangannya berusaha kuat menarik badannya.

Saat itulah dia melihat pelaku yang mendorongnya. Ternyata Valerie, adik tirinya, gadis itu menatapnya dengan senyum miring terkembang, dengan sebelah tangan berpangku di pipi, "ayo dong naik sendiri, masak nggak bisa, sih? Dasar lemah,"

"Apa lu bilang?! Bantuin sini ege, jangan cuma nonton doang!" Vlad terus berusaha naik, tapi badannya terlalu berat, tangannya semakin licin dan gemetar, dia tidak bisa bertahan lagi.

"Val, tol—"

Entah dari mana adiknya itu dapat antenna bekas copotan radio yang dipilin lalu dipecutkan ke punggung tangan Vlad, pemuda itu hanya bisa mengernyit menahan sakit.

CTAS

CTAS

Melihat tidak ada reaksi heboh seperti yang dia harapkan, gadis itu menguap karena bosan, lalu sambil tersenyum dingin dia berkata,

"Dasar anjing pe-li-ha-ra-an keluarga Sudharma," tangan lentiknya mengacungkan antena di tangannya dan melecutkan lagi ke punggung tangan kakaknya. Saat itulah Vlad sadar, adiknya tidak akan menolongnya, matanya bergetar menatap wajah gadis di atasnya itu.

Telapak tangan basah, rasa nyeri di punggung tangan membuat pegangan satu-satunya terlepas, badan Vlad meluncur dalam sepersekian detik.

Suara udara bergerak cepat tertangkap telinganya, semuanya terlihat seperti kilatan, dalam sekejap badannya membentur lantai bawah yang kasar, mengeluarkan bunyi 'duak' yang keras.

Darah keluar dari kepalanya, sementara penglihatannya mengabur, hal terakhir yang dia lihat adalah adiknya sedang tertawa terbahak di atas sana.

Nginggg, suara itu memenuhi kepalanya, tidak mengganggu, rasa sakit memang ada, tapi sudah tidak penting baginya. Anehnya, dia justru menyeringai.

Bodoh, selama ini selalu nahan diri dan ngalah, buat apa? Kalo aja ada kehidupan lain, aku bakal jadi orang yang sepenuhnya berbeda.

Darah dari kepala terserap di kertas novel usang, buku bergetar, terbuka dengan cahaya kuning menyilaukan, halamannya terbalik dengan cepat lalu tertutup dengan satu hentakan keras, mengakhiri hidup seorang pemuda yang terkapar.

Di tengah kesadaran yang menurun, yang dilihatnya bukan lagi langit biru dan awan putih, tapi kegelapan, suara Valerie yang tertawa samar-samar masih terdengar, lalu sunyi, kegelapan menekannya, rasanya seperti di dunia lain.

Seolah tersedot lubang hitam, sekitarnya mengabur, berputar dengan cepat lalu terhempas, baru samar-samar dia melihat langit berwarna jingga kemerahan, bau besi bercampur bebatuan basah menusuk hidungnya.

Hal lain yang dia sadari, sekelompok laki-laki dengan baju zirah kuno dan pedang sebesar paha mengelilinginya, di dekatnya, seorang lelaki botak dengan baju seperti penyihir abad pertengahan menatapnya di depan wajah.

"Woaaahh, siapa kalian?!" Vlad bergerak mundur, sekelompok laki-laki berpedang itu melebarkan lingkaran mereka, memberinya ruang.

"Tuan, apa anda baik-baik saja?" Si penyihir botak bertanya kepadanya, Vlad mendudukkan badannya, kepalanya berputar, tatapannya berkunang-kunang, dia mengedipkan matanya beberapa kali untuk menjernihkan penglihatan, baru dia sadari dadanya terasa kosong, detak jantung yang seharusnya terasa, kini hilang, kulitnya terasa dingin, dan lebih pucat.

"Di mana ini?" Kerumunan yang awalnya diam itu mulai berbisik ke satu dan yang lain, dengan satu tatapan tajam si penyihir botak, semuanya diam.

"Tentu saja ini di Aethernox, Tuan Vladimir," Vlad menatap orang botak di depannya ini dengan mata menyipit, nama itu terdengar familiar tapi juga asing di kuping.

"Aethernox? Tuan Vladimir?"

Jangan-jangan gue masuk ke dalam novel fantasi lama itu?! Batinnya menjerit, tapi wajahnya berekspresi kaget sebentar, lalu meraih pedang kayu yang ada di sebelahnya.

"Minggir kalian semua!" Vlad mengacungkan pedang ke sekelilingnya, memperbesar lingkaran, sementara lelaki botak di depannya menatapnya cukup lama.

"Lu yang botak! Siapa namamu?!" Vlad mengacungkan pedangnya ke arah lelaki botak berbaju penyihir.

"Saya Calvus, Tuan, apakah anda kehilangan ingatan?" Calvus menatap dengan mata memicing, sementara Vlad belum menurunkan pedang kayunya.

"Agar stamina Tuan kembali, mari kita berburu makan siang saja," penyihir itu berkata sambil merapikan senjata tuannya, dia menepuk tangan tiga kali, semua orang memerhatikannya.

"Istirahat selama lima belas menit, lalu kalian berlatih lagi, Zein, pimpin mereka, jangan lagi ada serangan berlebihan," Calvus memperingatkan seorang prajurit dengan pedang kayu di tengah kerumunan, pemuda itu mengangguk saja, lalu mulai mengikuti temannya beristirahat.

Vlad masih diam di tempat, Calvus menatapnya lagi, "ayo ikuti saya, Tuan," baru akhirnya lelaki itu berjalan mengekor, mengacungkan pedang kayu sebelum Calvus merebutnya dengan sihir dan melemparkan ke sudut ruangan, Vlad tidak bisa menyembunyikan tatapan kagetnya.

"Jadi, tadi gue kenapa, Vus?" Vlad meraba kepalanya, masih terasa nyeri, tapi dia tidak menemukan benjolan di sana.

"Gue? Apa itu gue?" Calvus menaikkan sebelah alisnya sambil berjalan cepat di depan Vlad.

"Gue itu aku, kalo lu itu kamu," Vlad menjawab datar, sementara penyihir itu hanya ber-oh ria.

"Zein terlalu bersemangat menyerang anda sewaktu duel satu lawan satu, dia selalu kelepasan," Calvus memutar bola matanya sambil menghela nafas.

Vlad gantian ber-oh ria, sementara matanya sibuk menatap interior bernuansa ghotic di kastil, ada patung goblin bertaring di beberapa tempat, yang jelas, kastil ini bukan untuk manusia.

"Sebenernya kita ini ras apa, sih?" Vlad kelepasan mengatakan apa yang dia pikirkan, sambil terus memandangi arsitektur kastil yang menarik.

"Ah anda kehilangan ingatan separah itu ternyata, kita ini vampir, Tuan," mendengar ucapan Calvus, Vlad menengok dengan dahi mengernyit, lalu dia mencari benda berkilau yang bisa memantulkan bayangan dan berdiri di depannya.

"Tapi bayangan gue ada tuh?" Vlad menunjuk ke arah pantulan di sebuah lampu bulat tua, mata Calvus membelalak memandang pantulan itu, dia mendekati lampu yang sama, tidak ada apa-apa di sana.

"Hmm menarik, siapa lelaki ini sebenarnya?"

Lanjut membaca
Lanjut membaca