

Jakarta malam ini seolah tidak memiliki belas kasihan. Hujan badai turun dengan brutal, menghantam aspal ibu kota dengan suara yang memekakkan telinga, seakan ingin menelan seluruh kebisingan kota di bawah kegelapan langit yang pekat. Namun, bagi Aletta, gemuruh petir yang membelah angkasa masih jauh lebih tenang dibandingkan badai yang sedang menghancurkan hidupnya saat ini. Di balik pintu kaca gedung yang selama ini ia sebut rumah sekaligus tempat suci bagi idealismenya, semuanya telah berakhir dengan cara yang paling tragis.
Aletta berdiri mematung di trotoar yang dingin. Gamis abu-abunya yang elegan kini basah kuyup, menempel berat di kulitnya yang menggigil karena suhu yang menusuk tulang. Kerudung instan yang ia kenakan sudah tidak lagi mampu melindungi wajahnya dari terpaan angin kencang. Di depannya, gedung berlantai lima dengan desain futuristik minimalismahakarya terakhir mendiang ayahnya telah berubah menjadi pemandangan yang paling mengerikan dalam hidupnya. Gedung itu bukan sekadar tumpukan beton; itu adalah napas dan keringat keluarganya selama tiga dekade.
Garis polisi berwarna kuning terang melintang dengan angkuh di depan pintu utama, seolah-olah menjadi penghalang tak kasat mata yang memutus akses Aletta dari warisannya sendiri. Beberapa pria berseragam tampak berjaga di sana dengan wajah tanpa ekspresi, berdiri kokoh memastikan tidak ada seorang pun yang masuk ke dalam aset yang baru saja dinyatakan disita oleh negara atas tuduhan yang sama sekali tidak dipahami Aletta.
"Maaf, Mbak Aletta. Saya hanya menjalankan tugas. Sesuai surat keputusan pengadilan terkait kasus penggelapan dana dan pencucian uang, gedung ini beserta isinya resmi disita," suara Pak Satpam yang sudah bekerja di sana sejak zaman ayahnya terdengar penuh rasa iba, namun tak mampu mengubah kenyataan pahit yang tertulis di atas kertas putih itu.
Aletta meremat tas tangannya hingga buku-buku jarinya memutih dan gemetar. Di dalam tas itu, ia memeluk sebuah gulungan cetak biru yang sempat ia sambar dalam kepanikan sebelum petugas datang menyegel ruang kerjanya. Hanya itu. Hanya lembaran kertas itulah sisa kerja keras ayahnya selama tiga puluh tahun yang bisa ia selamatkan dari jarahan konspirasi yang licik.
Aletta ingin berteriak, tapi tenggorokannya terasa seperti dicekik. Raka pria yang dua minggu lagi seharusnya mengucap janji suci di depan penghulu bersamanya. Pria yang selama tiga tahun ini menjadi sandaran Aletta setelah ayahnya wafat. Ternyata, pria itu hanyalah parasit berbaju pangeran. Raka tidak hanya membawa kabur dana operasional proyek Golden Tower, tapi juga menjaminkan sertifikat gedung firma Archi-Grace ke lintah darat kelas kakap atas nama Aletta.
Kini Raka menghilang bak ditelan bumi. Ponselnya mati, rumahnya kosong, dan semua asetnya sudah dipindahtangankan. Raka meninggalkan Aletta dengan tumpukan hutang miliaran rupiah dan nama baik yang hancur berkeping-keping.
Lutut Aletta akhirnya menyerah. Ia jatuh terduduk di atas aspal yang dingin dan kasar. Air matanya mengalir deras, menyatu dengan air hujan. Ia merasa seperti arsitek bodoh yang membangun gedung megah di atas pasir hisap. Semuanya runtuh dalam satu malam.
"Ayah... maafkan Aletta..." bisiknya parau di tengah isak tangis yang menyesakkan dada.
Namun, di tengah penderitaan Aletta yang nyaris hancur, ia tidak menyadari bahwa ada sepasang mata predator yang sedang mengawasi setiap tetes air matanya.
Dari balik kaca gelap mobil Rolls-Royce yang terparkir tenang di seberang jalan, Kenzo Adiguna menyesap cerutu Kuba di tangannya. Aroma tembakau mahal memenuhi kabin mobil yang kedap suara dan hangat, sangat kontras dengan badai yang berkecamuk di luar sana. Bagi Kenzo, pemandangan kehancuran Archi-Grace hanyalah sebuah angka dalam kalkulasi bisnisnya yang dingin. Namun, sosok wanita yang berdiri tegak menantang badai itu menarik perhatiannya lebih dari sekadar urusan angka.
