

Jeritan itu menggema panjang … terdengar memantul di dinding batu hitam yang tak pernah mengenal cahaya.
Bau darah, belerang, dan daging terbakar menguat memenuhi udara.
Di sanalah ia berdiri tegak, tak tergoyahkan.
Ia bernama Kael Draven.
Seorang pria menyeramkan meski wajahnya rupawan. Jubah hitamnya menjuntai, tersapu angin panas dari jurang api yang menganga di bawah kakinya. Mata merahnya menyala redup, dingin ... tanpa belas kasihan. Sedangkan di hadapannya, ada seorang wanita dari kalangan manusia yang sedang berlutut dengan tubuh gemetar, rantai besi terlihat sedang melilit pergelangan tangannya.
“Jangan ... tolong ... aku mohon...,” suara wanita itu pecah, nyaris tak terdengar di antara raungan Neraka.
Kael menatapnya datar. Tak ada senyum sedikitpun yang terpampang mengkhiasi wajahnya.
Langkahnya memang pelan, tetapi lumayan mantap. Setiap hentakan sepatu kulitnya terdengar seperti palu yang seakan sudah menjatuhkan vonis.
Ia berjongkok.
Dua jari dinginnya mengangkat dagu wanita itu dengan paksa.
“Menarik,” gumamnya pelan, suaranya rendah dan berat, seperti bisikan kematian. “Biasanya mereka hanya menangis. Tetapi Kau ... masih mencoba berbicara.”
Wanita itu terisak, tetapi matanya ... berbeda.
Tidak sepenuhnya takut.
Ada sesuatu di sana. Keberanian yang aneh. Bodoh ... tapi itu nyata.
“Aku tidak minta diselamatkan,” bisiknya lirih. “Aku hanya ... ingin tahu ... apakah aku benar-benar pantas berada di sini?”
Hening.
Untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun ... Kael tidak langsung menjawab.
Tatapannya menajam. Ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Sesuatu yang seharusnya tidak pernah ada.
Ia bangkit perlahan.
“Semua yang ada di sini,” ucapnya dingin, “telah dihakimi.”
“Termasuk kau?” balas wanita itu, suaranya bergetar ... tapi tidak runtuh.
Langkah Kael terhenti.
Pertanyaan itu terdengar menusuk.
Namun hanya sesaat.
Senyum tipis seketika terukir di bibirnya, senyum iblis yang selama ini membuat ribuan jiwa menyerah tanpa perlawanan.
“Pertanyaan yang salah,” katanya pelan.
Namun entah kenapa ... ia tidak memberikan perintah penyiksaan.
Tidak hari itu.
Tidak pada wanita itu.
Beberapa saat kemudian, rantai itu ... terlepas.
Wanita itu menatap Kael dengan mata melebar.
“Kau—”
“Pergi,” potong Kael dingin. “Sebelum aku berubah pikiran.”
Tanpa menunggu, gerbang kecil terbuka di belakang wanita itu lalu menciptakan sebuah retakan menuju dunia fana.
Dan wanita itu pun menghilang.
Kesalahan itu terjadi dalam sekejap.
Namun dampaknya ... abadi.
Langit Neraka berubah.
Api berkobar lebih liar. Tanah bergetar. Raungan makhluk-makhluk kegelapan terdengar lebih keras dari biasanya.
Kael berdiri di tempatnya, ekspresinya tetap tenang.
Seolah ia sudah tahu ... ini akan datang.
“KAEL DRAVEN!”
Suara itu tiba-tiba terdengar menggema, berat dan menghancurkan.
Langit seolah retak.
Sosok besar muncul dari singgasana api di kejauhan seperti sebuah entitas yang bahkan iblis pun tak berani menatap terlalu lama.
Ia adalah Raja Neraka.
Rantai hitam melesat dari tanah, membelit tubuh Kael dalam sekejap.
Namun ia tidak melawan.
Ia hanya menghela napas pelan.
“Lama sekali,” gumamnya.
Tubuhnya ditarik dengan kasar, diseret melintasi lantai batu yang membara. Percikan api melompat setiap kali tubuhnya membentur permukaan keras.
Namun wajahnya seakan tetap tenang.
