Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Borgol Warisan Lapas Wanita

Borgol Warisan Lapas Wanita

Kaliang | Bersambung
Jumlah kata
72.3K
Popular
721
Subscribe
172
Novel / Borgol Warisan Lapas Wanita
Borgol Warisan Lapas Wanita

Borgol Warisan Lapas Wanita

Kaliang| Bersambung
Jumlah Kata
72.3K
Popular
721
Subscribe
172
Sinopsis
18+PerkotaanAksiHarem21+Pria Dominan
Seorang polisi muda ditugaskan di lapas wanita terpencil yang penuh intrik dan kekuasaan tersembunyi. Dikelilingi para napi wanita dengan pesona dan rahasia masing-masing, ia perlahan terseret dalam hubungan yang rumit dan penuh godaan. Di balik itu, ia menemukan rahasia kelam kepala lapas yang dapat menghancurkan segalanya—membuatnya harus memilih antara tugasnya… atau tenggelam dalam dunia yang menggoda sekaligus berbahaya.
Bab 1. Langkah pertama

Sigit mengusap foto kedua orang tuanya di dompet, sorot mata itu haru, tetapi tidak menyembunyikan semangat.

“Mak, Abah, hari ini aku resmi sebagai sipir. Kupastikan kalian bangga,” ucapnya kemudian meletakkan dompet, ponsel, dan tas di loker staf.

Wajahnya bersemi, segar, siap menjalani tugas. Sigit membayangkan kegiatan hariannya di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas), ada keteraturan, wibawa, kewenangan.

Bagi siapapun, hari pertama selalu istimewa. Sigit tidak berhenti meregangkan otot-otot jarinya selama perjalanan menuju lapangan. Para pengguna seragam abu-abu berkumpul di sana, membentuk barisan rapi.

Dada Sigit bergerak naik-turun, pagi ini hawanya terasa panas. Tidak peduli seberapa banyak dia mempersiapkan, Sigit tetap kesulitan menghapus raut gugupnya.

Padahal aku sudah berusaha membaur sejak masa orientasi. Tapi jantungku masih tak karuan. Padahal aku tak akan dapat tugas berat di hari pertama begini. Santai saja, santai.

Apel pagi berlangsung sistematis, Kepala Regu Pengamanan menyampaikan tugas mereka dan membubarkan barisan. Sigit menjadi yang paling muda di regu tersebut, lima lainnya senior.

Seorang senior merangkul pundak Sigit di perjalanan meninggalkan lapangan. Sigit mengerutkan keningnya sekilas akibat genggaman di pundaknya terlalu kuat. Tak ayal aksi tersebut membuatnya merasa diterima.

“Selamat datang, anak baru!” sambutnya tersenyum lebar, alis tebal itu justru membentuk senyumnya jadi garang. Sigit memandangi seragam sang senior yang mencetak badan, melirik nama di dada kanannya.

Jumardi.

“Terima kasih, Pak!” balasnya kaku.

“Tak usah gugup begitu. Santai saja. Sebagai senior tugas kami menyertai dan mengajari junior. Jadi, tak perlu khawatir akan kelangsungan hari pertamamu yang istimewa. Kau bukan pembuat onar, ‘kan?”

“Siap, Pak! Bukan.”

“Anak baru tak akan buat masalah,” sambung senior lain.

Rangkulan di pundak Sigit lepas, dia menoleh untuk memperhatikan anggukan kepala dan senyum meremehkan Jumardi pada rekannya. “Ha, sebagaimana mestinya.”

Jumardi beralih pada Sigit dan tersenyum lebar. “Selamat menikmati hari pertamamu di sini, Sigit!”

“Siap, Pak!” Sigit menegakkan badan.

Mereka terkekeh-kekeh, lalu memimpin jalan. Sementara Sigit menarik napas dalam, menyeka telapak tangan pada celana hitamnya..

Ayo, jangan bikin malu! Gugup berlebihan begini cuma akan membuat kinerja turun! Sigit mengingatkan diri sendiri. Ini hari pertama. Waktunya menunjukkan kinerja sempurnaku.

Otot-otot tegang di wajah Sigit mengendur, napasnya teratur, kemudian menyamai langkah para senior.

Meski bukan kali pertama, suasana sel seperti diperbarui setiap hari. Keheningan, jeruji yang membatasi tahanan dengannya, hentak sepatu memantul di dinding yang dingin dan cat mengelupas. Antara gelora sebagai aparatur baru dan gelisah menjalani tugas baru saling berkejaran.

Sigit mencatat semuanya di otak, mulai dari rutinitas menghitung tahanan, jadwal razia, hingga keharusan menghentikan pertengkaran antar binaan. Mereka kini berada di blok A yang berisi tahanan umum.

“Kuharap kau bukan anak lugu,” ucap Jumardi memecah fokus Sigit.

Seorang senior lain dengan alis tipis menyambar dengan tawa. “Ini bulan April, ‘kan?”

“Diamlah! Jangan putus hak bicaraku!”

“Siapa yang memutus?”

Sigit melirik mereka bergantian. Apa mereka bercanda? Berdebat di saat-saat seperti ini? Penghuni sel memperhatikan. Matanya berkeliaran, memandang senior lain berharap menjadi penengah. Tapi tak ada yang berkutik.

Jangan katakan ini normal?

Beberapa orang melingkarkan tangannya di jeruji sel untuk menonton, sebagian besar mereka bermuka bantal.

Jumardi mendecakkan lidah lalu tersenyum pada Sigit. Dia menganggap senyum seniornya itu tak ramah. “Aku jadi lupa. Ah! Tidak perlu ramah dengan tahanan. Mereka berada di sini bukan tanpa alasan. Kuharap kau paham.”

