Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Bara Kejujuran

Bara Kejujuran

OmNdut | Bersambung
Jumlah kata
86.9K
Popular
140
Subscribe
33
Novel / Bara Kejujuran
Bara Kejujuran

Bara Kejujuran

OmNdut| Bersambung
Jumlah Kata
86.9K
Popular
140
Subscribe
33
Sinopsis
PerkotaanAksiZero to HeroNegeri & KeluargaBalas Dendam
​Di Negeri Berdebar, keadilan bukanlah milik mereka yang benar, melainkan milik mereka yang mampu membeli tintanya. ​Baskara—atau Bagas—hanyalah seorang kuli panggul miskin yang hidup lurus di pasar tradisional Sindangsunyi. Namun, hidupnya hancur ketika kedai peninggalan ayahnya digusur paksa oleh aparat korup Garda Benteng (Garben) dengan dalih revitalisasi. Ketika usahanya mencari keadilan justru diperas habis-habisan oleh birokrasi yang busuk, Bagas menyadari satu realita pahit: hukum di negerinya telah direkayasa sedemikian rupa untuk melegalkan ketidakadilan. ​Di titik terendahnya, jalan keluar justru ditawarkan oleh tiga sosok buangan yang dicap sebagai sampah masyarakat: seorang preman terminal, bandar judi kelas teri, dan montir miskin. Mereka menyadarkan Bagas bahwa melempar batu dari luar pagar tidak akan meruntuhkan benteng kezaliman. ​Berbekal latihan fisik dari tumpukan besi berkarat, asupan telur sumbangan preman, dan taktik menipu tes psikologi dari buku usang, Bagas memulai misi gilanya: menyusup ke Akademi Garda Benteng. Ia harus menjadi "bunglon", berpura-pura menjadi boneka penurut agar kelak bisa membakar sistem busuk itu dari dalam. ​Namun, takdir membawanya ke Arga Murni, kota satelit tempat Akademi Garda Benteng berdiri. Di kota pegunungan yang berselimut kabut itu, Bagas menemukan kejutan terbesar: sebuah oase di mana nurani aparat masih hidup, dan seragam Garben benar-benar menjadi pelindung rakyat. Ia menyadari tragedi sesungguhnya: sistem di luar sanalah yang membunuh idealisme para lulusan akademi yang suci ini. ​Kini, Bagas melangkah masuk ke gerbang akademi bukan lagi sekadar untuk membalas dendam. Ia membawa tekad yang jauh lebih besar: bertahan di tengah pusaran para calon penguasa, dan membawa nurani Arga Murni ke tempat di mana hukum telah mati. ​Sanggupkah seorang kuli panggul bertahan dalam penyamaran terbesarnya?
BAB 1: Bara di Kampung Halaman

Udara Sindangsunyi tidak pernah sedingin namanya. Siang itu, terik matahari memanggang atap-atap seng pasar tradisional tempat Baskara—atau yang lebih akrab disapa Bagas—membongkar muatan karung beras dari bak truk. Peluh membasahi kaus oblongnya yang sudah memudar warnanya. Otot lengan dan punggungnya terbentuk bukan dari alat-alat mahal di pusat kebugaran ibukota, melainkan dari tempaan beban hidup berton-ton yang harus ia angkat setiap hari demi menyambung napas keluarganya.

Di Negeri Berdebar, keringat rakyat kecil adalah pelumas gratis bagi mesin birokrasi yang rakus. Bagas selalu tahu akan hal itu, tapi hari ini, realita pahit itu menamparnya tepat di depan mata.

Suara deru mesin mobil ganda gardan membelah keramaian pasar yang becek, berhenti tepat di depan kedai kelontong peninggalan almarhum ayahnya. Tiga orang penegak hukum berseragam cokelat turun dengan wajah angkuh, mengawal dua pria berpakaian safari rapi yang menenteng map tebal berisi dokumen.

Bagas meletakkan karungnya di tanah. Firasatnya memburuk. Ia setengah berlari menghampiri kedai ibunya.

"Sesuai dengan Surat Keputusan Tata Ruang Daerah yang baru diterbitkan minggu lalu, area pasar ini masuk dalam zona merah revitalisasi komersial. Ibu harus mengosongkan lahan ini dalam waktu tiga kali dua puluh empat jam," ucap pria bersafari itu dengan nada datar yang sudah dilatih ribuan kali. Ia menyodorkan selembar kertas dengan stempel merah yang tampak terlalu menyala untuk sebuah surat resmi yang dikeluarkan mendadak.

