Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Berondong Penakluk Wanita

Berondong Penakluk Wanita

handakuy | Bersambung
Jumlah kata
44.9K
Popular
4.1K
Subscribe
837
Novel / Berondong Penakluk Wanita
Berondong Penakluk Wanita

Berondong Penakluk Wanita

handakuy| Bersambung
Jumlah Kata
44.9K
Popular
4.1K
Subscribe
837
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalZero To HeroKekuatan SuperHarem
Rehan bekerja sebagai kuli panggul untuk biaya sekolah. Dia tak sengaja menemukan liontin tua di tumpukan sampah saat berada di pasar. Dia yang awalnya kesulitan dalam hal apapun, mendapat kemudahan dan keberuntungan bertubi-tubi. Tangannya mendadak bisa menyembuhkan berbagai penyakit lewat pijatan. Pertemuan tak terduga dengan Maya, janda kaya raya kompleks sebelah, membuat hidupnya berubah total. Maya dan para wanita mendambakan sentuhannya. Demi hidup sehat dan awet muda, mereka rela memberikan apapun untuk Rehan. Rehan yang awalnya miskin dan serba kekurangan itu, kini memiliki banyak uang dan menjadi incaran para wanita.
1. Kuli Panggul Menyedihkan

“Pergi sana!”

Seorang wanita berumur dua puluh lima tahun melemparkan tas jinjing tua dan hampir rusak itu ke jalan dengan ekspresi marah. Isi tas itu sebagian berhamburan karena resleting nya rusak. Hanya ada baju-baju lusuh yang warnanya sudah pudar.

Lalu, ada satu tas lagi dilemparkan tak kalah kasar hingga membuat suara yang cukup keras membentur lantai semen.

“Pergi sana dan bawa barang-barangmu! Kamu nggak bisa bayar uang kost, itu artinya enyah dari sini! Dasar miskin tak berguna!”

Wanita itu menatap angkuh laki-laki berperawakan tinggi di depannya. Laki-laki itu bernama Rehan, berumur delapan belas tahun, masih SMA dan sekarang diusir dari kost.

Rehan sudah menempati kost itu selama satu tahun dan menunggak bayar selama tiga bulan. Dia tak mampu membayar karena penghasilannya sebagai kuli panggul di pasar akhir-akhir ini hanya cukup untuk makan saja.

Rehan tumbuh dalam dunia yang seolah tak pernah benar-benar memeluknya. Sejak bayi, dia sudah kehilangan kedua orang tuanya, dan satu-satunya tempat bersandar hanyalah sang kakek—sosok renta yang memberinya kasih sayang sederhana, namun hangat dan tulus. Hingga usia lima belas tahun, hidup Rehan mungkin tak mewah, tapi cukup untuk membuatnya merasa memiliki rumah.

Semua berubah saat kakeknya pergi untuk selamanya. Sejak itu, Rehan seperti terlempar ke dunia yang asing. Dia harus hidup mandiri. Tinggal di kost dan memenuhi kebutuhannya sendiri.

Rumah peninggalan kakek yang seharusnya menjadi tempat berteduh, justru dijual oleh saudara. Mereka bilang, dia bukan bagian dari keluarga. Kakek menemukannya di tempat sampah waktu bayi. Banyak yang menduga, orang tuanya sudah meninggal atau memang tak menginginkannya sejak bayi. Sejak saat ini mereka menyebutnya sebagai yatim piatu.

Hari-harinya diisi dengan kerja tanpa henti. Pagi sekolah, sore hingga malam menjadi kuli panggul di pasar. Tubuhnya memang semakin kuat, otot-ototnya terbentuk secara alami dari kerasnya kehidupan.

Di sekolah, penderitaan itu tak berhenti. Seragam lusuh dan sepatu usang menjadi bahan ejekan. Tatapan merendahkan dan bisikan hinaan seakan menjadi musik latar yang tak pernah absen. Banyak yang melihatnya hanya sebagai “anak miskin”—bukan sebagai seseorang yang berjuang mati-matian untuk bertahan hidup.

