

Kael Riven baru saja menerima gajinya sore itu.
Tidak besar, tidak juga mewah—tapi lebih banyak dari bulan lalu.Bagi Kael, itu cukup untuk satu hal sederhana: mengajak Carlissa keluar. Kekasihnya. Satu-satunya alasan ia bertahan di kota yang terasa dingin dan kejam.
Ia mengeluarkan ponsel lamanya—layarnya sudah retak di sudut, tombolnya harus ditekan lebih keras dari seharusnya—lalu menelepon.
"Lissa," katanya begitu panggilan tersambung, suaranya menghangat, "aku baru gajian. Gimana kalau kita nonton? Lalu kita makan malam sekalian."
Ada jeda sepersekian detik sebelum suara Carlissa terdengar.Tetap lembut. Tetap manis. Tapi ada sesuatu yang terasa dibuat-buat."Sore ini aku nggak bisa, Kael. Aku mau ngerjain tugas kuliah di rumah teman."
Kael mengangguk meski tahu ia tak terlihat."Oh… ya udah," katanya berusaha terdengar santai. Ia tahu Carlissa mahasiswi, punya dunianya sendiri. Ia hanya petugas kebersihan dengan seragam abu-abu yang selalu bau disinfektan.
Tetap saja, ada rasa kecewa yang mengendap."Kalau besok?" tanyanya, masih berharap.
"Kita lihat besok aja ya."Nada itu… terlalu cepat.Seperti seseorang yang ingin segera menutup percakapan."Udah dulu ya Kael, teman-temanku udah nunggu," tambah Carlissa. Lalu panggilan terputus.
Kael menatap layar ponselnya yang kembali gelap.Ada perasaan aneh di dadanya, tapi ia menepisnya.Ia keluar dari gedung tempatnya bekerja dan berjalan menuju halte bus. Gedung itu berdiri tepat di sebelah sebuah mal besar di pusat kota Veridia. Parkiran luas di depannya selalu dipenuhi mobil-mobil yang tak pernah ia miliki.
Dan di sanalah ia melihatnya.Sebuah mobil mewah memasuki halaman parkir mal dan berhenti.Pintunya terbuka—bukan oleh pengemudi, melainkan oleh seorang pria tinggi dengan setelan mahal yang melekat sempurna di tubuhnya.
Carlissa turun dari dalam mobil itu.Rambutnya tertata rapi. Bajunya elegan.Bukan tampilan seseorang yang baru saja hendak mengerjakan tugas kelompok.
Dunia Kael seperti berhenti sejenak.Tidak… mungkin hanya salah lihat.Ia melangkah lebih cepat, jantungnya mulai berdetak tidak beraturan.
"Lissa…"Langkahnya makin cepat."Lissa!"Suara itu keluar serak, penuh napas dan sesuatu yang lebih buruk, kemarahan.
Carlissa dan pria itu berhenti bersamaan dan menoleh."Kael…" Carlissa terkejut, matanya melebar.
Kael berdiri beberapa langkah dari mereka. Dadanya naik turun, bukan hanya karena berlari."Jadi ini yang kamu maksud teman buat kerja kelompok?" tanyanya. Suaranya dingin, menahan kemarahan yang mulai mendidih.
Pria di samping Carlissa memandang Kael dari ujung rambut sampai ujung sepatu kerjanya yang kusam. Bibirnya melengkung sinis."Siapa gembel ini, Lissa?"
Satu kata itu menghantam lebih keras daripada tamparan.Dan di situlah, di antara mobil mewah dan pakaian mahal,hidup Kael Riven mulai runtuh.
"Oh… ini teman lamaku," kata Carlissa cepat kepada pria di sampingnya, seolah Kael hanyalah bagian dari latar kota.
"Teman?!" suara Kael naik, tak lagi bisa dikendalikan.
