Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
SISTEM PEMANGSA

SISTEM PEMANGSA

Ajirasa99 | Bersambung
Jumlah kata
51.2K
Popular
100
Subscribe
8
Novel / SISTEM PEMANGSA
SISTEM PEMANGSA

SISTEM PEMANGSA

Ajirasa99| Bersambung
Jumlah Kata
51.2K
Popular
100
Subscribe
8
Sinopsis
FantasiIsekaiSistemUrbanZero to Hero
Latar Belakang Dunia Dua puluh tahun yang lalu, langit Bumi terbelah oleh "Retakan Dunia" celah dimensi yang memuntahkan dungeon, monster, dan energi mana. Dalam semalam, umat manusia berubah dari penguasa teknologi menjadi spesies yang berjuang untuk bertahan hidup. Di tengah kekacauan ini, lahirlah para Hunter: manusia yang berhasil menyerap mana dan terbangun dengan sistem kekuatan khusus untuk memburu monster serta mengambil inti berharga sebagai penggerak ekonomi dunia baru. Protagonis: Raka Wardana Raka Wardana (22 tahun) adalah anomali di Akademi Hunter Nusantara. Sebagai satu-satunya lulusan yang tidak pernah "Terbangun," ia dicap sebagai "Nol Mutlak" manusia tanpa bakat, tanpa sistem, dan tanpa masa depan. Selama dua tahun, ia bertahan hidup sebagai kuli angkut logistik di gerbang Dungeon Kelas D, menjadi sasaran hinaan para Hunter yang ia layani. Titik Balik Segalanya berubah ketika sebuah sabotase menyebabkan sebuah dungeon meledak saat Raka masih berada di dalamnya. Di ambang kematian, sebuah kekuatan kuno yang bukan merupakan sistem biasa memilihnya: SISTEM PEMANGSA. Hukum Besi: Bunuh. Serap. Berkembang. Sistem ini tidak memanjakan. Raka harus berjuang dengan satu hukum mutlak: setiap makhluk yang ia taklukkan akan menyerahkan esensinya baik itu skill, stat, maupun insting bertahan hidup. Semakin kuat mangsanya, semakin besar evolusi yang ia dapatkan. Konflik & Risiko Namun, kekuatan ini datang dengan harga yang mahal. Setiap penyerapan membawa sepotong naluri monster ke dalam jiwanya. Semakin kuat Raka tumbuh, semakin tipis garis pembatas antara dirinya sebagai Hunter dan monster yang ia buru. Ini adalah kisah perjalanan Raka Wardana; dari seorang manusia yang dibuang dan tidak diperhitungkan, bangkit menjadi predator puncak yang ditakuti oleh seluruh dunia.
BAB 1: NOL MUTLAK

BAB 1: NOL MUTLAK

Bau logam berkarat, keringat masam, dan sisa ozon dari sihir selalu mencekik udara di luar Gerbang Dungeon Delta 7. Bagi Raka Wardana, itu adalah aroma kegagalan yang harus ia hirup setiap hari. Ia menggeser bahu kirinya, meringis pelan saat tali kasar dari peti logistik seberat dua puluh kilogram menggesek kulit bahunya yang memar.

Langit sore Nusapura tampak kelabu pekat, seolah ikut menanggung beban kota metropolitan yang tak pernah tidur ini. Lampu-lampu neon oranye mulai menyala berkedip redup di sepanjang dinding beton area staging. Shift malam baru saja dimulai, dan rutinitas neraka bagi para pekerja tak bersistem kembali berputar.

"Wardana! Peti nomor dua-tiga-tujuh ke gudang barat, sekarang! Jangan lelet!" Teriakan Kang Bowo, mandor shift malam, menembus keriuhan. Suaranya selalu lebih keras dari alarm darurat.

"Iya," jawab Raka datar. Ia tidak membantah, tubuhnya sudah bergerak berbelok ke arah gudang barat sebelum Kang Bowo selesai memaki.

Gudang barat berjarak dua ratus meter dari titik penurunan logistik. Raka sudah menghafalnya di luar kepala. Rata-rata ia menempuh jarak delapan kilometer dalam satu shift, sebagian besar sambil menahan beban yang meremukkan tulang. Di hari pertamanya dua tahun lalu, ia memuntahkan isi perutnya di kilometer kelima. Sekarang, ia tidak merasakan apa-apa kecuali rasa kebas yang sudah menjadi bagian dari ritme pernapasannya.

Tiba-tiba, suasana bising di area staging mendadak hening. Udara di sekeliling Raka terasa berat, seolah gravitasi baru saja dilipatgandakan secara paksa. Raka terpaksa berhenti melangkah. Dadanya sesak. Tekanan aura ini hanya berarti satu hal: Hunter tingkat tinggi baru saja tiba.

