Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Mustika Penembus Garis Takdir

Mustika Penembus Garis Takdir

Hadijah_Editri | Bersambung
Jumlah kata
197.6K
Popular
7.4K
Subscribe
645
Novel / Mustika Penembus Garis Takdir
Mustika Penembus Garis Takdir

Mustika Penembus Garis Takdir

Hadijah_Editri| Bersambung
Jumlah Kata
197.6K
Popular
7.4K
Subscribe
645
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalSpiritualMisteriKekuatan Super
Zhardan, seorang pemuda yang hampir putus asa akan keadaan penuh kesialan, tidak sengaja menolong pria buta yang kecelakaan, namun tanpa disangka, situasi itu membuatnya hingga menjadi penerus jiwa sebuah Mustika yang mampu menembus garis takdir seseorang. perubahan hidup yang tiba-tiba berbeda, membawa Zhardan menuju sebuah keberuntungan. Akan tetapi, dibalik semua itu ada jiwa-jiwa yang mengincar Mustika itu, bagaimana Zhardan menjalani kehidupannya, bersama Mustika yang sudah menyatu di jiwanya? ikuti, petualangan, misteri penuh aksi, Zhardan di cerita _MUSTIKA PENEMBUS GARIS TAKDIR_
Masalah Beruntun

"Kiri! Kiri! Jangan lewat situ, Bang!” terdengar suara seorang anak muda yang sedang mengatur parkir di depan sebuah ruko pedagang makanan.

"Ini uangnya, Zhardan... "

Zhardan, begitu orang-orang memanggilnya. Pemuda berusia 23 tahun yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang parkir itu berlari kecil mengatur kendaraan satu per satu.

Ia menyusun sepeda motor dengan rapi dihalaman resto, seolah itu satu-satunya kebanggaan yang ia punya.

“Oke, makasih!” kata Zhardan, sambil mengacungkan jempol.

Ia tersenyum walau hanya menerima lembaran dua ribuan dari para pengunjung restoran tersebut. Sedikit memang, tapi itu rezekinya hari ini.

“Hei, Zhardan!”

Pemuda itu menoleh. Ia tersenyum saat mengenali orang yang memanggilnya dan segera bergegas mendekat.

“Iya, Bang Dani, Ada apa?”

“Kayaknya kau udah nggak bisa lagi jaga parkir di sini, Dan. Mau digantikan orang lain. Maaf lah, ya,” ujar laki-laki itu sambil garuk-garuk kepala.

“Loh? Kok gitu? Kok tiba-tiba kali, Bang? Salahku apa? Terus? yang gantikan siapa?” tanya Zhardan terkejut.

Wajahnya menyiratkan kepanikan, tantu saja, karena Satu-satunya mata pencaharian yang ia andalkan, tiba-tiba akan hilang begitu saja.

“Iya. Ada laporan, kau nggak bagus kerjaannya. Katanya kau suka ninggalin lahan parkir. Hari ini pekerjaan terakhirmu. Udah, ya. Nggak usah ribut,” ucap Dani, tanpa menatap matanya.

“Bang, tunggu! Jangan kayak gini lah. Masa tiba-tiba gitu? Terus aku mau kerja apa? Kalau mau digantikan, bilang jauh-jauh hari lah Bang, jadi aku bisa cari kerja lain. Jangan mendadak gini!” suara Zhardan penuh kebingungan.

Ia mengejar langkah pria itu, menolak menerima kenyataan.

“Loh? Kok malah ngotot pula kau? Udah sana! Ini lahanku. Aku yang punya kuasa. Suka-sukaku lah mau geser kau, kapan pun.” sentak Dani dengan sombong.

“Bang, jangan kayak gitulah, Setidaknya kasih waktu untuk aku nyari kerjaan lain,” pinta Zhardan lirih.

Kedua tangannya mengepal kuat menggenggam semua lembaran uang dua ribu rupiah hasil parkirnya hari ini. Sedikit, tapi ia mengusahakannya dengan keringat.