Dua tahun.Dua tahun dia memanggil perempuan itu kekasihnya.Dalam kepalanya, potongan-potongan kecil berkelebat: Carlissa minta dibelikan sepatu baru, minta dibelikan tas, minta makan di tempat yang tak pernah bisa ia datangi sendirian. Setengah dari gajinya selalu mengalir ke sana. Sisa yang sedikit ia pakai untuk bertahan hidup—sering kali dengan satu kali makan dalam sehari. Bukan karena ia ingin terlihat heroik, tapi karena ia ingin Carlissa bahagia.Dan sekarang…
"teman.""Kamu bercanda, Lissa?" Kael melangkah setapak lebih dekat, matanya memerah bukan karena marah saja, tapi karena dihina. "Dua tahun kita bersama. Kamu tidur di apartemenku, kamu pakai uangku, kamu telepon aku tiap malam—dan sekarang aku cuma teman?"
Carlissa mengatupkan bibirnya, jelas tidak nyaman. Ia melirik pria di sampingnya, seolah sedang meminta perlindungan.
Pria itu menghela napas pendek, lalu menyelipkan satu tangan ke saku jas mahalnya. Tatapannya jatuh lagi ke Kael, kali ini lebih terang-terangan meremehkan.
"Lissa, kamu kenal orang seperti ini?" tanyanya dingin. "Kalau iya, suruh dia pergi. Kita harus segera masuk."
Kael mendengar kata-kata pria itu, tetapi yang paling melukai justru bukan nada merendahkannya—melainkan sikap Carlissa. Ia tidak membantah, tidak membela, bahkan tidak mencoba meluruskan apa pun. Ia hanya berdiri di sana dengan wajah ragu, seperti seseorang yang sedang menimbang di dalam hati siapa yang lebih layak berdiri di sisinya.Dan di sanalah Kael mengerti satu hal pahit:Cintanya selama ini tidak pernah cukup…karena ia tidak cukup kaya untuk dipilih.
"Kael… aku rasa kita putus saja," kata Carlissa akhirnya, dengan nada yang nyaris datar. "Aku capek pacaran sama kamu. Ke mana-mana jalan kaki atau naik bus. Kamu juga tidak selalu bisa menuruti semua keinginanku."
Kalimat itu jatuh begitu saja, ringan dan kejam, seolah dua tahun yang mereka lalui hanyalah jeda yang tak penting. Carlissa bahkan tidak menunggu respons. Ia sudah lebih dulu menggenggam lengan pria di sampingnya, menempel manja di sana, lalu melangkah masuk ke dalam mal dengan langkah percaya diri, seakan Kael hanyalah bayangan yang baru saja ia tinggalkan di belakang.
Kael berdiri kaku di tempatnya. Dadanya terasa seperti dihantam sesuatu yang tak terlihat. Air mata meluncur begitu saja, panas dan perih di pipinya, namun ia buru-buru menyekanya dengan punggung tangan. Ada harga diri yang tersisa, meski hatinya sedang runtuh. Selama ini ia menahan lapar, mengatur setiap lembar uang gajinya, menyingkirkan kebutuhannya sendiri demi memenuhi permintaan Carlissa—dan semuanya ternyata kalah oleh kilau sebuah mobil mewah dan penampilan seorang pria yang bahkan tidak ia kenal.
Langit Veridian mulai menggelap ketika Kael melangkah menuju halte. Lampu-lampu kota satu per satu menyala, tapi di dalam kepalanya hanya ada kekosongan. Ia merasa bodoh karena pernah percaya bahwa ketulusan bisa mengalahkan segala sesuatu. Dua tahun hidupnya terasa seperti sesuatu yang dengan mudah dihapus begitu saja oleh satu kalimat: kita putus saja.
Di halte itu, Kael tidak jadi menunggu bus. Ada dorongan aneh di dadanya—semacam kebutuhan untuk bergerak, menjauh, apa pun asal tidak diam bersama rasa sakit yang membekapnya. Ia mulai berjalan tanpa tujuan yang jelas, hanya mengikuti arah pulang ke apartemen kecilnya. Delapan kilometer bukan jarak yang pendek, tetapi langkahnya terus melaju seolah tubuhnya tidak lagi menghitung apa pun. Matanya kosong, pikirannya dipenuhi satu hal yang terus berputar: betapa mudah dan betapa tega Carlissa melepaskannya, seolah cinta yang pernah ia jaga dengan susah payah tak pernah benar-benar berarti.
