Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Jatuh Cinta dengan Ibu Susu Anakku

Jatuh Cinta dengan Ibu Susu Anakku

Kartikaputri | Bersambung
Jumlah kata
40.8K
Popular
822
Subscribe
210
Novel / Jatuh Cinta dengan Ibu Susu Anakku
Jatuh Cinta dengan Ibu Susu Anakku

Jatuh Cinta dengan Ibu Susu Anakku

Kartikaputri| Bersambung
Jumlah Kata
40.8K
Popular
822
Subscribe
210
Sinopsis
18+PerkotaanAksi21+
Dani Atmaja seorang suami dan ayah yang kesepian karena sering ditinggalkan oleh istrinya yang seorang artis Clarissa putri mulai tertarik dan jatuh cinta dengan Ineke, Ibu susu dari anaknya. Ineke Saraswati seorang janda yang sudah ditinggal mati oleh suami dan anaknya karena kecelakaan harus rela menjadi ibu susu bagi anak dari atasan suaminya karena demi membayar semua hutang sang suami. karena kesibukan dan ketidakpedulian istrinya Clarissa putri terhadap anaknya dan terhadapnya membuat cintanya semakin pudar Dani berpaling hatinya ke ibu susu anaknya. Akankah Dani bisa mendapatkan Ineke janda cantik yang lembut yang menyanyi putranya, atau Dani tetap bertahan pada pernikahan toxicnya bersama Clarissa putri istri sah sekaligus ibu kandung dari putranya. saksikan kisahnya disini.
BAB 1 Di Ambang Kehancuran

Ruangan kerja yang luas itu terasa begitu sesak, meski pendingin udara bekerja tanpa henti. Seorang pria berdiri di balik meja kerjanya yang megah, kedua tangannya menekan permukaan kayu mahoni dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Tatapannya tajam menyorot berkas-berkas yang berserakan di depannya.

Dani Atmaja.

CEO muda yang dikenal tegas dan dingin itu kini tampak jauh dari kata tenang. Nafasnya berat, rahangnya mengeras, dan matanya dipenuhi kemarahan yang nyaris tak bisa lagi dibendung.

Di hadapannya, sebuah laporan audit internal terbuka lebar. Angka-angka yang seharusnya menunjukkan stabilitas keuangan perusahaan justru berubah menjadi bukti pengkhianatan.

Penggelapan.

Bukan jumlah kecil. Bukan kesalahan administratif biasa. Ini adalah kejahatan yang dirancang rapi—dan pelakunya adalah orang yang selama ini ia percaya.

“Kurang ajar…” gumam Dani pelan, namun sarat emosi.

Ia meraih lembar terakhir laporan itu, menatap nama yang tertera di sana.

**Doni Prasetyo — Kepala Keuangan.**

Orang kepercayaannya. Orang yang selama ini ia anggap sebagai tangan kanan dalam mengelola perusahaan.

Dani mengepalkan tangannya.

“Panggil Pak Doni kemari,” perintahnya tegas pada sekretaris yang berdiri tak jauh darinya. “Aku ingin bertanya langsung dengannya tentang hal ini.”

“Baik, Tuan,” jawab wanita itu cepat, lalu segera keluar dari ruangan.

Beberapa menit berlalu terasa seperti jam yang panjang. Dani berjalan mondar-mandir, mencoba meredam amarah yang terus bergolak. Namun, setiap kali matanya kembali tertuju pada laporan itu, emosinya kembali membuncah.

Pintu ruangan terbuka.

Sekretarisnya kembali masuk, namun kali ini wajahnya tampak ragu.

“Maaf, Tuan…” ucapnya hati-hati.

Dani menghentikan langkahnya. “Di mana dia?”

“Pak Doni… tidak masuk kerja hari ini.”

Alis Dani langsung berkerut. “Tidak masuk? Dengan masalah sebesar ini?”

Sekretaris itu menelan ludah sebelum melanjutkan.

“Dari kabar terakhir yang saya dengar… Pak Doni mengalami kecelakaan, Tuan. Bersama istri dan anaknya.”

Ruangan itu mendadak hening.

Untuk sesaat, Dani hanya diam. Rahangnya mengeras, matanya menyipit, mencoba mencerna informasi yang baru saja ia terima.

“Kecelakaan?” ulangnya pelan.

“Ya, Tuan. Saya juga belum mendapatkan detail lengkapnya.”

Dani menarik napas dalam, mencoba menenangkan pikirannya. Namun situasi ini justru semakin rumit.

Masalah penggelapan belum terselesaikan, pelakunya justru terbaring di rumah sakit—atau bahkan… kemungkinan terburuk.

“Cari tahu rumah sakit tempat dia dirawat,” perintah Dani akhirnya. “Aku ingin tahu kondisinya. Dan kalau dia masih hidup… dia harus mempertanggungjawabkan semuanya.”

“Baik, Tuan.”

Namun belum sempat sekretaris itu melangkah keluar, ponsel Dani berdering.

Nama yang muncul di layar membuat ekspresinya berubah.

**Bik Sari.**

Pengasuh anaknya.

Dani segera mengangkat panggilan itu.

“Ya, Bik?”

Suara panik langsung terdengar dari seberang sana.

“Maaf, Tuan… maaf sudah mengganggu waktu Anda,” ucap wanita itu terbata-bata. “Den Raka demam tinggi, Tuan. Badannya panas sekali… saya takut terjadi sesuatu. Saya mau membawa Den Raka ke rumah sakit.”

Dani langsung menegakkan tubuhnya.

“Apa? Sejak kapan dia demam?”

