

"Bocah tengik! Pergi dari sini, jangan ikut campur urusan orang! "
Gawat nih...
Adrian Prasetya berpikir seperti itu dengan senyum kecut, dan keringat dingin menetes di pelipisnya.
Suara teriakan kasar barusan agak biasa baginya yang sering mendapat omelan orang tua. Namun, jujur saja, jantungnya berdegup kencang, menahan rasa ingin pulang saja.
Tapi setelah melihat apa yang terjadi dan tatapan mata penuh harap dari wanita yang membutuhkan pertolongan, mana mungkin dia bisa pergi sebagai laki-laki.
Di depannya, ada total tiga orang mengenakan jaket kulit memegang pisau tengah berdiri di depan seorang wanita yang diikat oleh tali kuat. Mulutnya disegel dengan lakban hitam.
Dan sekarang, dia ada di sebuah gudang bekas entah berantah. Dia datang ke sini dengan sepeda motor bututnya karena nalurinya setelah melihat adegan penculikan tepat persis di depan mukanya..
"Gak bisa... Aku harus ikut campur, soalnya penculikan dilarang kan? Kalian udah masuk ranah kriminal nih, tolong nyerah aja ya, " Adrian berkata sambil tersenyum.
Apa yang barusan kubilang?
Adrian ingin menepuk bibirnya karena bicara spontan.
Para penculik itu saling memandang, dan salah satu dari mereka melangkah maju, " Bacot! Sini kau bocah! "
Sambil membentak dan mengumpat, salah satu penculik mencoba menangkap Adrian. Namun, Adrian mundur sebagai reaksinya, dan tangan penculik itu gagal meraihnya.
"Wah... Bahaya juga ya, kalian mau menculikku sekalian? Maaf, aku bukan orang kaya, percuma saja jika kalian mau menebuskku, " Adrian berkata dengan senyum kaku, namun bagi sang penculik, nada ini sangat santai, seolah meremehkan mereka.
"Kau... Bangsat! " penculik itu menatap Adrian dengan marah, dia mengeluarkan pisau dari saku celana, dan langsung menebasnya ke arah Adrian.
Pupil mata Adrian menyusut—Sebenarnya dia menutup mata.
"Ah... Aku akan mati... Maaf ayah, maaf ibu, maaf dek Elisa, Adrian gak bisa bantu merubah ekonomi kalian sekarang—Ah, mana mungkin aku nyerah gitu aja ya? "
Adrian tersenyum tipis, dia melepas tas sekolahnya, dan tanpa ampun melemparkannya ke salah satu penculik.
Brak!
Tas itu menghantam wajah penculik, membuatnya kaget. Adrian mengambil kesempatan ini, mengambil kayu di dekat kakinya, dan tanpa ragu menghantamkannya ke lengan penculik yang tertegun.
Dak!
"Aghh!!! " Penculik itu terhuyung kesakitan, dan pisau di tangannya terjatuh.
Sementara dua penculik lain tertegun, Adrian mengambil pisau yang terjatuh di lantai kotor dengan santai.
Di bawah tatapan ngeri para penculik dan wanita yang diculik, Adrian mengambil sikap hunus seolah sedang memegang pedang.
"Ayo majulah, aku akan bertarung mati-matian dengan kalian hari ini, " Adrian berkata, senyum terlihat di bibirnya meski dahinya berkeringat dan hatinya full panik.
"Kau! " dua penculik lain ciut melihat pemuda di depannya, meski tampak tidak punya nutrisi sekilas, tapi senyum pemuda ini membuat mereka ngeri.
"A-Awas saja kau, nak! " dua penculik lain tanpa diduga segera meraih temannya yang terhuyung kesakitan, dan mereka bergegas pergi meninggalkan kejadian.
"Eh... Mereka lari? " Adrian menoleh, menggaruk pipinya dengan ekspresi bingung.
Para penculik yang pergi jelas-jelas di luar dugaan Adrian. Senyum masam muncul di bibirnya, dia menoleh, dan melihat seorang wanita yang mengenakan kemeja putih dan rok hitam seperti seorang pegawai kantoran tampak duduk dengan lengan dan kaki terikat, serta mulut tertutup lakban.
Melihat ini, Adrian mendekat sambil tersenyum.