Sampai akhirnya ia pun terpaksa dilempar ke tengah arena.
DUAAR!
Tubuhnya menghantam tanah. Retakan menjalar ke segala arah disertai dengan suara yang berdentum keras.
Para iblis lain berkumpul di sekeliling, menyaksikan dengan tatapan haus darah.
“Pengkhianatan,” suara Raja Neraka menggema, penuh murka. “Kau membebaskan jiwa yang telah dijatuhi hukuman abadi.”
Kael mengangkat wajahnya perlahan.
Darah segar seketika mengalir dari sudut bibirnya ... meski begitu senyumnya tetap ada.
“Dia tidak pantas di sini,” jawabnya santai.
Hening.
Kemudian—
LEDAM!
Tekanan luar biasa menghantam tubuhnya. Kael terjerembab, tubuhnya dipaksa menempel ke tanah.
Tulang-tulangnya berderak.
“KAU YANG MENENTUKAN SIAPA YANG PANTAS?” suara itu terdengar tak kalah menggelegar.
Kael terkekeh pelan ... meski darah kini mulai keluar dari mulutnya.
“Setidaknya ... aku mencoba berpikir.”
Kalimat itu adalah pemicu.
Api hitam yang entah dari mana asalnya tiba-tiba saja menyala.
Dua sosok penjaga muncul di belakang Kael, mencengkeram sayap besarnya, sayap hitam pekat yang selama ini menjadi simbol kekuasaannya.
Untuk pertama kalinya....
Mata Kael sedikit membesar.
“Apa kau tahu,” suara Raja Neraka berubah dingin, “hukuman bagi pengkhianat?”
Kael tidak menjawab.
Namun tubuhnya menegang.
Instingnya ... langsung berteriak.
BAHAYA.
“Segala yang membuatmu kuat ... akan direnggut.”
Dan dalam satu tarikan brutal—
CRAASSSHHH!!!
Jeritan itu akhirnya keluar.
Sayap Kael ... dicabik paksa.
Darah hitam menyembur, membasahi tanah Neraka. Rasa sakitnya tak terbayangkan seolah seluruh eksistensinya dihancurkan sekaligus.
Tubuhnya bergetar hebat.
“AAARGH—!”
Erangan mengerikan itu akhirnya terdengar juga. Ia terjatuh, menggeliat. Tangannya mencengkeram tanah, sedangkan kukunya patah satu per satu.
Namun penyiksaan belum selesai.
Simbol-simbol kuno muncul di udara, dan dalam waktu singkat mengikat tubuhnya.
“Mulai sekarang,” suara itu bergema, “kekuatanmu disegel.”
Cahaya hitam menusuk tubuh Kael.
Ia berteriak lagi.
Kali ini lebih lemah.
Lebih mengarah seperti layaknya manusia.
“Dan kau akan dibuang,” lanjut suara itu, “ke dunia yang begitu kau remehkan.”
Penglihatan Kael mulai kabur.
Napasnya tersengal.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya ... ia merasakan sesuatu yang asing.
Takut.
Retakan besar muncul di bawah tubuhnya.
Sebuah jurang.
Sebuah jatuh ... tanpa akhir.
Kael mencoba bangkit, tangannya bahkan masih gemetar.
Namun tubuhnya tidak lagi patuh.
Ia terperosok.
Jatuh.
Semakin dalam.
Semakin jauh dari api Neraka.
Dingin mulai merayapi tubuhnya.
Gelap ... seakan menelan segalanya.
Dan sebelum kesadarannya benar-benar hilang, satu pikiran melintas—
'Apa ini ... kematian?'
Tubuhnya menghantam sesuatu dengan keras.
BRUAAAK!
Namun kali ini ... tidak ada api.
Tidak ada panas.
Yang ada hanya hawa dingin menyeruak dan menyusup hingga ke tulang.
Lalu sunyi.
Kael terbaring, tak bergerak.
Darah segar masih mengalir pelan di bawah tubuhnya.
Napasnya ... hampir tak terdengar.
Dan untuk pertama kalinya....
Sang iblis pemikat wanita itu akhirnya jatuh sebagai makhluk paling lemah di dunia.