Sigit mengangguk mantap. Itu sebuah arahan, pikirnya.

“Baik, Pak! Saya paham.”

“Bagus.” Jumardi mengangkat telunjuk mengarahkanya pada sel. Kedua alis Sigit naik.

Apa? batinnya bertanya.

Sekali lagi Jumardi menunjuk sel terdekat, kali ini menggunakan dagu.

Sigit menatap Jumardi dan sel-sel tahanan di sekitarnya. Membuka lembar catatan di kepala lalu mengingat-ingat instruksi pertama.

Oh, sial! Menghitung tahanan!

Saat Sigit hendak bertindak, seorang senior di belakang Jumardi mendecakkan lidah kesal. “Hitung, menghitung!” ucapnya menahan geram. “Laksanakan tugasmu! Jangan bergantung pada senior terus!”

Aku baru saja akan melakukannya, sesal batin Sigit.

“Maaf, Pak! Saya laksanakan.”

Senior itu mengetuk-ngetuk besi sel, bisingnya memenuhi lorong. “Bangun, cepat! Waktunya berbaris! Jangan menyusahkan!”

Sigit menghitung jumlah tahanan kemudian melaporkan, “Blok A, empat puluh satu warga binaan. Aman!”

Senyum Jumardi sirna berganti raut datar.

Plak!

“Woah!” seru penghuni blok A dari balik sel.

Hah?

Sensasi panas dan perih di pipi kiri Sigit menyebar perlahan, otot lehernya tegang, rahangnya mengeras. Segera Sigit meluruskan pandangan, mengangkat dagu dan menatap Jumardi.

“Woah, berani juga,” komentar seorang tahanan.

Jumardi berdeham songong. “Hitung ulang!” perintahnya, “bertugas dengan benar!”

Hitunganku salah? Tidak, tak ada yang terlewat, batinnya menyangkal. Masa ada yang terlewat?

Patuh, dia menghitung ulang. Seiring hitungannya bertambah, sebanyak itu tawa ejekan penghuni sel menginjak harga dirinya. Seperti diludahi, pikir Sigit. Dia tidak yakin apakah hukuman demikian memang diberlakukan atau ada alasan lain?

Haish, masih empat puluh satu. Siapa yang sengaja mempermainkanku? Apa ada yang bersembunyi? Atau ada di klinik?

“Waktu terus berjalan. Lelet bukan sifat sipir!” teriak senior beralis tipis.

“Sepuluh, tiga puluh, lima puluh, dua puluh,” bisik warga binaan bergantian kala Sigit melewati mereka.

“Diam, kalian!” bisik Sigit dengan suara tertahan. Mengacaukan hitungan. Tahanan sialan!

Mata Sigit bergetar, dia melirik tumpukan seniornya di ujung lorong. Jumardi berdiri tegap dengan tangan berlipat di dada, menanti laporannya. Sambil berjalan menuju mereka, Sigit mempersiapkan diri karena hitungannya tetap sama.

“Blok A. Empat puluh satu warga binaan. Aman!” Matanya lurus menatap dinding.

Menelan ludah susah payah, jantung Sigit tak kunjung tenang oleh diamnya Jumardi. Dia bahkan menguatkan rahang.

Gemerincing kunci terdengar. Tumpukan kunci berada di hadapan hidung Sigit. “Buka semua sel,” perintah Jumardi tenang.

Sigit mengerutkan alis sekilas, menatap kunci lekat. Jadi hitunganku benar? Lantas untuk apa tamparan itu?

Kala ingin menyambut kunci, benda itu malah jatuh ke lantai.

“Aduh, terpeleset,” kata Jumardi.

Sigit ragu, baginya tidak ada alasan benda berat dan bergemerincing itu terpeleset dari jari Jumardi.

Dia merendahkan badan di hadapan Jumardi, lalu warga binaan tertawa. Tawa itu janggal baginya, buru-buru Sigit berdiri tegap, terlihat Jumardi meluruskan badan dan berdeham. Tanpa menunggu perintah Sigit membuka sel.

Jumardi mendekat sesaat setelah memberi arahan kepada warga binaan untuk membersihkan blok mereka.

“Bau pesing di mana-mana,” komentar Jumardi mengibaskan tangan.

Sigit mencoba santai begitu tangan Jumardi yang menamparnya beberapa saat lalu berlabuh di bahu.

“Kuharap kau tak baper, Junior Sigit. Yang tadi, tidak lain wujud didikan keras militer. Jika baper, artinya kau tidak bisa mengamankan lapas yang isinya terpidana. Kuharap kau paham maksudku, Junior Sigit.”

Jumardi menegaskan kata junior yang membuat telinga Sigit panas. Dia menjaga agar tidak kelepasan memberikan ekspresi menolak atau hal-hal yang memancing Jumardi kesal. Sekarang pun pundaknya diremas kuat.

Sigit membalas, “Siap, Senior. Saya paham.”

“Bagus, aku tahu kau anak baik. Sekarang buatkan kami kopi, dua gelas tanpa gula, ya.”

“Kopi?” tanya Sigit refleks gagal menutupi keterkejutan.

“Kuharap kau familier dengan kopi. Dapurnya ada di sana, kami akan menunggu di meja itu sambil mengawasi binaan.” Jumardi berbalik dan pergi tanpa menunggu persetujuan Sigit.

Pria itu menyimpulkan seniornya membenci pembangkangan.

Lanjut membaca
Lanjut membaca