Vanessa Kusuma, dia adalah wanita dari keluarga terpandang. Dia juga CEO dari sebuah perusahaan Skincare yang terkenal dengan total omset puluhan miliar per tahun.
Meski dari keluarga terpandang, bukan berarti dia tidak punya musuh. Perusahaannya punya banyak saingan, begitu juga keluarganya.
Hari ini, dia tidak pernah menyangka saat pulang dari kantor, mobilnya dicegat dan dia diculik oleh orang tidak dikenal. Penculik itu tidak meminta tebusan, tapi meminta resep skincare yang dia punya.
Saat dia putus asa, seorang pemuda entah dari mana tiba-tiba muncul, bertarung dengan penculik, dan mengintimidasi mereka.
"Hmm... Hmm... Kasihan sekali ya kamu mbak, bisa-bisa diculik. Tapi... Kenapa kamu diculik? Apa karena dada dan bokongmu yang montox? Atau karena kamu kaya? " Adrian tanpa rasa sopan menatap ke atas ke bawah pada sosok Vanesa yang terikat.
"Hhmmmn! "
Vanessa berkata ' Cepat lepaskan aku! '
Vanessa juga kesal karena pemuda di depannya tanpa malu-malu membicarakan dada dan bokongnya. Memang dia mengakui kalau dua aset miliknya salah satu yang teratas, tapi berani sekali bocah kencur ini bisa-bisa fokusnya pada keduanya alih-alih menyelamatkannya lebih dulu?!
"Oke.. Oke... Pengen dilepas ya? " Adrian terkekeh, menggunakan pisau di tangannya, dia memotong tali yang mengikat tangan dan kaki wanita di depannya.
Setelah merasa terbebas, Vanessa hendak melepas lakban di mulutnya.
"Tunggu! " Adrian menghentikan Vanessa dengan telapak tangannya, pemuda itu memegang pergelangan tangannya tanpa ragu.
Wajahnya mendekat ke wajah Vanessa, membuatnya malu dan memerah, tapi lebih ke marah.
"Hmm?! "
'Mau ngapain?! '
Itu artinya kah?
Adrian tersenyum, dan berkata serius, " Biar aku aja yang lepasin lakbannya. Ini kesempatan sekali seumur hidup aku dapat adegan culik ginian. Biasanya aku cuman menonton di TV doang. "
Sambil meratapi nasibnya, Adrian menarik lakban yang menempel di bibir Vanessa.
Srak!
"Ahhh!!! Sakit! "
Adrian tanpa ragu menarik kuat dan cepat lakban di bibir Vanessa.
Wanita itu menjerit kesakitan sambil memegang bibirnya dengan kedua tangan.
Kebas, pedih, panas, nyeri, itulah yang dia rasakan.
"Tingnung... Ting nung~ Selamat kepada Master karena telah menjadi pahlawan menyelamatkan kecantikan. "
"Aku adalah dewi, atau yang lebih dikenal Sistem Punya Segalanya! "
"Selamat kepada master telah mengikat sistem! "
Layar biru muncul di depan Adrian, dan suara santai yang lembut seperti seorang wanita berusia 20 an terdengar di benaknya.
Adrian linglung sejenak, dia tiba-tiba sadar kalau di sekelilingnya tampak berhenti. Wanita yang sebelumnya lagi menjerit duduk terpaku sambil memegang mulutnya.
"Ahaha... Bohong kan? Kamu sistem? Yang benar saja, ini bukan dunia fantasi, ini modern! " ucap Adrian tertawa kering.
"Dewi ini tidak berbohong, master. Kamu telah mengikatku, sebuah sistem terkuat yang bisa menjadikanmu manusia terkuat di tiga alam! " sosok makhluk kecil seperti kucing bewarna putih, namun telinganya mirip seperti sirip ikan muncul di depan Adrian.
"W-Wah, imut banget..., " Adrian tanpa sadar mengulurkan tangan, mengusap kepala makhluk kecil di depannya.
"Lancang! Tapi kau masterku. Huh! Aku ni sistem, tolong hargai dong, master! " ucap sistem, menatap Adrian dengan kesal.
"Hmm.. Hmm.. Ya ya, ini pasti cuman mimpi, kan? Mana mungkin ada sistem dan dewi... Ah, begitu aku udah mati kena tusuk penculik tadi, " kata Adrian tersenyum mengangguk-ngangguk sambil mengelus kepala makhluk imut yang melayang di depannya.