Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
5 Milyar untuk Sang Pemulung

5 Milyar untuk Sang Pemulung

Hisa Nk | Bersambung
Jumlah kata
75.7K
Popular
557
Subscribe
204
Novel / 5 Milyar untuk Sang Pemulung
5 Milyar untuk Sang Pemulung

5 Milyar untuk Sang Pemulung

Hisa Nk| Bersambung
Jumlah Kata
75.7K
Popular
557
Subscribe
204
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalHaremMengubah NasibSupernatural
​Di titik nadir kehidupannya, seorang pemulung bernama Bagus Arya mendapatkan mukjizat dari seorang kakek misterius: sebuah gelang pengubah takdir. Dalam semalam, wajah kusamnya berubah menjadi setampan dewa. Namun, ketampanannya adalah penjara. Apabila gelang itu lepas, dia kembali ke kubangan sampah. ​Keajaiban itu membawanya pada seorang pria–Aldrich Wijaya yang menawarkan imbalan 5 Milyar Rupiah. Syaratnya gila: Dia harus menjadi replika seorang CEO yang telah dilenyapkan. Namun ternyata CEO yang dia gantikan itu adalah seorang Playboy Mesum tingkat tinggi. Bagus dihadapkan pada kelakuan Para Penggoda. Tak tanggung-tanggung dia kewalahan saat menghadapi empat wanita sang CEO. Mulai dari kakak iparnya, sekretaris, anak pemegang saham terbesar di Wijaya Corporation dan dokter pribadi keluarga Wijaya. Di antara gairah memabukkan, cinta terlarang dan kuasa yang menipu. Bagus harus memilih: tetap menjadi budak tampan di bawah kendali Aldrich si iblis berbaju malaikat, atau kehilangan segalanya dan kembali sebagai pemulung.
Bab 1. NAMA PEMBAWA SIAL

Matahari Jakarta siang itu tidak sedang bercanda. Sinarnya yang garang menyapu permukaan Kali Ciliwung yang hitam pekat, membuat uap busuk dari tumpukan limbah menguap ke udara, mencekik paru-paru siapa pun yang berani bernapas terlalu dalam. Di pinggiran rel kereta yang bergetar setiap lima belas menit sekali, seorang lelaki berdiri mematung, menatap gundukan sampah yang sudah setinggi bukit kecil.

Bagus Arya. Itu nama yang tertera di secarik kertas akta kelahiran yang sudah menguning di dasar lemari kayunya yang lapuk.

Namun, tidak ada satu pun bagian dari hidupnya yang bisa dibilang 'bagus'. Kulitnya legam, terbakar matahari hingga teksturnya menyerupai kulit kayu yang pecah-pecah. Rambutnya kaku karena debu dan peluh yang mengering berulang kali. Wajahnya kusam, penuh dengan daki yang sudah jadi kerak permanen, menyembunyikan usianya yang baru menginjak 26 tahun.

"Bagus apanya? Nama doang mentereng, nasib mampus!" umpatnya ketus. Dia baru saja menemukan sebuah botol plastik yang ternyata berisi air kencing, melemparnya kembali dengan rasa muak yang membuncah.

"Mending nama gue 'Sial' atau 'Sampah', sekalian jujur sama takdir kalau gue emang nggak diinginkan di dunia."

Suara lembut mendiang ibunya tiba-tiba melintas di kepala, bening dan kontras di tengah bisingnya klakson kota yang bersahut-sahutan di kejauhan. "Gus, jangan pernah mengutuk namamu sendiri. Nama itu doa yang Ibu langitkan setiap malam. Ibu kasih nama Bagus supaya hatimu, hidupmu, kelak jadi bagus. Biarpun kita di kubangan, hati kamu nggak boleh ikut kotor."

Bagus meludah ke tanah yang becek dan menghitam. "Doa Ibu nggak nyampe ke langit Jakarta, Bu. Langitnya ketutup polusi sama gedung-gedung tinggi punya orang kaya. Tuhan juga kayaknya lagi sibuk dengerin doa orang yang punya mobil, bukan dengerin pengemis kayak kita."

Dia kembali mengais, mencari botol-botol plastik kosong.

Setiap kali dia melewati deretan warung kopi di pinggir gang, bisikan-bisikan itu selalu sampai ke telinganya seperti dengung lalat yang menjijikkan.

“Itu si anak haram lewat.”

“Ibunya aja nggak tahu bapaknya siapa, pantesan idupnya jadi gelandangan.”

