Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Aku Muak Menjadi Miskin

Aku Muak Menjadi Miskin

magnus | Bersambung
Jumlah kata
25.7K
Popular
100
Subscribe
3
Novel / Aku Muak Menjadi Miskin
Aku Muak Menjadi Miskin

Aku Muak Menjadi Miskin

magnus| Bersambung
Jumlah Kata
25.7K
Popular
100
Subscribe
3
Sinopsis
PerkotaanAksiPria MiskinUrbanHarem
Arga tidak takut pada hukum. Ia hanya takut pada kemiskinan. Ketika hidup memaksanya memilih antara bertahan atau berubah, Arga memilih jalan yang tidak pernah diajarkan di sekolah. Ia mulai mengambil dari mereka yang memiliki segalanya. Tidak ada yang menyangka pelajar miskin itu mampu mengguncang orang-orang kaya. Tidak ada yang tahu seberapa jauh ia akan melangkah. Sampai suatu hari, seseorang mengetuk pintu rumahnya dan berkata. "Kami tahu apa yang kamu lakukan." Saat itu, Arga sadar, permainan ini baru saja dimulai.
Aku Muak Menjadi Miskin

"Bu… kenapa lampunya mati?"

Suara Arga terdengar dari depan pintu. Ia berdiri di ambang rumah kontrakan mereka, masih mengenakan seragam sekolah yang sedikit basah oleh hujan.

Tasnya tergantung di satu bahu, rambutnya meneteskan air.

Air mengalir pelan di sepanjang gang sempit tempat mereka tinggal, bercampur lumpur dan sampah plastik yang tersangkut di selokan kecil. Bau tanah basah dan air kotor menyeruak tajam ke hidung. Dari kejauhan, terdengar suara mesin motor yang meraung pelan, berusaha melewati genangan air yang semakin dalam.

Lampu gang berkedip redup, seperti kelelahan menerangi jalan yang sempit dan kumuh itu. Beberapa tetangga menutup pintu lebih cepat dari biasanya. Anak-anak kecil yang biasanya bermain di depan rumah sudah tidak terlihat.

Arga langsung membuka pintu.

Di dalam rumah, hanya ada cahaya redup dari lilin kecil yang diletakkan di atas meja plastik.

Ibunya duduk di kursi dengan punggung membungkuk. Tangannya gemetar memegang secarik kertas. Ia tidak langsung menjawab.

"Bu?" ulang Arga, suaranya mulai tegang.

"Kenapa gelap begini?"

Perempuan itu akhirnya mengangkat wajahnya. Matanya merah. Bekas air mata masih terlihat jelas di pipinya.

"Listriknya… mau diputus," jawabnya pelan.

Arga terdiam.

Sejenak, hanya suara hujan di luar yang terdengar, memukul atap seng tanpa henti.

"Maksud Ibu… belum dibayar?" tanyanya.

Ibunya menunduk.

Tidak menjawab.

Itu sudah cukup sebagai jawaban.

Arga meletakkan tasnya dengan keras di lantai. Suara benturan terdengar kaku di ruangan sempit itu.

"Sudah berapa lama, Bu?"

Nada suaranya berubah, bukan marah, tapi tertahan.

Ibunya menarik napas panjang, lalu berkata lirih.

"Tiga bulan."

Arga menatap ibunya dengan mata membesar.

"Tiga bulan?"

"Ibu serius?"

Ibunya hanya mengangguk pelan.

Dadanya terasa sesak. Ada sesuatu yang mendidih di dalam dirinya.

"Kenapa Ibu tidak bilang ke aku?"

Nada suaranya mulai meninggi.

Ibunya langsung menggeleng cepat.

"Ibu tidak mau kamu kepikiran. Kamu harus fokus sekolah."

Arga tertawa pendek, sembari menghela napas.

Bukan tawa senang.

Tawa pahit.

"Fokus sekolah?" katanya pelan.

"Fokus sekolah buat apa kalau kita bahkan tidak bisa bayar listrik?"

Ibunya terdiam.

Kalimat itu menggantung di udara.

Arga berjalan mondar-mandir di ruangan sempit itu. Tangannya mengepal. Nafasnya mulai berat.

"Aku capek, Bu," katanya akhirnya.

Ibunya mengangkat kepala perlahan.

Capek.

Satu kata itu terasa berat keluar dari mulut anaknya, ada rasa kecewa.

"Aku capek lihat Ibu kerja terus."

"Aku capek lihat kita selalu kekurangan."

"Aku capek hidup begini." Jelas Arga.

Suasana menjadi hening,

Ibunya menatap Arga dengan mata berkaca-kaca, anaknya mengkhawatirkannya.

"Jangan bicara seperti itu," katanya pelan.

"Yang penting kita masih hidup dan tetap berpegangan dengan prinsip."

Kalimat itu seperti menyiram bensin ke api di dalam dada Arga.

Ia langsung menoleh tajam.

"Hidup, prinsip?" ulangnya.

"Ini yang Ibu sebut hidup?"

Tangannya menunjuk ke sekeliling rumah.

Ke lampu yang mati.

Ke kipas tua yang berhenti berputar.

Ke dinding yang retak.

"Ini bukan hidup, Bu," katanya dengan suara bergetar.

"Ini bertahan."

Ibunya menutup mulut dengan tangan.

Air mata mulai jatuh lagi.

"Maafkan Ibu…" bisiknya.

Kalimat itu menusuk lebih dalam dari apapun.

Arga langsung terdiam.

