
- Jumlah kata
- 11.3K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 5
Sinopsis
Devano Mahendra: Pewaris tunggal keluarga Mahendra. Dulu penuh kasih, kini berubah menjadi pria dingin yang didorong oleh obsesi dan balas dendam. Clarissa Adiwangsa: Putri bungsu keluarga Adiwangsa. Terjebak dalam rasa bersalah dan cinta yang belum padam pada pria yang kini bersumpah menghancurkan keluarganya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1
Malam itu, hujan turun seolah ingin membasuh darah yang menggenang di aspal depan kediaman Adiwangsa. Namun, bagi Adrian, air sebanyak apa pun tidak akan bisa membersihkan bayangan ayahnya yang terbujur kaku dengan peluru yang bersarang di dada, peluru yang ditembakkan oleh instruksi langsung dari Baskara Adiwangsa, ayah dari wanita yang ia cintai.
"Kita selesai, Clarissa."
Suara Adrian parau, nyaris tak terdengar di antara deru badai. Di depannya, Clarissa berdiri gemetar. Gaun putihnya ternoda cipratan lumpur, matanya sembap mencerminkan kehancuran yang sama.
" Devano, tolong... aku tidak tahu ayahku akan sejauh itu," rintih Clarissa, mencoba meraih lengan Adrian.
Devano menyentak tangannya kasar. Tatapan mata yang biasanya memuja Clarissa kini hanya menyisakan kekosongan yang mengerikan. "Jangan sentuh aku dengan tangan seorang pembunuh."
"Aku bukan dia!"
"Darahnya mengalir di nadimu," desis Devano, melangkah maju hingga Clarissa terdesak ke pagar besi yang dingin. Ia mencengkeram rahang Clarissa, tidak cukup kuat untuk menyakiti secara fisik, tapi cukup untuk menghancurkan jiwanya. "Mulai detik ini, tidak ada lagi kita. Yang tersisa hanyalah utang nyawa yang harus dibayar lunas."
Kilatan petir menyambar, menerangi wajah Devano yang kini tampak seperti pualam yang retak dingin dan tajam. Ia melepaskan cengkeramannya pada rahang Clarissa seolah-olah kulit wanita itu adalah racun yang membakar jemarinya.
"Pergilah, Clarissa. Masuklah ke dalam rumah terkutuk itu," suara Devano kini datar, jauh lebih menakutkan daripada amarahnya yang meledak tadi. "Sampaikan pada Baskara, bahwa dia tidak hanya membunuh ayahku malam ini. Dia juga baru saja menciptakan musuh yang akan menghancurkan setiap jengkal kejayaannya."
"Devano, kumohon... jangan seperti ini," Clarissa jatuh berlutut di atas aspal yang basah. Isak tangisnya tenggelam oleh suara guntur.
Namun, Devano tidak menoleh lagi. Ia melangkah menuju mobil hitamnya yang terparkir tak jauh dari sana. Setiap langkahnya terasa berat, seolah ia sedang menginjak sisa-sisa hatinya sendiri yang kini telah hancur menjadi abu.
Dua tahun kemudian....
Dua tahun Clarissa hidup dalam pengasingan yang ia buat sendiri, berharap waktu akan menumpulkan belati dendam. Namun, harapannya pupus saat ia menghadiri pesta amal tahunan. Ruangan yang hangat seketika membeku saat sesosok pria melangkah masuk.
Devano Mahendra telah kembali. Bukan sebagai kekasih yang lembut, melainkan sebagai hiu bisnis yang baru saja mengakuisisi 40% saham perusahaan ayahnya secara paksa.
Pria itu tampak lebih dewasa, lebih tegap, dan matanya... matanya kini benar-benar telah kehilangan cahaya kemanusiaan. Saat pandangan mereka bertemu, Devano memberikan senyum tipis yang mematikan.
Clarissa mencoba menghindar ke balkon, namun langkah kaki yang berat mengikutinya. Aroma parfum sandalwood yang familiar, yang dulu membuatnya merasa aman, kini terasa seperti jerat yang mencekik.
"Lama tidak berjumpa. Kau pikir kau bisa bersembunyi di balik gaun mahal ini, Clarissa?" suara berat itu berbisik tepat di telinganya.
Clarissa berbalik, jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan. Devano berdiri di sana, menjulang tinggi, dengan senyum miring yang tidak mencapai matanya yang gelap.
"Devano... apa yang kau inginkan?"
Devano mengulurkan tangan, membelai pipi Clarissa dengan punggung jarinya, sebuah gerakan yang terasa intim sekaligus mengancam. "Ayahmu mengambil nyawa ayahku. Menurutmu, apa yang pantas kuambil darinya sebagai gantinya?"
Clarissa menahan napas. "Uang? Perusahaan?"
