Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Untung Ada Hantu : Kisah Reno  dan Kost-an Pembawa Maut

Untung Ada Hantu : Kisah Reno dan Kost-an Pembawa Maut

riwidy | Bersambung
Jumlah kata
34.8K
Popular
100
Subscribe
30
Novel / Untung Ada Hantu : Kisah Reno dan Kost-an Pembawa Maut
Untung Ada Hantu : Kisah Reno  dan Kost-an Pembawa Maut

Untung Ada Hantu : Kisah Reno dan Kost-an Pembawa Maut

riwidy| Bersambung
Jumlah Kata
34.8K
Popular
100
Subscribe
30
Sinopsis
HorrorHorrorSistemHaremKarya Kompetisi
Reno hanya ingin rumah. Apa yang ia dapatkan? Sebuah kost angker nan mewah yang berdiri di atas titik nexus gaib, dihuni empat hantu wanita seksi yang justru lebih menakutkan daripada setan neraka! Mulai dari vampir pengopi yang galak, Noni Belanda nan anggun dengan temperamen yang tak kalah mematikan, kitsune genit yang hobi menggoda, hingga hantu ilmuwan yang terobsesi pada Reno. Berbekal 'Sistem Pemilik Kost' yang aneh dan kekuatan "Majikan" tak terduga, Reno harus menari di antara rayuan maut, ancaman supernatural, dan 'face-slap' mendebarkan. Ditambah lagi, organisasi pemburu setan bernama A.D.A.M. kini mengincar kost-nya! Siapkah Reno menjadi 'Tuan Kost' yang tak terduga bagi harem spiritualnya? Bersiaplah untuk perpaduan horor, komedi, romansa, dan aksi tanpa henti!
Bab 1. Warisan Maut dan Pajak Nyawa

Reno menatap pagar besi setinggi tiga meter di hadapannya dengan tangan gemetar. Kertas kusam di genggamannya menunjukkan alamat yang sama dengan papan nama kuningan berkarat di samping gerbang "Wisma Atma Jaya".

"Mewah sih mewah, tapi kenapa suasananya kayak settingan film pengabdi setan?" bisik Reno pada diri sendiri.

Gigi Reno bergeletuk. Angin malam di pinggiran Jakarta biasanya panas dan sumpek, tapi di depan gedung ini, udaranya justru sedingin kulkas dua pintu. Dompetnya yang tipis, hanya berisi sisa selembar sepuluh ribu, menjadi satu-satunya alasan dia tidak langsung putar balik.

"Oke, Reno. Lo ganteng, lo miskin, dan lo butuh tempat tinggal gratis. Masuk aja," gumamnya menyemangati diri.

Dia mendorong gerbang. *Krieeeet...* Bunyi engsel karatan itu membelah sunyi dengan sangat dramatis. Reno berjinjit melewati halaman luas yang rumputnya tertata rapi namun terasa 'mati'.

Pintu utama gedung kolonial itu terbuka sendiri sebelum Reno sempat mengetuk.

"Halo? Permisi? Paket? Eh, saya ahli waris?"

Hening. Bau melati menusuk hidung, bercampur aroma kopi hitam yang sangat pekat. Reno melangkah masuk ke aula utama. Marmer lantai itu begitu mengilat hingga dia bisa melihat bayangannya sendiri yang pucat.

"Kek, kalau kakek masih di sini, tolong jangan muncul tiba-tiba ya. Reno jantungan," ucapnya pelan sambil memeluk ransel.

Tiba-tiba, lampu kristal di langit-langit berkedip hebat.

Zlap!

Suasana menjadi remang-remang kemerahan. Bau melati tadi mendadak berubah menjadi bau anyir yang kuat.

"Siapa yang berani masuk ke wilayahku tanpa membawa persembahan?"

Suara itu datang dari atas. Berat, serak, namun memiliki nada menggoda yang mematikan.

Reno mendongak. Di atas *chandelier* yang berayun, seorang wanita duduk menyilangkan kaki. Dia memakai gaun merah menyala yang sangat kontras dengan kulitnya yang putih pucat seputih porselen. Rambut hitamnya panjang terurai hingga ke lantai, berkilau seperti sutra.

"E-eh... Mbak? Maaf, saya Reno. Cucu almarhum kakek—"

"Darahmu..." Wanita itu memotong dengan bisikan yang merambat di telinga Reno. "Aromanya manis sekali."