Rasa marahnya tiba-tiba bercampur dengan rasa bersalah.

Ia melihat tangan ibunya.

Kasar.

Penuh luka kecil.

Kulitnya menghitam karena sabun dan air.

Tangan itu tidak lagi lembut seperti dulu.

Di sela-sela jari terlihat bekas luka lama yang belum benar-benar sembuh. Kulitnya kering dan pecah-pecah. Kuku-kukunya pendek dan kusam, sebagian terlihat retak akibat terlalu sering terendam air.

Arga menatap tangan itu lama.

Tiba-tiba, sebuah ingatan muncul di kepalanya. Ia teringat saat masih kecil.

Ibunya duduk di halaman rumah orang lain, mencuci tumpukan pakaian yang tinggi. Tangannya bergerak cepat menggosok kain di atas papan kayu. Air sabun memercik ke wajahnya, namun ia tetap tersenyum ketika melihat Arga berdiri di dekatnya.

"Ibu tidak capek?" tanya Arga kecil waktu itu.

Ibunya hanya tertawa ringan.

"Kalau capek, kita makan apa?" jawabnya.

Ingatan itu terasa begitu dekat.

Begitu nyata.

Dan begitu menyakitkan.

Arga menatap kembali tangan ibunya di depan matanya sekarang.

Tangan yang sama.

Tangan itu adalah bukti perjuangan. Dan sebagai tanda kemiskinan.

Ibunya mengusap air mata dengan ujung kerudung.

"Ibu sudah berusaha, Ga," katanya pelan.

"Ibu kerja dari pagi sampai malam."

"Ibu cuci baju orang."

"Ibu setrika."

"Ibu pinjam uang sana-sini."

Suara ibunya mulai pecah.

"Tapi tetap saja tidak cukup."

Kalimat terakhir itu keluar seperti bisikan putus asa.

Arga menelan ludah.

Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang selama ini tidak pernah ia lihat dari ibunya.

Putus asa.

Dan itu menakutkan.

Sangat menakutkan.

Tiba-tiba terdengar ketukan keras di pintu.

TOK ! TOK !! TOK !!!

Ibunya langsung menegang.

Arga menoleh.

Suasana berubah menjadi tegang.

"Siapa itu?" tanya Arga.

Ibunya tidak menjawab.

Wajahnya pucat.

Arga berjalan menuju pintu, lalu membukanya.

Di depan rumah, berdiri dua orang pria mengenakan seragam perusahaan listrik.

Wajahnya datar.

Tidak ramah.

Tidak marah.

Hanya dingin.

"Selamat malam," katanya singkat.

"Kami dari petugas PLN ibu."

Arga langsung mengerti, ini perusahaan listrik negara yang tidak ada saingannya nanum tetap merugi. Tidak jarang beberapa oknumnya sering bermain-main dengan listrik, walaupun saat ini Arga menyadari bahwa merekalah yang salah.

Tanpa penjelasan.

Pria itu menyerahkan sebuah kertas.

"Besok pagi, aliran listrik akan diputus jika belum ada pembayaran."

Kalimat itu terdengar sederhana.

Tapi dampaknya seperti ledakan.

Ibunya di belakang langsung menangis, sembari mendekat.

Bukan pelan.

Tapi benar-benar menangis.

Tangisan itu pecah begitu saja, tanpa bisa ditahan. Bahunya bergetar keras. Suara isaknya terdengar berat, seperti seseorang yang sudah terlalu lama memendam kesedihan.

Ia menutup wajah dengan kedua tangan.

Tubuhnya sedikit membungkuk.

Seolah seluruh kekuatan di dalam dirinya tiba-tiba runtuh.

"Tolong… beri waktu sedikit lagi," katanya dengan suara gemetar.

Tangannya terulur pelan ke arah petugas, namun tidak berani menyentuh. Suaranya pecah di tengah kalimat, tersendat oleh tangis yang semakin kuat.

Matanya merah.

Basah.

Dan penuh rasa takut.

Arga berdiri kaku di belakang.

Ia belum pernah melihat ibunya seperti ini.

Selama ini, ibunya selalu terlihat kuat.
Selalu terlihat sabar.
Selalu terlihat tegar.

Pria itu hanya menggeleng.

"Kami hanya menjalankan tugas, Bu. Dan ini peringatan terakhir kami, listriknya di putus sementara," Jelasnya.

Lalu mereka pergi.

Begitu saja.

Tanpa peduli.

Pintu ditutup.

Sunyi.

Hanya suara hujan.

Dan isak tangis yang mulai pelan.

Arga berdiri di tengah ruangan, sembari mengingat kalimat “Di kota besar, yang miskin bukan tak bekerja, mereka tak terlihat.” Ia pernah membaca novel “Jakarta Undercover” yang dibuat oleh Moammar Emka yang mengungkap sisi lain dari Ibu Kota.

Ia diam.

Tangannya perlahan mengepal.

Matanya menatap ke depan.

Kosong.

Namun di dalam dadanya, sesuatu mulai berubah.

Sesuatu yang gelap.

Sesuatu yang keras.

Ia menatap ibunya yang masih menangis.

Lalu berkata dengan suara rendah, hampir seperti janji pada dirinya sendiri.

"AKU MUAK MENJADI MISKIN."

Ia menarik napas panjang sembari berkata pelan.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar yakin pada satu hal.

Suatu hari nanti,

aku akan menjadi sangat kaya.

Dengan cara apapun.

Lanjut membaca
Lanjut membaca