Ibu Bagas, wanita paruh baya yang tangannya gemetar memegang celemek, berusaha membela diri. "Tapi Pak, surat izin usaha saya masih berlaku sampai lima tahun lagi. Kami bayar retribusi tiap bulan tanpa pernah telat! Tidak bisa tiba-tiba tanah ini digusur begitu saja."

"Izin lama sudah dianulir oleh peraturan yang baru, Bu. Ini sudah sesuai prosedur administrasi," balas pria itu dingin, tak sudi menatap mata ibu Bagas.

Bagas melangkah maju, menengahi ibunya dan para petugas. "Prosedur administrasi apa yang membatalkan hak orang kecil tanpa sosialisasi? Ini namanya perampasan berkedok regulasi."

Salah satu aparat Garben (Garda Benteng, Aparat Keamanan di Negeri Berdebar) berseragam—seorang sersan dengan perut membuncit—mendengus meremehkan. Tangannya dengan santai bersandar pada gagang pentungan di pinggangnya. "Jangan memprovokasi, Anak Muda. Kami di sini hanya mengamankan eksekusi kebijakan. Kalau mau protes, silakan ajukan gugatan ke pengadilan tata usaha di pusat. Itu pun kalau kamu sanggup bayar pengacaranya."

Bagas mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya menatap tajam ke arah seragam kebanggaan dan lambang kehormatan yang terpasang di dada sersan itu. Di situlah letak kebuntuannya. Melawan dengan kepalan tangan hanya akan menjebloskannya ke sel tahanan Garben atas tuduhan melawan petugas. Hukum di Negeri Berdebar sudah direkayasa sedemikian rupa, sehingga sebuah ketidakadilan memiliki dasar hukumnya sendiri.

Hari itu, di bawah terik matahari Sindangsunyi yang menyengat, bara amarah di dada Bagas tidak meledak menjadi perkelahian jalanan. Tiga hari berlalu sejak surat peringatan itu diturunkan, ia mencoba melawan lewat jalur yang benar. Berbekal salinan izin usaha ibunya dan buku usang berisi draf peraturan daerah, ia mendatangi Markas Garben Sektor Sindangsunyi.

Namun, keadilan di tempat itu ternyata punya tarifnya sendiri.

Di meja sentra pelayanan, seorang petugas jaga bersandar malas sambil mengunyah kacang. Ia melirik sekilas ke arah tumpukan map yang dibawa Bagas.

"Laporan sengketa lahan komersial?" Petugas itu mendengus. "Bisa saja kami proses, tapi Bapak butuh 'biaya administrasi gelar perkara awal'. Tahu sendiri kan, bensin mobil patroli tidak diisi pakai doa."

Bagas mengatupkan rahangnya. "Ini bukan sengketa, Pak. Ini pelanggaran prosedur. Di peraturan daerah pasal belasan tertulis jelas bahwa—"

"Hei, dengar ya," potong petugas itu, mencondongkan tubuhnya ke depan. "Di Sindangsunyi ini, peraturan itu milik mereka yang mampu membeli tintanya. Kalau kamu cuma bawa kertas fotokopian dan pasal-pasal hafalan, mending pulang saja sebelum laporanmu ini malah berbalik jadi pencemaran nama baik pihak pengembang."

Bagas pulang dengan tangan hampa. Kedai ibunya akhirnya dibongkar paksa keesokan harinya.

Kejadian kedua menghantamnya hanya selang seminggu kemudian. Saat meminjam pikap tua untuk memindahkan sisa barang dagangan, ia dicegat razia dadakan. Suratnya lengkap, tapi aparat Garben di jalanan itu berdalih format surat jalannya kedaluwarsa berdasarkan "edaran baru dari pusat" yang tak pernah ada wujudnya. Bagas terpaksa menyerahkan sisa uang belanjanya minggu itu agar pikap pinjamannya tidak disita.

Namun, puncak dari rasa muaknya terjadi pada suatu malam yang hujan.

Di depan sebuah kelab malam elit satu-satunya di Sindangsunyi, sebuah mobil sedan sport mewah melaju ugal-ugalan dan menabrak gerobak sate milik Pak Somad, tetangganya yang sudah renta. Pengemudi sedan itu turun—seorang pemuda mabuk yang belakangan Bagas kenali sebagai keponakan salah satu petinggi Garben daerah.

