

Jika ada satu hal yang Jordan Silas pelajari selama delapan belas tahun hidupnya di Bumi, itu adalah: hidup ini membosankan, sampai kau memutuskan untuk membuatnya kacau.
Jordan adalah definisi dari kata "masalah berjalan". Siswa kelas 12 SMA Garuda, bertubuh jangkung, berambut hitam sedikit berantakan, dan tatapan mata coklat yang selalu tampak bosan namun waspada.
Raportnya dihiasi warna merah, bukan karena dia bodoh, tapi karena dia malas mengerjakan PR.
Lagipula walaupun nilai raportnya dibawah rata-rata dia akan tetap lulus tanpa syarat.
"Jordan! Bangun, sialan! mau sampe kapan lo tidur hah?!"
David menggedor pintu kamar Jordan, menghancurkan sisa-misa mimpinya, padahal dalam mimpi Jordan sedang bersenang-senang dengan uang.
Jordan mengerang, menarik bantal untuk menutupi wajahnya.
"Lima menit lagi." Jordan sama sekali tidak punya niat untuk bangun membuat David kembali naik pitam.
David terkadang selalu bertanya-tanya kenapa dia punya adik sebebal ini. Padahal sejak kecil David tidak pernah memberi contoh buruk. Entah darimana adiknya itu jadi punya sifat keras kepala seperti itu.
"Gak ada lima menit! Ini udah siang lo bisa telat sekolah. Cepet bangun sebelum gue yang bangunin!"
"Bentar lagi, gue masih ngantuk."
Baiklah kesabaran David sudah menguap, dengan seluruh emosi David membuka pintu kamar Jordan. Dan ternyata pintunya gak dikunci, tau gitu David langsung aja masuk daritadi.
Ketika David masuk ke kamar Jordan yang lebih cocok disebut gua berhantu saking gelapnya. David melihat adiknya masih bergelung nyaman dibawah selimut.
Tanpa ampun David menarik selimut itu dan membuat tubuh Jordan jatuh ke lantai.
"Akhhhh" Teriak Jordan saat merasakan ngilu yang mulai menyerang.
Dengan separuh nyawa yang terkumpul, Jordan mendongak dan melihat David berdiri menjulang di depannya.
Mata coklat gelap kakaknya menyorot tajam. Jordan meringis melihat tatapan tajam kakaknya, membuat Jordan yang tadinya mau ngamuk karena tidurnya terganggu akhirnya menampilkan cengiran tanpa dosa.
"Eh Abang, pagi-pagi udah ganteng aja, bang."
"Gak usah cengengesan!" Semprot David. "Asal lo tau, semalem ada polisi datang nyari lo."
"Famous juga gue dicariin polisi," gumam Jordan, suaranya parau.
David menjitak kepala Jordan cukup keras, "Mikir! Lo udah mau lulus, berubah kek. Mau sampe kapan hidup balangsakan?"
Jordan ngusap keningnya yang dijitak sambil nunduk. "Iya maaf, nanti gak gitu lagi."
"Dari kemarin-kemarin bilangnya gitu. Tapi lo terus ngulang tawuran, balapan liar, bolos..."
Dan dimulailah sesi ceramah David. Jordan mendengarkan tanpa minat. Rutinitas Jordan setiap pagi memang selalu diawali oleh ceramah panjang kalo bukan dari orangtuanya ya dari kakaknya.
Beberapa menit kemudian, David menyelesaikan siraman rohaninya. Jordan sudah siap dengan seragam sekolahnya yang sedikit urakan.
Di meja makan tidak hanya ada David, tapi juga Liam dan Calista. Liam duduk di ujung, tempat kepala keluarga.
Pria paruh baya itu tampak sibuk dengan koran harian dan kopi paginya.
"Pagi," Sapa Jordan membuat Liam mengalihkan perhatiannya dari koran.
"Oh akhirnya kamu bangun, papa kira kamu bakal tidur sampai kiamat datang." Alih-alih roti isi gurih buatan ibunya, sarapan pagi Jordan dibuka oleh sindiran halus Liam.