Dari arah pintu masuk VIP, sekelompok Hunter berseragam emas melangkah masuk dengan angkuh. Klan Garuda. Di garis paling depan, memimpin dengan postur tegap dan senyum tipis yang tak pernah menyentuh matanya, adalah Aldric Surya Manggala.

Al. Begitu dulu orang-orang di Akademi memanggilnya.

Hunter Kelas A termuda dalam sejarah Asosiasi. Pemilik Sistem Dominasi. Langkah Al membuat udara di sekitarnya bergetar. Saat Al berjalan melewati jalur logistik, matanya tak sengaja bersirobok dengan Raka yang sedang menahan beban peti.

Tidak ada sebersit pun pengenalan di mata Al. Hanya tatapan kosong yang biasa diarahkan manusia pada kerikil kotor di pinggir jalan.

"Singkirkan kuli-kuli ini dari jalanku," guman Al pelan kepada bawahannya. Suaranya pelan, namun membawa gaung aura yang membuat lutut para pekerja biasa bergetar. "Asosiasi terlalu banyak mempekerjakan sampah belakangan ini. Terutama si Nol Mutlak itu."

Raka menunduk dalam-dalam. Ia menggigit bagian dalam bibirnya hingga mengecap rasa besi dari darahnya sendiri. Tangannya mencengkeram peti kayu itu hingga buku-buku jarinya memutih. Tiga kali assessment resmi, tiga kali ia gagal memunculkan sistem. Label 'Nol Mutlak' yang dulu Al sematkan padanya di akademi kini menjadi rantai kutukan seumur hidupnya.

Raka tidak melawan. Ia hanya melanjutkan langkahnya dalam diam. Ia memasukkan peti ke rak gudang, membubuhkan tanda terima yang lecek, dan berbalik. Satu pekerjaan selesai, masih ada belasan peti tersisa untuk menyambung hidup.

—— ✦ ——

Pukul sembilan malam. Shift Raka hampir berakhir. Ia baru saja meletakkan peti terakhirnya di sudut gudang timur ketika suara melengking merobek udara malam.

Tiiiit Tiiiit Tiiiiiit!

Dua nada pendek, satu panjang. Darah di tubuh Raka mendadak terasa sedingin es. Itu bukan alarm pergantian shift atau pelanggaran area. Itu kode merah. Retakan Tidak Stabil.

"EVAKUASI! SEMUA PERSONEL SIPIL KELUAR MENUJU TITIK HIJAU! SEKARANG!"

Pengumuman dari pengeras suara terdengar tumpang tindih dengan jeritan panik. Area staging berubah menjadi lautan kekacauan dalam hitungan detik. Para Hunter pemula berlarian mencari formasi tempur, sementara kuli angkut dan staf sipil saling injak menuju pintu keluar darurat.

Raka melepaskan sarung tangan kerjanya dan berlari. Napasnya memburu cepat. Jantungnya berdetak gila-gilaan menghantam tulang rusuknya. Ia tahu persis ke mana harus pergi.

Namun, ia baru mencapai pertengahan lorong koridor barat ketika dunia seakan meledak.

BOOM!

Gelombang kejut ledakan menghantam punggung Raka seperti palu godam raksasa. Tubuhnya terlempar ke udara. Waktu terasa melambat sedetik sebelum ia menghantam dinding beton dengan bunyi retakan tulang yang memuakkan.

Pandangannya gelap.

Saat Raka membuka mata, telinganya berdenging hebat, menulikan semua suara di sekitarnya. Udara dipenuhi debu beton yang mencekik paru-paru dan bau daging terbakar yang menyengat. Hawa panas dari kobaran api membakar kulit wajahnya.

"Uhuk..." Raka terbatuk keras, memuntahkan gumpalan darah ke lantai.

Bahu kanannya mati rasa total, sementara pelipisnya terasa basah oleh cairan hangat. Panik mulai mencekik lehernya. Bangun, Raka. Bangun atau mati di sini! otaknya menjerit histeris. Insting bertahan hidupnya mengambil alih dengan kasar.

Ia memaksa tubuhnya merangkak, menjauhi kobaran api dari arah gudang utama. Ia menatap lorong evakuasi barat dengan putus asa. Jalur itu hancur lebur, tertimbun bongkahan beton penyangga gedung raksasa. Raka berbalik dengan sisa tenaganya, menyeret kakinya mencari jalan lain.

Koridor utara tertutup dinding api. Pintu darurat timur sudah terkunci otomatis karena sistem keamanannya rusak akibat ledakan.

Satu-satunya jalan yang tersisa adalah lorong selatan. Lorong yang mengarah langsung ke jantung Gerbang Delta 7.