“Bukan urusanku itu. Makanya kerja yang betul!” laki-laki itu mendengus lalu pergi, tidak perduli dengan perasaan Zhardan.

“Bang Dani! Bang Dani! Tunggu!” Zhardan berteriak. Namun panggilannya menguap begitu saja. Dani tetap melangkah menjauh, meninggalkannya dengan hati yang seperti diremas.

"Habislah aku!" Zhardan mengusap wajahnya kasar,"Gimana ini kalau aku nggak ada kerjaan? Ya Allah, uang kontrakan rumah…” gumamnya lirih.

Pikirannya langsung teringat kontrakan yang belum ia bayar. Dadanya terasa berat.

“Bang, parkir!”

Suara seorang wanita memanggil. Zhardan tersentak. Walaupun hatinya hancur, ia tetap harus menyelesaikan tugas terakhirnya.

"Oke...oke! Lanjut!"

Ia kembali membantu beberapa pengendara membelokkan motor, menerima uang receh yang nilainya terasa semakin kecil dibanding kecemasannya.

Raut wajahnya tidak mampu lagi menyembunyikan kesedihan. Tapi ia terus bertahan, sampai waktu menunjukkan pukul 14.00 WIB.

Saat beberapa motor sudah pergi, meski masih ada beberapa, Zhardan duduk di bawah pohon ceri.

Ia membuka bekal sederhana, beberapa bungkus roti dan air putih. Ia menatap langit, penuh kebingungan.

“Bang Zhardan!”

"Yah... "

Ia menoleh, ternyata yang memanggil adalah adik perempuannya.

“Ada apa, Ratih?” tanya Zhardan.

“Bang, yang punya rumah kontrakan datang. Katanya mau nagih uang sewa. Aku disuruh Mamak manggil Abang,” ujar Ratih dengan suara kecil.

“Oh, itu ya.” Zhardan mencoba tegar. “Ya udah, nanti Abang pulang. Kamu duluan aja. Oh ya, ini bawa roti. Kasih Mamak juga,” katanya sambil memaksakan senyum.

Tapi, hatinya seketika runtuh. Ia menarik napas berat. Banyak sekali beban yang menekan dirinya hari ini, pekerjaan yang akan hilang, uang kontrakan yang harus dibayar, semuanya datang bersamaan seperti angin yang bebas.

“Nggak bisa, Bang. Soalnya yang punya rumah udah datang. Nggak mau nunggu lagi,” jawab Ratih cemas.

Zhardan terdiam sejenak, lalu mengangguk, sambil beranjak dari tempatnya.

“Ya udah, ayo kita ke sana.”

Ia menggenggam tangan adiknya yang baru berusia 10 tahun itu. Mereka berdua berlari kecil memasuki gang sempit. Setibanya di rumah, ia melihat ibunya hanya bisa diam ketika dimarahi oleh pemilik kontrakan.

“Kalian ini ya, sudah ngontrak lama, tapi nunggak terus!” kata Bu Dewi sambil berkacak pinggang, suaranya meninggi. “Nunggak dua bulan, dan tetap santai aja! Ini rumah sewa, bukan tempat singgah gratis!” sentaknya.

“Maaf, Bu…” Zhardan mencoba mendekat, tatapannya penuh rasa bersalah.

“Nah, datang juga anaknya.” Bu Dewi memelototinya. “Gimana ini, Zhardan? Masa udah dua bulan nggak dibayar?” tanyanya.

“Maaf ya, Bu. Nanti kami bayar. Soalnya, memang belum ada,” ucapnya pelan. “Penghasilan juga masih pas-pasan buat makan.” tambah Zhardan.

“Ya tabung lah! Masa nggak mikir ke depannya? Begini aja terus hidup kalian?” gerutu Bu Dewi dengan nada merendahkan. Ia menghembus napas kasar. “Oke, aku kasih waktu tiga hari. Kalau nggak bayar juga, kau dan keluarga harus pindah. Aku nggak mau dibilang jahat cuma karena menagih hakku. Zaman sekarang, salah sedikit viral.” sentaknya.