"Tadinya emang mau gitu. Cuma abang berisik banget gedor-gedor pintu."
"Abang kamu kaya gitu buat kebaikan kamu. Coba kalo gak dibangunin, kamu telat lagi." Calista menghidangkan sepiring roti isi dan Jordan langsung menyantapnya.
"Hari ini jangan buat masalah. Kemarin wali kelas nelpon papa gara-gara kamu bolos lagi. Belum juga semalam polisi datang ke rumah."
"Iya, gak bakal."
"Jordan, papa serius."
"Iya aku juga serius, kalo pelajarannya gak ngebosenin."
"Jordan," Peringat David agar adiknya tidak keterlaluan.
Jordan menghela nafas, bukan salah dia kemarin bolos. Kemarin ada hal penting dan Jordan tidak bisa mengabaikannya.
Lalu tanpa menghabiskan sarapannya Jordan bangkit dari duduknya, tak ingin lagi mendengar omelan keluarganya.
"Jordan, lo mau kemana?"
"Berangkat. Udah siang. Takut telat lagi."
"Setidaknya habiskan dulu sarapan kamu." Ucap Calista.
"Udah keburu kenyang denger omongan kalian."
Bagi orang-orang, Liam dan Calista adalah dua orang sial yang memiliki anak sebebal Jordan. Liam tak terhitung bolak-balik ke kantor polisi menjamin Jordan tertangkap balapan liar. Calista menghabiskan air mata menangisi masa depannya yang suram.
David juga adalah anak sempurna, cerdas berbanding terbalik denga Jordan yang semuanya minus kecuali wajahnya.
Orang-orang selalu membandingkan kakak beradik yang bagaikan bumi dan langit itu.
Namun Jordan tidak peduli. Dia menyayangi Liam dan Calista, tapi David? Dia juga menyayangi kakaknya, karena walaupun sering kesal, David tetap tidak bisa membenci adiknya itu.
.
.
.
Pagi ini di sekolah dimulai dengan cara biasa. Jordan duduk di bangku paling belakang, kakinya diangkat ke meja, mengabaikan guru Sejarah menjelaskan Revolusi Industri seolah berita paling menarik.
Dia tidak bisa bolos karena ayahnya sudah memberi peringatan.
Di bangku depan, duduklah antitesis Jordan. Gabriel.
Gabriel adalah cowok nerd kacamata tebal, kemeja dikancingkan sampai kerah atas, danrambut klimis.
Sangat berbanding terbalik dengan Jordan. Ironisnya hanya Gabriel yang mau berteman dengan Jordan.
Sejujurnya Jordan tidak peduli saat Gabriel di dekatnya karena Gabriel cukup berguna untuk sumber contekan.
Gabriel adalah juara kelas abadi, dan sasaran empuk setiap bully, itu sebabnya dia selalu di dekat Jordan untuk mencari perlindungan.
Hubungan pertemanan mereka hanyalah timbal balik.
Tapi pengecualian untuk Vino.
Vino adalah putra kepala sekolah. Status itu memberinya hak istimewa tak tertulis: berbuat semena-mena tanpa takut hukuman.
Jordan tidak pernah mencari gara-gara duluan, terlalu malas untuk itu. Tapi dia memiliki aturan: ketika diganggu, Jordan akan membalas berkali-kali lipat.
Dan Vino, entah kenapa, selalu mencari masalah pada Jordan dengan menindas Gabriel.
Meskipun Vino selalu kalah berkelahi dengan Jordan tapi itu orang gak pernah kapok. Setelah babak belur, Vino selalu berperan sebagai korban.
Jordan muak. Sangat muak.
Puncaknya terjadi saat istirahat kedua. Jordan di kantin menyesap es coklatnya, ketika Gabriel datang tertatih, wajah babak belur lagi.
"Lo kenapa?"
Gabriel yang baru duduk tidak langsung menjawab, ujung bibirnya robek meringis menahan sakit.
"Gakpapa, gue cuma gak sengaja ngebentur tembok— AKHHH!" Gabriel berteriak saat Jordan mencengkram bahunya.