"Bram," suara Kenzo memecah kesunyian kabin, berat dan penuh otoritas yang sanggup menciutkan nyali pria paling berani sekalipun. "Itukah putri Prasetyo? Wanita yang memegang kunci enkripsi algoritma pertahanan di dalam desain Mahakarya itu?"
"Benar, Tuan Kenzo. Dia Aletta Prasetyo. Dialah arsitek tunggal yang memahami struktur internal Mahakarya tersebut setelah ayahnya tiada," jawab Bram, asisten pribadinya, sambil menyodorkan tablet berisi profil lengkap dan catatan rahasia mengenai Aletta.
Kenzo menyeringai tipis, sebuah seringai predator yang telah mengunci mangsa paling berharga dalam karir bisnisnya. Ia tidak peduli dengan hutang-hutang yang menjerat firma itu, atau air mata yang mengalir di pipi Aletta yang memucat. Yang ia pedulikan adalah Mahakarya yang tersembunyi di dalam desain itu sebuah aset strategis yang akan menjadikannya penguasa mutlak di pasar pertahanan masa depan.
"Raka mengira dengan menyita gedung itu dan menghancurkan reputasi Aletta, dia sudah menang," desis Kenzo sambil mematikan cerutunya di asbak perak dengan gerakan perlahan namun pasti. "Dia bodoh. Gedung itu hanyalah cangkang beton yang tidak berharga. Inti dari segalanya adalah wanita yang sedang kedinginan di trotoar itu."
Kenzo melepaskan jas mahalnya, menyampirkannya di bahu dengan gerakan yang tenang namun memancarkan aura dominasi yang mutlak. Ia bukan pria yang suka menunggu nasib, dan malam ini, ia telah memutuskan untuk mengintervensi takdir.
"Buka pintunya. Aku ingin wanita itu tahu bahwa mulai detik ini, hidupnya bukan lagi miliknya sendiri, melainkan menjadi aset milik Kenzo Adiguna," perintah Kenzo dingin.
Langkah kaki Kenzo yang mantap dan terukur membelah hujan yang brutal, mendekat ke arah Aletta yang masih terpaku dalam duka mendalam. Sepatu kulit mahalnya menginjak genangan air dengan suara yang tegas. Di tengah badai Jakarta yang gelap, sang predator resmi melangkah keluar dari bayang-bayang untuk menjemput mahakaryanya yang paling berharga. Malam ini, bukan hanya sebuah gedung yang jatuh, tapi sebuah pengabdian baru akan segera dimulai di bawah kendali Sang Penguasa Adiguna.
Tiba-tiba, suara rintik hujan yang menghantam kepalanya menghilang. Suasana menjadi sunyi secara ganjil, meski badai masih mengamuk di sekelilingnya. Aletta menyadari sebuah bayangan besar kini menaunginya. Sebuah payung hitam lebar telah berada di atas kepalanya.
Aroma parfum maskulin yang sangat berkelas campuran sandalwood, leather, dan cedar yang dingin menyerbu indra penciumannya. Itu adalah aroma kekuasaan. Aroma yang hanya dimiliki oleh pria yang menghabiskan waktunya di ruangan ber-AC lantai teratas gedung pencakar langit.
Aletta mendongak dengan mata sembab dan bulu mata yang basah.
Di hadapannya, berdiri seorang pria yang tampak seperti malaikat maut berpakaian jas mewah. Setelan jas hitam three-piece yang ia kenakan terlihat sangat pas di tubuhnya yang tegap dan atletis. Wajahnya dipahat dengan sempurna; rahang tegas yang dicukur bersih, hidung mancung yang sombong, dan sepasang mata elang yang menatapnya dengan intensitas yang mengerikan.
Kenzo Adiguna.
Darah Aletta seolah membeku. Kenzo bukan sekadar orang kaya. Ia adalah CEO Adiguna Construction Group, raksasa konstruksi yang selama puluhan tahun menjadi rival abadi firma ayahnya. Kenzo dikenal sebagai 'Sang Pemangsa' di lantai bursa. Ia dingin, kejam, dan tidak pernah membiarkan mangsanya lepas.