Ayahnya pergi entah ke mana saat dia masih berupa gumpalan daging di rahim ibunya. Meninggalkan Bagus dengan label "anak haram" yang melekat lebih kuat daripada aroma sampah di bajunya. Bagus benci ayahnya. Dia benci lelaki yang hanya menitipkan sperma lalu lari dari tanggung jawab, meninggalkan ibunya berjuang sendirian sampai napas terakhir di atas dipan bambu yang berderit.

***

Langkah Bagus terhenti di sebuah gang yang lebarnya tak lebih dari satu meter. Cahaya matahari sulit masuk ke sini, membuat suasana terasa lembap dan suram. Di ujung gang, seorang gadis berusia dua puluh tahun duduk di atas bangku kayu reyot. Rina.

Rina adalah satu-satunya manusia yang memandang Bagus bukan sebagai tumpukan sampah. Sejak ayah Rina meninggal setahun lalu, Bagus mengambil alih peran pelindung. Dia berbagi sisa makanan, dia memastikan tidak ada preman pasar yang mengganggu gadis berkulit sawo matang ini.

"Gus, baru balik?" sapa Rina. Matanya berbinar, sebuah pemandangan langka di tempat yang penuh keputusasaan. "Aku udah masakin nasi. Tadi dapet sisa sayur dari pasar yang masih layak. Makan dulu yuk?"

Bagus hanya melirik sekilas, tangannya masih sibuk merapikan karung goni yang berat. "Simpen aja buat lu, Rin. Gue belum laper. Tadi udah dapet roti sisa di bak sampah gedung depan."

"Gus, jangan bohong. Perut kamu bunyi tuh," Rina mendekat, mencoba menyentuh lengan Bagus yang kasar. "Aku mau ngomong sesuatu. Penting." Sambungnya seraya menatap pria yang masih bau matahari.

Bagus menghela napas panjang, seraya menyeka keringat di dahi dengan punggung tangannya yang kotor. "Apaan sih? Cepetan, gue mau ke pengepul sebelum mereka tutup. Kalau telat, gue nggak dapet duit buat bayar kontrakan besok."

Rina menarik napas panjang. Dadanya naik turun, tangannya meremas ujung daster pudar yang dia kenakan. "Gus... aku udah mikirin ini lama banget. Aku nggak mau kita cuma kayak kakak-adik terus. Aku sayang sama kamu, lebih dari sekadar temen nasib. Aku mau nemenin kamu, susah seneng kita bareng-bareng. Aku mau jadi istri kamu, Gus."

Dunia seolah berhenti berputar sejenak. Bagus mematung. Dia menatap Rina, lalu menatap dirinya sendiri—kaki yang penuh luka, kuku hitam, dan bau badan yang bahkan lalat pun enggan mendekat.

"Lu ngomong apaan sih, Rin? Ngelindur lu ya? Kena panas matahari kelamaan?" suara Bagus terdengar kasar, sebuah mekanisme pertahanan diri.

"Aku serius! Aku nggak peduli kita tinggal di mana, yang penting ada kamu!"

Bagus tertawa, suara tawa yang kering, pahit, dan menyakitkan. "Cinta? Lu liat kaca nggak, Rin? Gue ini sampah. Gue ini anak haram yang nggak jelas asal-usulnya. Lu itu udah gue anggap adek sendiri karena pesan bapak lu. Jangan rusak itu dengan perasaan sampah kayak gini!"

"Tapi aku tulus, Gus! Aku nggak butuh kemewahan!" tangis Rina pecah. Air matanya membentuk garis bersih di pipinya yang berdebu.

"Gue yang keberatan!" bentak Bagus, suaranya menggelegar di gang sempit. "Pergi, Rin! Cari laki-laki yang punya masa depan, yang kerja kantoran, yang punya sepatu mengkilap. Bukan yang tiap hari nungging di tempat sampah kayak gue! Jangan ganggu gue lagi sama urusan nggak bermutu kayak gini. Pergi!"

Rina tersentak. Hatinya yang tulus baru saja digilas habis oleh kata-kata Bagus yang lebih tajam dari pecahan botol kaca. Dia menatap Bagus dengan tatapan hancur, lalu berbalik dan lari sambil terisak, meninggalkan Bagus yang berdiri gemetar sembari memegang dada yang tiba-tiba terasa seperti dihantam palu godam.

Sebenarnya, Bagus ingin mengejar gadis itu, tapi kakinya terasa berat. Dia merasa tidak pantas dicintai.

***

Keesokan harinya, Bagus berjalan menjauh dengan amarah yang masih membara di dada. Dia sampai di sebuah taman kota yang berbatasan langsung dengan kawasan elit. Di sini, rumputnya hijau, dan orang-orangnya wangi. Bagus merasa seperti alien yang terdampar.