"Kenapa diteken!? Sakit tau!"
Jordan terkekeh sinis, "Lain kali nyari alasan yang kreatif. Nabrak tembok mulu, lama-lama bosen itu tembok lo tabrakin."
Gabriel nunduk, ucapan Jordan benar. Setiap wajahnya babak belur, ia beralasan terbentur tembok. Jelas itu ulah Vino dan antek-anteknya.
Jordan menghabiskan es coklatnya dan meletakkan cup kosong dengan denting keras. Dia bangkit dengan amarah yang dipendam mulai mendidih, terlihat dari matanya yang menajam walaupun wajahnya datar.
"Lo mau kemana?"
"Nyari tikus."
"Gak usah bales Vino. Ini gak parah," tahan Gabriel menahan lengan Jordan.
Jordan menepis kasar. "Lepas. Gue gak butuh ijin Lo."
"Poin lo udah banyak! Sekolah bakal punya alasan ngeluarin lo!" suara Gabriel bergetar takut.
"Gue nggak peduli. Sekolah ini sampah."
"Seenggaknya pikirin orang tua lo..."
Kata-kata Gabriel tertahan. Itu titik lemah Jordan. Liam dan Calista.
Jordan terdiam. Bayangan wajah kecewa ibunya melintas. Tapi amarah itu kembali lebih kuat.
"Kalau bajingan itu nggak dikasih pelajaran, dia nggak bakal jera. Dia mikir bisa ngelakuin apa aja. Kalopun gue dikeluarin, gue puas udah ngehajar tikus itu."
.
.
.
Gedung belakang adalah area terbengkalai, tembok penuh vandalisme, dan gudang. Markas rahasia siswa yang merokok, bolos, atau melakukan hal buruk.
Saat tiba, Jordan melihat Vino dan empat temannya berkumpul. Beberapa siswi duduk berseragam ketat tertawa mengisap rokok.
Jordan jijik. Dia bandel, tukang pukul, tapi punya prinsip. Ayahnya ketat soal hal dilarang. Dia tak sentuh narkoba, tak minum alkohol di sekolah, tak melecehkan perempuan. Kelakuan geng Vino benar-benar sampah.
"Wah, sampah sering ngumpul di tempatnya. Gue gak perlu susah-susah nyari," ucap Jordan berdiri beberapa langkah dari Vino.
"Liat siapa yang datang," seringai Vino membuang rokoknya. Wajahnya meremehkan. "Pahlawan kesiangan kita."
Teman-temannya tertawa dipaksakan.
Jordan menatap Vino dengan mata menggelap. Udara di taman terasa berat, tegang.
"Vino," suara Jordan rendah berbahaya. "Gue bilang berkali-kali. Kalo ada masalah sama gue, langsung datang. Jangan. Sentuh. Gabriel. Pengecut banget. Malu sama otot balon lu."
"Takut banget! Emang apa yang bakal lo lakuin? Mukul gue?"
"Tapi bokap lo lagi nggak sekarang,"
Wajah Vino memerah. Amarah menguasai dirinya. "Hajar dia!"
Empat cowok maju serentak mengepung. Jordan melepas kemeja, menyisakan kaos hitam ketat.
Perkelahian pecah. Serangan kanan dihindari Jordan. Dia merunduk, melayangkan uppercut ke rahang, lawannya ambruk. Tiga lainnya menerjang.
Jordan bergerak lincah, cepat, akurat. Dia menendang lutut satu pengeroyok tersungkur, menyikut wajah yang lain. Perkelahian dikuasai Jordan tak tergoyahkan.
Melihat anak buahnya tumbang, Vino bermain kotor. Dia memukulkan botol bir kosong ke punggung kepala Jordan dari belakang.
PRAK!
"JORDAN!!" Teriak Gabriel yang baru datang.
Botol pecah. Jordan terhuyung, kepala sakit, pandangan kabur. Darah mengalir dari luka membasahi kaos hitamnya.
Gabriel yang melihat tak segera membantu, terlalu pengecut terlibat perkelahian.