“Sejak tadi siang, Tuan. Tapi sekarang semakin tinggi. Den Raka juga rewel sekali…”

Dani memejamkan mata sesaat, menahan kecemasan yang tiba-tiba menyerang.

“Baiklah,” katanya tegas. “Tolong bawa putraku ke rumah sakit sekarang juga. Aku akan menyusul.”

“Baik, Tuan.”

Panggilan itu terputus.

Dani menatap kosong ke arah berkas-berkas di mejanya. Masalah perusahaan, pengkhianatan, kecelakaan Doni—semuanya seakan menghilang dalam sekejap.

Kini hanya satu yang ada di pikirannya.

Raka.

Putranya.

Tanpa berkata apa pun lagi, Dani segera meraih jasnya dan melangkah keluar dari ruangan dengan tergesa.

---

Lorong rumah sakit itu panjang dan dingin. Aroma antiseptik menusuk hidung, sementara suara langkah kaki dan percakapan samar terdengar di berbagai sudut.

Dani berlari.

Nafasnya terengah-engah, namun ia tak peduli. Jasnya bahkan sudah ia lepaskan, hanya tersisa kemeja yang sedikit kusut karena terburu-buru.

Matanya menyapu setiap ruangan, mencari satu nama.

Raka.

“Pak Dani!”

Suara itu membuatnya berhenti.

Seorang pria berjas dokter berjalan cepat menghampirinya.

“Andi!” seru Dani.

Dokter Andi adalah sahabat lamanya. Selain itu, ia juga merupakan dokter keluarga yang selama ini menangani kesehatan keluarganya.

“Bagaimana keadaan putraku?” tanya Dani tanpa basa-basi, suaranya penuh kekhawatiran.

Andi menghela napas sebelum menjawab.

“Demamnya cukup tinggi, tapi itu bukan masalah utamanya.”

Dani mengernyit. “Maksudmu?”

Andi menatapnya serius.

“Raka butuh ASI, Dan.”

Kalimat itu membuat Dani terdiam.

“Kamu tidak bisa membiarkan dia seperti ini terus,” lanjut Andi. “Dia menolak semua jenis susu formula yang kamu berikan. Tubuhnya lemah, dan kalau ini terus berlanjut, kondisinya bisa memburuk.”

Dani mengusap wajahnya kasar.

Masalah ini.

Masalah yang sejak awal sudah menjadi luka dalam rumah tangganya.

“Istrimu masih belum mau menyusui?” tanya Andi pelan.

Dani tertawa hambar.

“Bukan belum… tapi tidak mau sama sekali.”

Andi menghela napas panjang.

Dani menatap ke arah ruang perawatan, tempat putranya berada.

Raka.

Anak kecil itu bahkan belum genap beberapa bulan, tapi sudah harus merasakan penolakan dari ibunya sendiri.

“Clarissa di mana?” tanya Andi lagi.

Pertanyaan itu membuat ekspresi Dani mengeras.

“Entahlah,” jawabnya dingin. “Mungkin sedang sibuk dengan kariernya.”

Clarissa.

Istrinya.

Seorang wanita cantik, terkenal, putri dari artis papan atas. Dunia hiburan adalah segalanya bagi wanita itu—bahkan lebih penting dari keluarganya sendiri.

Sejak Raka lahir, Clarissa menolak menyusui dengan berbagai alasan. Takut bentuk tubuhnya berubah, takut kariernya terganggu, dan berbagai alasan lain yang terdengar begitu egois di telinga Dani.

Sudah berkali-kali Dani mencoba membujuknya.

Memohon, bahkan.

Namun hasilnya tetap sama.

Penolakan.

Dani mengepalkan tangannya.

“Aku tidak tahu lagi harus bagaimana,” ucapnya lirih.

Untuk pertama kalinya, seorang Dani Atmaja terlihat begitu tak berdaya.

Perusahaan bisa ia kendalikan. Masalah sebesar apa pun bisa ia selesaikan.

Namun untuk satu hal ini…

Ia kalah.

Andi menepuk bahunya pelan.

“Kita harus mencari solusi, Dan. Raka tidak bisa menunggu terlalu lama.”

Dani menatap sahabatnya itu.

“Apa maksudmu?”

Andi ragu sejenak, lalu berkata pelan,

“Kita butuh ibu susu.”

Dani terdiam.

Kata-kata itu menggantung di udara, terasa asing sekaligus… menjadi satu-satunya harapan.

“Ibu susu?” ulangnya pelan.

Andi mengangguk.

“Ya. Kalau Clarissa tetap menolak, maka satu-satunya cara adalah mencari wanita yang bisa menyusui Raka.”

Dani memejamkan mata.

Pikirannya kembali kacau.

Di satu sisi, harga dirinya sebagai suami terasa tertampar. Di sisi lain, ia tidak bisa melihat putranya terus menderita.

Dan di saat yang sama…

Masalah perusahaan belum selesai.

Doni belum bisa dimintai pertanggungjawaban.

Semuanya datang bersamaan.

Dani membuka matanya perlahan.

Tatapannya kini berubah.

Lebih dingin.

Lebih tegas.

“Kalau itu satu-satunya cara…” ucapnya pelan, “maka aku akan melakukannya.”

Andi mengangguk.

“Secepatnya.”

Dani menoleh ke arah ruang perawatan.

Di balik pintu itu, putranya sedang berjuang.

Dan tanpa ia sadari…

Keputusan malam itu akan mengubah hidupnya selamanya.

Termasuk mempertemukannya dengan seseorang… yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca