Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
HARTA WARISAN TERSEMBUNYI

HARTA WARISAN TERSEMBUNYI

Sung_A | Bersambung
Jumlah kata
98.1K
Popular
172
Subscribe
44
Novel / HARTA WARISAN TERSEMBUNYI
HARTA WARISAN TERSEMBUNYI

HARTA WARISAN TERSEMBUNYI

Sung_A| Bersambung
Jumlah Kata
98.1K
Popular
172
Subscribe
44
Sinopsis
PerkotaanAksiDunia Masa DepanTeknologiKonglomerat
Setelah tragedi yang mengguncang kekaisaran bisnis Wiratama, Maya diterima sebagai sekretaris pribadi CEO yang baru, Baskara. Rekrutmen ini ternyata adalah taktik dari Baskara, seorang ahli teknologi dan manipulator, ingin menggunakan intuisi investigasi Maya untuk mencari tahu siapa pembunuh pemilik lama. Sementara Maya mati-matian menyembunyikan statusnya sebagai mata-mata klien yang berbeda, Baskara sendiri menahan bukti-bukti krusial. Saat mereka berdua terjebak dalam perang digital melawan organisasi bayangan 'Chimera' dan menghadapi kebenaran pahit dari dendam masa lalu Baskara, mereka menyadari bahwa musuh mereka lebih dekat daripada yang mereka duga, memaksa Maya dan Baskara bersatu di medan pertempuran internasional, tempat perasaan profesional berubah menjadi hubungan berbahaya demi mengungkap keadilan yang sudah lama hilang. Bagaimana Baskara dan Maya bisa melalui semua itu?
Deklarasi Perang Dingin

Di ruang ganti kantor utama Wiratama yang dipenuhi kain beludru gelap, bau bunga sedap malam bersaing dengan aroma kulit sepatu yang baru disemir. Acara penghormatan terakhir telah berakhir, namun Raden Baskara masih menerima serangkaian belasungkawa, tiap anggukan kepalanya diukur layaknya gerakan mesin presisi, menolak membiarkan duka pribadi bercampur emosi dalam jiwa jika ada sesuatu yang terlihat di tengah duka korporat.

“Pak Baskara,” bisik Adi, asisten pribadinya yang setia, menjulurkan folder tebal dengan logo perak korporasi. “Kandidat terakhir untuk posisi asisten eksekutif sudah datang. Kita jangan terlalu berlama-lama,”

“Dia menunggu,” respons Baskara, suaranya sedingin marmer di kakinya. Wajahnya yang tampan tampak dingin dan terisolasi. “Perlihatkan di mana dia. Tidak ada keramaian.”

Sepuluh menit kemudian, Maya sudah duduk di kursi baja mahal di hadapan meja Baskara, menyajikan ketenangan yang mencolok, sangat kontras dengan sisa ketegangan yang masih memenuhi Wiratama Corporation setelah kematian tragis pemilik lamanya. Ia seorang investigator swasta dengan pengalaman tempur, tetapi hari ini ia adalah Maya, spesialis IT dan mantan manajer yang mencari ‘stabilitas’. Jas hitamnya profesional namun tanpa cela.

“Curriculum Vitae Anda fantastis, Nyonya Maya,” kata Baskara, mendorong folder tersebut kembali tanpa membacanya, seolah dokumen kertas adalah barang usang yang ia anggap remeh. “Spesialisasi teknologi dan manajemen waktu, sudah clear. Kita lewati formalitas,”

Maya tahu ini bukan wawancara kerja biasa. Ia mencondongkan tubuh sedikit.

“Terima kasih, Tuan Baskara. Apa yang ingin Anda ketahui dari saya?”

“Kenapa Anda pindah jalur dari pekerjaan independen, di mana jam kerja Anda bisa sangat fleksibel, menjadi sekretaris perusahaan dengan jam yang ketat? Mengingat status Anda, hal ini… tidak biasa,”

“Alasannya cukup pragmatis, Tuan Baskara. Saya mencari stabilitas yang ditawarkan oleh korporasi yang besar,” Maya menyahut, memastikan nada suaranya lembut, tidak mengintimidasi.

“Klien yang baik sulit didapat akhir-akhir ini,”

Baskara menyandarkan dirinya. Sikapnya mendominasi ruangan seluas studio dansa ini. “Atau karena pekerjaan independen Anda mulai terasa terlalu… berbahaya?” sindirnya, suaranya seperti bilah pisau. Ia mencungkil langsung ke intinya, membuat Maya merasakan lonceng alarm yang memekakkan telinga di dalam benaknya.

Dia sudah tahu siapa aku. Atau dia mencurigai. Jual saja alibi lama, Maya, instruksi batinnya datang secepat kilat. Ia tidak boleh merusak penyamaran di hari pertama.

“Saya mengurus anak,” jawab Maya santai, memainkan kartu 'ibu tunggal' dengan kesabaran sempurna. “Prioritas bergeser. Sekarang, pekerjaan berisiko tidak sesuai dengan gaya hidup saya. Ini pekerjaan sekretaris yang begitu menenangkan dan prosedural,”

“Prosedural,” ulang Baskara. Jeda panjang dan hening itu seolah sengaja diciptakan untuk membuat keringat dingin menetes di punggung Maya. “Saya ingin mengajukan sebuah skenario, Nyonya Maya. Hanya menguji kemampuan observasi. Bukan sesuatu dari buku teks HRD, tetapi lebih seperti ujian yang diberikan pada... seorang mata-mata.”