Melihat Jordan limbung, geng Vino menerjang, menjatuhkannya ke tanah gersang. Pukulan dan tendangan bertubi-tubi menghujani tubuh Jordan.
Vino berdiri menyeringai menang menendang rusuk Jordan. "Gimana rasanya? Masih mau sok jagoan?"
"Sialan, bener-bener pengecut lo!" mengerang Jordan menahan sakit. Darah menghalangi pandangan. Putus asa merayap. Dia belum pernah kalah separah ini.
Vino memukul belakang lehernya membuat kepala Jordan luar biasa sakit.
Melihat Jordan dipukuli, Gabriel patah. Pengecut itu melepaskan kacamata dan berlari menerjang.
"Lepasin Jordan!" Gabriel menarik teman Vino.
Tapi Gabriel tidak bisa bertarung. Satu pukulan mudah menjatuhkannya. Gabriel tersungkur berdarah.
Melihat Gabriel dipukuli karena menyelamatkannya, Jordan mengumpat dalam hati. Dasar bodoh, datang di situasi begini!
Diambang kesadaran melihat ketidakberdayaan Gabriel, Jordan sangat marah. Itu bukan amarah biasa, tapi amunisi murni, pekat, menghancurkan.
Enggak. Ini gak boleh berakhir kaya ini. Gue gak akan biarin bajingan ini menang.
Tekadnya menyala, keinginan untuk menghancurkan. Saat itulah hal tak terduga terjadi yang mengubah hidup Jordan selamanya.
Udara taman tiba-tiba dingin. Tawa Vino menjauh digantikan dengungan keras. Kekuatan dahsyat meledak dari tubuh Jordan, panas, liar tak terkendali.
BUM!
Gelombang energi kasat mata mementalkan geng Vino terlempar beberapa meter. Jordan perlahan berdiri. Rasa sakit digantikan kekuatan meluap.
Tubuh Jordan diselubungi cahaya merah berdenyut, memancarkan panas. Mata coklatnya hilang menjadi merah darah menyala mengerikan. Wajahnya dingin tanpa emosi.
Vino membeku. Rasa takut mencengkeram. Dia melihat sesuatu yang bukan manusia.
"Apa... itu?" gumam Vino gemetar.
Jordan bergerak terlalu cepat. "Gue bakal bikin lo ngerasain neraka!"
Mimpi burukpun dimulai. Jordan menghajar membabi buta tanpa ampun. Setiap pukulan menghancurkan tulang, ini pembantaian iblis.
Cewek-cewek menjerit histeris berlarian panik.
Melihat Jordan kesetanan, Gabriel merayap. "Jo! Berhenti! Lo bisa bunuh mereka!"
Jordan tak mendengar, berdiri di atas Vino yang menangis memohon. Jordan mengangkat tinju energi merah mematikan.
"JORDAN, BERENTI!" Gabriel menerjang menangkap lengan Jordan. Sentuhan dingin menahan tangan panas. Gabriel menatap mata merah, penuh ketakutan dan permohonan. "Berenti."
Suara Gabriel menembus dengungan. Kilatan merah memudar menjadi coklat, energi sirna meninggalkan lelah luar biasa.
Jordan mengerjap, menatap tangannya dan Vino yang tergeletak kengerian. Taman hancur lebur, tubuh terkapar, darah berserakan.
"MONSTER!" histeris Vino merangkak mundur lari ketakutan meninggalkan semua.
Hening. Jordan menatap Gabriel terengah-engah. Ketakutan merayap. "Apa yang udah gue lakuin?"
"Gue nggak tahu, Jo," jawab Gabriel lemah.
Langkah kaki berderap. Kepala sekolah, guru, dan satpam berlarian masuk. Vino berdarah menunjuk Jordan dengan kilatan licik. "Itu monsternya, Pak! Dia yang ngelakuin ini! Dia mau bunuh kami!"
Semua mata menatap Jordan benci dan ngeri. Jordan berdiri berlumuran darah, tak bisa menjelaskan, tak memahami.
Jordan tahu hidup normalnya baru saja berakhir. Dan mimpi buruk sesungguhnya... baru dimulai.