Dalam satu gerakan yang lebih cepat dari kedipan mata, wanita itu sudah berada di depan Reno. Wajahnya cantik, luar biasa cantik. Mata merahnya menatap tajam, bibirnya tersenyum miring memperlihatkan dua taring yang mengintip.

"Mbak ... tolong jangan makan saya. Saya kurus, banyakan micin daripada protein," gagap Reno, mundur selangkah hingga menabrak dinding.

Wanita itu tertawa, tapi suaranya tiba-tiba berubah menjadi geraman monster. "Pajak masuk ke tempat ini adalah nyawa! Kau tidak bawa persembahan, maka kau persembahannya!"

Tangan wanita itu bergerak kilat, mencengkeram leher Reno. Kuku-kukunya yang panjang dan tajam sedikit menusuk kulit leher Reno.

"Ugh! Mbak ... le-lepas ...."

"Namaku Lilith," bisik wanita itu di depan wajah Reno. "Dan aku sedang lapar."

Lilith membuka mulutnya lebar-lebar. Tiba-tiba, wajah cantiknya robek di bagian sudut mulut, melebar hingga ke telinga. Barisan gigi runcing mencuat keluar, mengeluarkan uap hitam yang bau bangkai.

Reno membelalak. Horor murni menghantam kesadarannya. Penakut akut dalam dirinya ingin pingsan, tapi insting keponya sempat bertanya: *Kok kuntilanaknya kayak vampir?*

"Mbak Lilith ... ampun ...."

"Mati saja!"

Lilith menghempaskan Reno ke ubin marmer dengan tenaga luar biasa. Brak! Tubuh Reno menghantam lantai, kepalanya terbentur. Darah segar mulai mengucur dari dahi Reno, menetes dan menyebar di sela-sela garis ubin aula.

Tiba-tiba, seluruh ruangan bergetar. Suara mekanis aneh bergema di dalam kepala Reno, seperti suara komputer kuno yang sedang booting.

[DING! DETEKSI KETURUNAN DARAH LANGSUNG!]

[SYARAT AKTIVASI SISTEM TERPENUHI!]

[SELAMAT DATANG, TUAN MUDA RENO. SISTEM PEMILIK KOST TELAH AKTIF!]

Reno memegang kepalanya yang pening. "Hah? Suara apa itu? Lo dengar nggak, Mbak?"

Lilith berhenti menyerang. Dia mematung. Matanya yang merah menatap lantai tempat darah Reno mengalir. Darah itu bukannya meresap, malah bersinar keemasan dan membentuk pola rune yang rumit.

"Ini... otoritas nexus?" gumam Lilith dengan suara bergetar. Wajah monsterannya perlahan kembali menjadi cantik, namun penuh ketakutan.

[DATA PENGHUNI TERDETEKSI: LILITH (JENIS: VAMPIR MERAH)]

[STATUS: PENGHUNI LIAR (TIDAK PATUH)]

[MEMBERIKAN TEKANAN ABSOLUT KEPADA PENGHUNI...]

"Argh!" Lilith tiba-tiba berteriak kesakitan. Tubuhnya seolah ditekan oleh gravitasi sepuluh kali lipat. Dia terjatuh ke lantai, berlutut tepat di hadapan Reno yang masih duduk linglung.

"Mbak kenapa? Stroke?" tanya Reno polos, sambil mengusap darah di dahinya.

"Diam kau! Kekuatan apa ini?!" Lilith mengerang, tangannya mencakar marmer hingga retak.

*TUAN RENO, SILAKAN BERIKAN PERINTAH PERTAMA ANDA UNTUK MENUNDUKKAN PENGHUNI.]

Reno melihat sebuah layar hologram melayang di depannya.

Di situ ada tombol bertuliskan: [LINDUNGI PEMILIK] dan [HUKUM PENGHUNI].

"Gue nggak ngerti ini apa, tapi gue pengen nggak dicekik!" teriak Reno panik.

[DITERIMA. PERINTAH: KEPATUHAN ABSOLUT.]

Sinar emas keluar dari lantai dan melilit leher Lilith seperti kalung cahaya. Lilith terkesiap. Seluruh haus darah dan amarahnya hilang seketika, berganti dengan perasaan tunduk yang memaksa jantungnya berdegup kencang.

"Tu-Tuan ...." Lilith menggertakkan gigi, berusaha melawan, namun akhirnya kepalanya menunduk hingga menyentuh sepatu Reno yang sudah bolong di ujungnya.