Sesampainya di apartemennya yang kecil namun selalu tertata rapi, Kael hanya menendang lepas sepatunya di dekat pintu. Ia bahkan tidak menyalakan lampu. Tanpa mandi, tanpa berganti pakaian, ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa seperti seseorang yang kehabisan semua sisa tenaga, bukan hanya di otot-ototnya, tetapi juga di hatinya. Kelelahan menyergap terlalu cepat untuk memberinya kesempatan merenung atau tenggelam dalam kesedihan. Sejak pagi ia bekerja tanpa jeda, dan hari itu pun ia hanya sempat makan sekali dari jatah kantin tempatnya bekerja. Rencana makan malam bersama Carlissa yang sejak siang ia bayangkan sebagai hadiah kecil bagi dirinya sendiri berubah menjadi sesuatu yang terasa pahit dan memalukan, lalu ditutup dengan perjalanan delapan kilometer yang dilaluinya dengan kepala kosong dan dada berdenyut nyeri.
Tubuhnya akhirnya menyerah lebih dulu. Kael terlelap di atas sofa dengan pakaian kerja yang masih melekat, napasnya berat namun teratur, seolah tidur itu adalah satu-satunya tempat aman yang tersisa. Di bawah kesadarannya, ada harapan kecil yang nyaris kekanak-kanakan—bahwa ketika ia membuka mata nanti, semua ini akan terhapus, bahwa Carlissa tidak pernah berjalan pergi bergelayut di lengan pria lain, dan bahwa patah hati ini hanyalah mimpi buruk yang terlalu nyata.
Di antara tidur dan sadar, ingatan Kael bergerak liar. Wajah Carlissa muncul dan menghilang, berganti dengan potongan-potongan kecil dari dua tahun yang ia berikan tanpa pernah menghitung. Tawa di halte bus, pesan singkat larut malam, janji-janji yang diucapkan dengan suara lembut namun ternyata rapuh. Dalam benaknya, semua itu berputar seperti film yang diputar terlalu cepat, hingga tak lagi bisa dibedakan mana yang nyata dan mana yang hanya harapan yang dulu ia bangun sendiri.
Ada rasa dingin yang menjalar pelan di dadanya. Bukan hanya karena ditinggalkan, tetapi karena ia baru menyadari sesuatu yang lebih menyakitkan: selama ini ia tidak pernah benar-benar dipilih. Ia hanya nyaman untuk digunakan. Carlissa tidak jatuh cinta pada dirinya, melainkan pada apa yang bisa ia berikan—waktu, pengorbanan, dan kesetiaan tanpa syarat. Ketika sesuatu yang lebih berkilau datang, hatinya berpindah tanpa ragu.
Kael menggeliat di sofa, alisnya berkerut, seolah jiwanya menolak menerima kebenaran itu. Namun jauh di bawah kesedihan, sesuatu yang lain mulai bergerak perlahan. Bukan kemarahan, bukan juga dendam, melainkan benih kehendak. Sebuah kesadaran baru bahwa jika cinta bisa pergi secepat itu, maka ia tidak boleh lagi membangun hidupnya di atas satu orang. Bahwa jika dunia menilai manusia dari apa yang mereka punya, maka ia pun harus mulai memiliki sesuatu—bukan demi pamer, tetapi agar tak pernah lagi diperlakukan seperti tidak berarti.
Di dalam tidurnya yang gelisah, Kael seakan meraih sesuatu yang belum memiliki bentuk, tetapi terasa seperti masa depan yang sedang memanggil. Dan meski air mata masih mengering di sudut matanya, untuk pertama kalinya sejak sore tadi, dadanya tidak lagi sepenuhnya runtuh.
Ia belum tahu bagaimana caranya. Ia belum tahu ke mana harus melangkah.Namun di balik kelelahan dan patah hatinya, sebuah tekad yang sangat sunyi mulai terbentuk—tekad untuk tidak pernah lagi menjadi pria yang mudah ditinggalkan.