Ketika mobil patroli tiba, alih-alih memborgol pemuda mabuk itu, para petugas justru menutupi plat nomor mobil sport tersebut. Bagas berdiri mematung di trotoar, menyaksikan seorang sersan memaksa Pak Somad yang sedang merintih kesakitan dengan lengan terkilir untuk menandatangani surat pernyataan damai.

"Bapak yang salah karena berjualan memakan bahu jalan, mengganggu ketertiban umum," desis sersan itu kepada Pak Somad yang gemetar ketakutan. "Tanda tangani ini, atau Bapak saya angkat ke sel malam ini juga."

Malam itu, di warkop reyot pinggir jalan Sindangsunyi yang dinding tripleknya penuh coretan arang, Bagas menceritakan semuanya dengan keputusasaan yang memuncak. Di meja kayu yang permukaannya sudah terkelupas itu, ia tidak sendirian. Ada tiga sosok yang bagi warga Sindangsunyi yang "baik-baik", adalah daftar hitam masyarakat.

"Sudah kuduga kau bakal dipalak di perempatan itu, Gas," celetuk Rustam, seorang preman terminal bertato naga pudar di lengan kanannya, sambil menyalakan rokok lintingannya. "Itu pos jatah preman berseragam. Aku saja, yang jelas-jelas tukang palak, masih mikir dua kali kalau mau malak supir angkot yang lagi sepi tarikan."

"Anjing memang," umpat Koh Abun pelan. Ia adalah bandar judi kupon putih kelas teri di pasar. Ia menggeser piring pisang goreng ke arah Bagas. "Aku ini bajingan, Gas. Tiap malam aku ngurusin angka haram. Tapi sebinatang-binatangnya aku, pantang bagiku memeras air mata orang susah. Kalau ada janda tua atau orang sakit mau pasang nomor, pasti kuusir."

"Sistemnya sudah busuk dari akar," gumam Mamat, seorang mekanik bengkel yang tangannya selalu hitam oleh oli. "Percuma kau lapor ke kantor Garben, Gas. Kau lapor kehilangan ayam, kau harus jual kambing buat biaya laporannya."

Bagas memukul meja dengan kepalan tangannya. "Terus kita harus diam saja?! Membiarkan mereka menginjak-injak kita sesukanya?"

Rustam menghembuskan asap rokoknya perlahan. Ia menatap Bagas dengan tatapan serius. "Siapa bilang kita harus diam?"

"Maksudmu kita lawan mereka? Pukul-pukulan di jalan? Kita bakal habis, Tam," balas Bagas sengit.

"Bukan pakai otot, Gas," sahut Koh Abun, menunjuk ke arah dada Bagas. "Pakai otak."

Ketiga pria itu memandang Bagas secara serempak.

"Kau lihat kami bertiga, Gas?" Rustam membuka suara lagi. "Aku sampah terminal. Abun bandar judi. Mamat hidupnya nyelip di kolong truk. Kami nggak punya masa depan di negeri ini. Tapi kau beda, Gas. Kau pintar. Ijazahmu SMA asli, nilaimu tinggi. Dan yang paling penting, paru-parumu bersih. Kau nggak ngerokok, nggak mabuk. Fisikmu kuat."

"Maksud kalian apa?" kening Bagas mengernyit bingung.

"Maksud kami," potong Koh Abun tegas, "kalau kau muak sama anjing-anjing penjaga rumah itu, jangan cuma melempar batu dari luar pagar. Kau masuk ke dalam. Pakai seragam mereka."

Bagas tertegun. "Kalian gila. Masuk ke sana butuh uang ratusan juta! Aku ini kuli panggul pasar!"

"Itu urusan nanti," tukas Mamat, menepuk bahu Bagas. "Negeri Berdebar ini memang lagi sakit parah, Gas. Tapi kalau nggak ada satu pun orang waras yang mau masuk ke pusaran penyakit itu buat ngobatin dari dalam, kita semua bakal mati membusuk di luar sini."

Rustam mengangguk setuju. "Jadilah Garda Benteng, Gas. Jadilah bajingan berseragam, tapi bajingan yang membela kami, orang-orang kecil ini. Rubah sistem brengsek itu dari dalam."

Malam itu, di kelilingi oleh orang-orang yang dicap sebagai sampah masyarakat, sebuah revolusi kecil diam-diam ditanamkan di dalam dada seorang kuli panggul. Kata-kata dari seorang preman dan bandar judi menancap lebih dalam daripada khotbah moral mana pun. Bara amarah di dada Bagas kini telah mengkristal menjadi sebuah tekad.

Lanjut membaca
Lanjut membaca