

Suara guntur bergemuruh dari kedalaman Keshitan, mengguncang dinding gua yang sempit tempat Arkan berlindung. Udara pekat terasa panas menyengat, bercampur dengan bau belerang dan tanah lembab yang terkubur selama ribuan tahun. Udara yang sulit dihirup membuat setiap napas terasa seperti menusuk paru-paru, sementara tetesan air hujan yang jarang jatuh dari celah atas gua segera menguap saat menyentuh tanah yang panas seperti tungku. Dia duduk dengan tubuh menggigil di sudut gelap, kedua tangannya menekan dada yang sedang sakit parah—nyeri seperti tusukan baja yang membakar dari dalam, mengikuti irama denyut nadi yang semakin cepat seiring dengan setiap denyut kekuatan yang terkurung di dalam dirinya.
“Jangan… lagi…” bisiknya dengan suara serak, mata menyipit menghadapi nyala api kecil yang ia bakar dari serpihan kayu yang ditemukannya beberapa hari yang lalu. Kayu yang terbakar bukanlah kayu biasa dari dunia atas, melainkan Pohon Api Abadi yang hanya tumbuh di sekitar celah-celah magma di Keshitan, menghasilkan nyala yang tidak pernah padam meskipun dibiarkan sendiri selama berbulan-bulan. Cahaya kemerahan menyinari wajahnya yang kurus dan penuh bekas luka—bekas luka bakar yang membentuk pola seperti mahkota matahari di dahinya, bekas dari kutukan yang diberikan saat ia dibuang dari khayangan. Rambut pirangnya kusut menutupi dahi yang berkeringat dingin, helai-helai rambut yang tadinya berwarna keemasan kini kusam akibat paparan panas dan debu selama bertahun-tahun.
Sepuluh tahun telah berlalu sejak ia dibuang dari Aethermoor. Pada hari itu—ulang tahun yang kelima belasnya—ayahnya, Dewa Agni, berdiri di atas tebing tinggi khayangan dengan wajah tanpa emosi. Langit yang biasanya cerah biru tiba-tiba menjadi kelabu penuh badai petir, seolah alam semesta sendiri merasakan keputusasaan yang akan terjadi. “Kamu adalah kutukan bagi kita semua,” kata Agni dengan suara yang bergema seperti lahar yang mengalir deras, setiap kata menusuk hati Arkan seperti pisau tajam. “Kehadiranmu hanya akan membawa kehancuran bagi keluarga kita dan seluruh khayangan. Pergilah, dan jangan pernah kembali ke sini lagi.”
Tanpa ampun, tanpa memberikan kesempatan untuk menjawab atau meminta maaf, Arkan dilempar ke dalam jurang gelap yang menghubungkan khayangan dengan alam bawah tanah. Saat tubuhnya jatuh bebas melalui kegelapan yang pekat, ia merasakan panas yang luar biasa membakar dirinya dari dalam, sementara badai kutukan menyergap tubuhnya yang lemah—suatu kutukan yang dirancang untuk membatasi kekuatan surya yang ada di dalam dirinya, membuat setiap upaya untuk mengeluarkannya menjadi sebuah penderitaan yang tak tertahankan. Sejak itu, setiap kali ia mencoba mengeluarkan kekuatan yang ada di dalam dirinya, penyakit akan menyerang dengan kekuatan yang luar biasa—menjadikannya lemah, menggigil, dan terkadang hampir kehilangan kesadaran.
Suara derak keras mengguncang gua, membuat reruntuhan batu kecil jatuh dari langit-langit yang menjulang tinggi. Arkan mengangkat kepala dengan susah payah, lehernya terasa kaku akibat rasa sakit yang terus menerus menyiksa dirinya. Ia melihat bayangan besar yang menghampiri dari mulut gua, bayangan yang menghalangi sebagian cahaya redup yang masuk dari luar. Tujuh pasang mata merah menyala seperti bara api yang baru saja dinyalakan, setiap pasang mata mengeluarkan cahaya yang membuat tembok gua tampak seperti terbakar. Diikuti oleh suara mendesis yang menusuk telinga, suara yang membuat kulitnya merinding dan rambutnya berdiri tegak. Magma Ravager—makhluk berkaki enam dengan tubuh bertulang yang keluar dari dalam magma dan sisik yang menghasilkan panas mematikan—telah menemukan tempat persembunyiannya setelah ia berlari darinya selama tiga hari penuh di dalam labirin gua Keshitan.
Arkan mencoba berdiri, tapi kaki kirinya gemetar dan hampir membuatnya jatuh ke tanah yang kasar dan berbatu. Ia meraih batu tajam di sampingnya, batu yang memiliki bentuk seperti pisau dan telah ia gunakan sebagai alat untuk bertahan hidup selama bertahun-tahun. Tangannya gemetar karena nyeri yang semakin memuncak, membuatnya hampir tidak bisa menggenggam batu dengan erat. Makhluk itu melangkah lebih dekat, setiap langkahnya membuat tanah bergoyang dan mengeluarkan bau belerang yang semakin kuat. Ia mengeluarkan napas panas yang membuat udara terasa seperti tungku pembakaran, membuat nyala api kecil yang Arkan bakar mulai bergoyang dan hampir padam.
“Sialnya…” gumam Arkan, mengingat semua orang di Aethermoor yang pernah berkata bahwa ia lemah dan tidak berguna. Bahkan para penyihir muda yang baru saja belajar mengendalikan kekuatan mereka bisa mengeluarkan energi dengan mudah, sementara dirinya harus berjuang mati-matian hanya untuk membakar sedikit nyala api untuk menghangatkan tubuhnya di malam hari yang dingin di gua. Bahkan di Keshitan, ia hanyalah mangsa yang mudah bagi makhluk-makhluk buas yang menghuni tempat ini—selalu berlari, selalu bersembunyi, tidak pernah berani menghadapi musuhnya dengan wajah terbuka. Tapi kali ini, sesuatu di dalam dirinya berubah. Seolah ada suara kecil yang berbisik di dalam benaknya, memberitahunya bahwa waktunya telah tiba untuk berhenti berlari dan mulai melawan.