Devano terkekeh, suaranya dingin dan kelam. "Terlalu murah. Aku menginginkan sesuatu yang paling berharga baginya. Sesuatu yang akan membuatnya mati perlahan saat melihatnya hancur di tanganku."
Ia mendekat, napasnya terasa hangat di kulit Clarissa yang meremang. "Aku menginginkanmu, Clarissa. Sebagai peliharaanku, sampai dendam ini merasa kenyang."
Clarissa terpaku, lidahnya kelu. Kata "peliharaan" yang keluar dari bibir Devano terasa lebih tajam daripada peluru yang dulu menembus dada ayah pria itu. Di bawah temaram lampu balkon, Devano mengeluarkan sebuah ponsel dari saku jasnya. Layarnya menyala, menampilkan sebuah dokumen digital yang membuat napas Clarissa terhenti.
"Apa itu?" suara Clarissa bergetar.
"Rekaman CCTV dari sudut yang tidak pernah diketahui ayahmu, Clarissa," desis Devano. "Baskara Adiwangsa tidak hanya menarik pelatuknya. Dia memastikan ayahku menderita sebelum mengembuskan napas terakhir. Dengan satu ketukan jari, ayahmu akan menghabiskan sisa hidupnya di sel yang dingin dan lembap. Dia tidak akan bertahan seminggu dengan kondisi jantungnya yang lemah itu, bukan?"
Clarissa menggeleng cepat, air mata mulai menggenang. "Jangan... kumohon. Dia memang bersalah, tapi dia satu-satunya yang kupunya."
"Dan kau adalah satu-satunya miliknya yang paling berharga," Devano menyeringai murni penuh kemenangan. "Ikutlah denganku malam ini. Tanda tangani kontrak penyerahan diri, dan aku akan melenyapkan bukti ini selamanya. Kau menjadi milikku, dan ayahmu tetap bebas di istananya yang mulai runtuh. Adil, bukan?"
Tanpa menunggu jawaban, Devano mencengkeram pergelangan tangan Clarissa dan menariknya paksa, membelah kerumunan pesta. Orang-orang berbisik, namun tak ada yang berani menghalangi sang predator yang sedang membawa mangsanya.
Clarissa didorong masuk ke dalam sebuah kamar luas yang didominasi warna hitam dan abu-abu. Ruangan itu terasa seperti penjara berlapis emas. Di atas meja rias, sudah terletak selembar kertas dan sebuah pena emas.
"Tanda tangani," perintah Devano dingin.
Clarissa membaca baris demi baris. Kontrak itu menyatakan bahwa ia harus tinggal di bawah atap yang sama dengan Devano, melayaninya, dan tidak diizinkan keluar tanpa seizinnya. Ini bukan kontrak kerja, ini adalah kontrak perbudakan emosional.
"Kenapa kau melakukan ini, Dev? Jika kau membenciku, bunuh saja aku," isak Clarissa saat ia menorehkan tanda tangannya dengan tangan gemetar.
Devano berjalan mendekat, berdiri tepat di belakang Clarissa. Ia mencengkeram bahu wanita itu, memaksanya menatap pantulan diri mereka di cermin besar.
"Mati itu terlalu mudah, Clarissa," bisik Devano parau, wajahnya terbenam di ceruk leher Clarissa, menghirup aroma yang dulu sangat ia gila-gilai. "Aku ingin kau hidup. Aku ingin kau ada di sini setiap kali aku memejamkan mata, mengingatkanku pada darah ayahku yang tumpah. Aku ingin mencintaimu sampai kau hancur, dan membencimu sampai aku lupa cara bernapas."
Tangan Devano beralih ke leher Clarissa, melingkar di sana dengan tekanan yang posesif. "Mulai malam ini, kau tidak punya nama, tidak punya hak atas tubuhmu sendiri. Kau hanyalah bayang-bayang di rumah ini. Selamat datang di neraka yang kau bangun sendiri, Sayang."
Clarissa memejamkan mata. Ia tahu, di balik kebencian yang membara itu, ada obsesi yang jauh lebih berbahaya. Devano tidak hanya ingin membalas dendam, ia ingin mengurung cintanya yang sudah cacat dalam sangkar besi.
Malam pertama di kediaman Mahendra terasa seperti tidur di dalam peti mati yang mewah. Clarissa tidak bisa memejamkan mata, setiap sudut ruangan yang dingin itu seolah membisikkan dosa-dosa masa lalu keluarganya.
Fajar belum benar-benar menyingsing ketika pintu kamar diketuk kasar. Bukan sebuah ajakan, melainkan instruksi.
"Tuan besar menunggumu di ruang makan. Tepat waktu atau kontrak itu hangus," suara seorang pelayan terdengar datar dari balik pintu.
Daftar bab
10 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