Namun, Rehan bukan anak yang mudah runtuh. Setiap hinaan justru dia jadikan bahan bakar. Setiap rasa lapar dia telan bersama tekad yang semakin mengeras. Dia belajar diam, tapi bukan berarti kalah. Dia menunduk, tapi bukan berarti menyerah.

Di balik penampilannya yang sederhana dan kurang terawat, ada wajah tampan yang tegas dan sorot mata penuh keteguhan. Tubuhnya yang kekar bukan hanya hasil kerja keras fisik semata, tapi juga simbol dari mental yang ditempa oleh penderitaan.

Rehan mungkin tak punya siapa-siapa sekarang.

Tapi dalam dirinya, dia sedang membangun sesuatu yang jauh lebih kuat—sebuah janji bahwa suatu hari nanti, dia tidak akan lagi dipandang rendah… dan dunia akan melihatnya dengan cara yang berbeda.

“Kamu dengar nggak, Rehan! Aku bilang pergi! Penghuni kost baru mau datang sebentar lagi. Jangan sampai dia melihat penghuni sebelumnya lusuh dan miskin begini!”

Suara Sari melengking di telinga Rehan. Dia menoleh dan menatap wajah marah wanita itu. Bibirnya sejak tadi memang tertutup rapat. Dia memang salah karena belum membayar kost selama dua bulan. Tapi, bukan berarti wanita itu harus melontarkan hinaan padanya. Masalah nya Sari bukan pemilik kost itu dan hanya ditugaskan untuk mengelola.

“Aku dengar. Jangan teriak begitu.”

“Kalau dengar ya buruan pergi sana! Kenapa diam saja?” tanya Sari dengan kedua tangan berada di pinggang.

“Kasihan amat jadi gelandangan.” Suara ejekan terdengar dari kamar kost sebelah.

Sosok laki-laki seumuran dengan Rehan muncul sambil menguap dan tangan yang menggaruk perut. Namanya Anto, adik Sari yang seumuran dengan Rehan. Kerjaannya cuma tidur, main dan makan.

Rehan tak menyahut. Dia memungut dua tas yang di lempar oleh Sari. “Selamat tinggal, terimakasih.”

“Ya, tak sudi aku melihatmu lagi. Sudah miskin, penampilan lusuh dan ah menyebalkan.” Sari mengibaskan rambutnya kemudian masuk ke dalam salah satu kamar tempatnya tinggal.

Rehan meninggalkan kost yang ditinggalinya selama satu tahun itu dengan berjalan kaki. Dia hanya memakai sandal jepit tua yang sudah pernah putus dan disambungkan kembali. Dia menutup telinganya, tak mau mendengar teriakan Anto yang memakinya lagi.

Sudah cukup!

Rehan harus mencari kost dan pekerjaan baru yang lebih menguntungkan, karena sebentar lagi lulus SMA dan akan masuk universitas ternama. Ya, dia diterima masuk universitas lewat jalur prestasi dan mendapat beasiswa sampai lulus. Hanya saja, biaya kuliah juga banyak. Dia harus mempersiapkan diri dengan matang.

“Manto, aku boleh tinggal di kontrakan mu satu atau dua hari? Aku baru diusir dari kost dan butuh tempat tinggal sementara.”

Rehan menghubungi Sumanto, temannya selama menjadi kuli panggul di pasar Senen Raya. Setelah mendapat persetujuan, dia bergegas menuju ke kontrakan Sumanto yang berada di dekat pasar dengan berjalan kaki.

“Capeknya.” Rehan menaruh tasnya di teras kontrakan Sumanto. Kontrakan sempit itu dihuni oleh lima orang. Sudah tak ada cukup ruang lagi—jika ada penghuni baru. Rehan hanya ingin menaruh barangnya dan tidur di teras untuk sementara, sampai mendapat tempat tinggal baru.