Raka menatap ujung lorong itu dengan ngeri. Bukan sekadar terbuka, gerbang pembatas dungeon itu telah jebol sepenuhnya. Selaput distorsi ruang yang biasanya menjadi pemisah kini robek, menyatukan lorong beton dunia manusia dengan gua batu lembap milik dimensi lain.

Hawa dingin yang menusuk tulang langsung menyergap kulitnya. Bau amis darah basi dan lumut busuk menyerbu penciumannya, membuat perut Raka bergejolak hebat.

Tanpa pilihan lain, ia melangkah masuk. Tubuhnya terhuyung, tangannya meraba dinding batu kasar untuk menopang berat badannya. Ia tak punya senjata. Ia tak punya mana. Ia hanya memiliki rasa takut yang kini membekukan ujung-ujung jarinya.

Tiba-tiba, suara gesekan kuku tajam pada batu terdengar dari kegelapan di depannya.

Langkah kaki. Cepat, serampangan, dan jelas bukan milik manusia.

—— ✦ ——

Dari balik pekatnya bayangan, sesosok makhluk merangkak keluar menuju cahaya lampu darurat yang tersisa.

Goblin Penjarah. Di buku teks akademi, makhluk Kelas F ini selalu digambarkan lemah dan tak berarti. Tapi berhadapan langsung dengannya di lorong sempit tanpa sistem? Ini adalah mimpi buruk murni.

Tingginya hanya sepaha orang dewasa, namun otot-ototnya liat seperti kawat. Kulitnya berwarna hijau pucat dipenuhi bisul dan kudis. Mata merahnya berpendar kelaparan menatap Raka. Dari sela giginya yang kuning dan tidak rata, menetes air liur yang berbau seperti bangkai.

"Grrrk!"

Makhluk itu melompat. Cepat. Terlalu cepat untuk diikuti oleh mata manusia biasa.

Panik meledak di dada Raka. Menghindar! teriaknya dalam hati.

Ia melempar tubuhnya ke samping, tapi gerakannya terlalu lambat karena cedera di bahunya. Cakar kotor goblin itu berhasil merobek lengan kirinya dengan telak.

"Argh!" Raka berteriak saat rasa panas dan perih yang luar biasa menyengat dagingnya. Darah segar menyemprot keluar, menodai dinding batu di belakangnya.

Goblin itu mendarat, mengendus aroma darah Raka, dan terkekeh dengan suara parau yang mendirikan bulu roma. Ia berputar untuk serangan kedua, kali ini mengangkat sebuah pisau berkarat di tangan kanannya.

Raka terhuyung mundur, kakinya gemetar hebat hingga ia nyaris jatuh. Aku akan mati. Aku benar-benar akan mati membusuk di tempat ini. Punggungnya menabrak dinding buntu. Tidak ada lagi ruang untuk mundur.

Saat goblin itu menerjang ke arah lehernya, insting purba Raka mengambil alih. Ia tidak lagi berpikir. Tangannya meraba lantai dengan membabi buta, menyambar patahan kayu tebal dari sisa peti logistik yang terlempar bersamanya, dan mengayunkannya sekuat tenaga ke depan.

KRAK!

Ujung kayu itu menghantam sisi kepala goblin tepat di pelipisnya. Makhluk itu terpelanting keras, tengkoraknya terdengar penyok, lalu ambruk ke lantai batu. Tubuhnya mengejang sebentar sebelum akhirnya tak bergerak lagi.

Raka merosot jatuh ke lantai. Napasnya tersengal-sengal mencari udara. Tangannya gemetar begitu hebat hingga ia tak bisa melepaskan sisa kayu di genggamannya. Keringat dingin bercampur debu menetes dari pelipisnya. Ia ketakutan setengah mati.

Namun, kelegaan semu itu hanya bertahan kurang dari dua detik.

Dari kedalaman lorong yang lebih gelap, terdengar suara geraman lain. Bukan satu. Bukan dua.

Lebih dari selusin pasang mata merah menyala serentak di dalam kegelapan. Bau busuk yang jauh lebih pekat menguar di udara. Suara langkah kaki bergerombol bergema, mendekat dengan pasti ke arah aroma darah Raka.

Raka memejamkan mata erat-erat. Keputusasaan perlahan menelan sisa-sisa harapannya. Luka robek di lengannya terus berdenyut, memompa darah keluar yang membuat suhu tubuhnya anjlok. Penglihatannya mulai berkunang-kunang.

Jadi... begini akhirnya? batinnya getir. Mati sebagai kuli tanpa nama?

Tepat saat kesadarannya hampir terenggut, sebuah denyut panas yang luar biasa ganas menyengat ulu hatinya. Rasanya seperti ada segumpal magma yang dipaksa masuk ke dalam aliran darahnya. Raka mengerang kesakitan, memegangi dadanya yang seolah mau meledak.