Saat Magma Ravager mengangkat salah satu kakinya yang besar dengan cakar tajam seperti pisau untuk menghancurkannya, rasa sakit di dadanya tiba-tiba berubah menjadi panas yang menyenangkan. Energi mengalir dari setiap ujung rambutnya, seperti arus listrik yang lembut namun kuat, menyebar ke seluruh tubuhnya dan menghangatkan setiap bagian yang selama ini merasa dingin dan sakit. Ia melihat kedua tangannya mulai bersinar dengan cahaya keemasan yang indah, nyala api kecil muncul di antara jarinya tanpa menyakarnya sedikit pun—api yang tidak seperti api biasa yang ia kenal, melainkan api yang membawa kehangatan dan kehidupan, bukan kehancuran.
Ini apa…? pikirnya dengan mata yang melebar tidak percaya, menyaksikan bagaimana kekuatan yang selama ini menyiksa dirinya kini menjadi sesuatu yang ia bisa kendalikan dengan mudah.
Tanpa berpikir panjang, tanpa rasa takut yang biasanya menghalanginya, Arkan mengangkat tangan ke arah makhluk itu. Sebuah aliran api emas melesat keluar dengan kecepatan kilat, tidak seperti api biasa yang membakar secara sembarangan—melainkan mengelilingi tubuh Ravager dengan gerakan yang terkontrol dan anggun, seperti sebuah tarian yang telah dirancang dengan sempurna. Api emas itu mengikat setiap kaki dan anggota badannya, membentuk gelang cahaya yang tidak bisa ditembus oleh panas atau kekuatan fisik makhluk itu. Makhluk itu meneriakkan suara kesakitan yang menusuk telinga, tubuhnya mulai bergoyang-goyang saat mencoba berlari, tapi energi surya yang dikeluarkan Arkan semakin kuat, menarik panas berlebih dari tubuh Ravager itu sendiri hingga sisiknya mulai mengering dan mengelupas menjadi serpihan kecil.
Dalam sekejap yang terasa seperti abad, makhluk yang dahsyat itu menjadi sekumpulan abu hitam yang tertiup angin lembut masuk dari mulut gua. Arkan jatuh ke tanah, napasnya terengah-engah karena kelelahan setelah menggunakan kekuatan yang begitu besar, tapi kali ini rasa sakit telah hilang sepenuhnya. Sebaliknya, ia merasa penuh energi yang belum pernah dirasakan sebelumnya—seolah tubuhnya yang selama ini terkurung dalam rantai kini bebas dan bisa bergerak dengan bebas tanpa rasa sakit yang menyiksa.
“Sangat luar biasa…” suara lembut terdengar dari belakangnya, membuatnya terkejut karena terlalu fokus pada kekuatan baru yang ia miliki. Arkan cepat berbalik, tangan siap melepaskan api lagi untuk membela diri, tapi ia terhenti ketika melihat sosok gadis dan sangat cantik berdiri di mulut gua. Cahaya matahari yang jarang masuk ke dalam Keshitan menerangi sosoknya dengan indah, membuatnya tampak seperti seorang malaikat yang turun dari langit. Rambutnya hitam seperti malam, dipotong pendek di bawah telinga dengan beberapa helai rambut yang mengelilingi wajahnya yang sempurna. Matanya berwarna biru seperti lautan dalam yang mampu membebaskan semua panas, dengan kedalaman yang seolah bisa melihat langsung ke dalam jiwa seseorang. Dia mengenakan baju kulit gelap yang dirancang untuk perjalanan di alam bawah tanah, dengan aksen warna biru muda yang melambangkan air dan kelembutan. Di tangannya tergenggam tongkat kayu yang terbuat dari Pohon Awan Abadi yang hanya tumbuh di khayangan, ujungnya berbentuk seperti awan dengan permata biru yang menyala lembut di tengahnya.
“Siapa kamu?” tanya Arkan dengan waspada, tubuhnya masih siap untuk bertarung jika diperlukan, meskipun ia tidak merasakan ancaman dari wanita itu—malahan sebaliknya, ia merasakan kedamaian dan ketenangan yang belum pernah dirasakan sebelumnya sejak ia dibuang dari Aethermoor.
“Saya Lira dari suku Aquamarine,” jawabnya dengan senyum tipis yang membuat wajahnya semakin cantik, langkahnya ringan saat mendekat ke arah Arkan tanpa rasa takut. “Penjaga Pintu Terlarang yang menghubungkan Keshitan dengan dunia atas. Dan sepertinya saya telah menemukan sesuatu yang sangat berharga… atau sangat berbahaya bagi seluruh alam semesta.”
Arkan berdiri perlahan, masih tidak percaya dengan kekuatan yang baru saja ia keluarkan dan bagaimana rasa sakit yang selama ini menyiksa dirinya kini hilang tanpa bekas. Di balik wajah Lira yang tenang dan penuh kebijaksanaan, ia merasakan bahwa pertemuan ini bukanlah kebetulan—bahwa semua penderitaan yang ia alami selama sepuluh tahun terakhir adalah bagian dari jalan yang telah dirancang untuknya jauh sebelum ia lahir. Dan bahwa hidupnya yang selama ini penuh dengan penderitaan dan kegelapan, akan segera memasuki babak baru yang jauh lebih berbahaya—dan penuh harapan yang belum pernah ia berani impikan sebelumnya.
***