"Hah? Mbak manggil apa?" Reno melongo.

"Selamat datang ... Tuan ... Majikan baru Wisma Atma Jaya," ucap Lilith dengan nada sangat terpaksa, meskipun suaranya tetap terdengar seksi.

Reno mencoba berdiri dengan kaki gemetaran. "Jadi ini kost-an gue? Dan lo ... penjaganya?"

"Aku penghuninya, bodoh!" Lilith mendongak, matanya berkilat marah meski tubuhnya tetap berlutut. "Tapi kontrak darah kakekmu yang keparat itu rupanya sudah pindah kepadamu. Siapa pun yang memiliki sistem itu, dialah 'Tuan' di sini."

Reno melihat layar hologram lagi.

[POIN KOST: 0]

[MISI PERTAMA: SURVIVE MALAM PERTAMA (HADIAH: UNLOCK PENGHUNI KEDUA)]

"Unlock penghuni kedua? Masih ada lagi?!" seru Reno kaget.

Tiba-tiba, sebuah suara tawa kecil nan dingin terdengar dari lorong gelap di belakang Reno. "Seorang manusia culun menjadi Tuan kita, Lilith? Sungguh memalukan bagi sejarah bangsawan."

Reno berbalik dengan patah-patah seperti robot rusak. Di sana, melayang seorang wanita dengan gaun putih klasik ala Noni Belanda. Parasnya luar biasa anggun, namun aura di sekitarnya begitu dingin hingga ubin lantai yang dilaluinya membeku menjadi es.

"Evelyn?" Lilith bergumam pelan. "Lepaskan aku dari tekanan ini, Evelyn!"

"Tidak bisa, Kuntilanak Merah. Sistem sudah mengenalinya," ucap Noni Belanda itu sambil menatap Reno dengan tatapan meremehkan. "Lihat dia. Gemetar seperti kelinci yang kedinginan. Inikah 'Tuan' kita?"

Reno hanya bisa megap-megap. "Halo ... Tante? Eh, Non?"

"Jaga tata kramamu, Manusia," sahut Evelyn dingin. Dia melambaikan tangan, dan tiba-tiba gravitasi di sekitar Reno hilang. Reno melayang di udara, kaki di atas, kepala di bawah.

"Huaaaa! Turunin! Gue mual!" teriak Reno sambil memegangi perutnya.

"Evelyn, lepaskan dia!" Lilith tiba-tiba membentak. Meski dia masih terikat sistem, naluri protektifnya entah kenapa mendadak bangkit saat melihat orang lain 'memainkan' Reno. "Hanya aku yang boleh menyiksanya!"

"Oh? Secepat itu kau jatuh cinta, Lilith?" Evelyn mencibir.

"Bukan cinta! Ini masalah administrasi!" teriak Lilith merah padam.

[WARNING! PENGHUNI KEDUA MENUNJUKKAN TINDAKAN TIDAK DISIPLIN.]

[AKSES SISTEM: AKTIFKAN PROTOKOL TUAN RUMAH?]

Reno yang masih melayang dan berputar-putar mencoba menyentuh tombol [IYA] di hologram yang ikut berputar. "IYA! APA AJA ASAL GUE NAPAK BUMI LAGI!"

Wush!

Gravitasi kembali normal. Reno jatuh dengan posisi gedebuk yang sangat tidak elegan. Sementara itu, Evelyn tampak tersentak dan dipaksa untuk melayang lebih rendah, posisinya kini setara dengan tinggi badan Reno.

"Berani sekali kau menyegel kekuatanku," desis Evelyn, wajahnya yang cantik berubah jadi sedikit mengerikan dengan garis-garis biru es di bawah matanya.

"Maaf! Habisnya saya diputar-putar kayak komedi puter!" sahut Reno, berusaha sembunyi di balik punggung Lilith. "Mbak Lilith, tolongin gue!"

Lilith yang kini sudah bisa berdiri meskipun lehernya masih terasa terikat, hanya mendengus. "Jangan berlindung padaku, Dasar Penakut." Namun, tangannya yang berkuku tajam tetap merentang di depan Reno, menghalangi pandangan Evelyn.

"Tapi kau tuanku sekarang," lanjut Lilith pelan, menoleh sedikit ke arah Reno dengan seringai tipis yang kembali muncul. "Itu artinya, seluruh dunia gaib akan mengincar kepalamu. Termasuk mereka yang dikirim Pamanmu."