Matanya menangkap kilauan botol air mineral di bawah bangku taman. Di bangku itu, duduk dua orang wanita paruh baya dengan pakaian rapi dan tas kulit yang terlihat sangat mahal. Mereka terdengar sibuk membicarakan acara arisan.

Bagus mendekat dengan kepala tertunduk, berusaha sekecil mungkin agar tidak mencolok. Dia membungkuk perlahan, tangannya meraih botol plastik.

"Heh, Kamu! Mau apa kamu?" teriak wanita itu mendadak. Dia berdiri dengan wajah pucat yang kemudian berubah menjadi merah padam karena marah.

Bagus tersentak kaget, botol di tangannya terjatuh. "Maaf, Bu ... saya cuma mau ambil botol bekas ini."

Wanita itu langsung memeriksa tasnya yang terbuka di atas meja. Dia mengaduk-ngaduk isinya dengan wajah panik. "HP saya mana?! Tadi di sini. Kamu ya? Kamu yang ambil!"

"Enggak, Bu! Saya nggak nyentuh apa-apa selain botol ini! Demi Tuhan, Bu!" Bagus membela diri, suaranya gemetar hebat.

"Maling! Tolong! Ada maling hape! Tangkap dia!" teriakan wanita itu membelah ketenangan taman.

Dalam hitungan detik, kerumunan mulai terbentuk. Dua orang pemuda yang sedang lari pagi langsung menerjang Bagus, memiting lengannya ke belakang hingga sendinya terasa mau lepas.

"Ampun, Bang! Saya bukan pencuri! Saya pemulung, cuma cari botol." Bagus meronta, tapi sebuah bogem mentah mendarat di pipinya. Bugh!

"Alah, tampang kayak kamu mah emang udah bakat jadi maling! Tampang kriminal!" teriak seorang pria berpakaian rapi yang ikut memprovokasi.

"Geledah karungnya! Pasti disumpelin ke dalem sampah!"

Karung goni milik Bagus ditarik paksa. Isinya ditumpahkan begitu saja ke aspal taman yang bersih. Botol plastik, kaleng berkarat, sisa makanan yang sudah berjamur, dan plastik-plastik kotor berserakan. Orang-orang itu menginjak-injak hasil kerja keras Bagus seharian dengan jijik.

"Nggak ada di karung, Bang! Berarti dia sembunyiin di kantong celananya!"

Satu tendangan keras mendarat di perut Bagus, membuatnya tersungkur di atas tumpukan sampahnya sendiri. Dia meringkuk seraya melindungi kepalanya saat kaki-kaki yang mulai menghujaminya tanpa ampun.

"Saya ... saya bukan maling...!" lirih Bagus di sela-sela rintihannya. Darah kental mulai mengucur dari sudut bibirnya, membasahi aspal.

"Hajar terus! Biar kapok! Sampah kayak gini emang harus dimusnahin dari Jakarta!"

Di tengah siksaan itu, Bagus menatap langit yang mulai meredup. Dia teringat Rina yang kemarin dia usir. Dia teringat Ibunya. Dia merasa seolah hidupnya memang sudah ditentukan untuk berakhir seperti ini: dihakimi oleh dunia yang tidak pernah memberinya kesempatan untuk menjadi 'Bagus'.

***

Massa semakin beringas. Seseorang sudah mengangkat balok kayu, bersiap untuk mendaratkannya ke kepala Bagus yang sudah terkulai lemah. Mata Bagus sayu, pandangannya kabur karena darah dan air mata. Dia sudah tidak merasakan sakit lagi, hanya rasa dingin yang menjalar ke sekujur tubuhnya.

Di sisi lain, wanita paruh baya yang tadi berteriak tampak kebingungan. Dia meraba-raba saku jaketnya, lalu kembali membuka tas kulit, mengaduk-ngaduk lebih dalam hingga ke lapisan paling bawah yang tersembunyi.

Wajahnya tiba-tiba memucat. Bukan karena marah, tapi karena sesuatu yang dia rasakan terselip di balik lipatan kain di dalam tasnya yang dalam. Jantungnya berdegup kencang saat ujung jarinya menyentuh permukaan benda dingin berbentuk persegi panjang yang tadi dia cari-cari.

Dia menatap ke arah massa yang sedang beringas menyiksa Bagus. Dia ingin bicara, tapi tenggorokannya tercekat. Balok kayu itu sudah diayunkan tinggi-tinggi ke udara, siap menghancurkan tulang tengkorak lelaki yang hanya ingin menyambung hidup dari botol bekas.

"Tunggu! Jangan!" teriaknya, tapi suaranya kalah oleh sorakan amarah orang-orang yang merasa sedang membela keadilan.

Lanjut membaca
Lanjut membaca