Maya menggenggam lipatan bajunya di bawah meja, memaksa ekspresi wajahnya untuk tetap netral. “Silakan, Tuan Baskara.”

“Lihat ruangan ini. Ruangan baru saya. Semuanya sempurna. Menurut Adi, semua kandidat memuji penataan mewah dan ergonomisnya,” Baskara menunjuk. “Tapi saya mau tahu, apa yang Anda lihat yang terlewat oleh setiap kandidat, dan Adi, dan tim kebersihan yang bertugas mengukur kesempurnaan di Wiratama?”

Maya memaksa matanya bergerak cepat dan metodis, mengabaikan dinding berlapis kain mahal. Baskara tahu ia mencari bukti pembunuhan, dan ia sedang mengujinya, tepat di tengah sarang penjahat yang diselimuti sutra. Bukan pot bunga yang baru dibeli atau goresan pada kayu; itu terlalu mudah.

Lalu, pandangannya jatuh pada Baskara. Lebih tepatnya, pada titik fokus di balik bahunya.

“Ada dua pintu tersembunyi di belakang Anda, ditutup oleh panel dinding yang senada,” kata Maya, suaranya kini kembali fokus dan analitis, melepaskan kepura-puraan santai. “Satu mengarah ke toilet pribadi Anda. Yang satu lagi ke koridor keamanan staf. Tapi perhatikan pintu yang kanan.”

Baskara tetap tidak bergerak, tetapi tatapan dinginnya kini memiliki sedikit intensitas yang tak terdefinisikan.

“Kotoran kayu, serbuk sangat halus di antara sambungan bingkai pintu. Ini baru. Seseorang mencoba terburu-buru menyamarkan bekas pembukaan paksa,” Maya menjelaskan dengan ketenangan seorang peretas yang merunut kode. “Itu tidak terlihat oleh orang yang hanya menghargai kemewahan.”

Baskara terdiam. Rahang bawahnya mengeras. Ia berbalik, memeriksa sambungan kayu yang baru. Ekspresi Baskara terhadap kerugian atau kegagalan terlalu samar untuk diidentifikasi, namun ia jelas-jelas terkejut. Adi, asisten yang loyal, mendengus terkejut. Kejadian itu hanya akan diketahui oleh tim keamanan rahasia Baskara sendiri.

“Apa arti kotoran kayu baru ini, Nyonya Maya?” tantang Baskara.

“Entah Anda baru saja merenovasi tanpa tenaga profesional, atau seseorang baru saja berusaha membobolnya dari luar atau sebaliknya. Anda baru kembali ke kantor ini setelah kepergian mendiang pemilik, jadi kerusakannya pasti baru saja terjadi—mungkin terkait langsung dengan insiden yang membuat kursi Anda kosong,” jawab Maya, menjatuhkan teorinya dengan presisi seorang penembak jitu, melampaui apa pun yang diharapkan dari sekretaris mana pun.

“Intuisi yang bagus. Atau kecurigaan yang berlebihan?” tanya Baskara, matanya kini bersinar tajam, seperti predator yang menemukan mangsa baru.

“Saya harap ini yang kedua,” balas Maya, menghembuskan senyuman palsu. “Sebagai sekretaris, saya akan pastikan ini pekerjaan yang prosedural. Tapi saya juga dibayar untuk tidak terkejut oleh kejutan.”

Baskara bangkit dari kursinya, berjalan mendekati jendela, memberikan punggungnya ke arah Maya—tindakan manipulasi kekuasaan klasik. Maya memanfaatkan kesempatan itu untuk menenangkan detak jantungnya yang kembali normal.

“Pekerjaan Anda dimulai besok, jam delapan tepat. Ada beberapa berkas yang harus Anda urus segera, sebelum ada yang mencoba menghilangkannya,” Baskara berujar, seolah Wiratama adalah sebuah lokasi syuting film kriminal, bukan kantor elit. “Ini bukan lagi negosiasi.”

Maya mengambil napas untuk menyatakan terima kasihnya yang sopan. “Tentu, Tuan Baskara. Saya menghargai kepercayaan Anda, terutama…”

“Terutama mengingat Anda jelas mengganti profil Anda sebelum melamar posisi ini?” potong Baskara, kata-kata itu diucapkan santai tanpa menoleh, namun mengguncang inti Maya. Dia berbalik, senyuman tipis, dingin, dan mematikan kini tersampir di wajahnya. “Kualifikasi yang tercantum di CV Anda itu sampah. Semua bisa saya periksa. Apa pun latar belakang yang ingin Anda buang, sudah saya tahu.”

Napas Maya tertahan. Dia terkunci, di ambang keterpaparan. Baskara mendekat, meletakkan tangannya di tepi meja, menciptakan batasan ruang yang intim dan berbahaya. Ia siap untuk menerima penolakan, untuk memulai skema cadangan melarikan diri.

“Anda tidak terlihat seperti sekretaris, Nyonya Maya,” Baskara membisikkan kata-kata itu, pandangannya menjebak mata Maya seolah dia melihat jauh ke dalam misi rahasianya.

Baskara menegakkan tubuhnya, matanya menyiratkan kemenangan gelap dan perencanaan yang sudah lama tersusun. Kata-kata berikutnya menusuk dan dingin.

“Itu yang saya suka.”

.

Lanjut membaca
Lanjut membaca