Reno terbelalak. "Paman? Paman Hendra maksudnya? Yang nyita rumah emak gue?"

"Organisasi A.D.A.M.," bisik Evelyn, mendarat perlahan di lantai. "Mereka akan datang mengambil kunci *nexus* ini. Dan jika kau mati, kami semua bebas dari kontrak sialan ini."

Lilith membelai pipi Reno dengan kukunya yang dingin, membuat Reno merinding disko. "Jadi, pilihannya ada dua, Sayang. Kau bertahan hidup dengan melayani kami, atau kau mati malam ini dan aku akan meminum darahmu sampai habis sebelum rohmu dibawa mereka."

Reno menatap kedua hantu cantik namun mematikan itu bergantian. Matanya melirik sistem yang menunjukkan poin **[0]**.

"Kost-an ini ... beneran mewah ya?" tanya Reno tiba-tiba.

"Tentu saja. Kamar utamanya punya TV 80 inci," sahut Lilith bingung.

"Ada kopi?"

"Aku punya mesin espresso di laboratorium Dr. Maya di bawah," Evelyn menyahut cuek.

Reno menarik napas panjang. Dia merapikan kerah kemejanya yang robek akibat cengkeraman Lilith tadi. Sifat "kepo" dan "kepepet" nya mulai mengambil alih rasa takut.

"Oke. Gue tinggal di sini. Gue Tuan-nya, kan? Berarti gue yang bikin aturan!"

Lilith dan Evelyn saling lirik. Keduanya tertawa dengan suara yang membuat bulu kuduk Reno berdiri tegak lagi.

"Aturan? Coba saja kalau kau sanggup bernapas sampai pagi, Tuan Kecil," kata Evelyn sinis.

Tiba-tiba, suara dentingan ponsel yang keras muncul dari kantong celana Reno. Bukan ponsel asli, melainkan notifikasi sistem yang muncul tepat di depan matanya.

[MISI AKTIF: MEMBERSIHKAN RUANG TAMU DARI SISA DARAH.]

[WAKTU: 10 MENIT.]

[HUKUMAN JIKA GAGAL: LILITH BOLEH MENGGIGIT LEHER ANDA SELAMA 30 DETIK.]

Mata Reno melotot. Lilith langsung menjilat bibirnya, menatap leher Reno dengan penuh minat.

"Mbak ... tolong ambilin pel-an!" teriak Reno panik.

"Lakukan sendiri, Budak!" sahut Lilith sambil duduk santai di sofa yang tiba-tiba muncul dari kegelapan, sambil menyesap kopi hitam yang aromanya entah dari mana.

"Mulai sekarang, selamat datang di nerakamu, Reno," bisik Evelyn sambil menghilang dalam kepulan asap es.

Reno memegang sapu yang tiba-tiba terjatuh dari langit-langit. "Kek ... makasih warisannya. Tapi kok mending saya kerja di Indomaret ya?"

Dunia baru Reno dimulai malam itu. Dunia di mana kecantikan, kematian, dan poin sistem menentukan apakah dia akan tetap hidup atau berakhir jadi sarapan kuntilanak.

Tepat saat dia hendak mulai mengepel, pintu gerbang di luar digedor dengan keras.

BOOM!

"Buka! A.D.A.M. di sini! Serahkan akta properti atau kami ledakkan tempat ini!"

Reno menegang. Dia menoleh ke Lilith. "Itu siapa lagi?"

Lilith tersenyum lebar, menunjukkan seluruh barisan giginya yang runcing. "Pajak kedua sudah datang. Boleh aku makan mereka, Majikan?"

Reno menatap genangan darah di lantai, lalu menatap pintu gerbang. Sifat culunnya mendadak berganti dengan ekspresi nekat. "Asal jangan dikotori lantainya. Capek gue baru mau ngepel!"

Pandangan Reno kemudian menggelap. Dia tidak pingsan karena berani, tapi karena stres level maksimal yang menghantam sarafnya secara mendadak.

"Oalah ... malah pingsan," gumam Lilith, menangkap tubuh Reno sebelum jatuh ke lantai. "Tapi setidaknya, hidup kita nggak akan membosankan lagi."

Jadi begitulah, sang Pemilik Kost baru saja tertidur di hari pertama kerjanya. Di sebuah rumah di mana hantunya lebih posesif daripada pacar, dan tagihan listriknya dibayar dengan nyawa.

***

Lanjut membaca
Lanjut membaca