“Kasihan sekali kamu, Rey!” Sumanto geleng-geleng kepala sambil duduk di sebelah Rehan.

“Mau bagaimana lagi, Bang. Aku belum bayar tiga bulan. Aku tahu salah, tapi mbak Sari juga pilih kasih.” Rehan mengibaskan tangannya karena tidak ada udara di teras sempit kontrakan itu. Bangunannya diapit kanan kiri dan depan oleh bangunan lain.

“Pilih kasih gimana?” tanya Sumanto penasaran.

“Salah satu penghuni kost, sengaja ngedeketin mbak Sari. Setiap hari kasih rayuan gombal. Karena bucin, itu orang nggak bayar kost sepuluh bulan pun, nggak bakal diusir,” jawab Rehan.

Sumanto geleng-geleng kepala. “Sabar saja. Siapa tau nasibmu berubah setelah ini,” ucapnya sambil menepuk bahu Rehan. “Kamu masih muda, tampan dan gagah. Siapa tau ada janda kaya yang tertarik.”

Rehan hanya tersenyum. “Bisa saja kamu ini, Bang.”

Rehan geleng-geleng kepala. Dia berdiri kemudian merenggangkan tangannya. “Aku mau ke pasar, Bang. Cari buah atau sayuran sisa yang masih segar. Bisa dimasak, lumayan.”

“Yasudah hati-hati. Kita libur ke pasar. Hari minggu ini buat istirahat saja.”

Rehan menganggukkan kepala. Dia berjalan menuju ke pasar mencari tumpukan buah dan sayur yang sudah disortir. Masih ada yang bagus dan bisa di konsumsi.

“Lumayan,” ucapnya sembari memasukkan sayur sawi ke dalam kantong kresek.

Tiba-tiba dari arah depannya ada sesuatu yang berkilau. Rehan langsung menyipitkan mata. “Apa itu?”

Rehan berjalan mendekat. Dia duduk jongkok lalu mengambil benda berkilau tadi. Sebuah liontin dengan batu permata berwarna biru safir.

“Milik siapa? Bagus sekali.” Rehan suka dengan benda antik. Dia melihat kanan dan kiri kemudian memasukkan liontin itu ke dalam saku.

“Aku rasa cukup.” Rehan berjalan beberapa langkah hingga menemukan buah-buahan segar dan sayuran bersih berkumpul di satu titik.

“Loh dari mana datangnya? Bukannya tadi nggak ada?”

Langsung saja Rehan mencari kantong kresek lagi dan memungutnya. Setelah itu, dengan riang gembira, dia berjalan pulang ke kontrakan Sumanto.

Saat di jalan, perut Rehan mendadak sakit. Dia lupa belum makan sejak pagi. Tangannya merogoh kantong celana, menemukan uang recehan disana.

“Nggak bakalan cukup buat beli makan… “

Rehan memegang perutnya. Dia mulai lemas karena lapar. Saat melihat warung buka, kakinya melangkah begitu saja, tanpa memikirkan uangnya cukup atau tidak.

“Mau apa kamu?” tanya pemilik warung, melihat penampilan lusuh Rehan.

“Beli makan.”

“Uangnya dulu.”

Rehan menelan ludah. Hanya ada tiga ribu rupiah di dalam kantong celananya. “Itu—”

“Biar aku saja yang bayar, Mbak. Biarkan dia memilih apapun yang di suka.”

Rehan menoleh. Dilihatnya wanita anggun dengan baju sedikit terbuka. Belahan dadanya terlihat begitu nyata. Wanita itu menoleh dan menunjukkan senyum di bibir merahnya.

“Ma---makasih.”

“Sama-sama.” Wanita itu meraih tangan Rehan. “Sebaiknya duduk dulu dan pilih makanan kesukaan kamu.”

Matanya mengerling dengan centil membuat dada Rehan berdebar aneh.

Lanjut membaca
Lanjut membaca