“Tiga hari, Bu?” Zhardan membelalakkan mata.

“Iya! Dua bulan nunggak, jumlahnya satu juta rupiah. Lumayan, uang juga itu kan?” mata ibu Dewi melirik tajam.

Zhardan terdiam. Kepalanya seperti dipukul kenyataan yang terlalu keras.

“Pokoknya tiga hari. Kalau nggak ada, siap-siap keluar. Aku datang lagi nanti tiga hari lagi, ini senin berarti hari kamis,” kata Bu Dewi sambil menatap tajam ke arah ibunya Zhardan, Bu Dina, yang hanya bisa diam sambil menahan batuk.

“Baik Bu, kami akan usahakan,” jawab Bu Dina lemah, hampir berbisik.

“Assalamualaikum,” tutup Bu Dewi sambil pergi tanpa rasa kasihan.

“Waalaikumsalam…” jawab mereka pelan, hampir tidak terdengar.

'Uhuk...

Begitu Bu Dewi pergi, Bu Dina terbatuk kuat-kuat. Zhardan memapahnya masuk ke dalam rumah.

“Bagaimana ini, Dan? Satu juta dalam tiga hari? itu tidak mungkin,” ucap Bu Dina lemah sambil menahan batuk.

“Ratih, ambilkan air putih,” kata Zhardan kepada Adiknya.

"Maaf, Nak.." Bu Dina menutup wajah sendiri. “Maafkan Mamak ya, kalau saja mamak nggak sakit, mamak masih bisa kerja jadi pembantu, untuk biaya hidup kita” Bu Dina mulai menangis.

"Enggak apa-apa, Mak.." Zhardan memaksa tersenyum, walaupun hatinya juga terasa sesak, “Udah, Mak. Lebih baik istirahat aja. Aku akan usahakan uangnya.” ucapnya menenangkan.

'Uhuk... Uhuk.. '

Ratih memberikan segelas air. Namun sebelum sempat diteguk, Bu Dina tiba-tiba batuk lagi, dan malah lebih parah. Sehingga darah memercik keluar dari mulutnya.

“Mamak! Astaghfirullahaladzim!” Zhardan tersentak. Ratih langsung menangis.

“Ayo, Mak! Kita ke dokter! Cepat!” seru Zhardan panik.

“Berobat ke mana? Uangnya dari mana? Sudah, Mamak nggak apa-apa…” Bu Dina menyeka darah di bibirnya. “Yang penting sekarang, kita cari uang satu juta itu dulu.”

Zhardan menunduk, rahangnya mengeras. Ia mengepalkan tangan di atas lututnya. Dunia terasa semakin menghimpit dadanya.

Hanya tiga hari, dan nyawa ibunya pun dipertaruhkan, karena sedang sakit.

“Bu, istirahat ya. Oh iya, tadi ada roti.”

Zhardan mengambil roti itu, Ia melihat Ratih yang sedang hampir menangis.

Zhardan mengelus kepala adiknya, mencoba kuat. “Nggak apa-apa. Mamak akan baik-baik saja. Abang cari uang sebanyak-banyaknya. Kita akan bawa Mamak berobat. Kita bayar kontrakan. Abang janji…”

Ratih menggigit bibirnya. Ada sesuatu yang ingin ia sampaikan, namun ia tampak takut.

“Ada apa, Dek?” tanya Zhardan lembut.

"Itu, Bang..." Ratih menahan napas. “Aku… disuruh beli buku LKS sama Bu Guru. Kalau nggak bisa fotokopi aja…”

Zhardan memejamkan mata sesaat. “Nggak bisa minjem sama teman?”

Ratih menggeleng pelan. “Nggak ada yang mau ngasih…”

Zhardan seketika terdiam disitu.

Tidak sanggup untuk berkata apa-apa lagi.

“Ya Allah…”

"Aku gak usah sekolah aja, Bang.. " Kata Ratih tiba-tiba

"Loh, jangan gitu.. "

Lanjut membaca
Lanjut membaca