Lalu, di tengah kekaburan matanya, sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal muncul.

Sebuah layar transparan berwarna merah darah berkedip-kedip tidak stabil tepat di retinanya. Raka mengerjapkan mata, linglung dan kebingungan. Halusinasi? Apakah otakku sudah mulai mati?

Ia mencoba menyentuh layar itu dengan tangannya yang gemetar, tapi jarinya menembus udara kosong. Teks di depannya terlihat buram pada awalnya, huruf-hurufnya seolah tersusun dari darah yang mengalir, sebelum akhirnya mengeras menjadi serangkaian kalimat yang tajam.

═══════════════════════════════

[ STATUS ]

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

SISTEM PEMANGSA TERDETEKSI

Pengguna Kompatibel Ditemukan

Proses Inisialisasi... ██████████ 100%

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Nama : Raka Wardana

Level : 1

HP : 7 / 40 (Kondisi Kritis: Pendarahan)

MP : 0 / 10

STR : 9

AGI : 8

INT : 11

Skill : —

Inv. : 10 slot (kosong)

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

═══════════════════════════════

Raka menatap layar itu dengan mulut setengah terbuka. Napasnya tertahan di tenggorokan.

Sistem? Dia memiliki sistem?

Tiga kali mesin raksasa milik Asosiasi menyatakan tubuhnya cacat mutlak. Tapi sekarang, saat ia sekarat di lantai dungeon yang bau busuk, sesuatu bangkit memanggil namanya.

Namun, ia tak punya waktu untuk mencerna keajaiban ini. Layar itu berkedip lagi, kali ini disertai peringatan merah yang menyilaukan dan suara dengingan melengking di dalam kepalanya yang membuat Raka meringis menahan sakit.

══════════════════════════════

QUEST PERTAMA TERSEDIA:

[ Bertahan Hidup - Hukum Predator ]

Objektif: Keluar dari Dungeon Delta-7 hidup-hidup.

Peringatan: Ancaman terdeteksi jauh melebihi kapasitas pengguna.

Saran Sistem: Bertahanlah, atau jadilah mangsa.

Reward: EXP +500 | Akses Skill Predasi

Hukuman Kegagalan: Kematian.

══════════════════════════════

"Bertahanlah atau jadilah mangsa..." bisik Raka dengan suara parau. Kata-kata itu terasa berat dan metalik di lidahnya.

Sistem ini sama sekali tidak terasa seperti sistem Hunter normal yang pernah ia pelajari di akademi. Tidak ada sapaan selamat datang. Tidak ada panduan virtual. Hanya insting buas dan ancaman mati yang murni.

Di depannya, gerombolan goblin penjarah mulai melangkah keluar dari batas bayangan. Ada belasan ekor, bersenjatakan gada berkarat dan tulang paha monster.

Namun, bukan kerumunan itu yang membuat sisa darah Raka membeku.

Dari belakang kerumunan makhluk kerdil tersebut, sesosok bayangan raksasa setinggi hampir tiga meter melangkah maju. Udara di lorong itu mendadak terasa terhisap habis. Langkah kakinya yang berat menggetarkan lantai batu tepat di bawah lutut Raka.

Hobgoblin Mutan. Varian Kelas E Tingkat Atas.

Makhluk itu menyeret sebuah palu baja raksasa yang masih meneteskan darah segar, menatap Raka dengan tatapan sadis yang tak dimiliki goblin biasa.

Raka menelan ludah. Tangannya yang masih gemetar meraba puing di sekitarnya, meraih sepotong besi tajam dari patahan rak logistik. Ujung besinya mengiris telapak tangannya sendiri, tapi Raka justru mencengkeramnya semakin erat. Rasa sakit yang menyengat ini adalah sauhnya; menahannya agar tetap sadar.

Indikator HP-nya di sudut mata berkedip merah mengancam. HP: 6/40.

Ia adalah sang Nol Mutlak, terluka parah, sendirian, dihadapkan pada kematian yang absolut. Namun, denyut magma di dadanya perlahan menyebar, membakar rasa takutnya. Ada sesuatu yang buas di dalam dirinya yang kini meraung marah, menolak keras untuk mati berlutut.

Raka memaksa kedua kakinya yang gemetar untuk berdiri tegak. Mata cokelatnya yang selama dua tahun ini selalu terlihat kosong, kini menatap lurus ke arah monster raksasa itu dengan kilau keputusasaan seorang predator yang terpojok.

Sistem Pemangsa telah lahir. Dan malam ini, ia menolak mati sebagai mangsa.

Lanjut membaca
Lanjut membaca