"Menangis tidak akan mengubah beton yang sudah disita menjadi milikmu kembali, Aletta," suara Kenzo berat, bariton, dan penuh otoritas. Suara itu tidak mengandung simpati sedikit pun, melainkan kenyataan pahit yang ditonjokkan langsung ke wajah Aletta.
Aletta menghapus air matanya dengan punggung tangan yang gemetar. Ia berusaha berdiri, meski tubuhnya masih limbung karena kedinginan. Ia menatap Kenzo dengan sisa-sisa harga diri yang ia miliki.
"Apa yang Anda lakukan di sini, Tuan Adiguna? Menikmati pemandangan kehancuran musuh Anda?" tanya Aletta dengan suara serak. "Jika Anda ingin tertawa, silakan. Saya sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dipertahankan."
Kenzo tidak tertawa. Ia justru melangkah maju satu langkah, memaksa Aletta untuk mundur hingga punggung gadis itu menempel pada tiang lampu jalan yang dingin. Kenzo memiringkan payungnya, memastikan Aletta tetap terlindungi sepenuhnya, sementara bahu jas mahalnya sendiri mulai basah terkena hujan.
"Aku tidak membuang-buang waktuku hanya untuk melihat seorang wanita menangis di pinggir jalan," Kenzo mencondongkan tubuhnya, membuat Aletta bisa merasakan hawa panas dari tubuh pria itu. "Aku di sini karena aku melihat peluang. Dan aku tahu kau butuh tangan untuk menarikmu dari lumpur ini."
Aletta tertawa getir di sela gigilnya. "Anda ingin membantu saya? Setelah bertahun-tahun mencoba membangkrutkan ayah saya? Lucu sekali."
"Bisnis adalah bisnis, Aletta. Ayahmu sudah tiada, dan kau bukan lawan yang seimbang bagiku dalam kondisi seperti ini," mata Kenzo menatap bibir Aletta yang membiru sejenak sebelum kembali mengunci tatapan matanya. "Raka bukan hanya mencuri uangmu. Dia bekerja sama dengan salah satu dewan direksiku untuk menjatuhkan proyek Golden Tower. Itu artinya, dia juga menyentuh wilayahku."
Kenzo meraih tangan Aletta yang dingin. Sentuhannya seperti sengatan listrik yang menjalar ke seluruh tubuh Aletta. "Aku bisa mengambil kembali gedung ini untukmu dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam. Aku bisa menghapus semua catatan hutangmu, dan aku bisa memastikan Raka membusuk di penjara seumur hidupnya. Aku juga bisa memberikanmu takhta kembali sebagai arsitek utama di proyek Golden Tower."
Jantung Aletta berdegup kencang. Penawaran itu terdengar seperti mimpi di tengah neraka. Namun, ia tahu siapa Kenzo Adiguna. Pria ini tidak pernah memberikan makan siang gratis.
"Apa harganya?" tanya Aletta waspada. "Apa yang Anda inginkan dari arsitek bangkrut seperti saya?"
Kenzo menarik sudut bibirnya, membentuk senyum tipis yang tidak mencapai matanya. Senyum seorang predator yang baru saja memojokkan mangsanya di sudut ruangan.
"Aku butuh seorang istri," ucap Kenzo santai, seolah baru saja membicarakan cuaca. "Kakekku memberikan syarat bahwa aku harus menikah sebelum ulang tahun Adiguna Group bulan depan jika ingin tetap memegang posisi CEO penuh. Aku tidak butuh cinta. Aku butuh seseorang yang cerdas, memiliki nama di dunia arsitektur untuk menaikkan citra perusahaan, dan seseorang yang sepenuhnya berada di bawah kendaliku."
Kenzo semakin mendekat, aromanya kini memenuhi seluruh kesadaran Aletta. "Jadilah istri kontrakku selama satu tahun. Patuhi semua aturanku, jangan jatuh cinta padaku, dan lakukan perannmu sebagai Nyonya Adiguna dengan sempurna di depan publik."
"Dan jika aku menolak?" tantang Aletta, meski suaranya bergetar.
Kenzo melepaskan tangan Aletta dan mundur selangkah, membiarkan rintik hujan kembali menyentuh ujung sepatu Aletta. "Maka silakan lanjutkan tangisanmu. Besok pagi, nama Firma Archi-Grace akan dihapus dari sejarah, dan kau akan menghabiskan sisa hidupmu dikejar-kejar penagih hutang sementara Raka bersenang-senang dengan uangmu