

Wira. Sebuah nama yang singkat, padat, dan sering dianggap membawa keberuntungan. Namun bagi pemiliknya, kenyataan hidup justru terasa berbanding terbalik dengan arti namanya.
Sejak kedua orang tuanya berpulang saat ia masih mengenakan seragam putih abu-abu di SMA, dunia Wira menyempit menjadi satu titik fokus: Zahra, adik perempuannya yang masih sekolah.
Pagi ini, ruang HRD terasa lebih dingin dari biasanya. Bukan karena suhu AC yang diturunkan, melainkan atmosfer kaku yang menyelimuti meja kayu jati di hadapannya.
Wira duduk tegak, tangannya yang tersembunyi di bawah meja saling meremas, menyembunyikan telapak tangan yang mulai basah oleh keringat dingin.
Di seberang meja, manajer HRD berdehem pendek sembari membolak-balik tumpukan berkas. Matanya yang tajam di balik kacamata minus menatap Wira sekilas sebelum akhirnya mengeluarkan selembar amplop cokelat.
"Wira," suara itu terdengar datar, namun berat. "Kamu tahu kondisi perusahaan sedang tidak stabil belakangan ini."
Wira menahan napas. Ia sudah bisa menebak kelanjutannya, tapi hatinya tetap menolak untuk percaya.
"Mulai hari ini, perusahaan terpaksa memutus kontrak kerja denganmu. Kamu tidak lagi bekerja di sini."
Hening.
Dunia seolah berhenti berputar sejenak. Kalimat itu menghantam telinga Wira lebih keras daripada ledakan petir.
Di dalam kepalanya, suara itu bergema, memicu rentetan bayangan yang mengerikan: meteran listrik yang berbunyi tit-tit-tit karena kehabisan token, tagihan SPP Zahra yang sudah menunggak dua bulan, hingga piring kosong di meja makan.
Wira mencoba mengatur napasnya yang mulai memburu. "Pak, kalau boleh saya tahu... apa ada kesalahan dalam kinerja saya? Saya selalu lembur dan tidak pernah absen."
Manajer itu menghela napas, raut wajahnya sedikit melunak. "Ini bukan soal kinerjamu, Wira. Kamu salah satu yang terbaik. Tapi kebijakan pusat memang mengharuskan pengurangan karyawan besar-besaran. Saya harap kamu mengerti."
Wira tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, mengambil amplop itu dengan tangan yang sedikit bergetar, lalu melangkah keluar.
Di koridor kantor yang biasanya riuh dengan suara ketikan, Wira berjalan seperti raga tanpa jiwa. "Yaelah... sudah hidup pas-pasan, sekarang malah jadi pengangguran," gumamnya pelan. Ia menyisir rambut hitamnya yang sedikit berantakan dengan jari. "Cari kerja zaman sekarang susahnya minta ampun. Pemerintah sebenarnya punya solusi gak, sih? Apa mereka terlalu sibuk mengurus kursi sendiri sampai lupa rakyatnya masih banyak yang makan hati?"
"Tunggu! Kak Wira!"
Langkah Wira terhenti. Ia menoleh dan mendapati Linda, rekan kerjanya dari divisi administrasi, berlari kecil mengejarnya. Napas gadis itu tersengal saat sampai di depan Wira.
"Linda? Ada apa?" tanya Wira datar.
Linda membetulkan posisi rambutnya yang sedikit berantakan karena berlari. Matanya menatap Wira dengan binar yang sulit diartikan. "Aku... aku baru dengar soal kabar itu. Aku benar-benar sedih Kak Wira harus pergi. Tapi tolong, jangan patah semangat ya, Kak."
Wira memaksakan sebuah senyum getir, lalu mengangkat jempolnya. "Iya, Lin. Makasih. Hidup memang harus lanjut, kan?"
Wira baru saja akan berbalik menuju parkiran saat Linda kembali memanggilnya dengan suara yang lebih pelan, hampir berupa bisikan. "Jangan pergi dulu, Kak..."
"Ada lagi?" Wira menaikkan sebelah alisnya.
Linda menunduk, tangannya sibuk memainkan ujung kemejanya. Wajahnya perlahan memerah. "Sebenarnya... aku sudah lama ingin bilang ini. Aku suka sama Kak Wira. Kakak mau tidak... jadi pacar aku?"
Hening kembali tercipta, kali ini lebih canggung.
Jujur saja, ini bukan pertama kalinya Wira ditembak secara terang-terangan. Sejak masa sekolah, wajahnya memang sering menjadi magnet bagi lawan jenis.
Rahang yang tegas, hidung mancung yang proporsional, dan sorot mata yang dalam membuatnya terlihat seperti aktor yang tersesat di kehidupan rakyat jelata. Tapi bagi Wira, ketampanan itu tidak ada harganya jika perut masih sering keroncongan.
Linda masih mencuri pandang ke arah wajah Wira yang tampak mempesona meski sedang dilanda duka. Sifat Wira yang pekerja keras dan tidak banyak tingkah membuat Linda yakin bahwa inilah pria impiannya.
Wira menghela napas panjang. Ia melangkah satu tindak lebih dekat, lalu menepuk pundak Linda dengan pelan. Pukulan ringan yang membuat jantung gadis itu berdegup kencang.
"Maaf ya, Lin," ucap Wira dengan nada yang terdengar jujur namun tegas. "Aku lagi miskin. Fokusku cuma satu: cari uang buat adikku makan. Pacaran cuma bakal bikin kamu susah nanti."
Tanpa menunggu jawaban, Wira langsung berbalik dan melangkah lebar menuju parkiran. Ia meninggalkan Linda yang masih mematung, menatap punggung tegap itu dengan perasaan campur aduk antara patah hati dan kekaguman yang makin dalam.
Sambil berjalan, Wira menggerutu dalam hati. "Memangnya aku setampan itu, ya? Perasaan setiap berkaca yang kulihat cuma orang capek yang kurang tidur. Lagipula, orang miskin sepertiku bisa kasih makan apa kalau punya hubungan? Kasih makan batu? Yang benar saja."
Wira segera menaiki motor bebek tuanya yang sudah mulai berkarat di beberapa bagian. Ia menghidupkan mesin yang suaranya sudah tidak mulus lagi, lalu menarik gas keluar dari area kantor.
Jalanan Kota Sukabumi sore itu adalah definisi kekacauan kecil. Kemacetan mengular panjang karena jam pulang kantor. Asap kendaraan menyatu dengan udara lembap sisa hujan tadi siang, menciptakan hawa yang pengap dan gerah.
Tiiit! Tiiit! Tiiiittt!
Sebuah motor di belakang Wira terus-menerus menekan klakson, padahal posisi mereka benar-benar terkunci di tengah antrean panjang. Wira yang memang sudah berada di titik didih kesabarannya, akhirnya menoleh dengan tatapan tajam.
"Woi, Mas! Kamu pikir ini jalanan milik kakekmu, hah?" teriak Wira, suaranya menggelegar di antara bising mesin. "Sudah tahu macet total, masih saja berisik!"
Pengendara di belakangnyap, pria berbadan gempal dengan jaket kulit tidak terima. Ia mematikan mesin motornya dan turun. "Bisa santai tidak kalau bicara! Kamu pikir saya tuli?!"
"Oh, berani turun?" Wira ikut turun dari motornya, melipat lengan kemejanya hingga ke siku. Urat-urat di tangannya menegang, siap untuk kemungkinan terburuk.
Suasana di tengah jalan itu mendadak tegang. Pengendara lain mulai menonton, berharap ada tontonan gratis sore itu. Namun, tepat saat pria gempal itu mengepalkan tinjunya.
WIUWW! WIUW! WIUW!
Suara sirine polisi meraung dari kejauhan, diikuti lampu strobo yang berkedip-kedip di jalur berlawanan.
Seketika, nyali kedua pria itu menciut. Wira yang tadinya sudah siap meledak, tiba-tiba mengangkat tangannya pelan ke atas kepala dengan ekspresi kaku.
Si pria gempal juga melakukan hal yang sama, seolah-olah mereka sedang tertangkap basah melakukan kejahatan berat.
Begitu mobil polisi itu lewat, Wira menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia memaksakan sebuah tawa yang terdengar sangat canggung. "Haha... Mas, daripada kita berantem dan masuk sel, mending kita damai saja, ya?"
Pria gempal itu terdiam sejenak, lalu ikut terkekeh hambar sambil menyeka keringat di dahinya. "Iya, Bang. Saya juga minta maaf. Tadi emosi karena panas sekali jalannya."
Ia mengulurkan tangan. Wira menyambutnya dengan jabat tangan yang erat. "Iya, Mas. Macet memang bikin otak agak gesrek. Hati-hati di jalan."
Keduanya kembali ke motor masing-masing. Wira menghela napas lega dalam hati. "Untung ada polisi. Kalau tidak, bisa-bisa babak belur aku hari ini. Sudah jatuh tertimpa tangga, masuk rumah sakit pula."
Setelah perjuangan panjang menembus kemacetan selama hampir satu jam, jalanan mulai sedikit melonggar saat ia memasuki kawasan pinggiran kota yang menuju ke arah rumahnya.
Angin sore mulai terasa sejuk menerpa wajahnya. Wira mulai melamun sedikit, memikirkan bagaimana caranya bicara pada Zahra soal pekerjaannya. Ia fokus pada aspal di depannya, mencoba menenangkan sisa-sisa emosi yang bergejolak.
Namun, saat motornya melaju cepat.
"AWAAASSS!!!"