

Suara deru mesin bus malam yang melintasi jalur Pantura terdengar seperti dengung lebah yang tak henti-henti di telinga Irfan Adiputra. Pemuda berusia dua puluh dua tahun itu menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang dingin, menatap deretan lampu jalan yang melesat cepat di kegelapan Jawa Tengah. Di tangannya, selembar brosur lusuh yang menjanjikan "Gaji Dollar di Sektor Layanan Pelanggan Kamboja" digenggamnya erat-erat, seolah itu adalah tiket emas menuju kehidupan yang lebih layak bagi ibunya di kampung.
Di dalam bus itu, Irfan teringat masa-masa bekerja di pabrik sepatu di Semarang, sebelum jam delapan pagi harus sudah mengisi absensi otomatis, terlambat satu menit saja sudah masuk daftar merah, dan kena sanksi pemotongan gaji. Dia selalu tepat jam tujuh lebih tiga puluh menit atau lebih sedikit, sampai di tempat kerja. Tapi kerja keras dan kerja tepat waktu bukan jaminan untuk mendapatkam apresiasi dari atasan. Ia diberhentikan karena fitnah keji dari teman kerjanya yang tidak suka cara kerja Irfan yang lurus. Dua bulan kemudian setelah pemecatan itu, Irfan kembali bekerja di pabrik tekstil. Tapi naasnya, pabrik itu pun gulung tikar.
Irfan dan kawan-kawannya memutuskan pergi ke Kamboja bermula dua minggu lalu di sebuah warung kopi di pinggiran kota Banjarnegara. Pak Broto, pria paruh baya dengan senyum yang tampak terlalu tulus dan jam tangan emas yang mencolok, meyakinkan Irfan bahwa ijazah SMA-nya sudah lebih dari cukup. "Kamu anak pintar, Fan. Eman-eman kalau cuma jadi kuli panggul di pasar. Di Kamboja, kamu cuma duduk di depan komputer, AC dingin, makan ditanggung, dan sebulan bisa kirim sepuluh juta ke rumah," kata Pak Broto saat itu sambil menepuk bahu Irfan.
Irfan, yang baru saja kehilangan pekerjaan karena pabrik tekstil tempatnya bekerja gulung tikar, merasa ini adalah jawaban atas doa-doanya. Ia tidak menaruh curiga saat Pak Broto meminta paspornya diurus secara kilat melalui "jalur belakang" dengan biaya yang dipotong dari gaji pertama. Ia bahkan tidak bertanya mengapa mereka harus terbang melalui jalur yang memutar, transit di beberapa kota kecil sebelum akhirnya mencapai perbatasan.
Yang membuat Irfan dan kawan-kawannya yakin dengan Pak Broto, dia tidak mensyaratkan untuk membayar dengan jumlah banyak yang mencekik calon pekerja.
"Kita sudah sampai di titik kumpul, Fan. Jangan bengong terus," suara Mas Danu, rekan satu rombongannya yang lebih senior, membuyarkan lamunan Irfan. Ia tersenyum pahit merasakan kebodohannya.
Bus berhenti di sebuah gudang tua yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon jati. Di sana, sebuah minibus hitam sudah menunggu. Irfan melihat ada tiga pemuda lain yang tampak sama cemasnya dengan dirinya. Tak ada koper mewah, hanya tas ransel berisi pakaian seadanya dan harapan yang membumbung tinggi.
Perjalanan dari Jawa Tengah menuju pelabuhan tikus di Sumatra terasa seperti mimpi buruk yang panjang. Mereka dipindahkan dari satu kendaraan ke kendaraan lain layaknya komoditas dagang. Pak Broto sudah tidak terlihat lagi sejak mereka meninggalkan Banjarnegara, posisinya digantikan oleh pria-pria berwajah dingin dengan tato di lengan yang tak segan-segan membentak jika ada yang bertanya terlalu banyak.
"Hp kumpulkan semua! Ini demi keamanan jalur agar tidak terlacak polisi," bentak salah satu penjaga saat mereka hendak naik ke kapal kayu kecil di tengah malam buta. Irfan dan beberapa orang yang lain saling berpandangan dalam kegelapan. Ada yang berbisik, "Kenapa jadi takut terlacak polisi? Berarti kita masuk negara lain secara tidak sah? Dan kenapa kita naik kapal kayu begini?"
"Bisik-bisik apa kalian? Sudah jangan berisik, yang penting kita sampai ke seberang dengan selamat" penjaga yang lain ikut membentak, membuat Irfan dan kawan-kawannya semakin ragu, tapi terpaksa bungkam, menikmati alunan ombak yang akan mengombang-ambingkan kapal kayu kecil itu. Mereka berdiri mematung, tenggelam dalam pikiran masing-masing, akankah mereka mendapatkan pekerjaan sesuai yang dijanjikan?
Salah satu penjaga mengumpulkan HP Irfan dan kawan-kawannya. Di ponsel Irfan itu ada foto ibunya, satu-satunya penyemangatnya. Namun, moncong pistol yang terselip di pinggang sang penjaga membuat nyali Irfan menciut. Ia menyerahkan benda itu dengan tangan gemetar. Saat kapal mulai membelah ombak menuju perbatasan internasional, Irfan menatap ke arah belakang, ke arah daratan yang perlahan menghilang. Ada perasaan tidak enak yang menyelinap di ulu hatinya, sebuah firasat bahwa janji manis Pak Broto hanyalah umpan untuk jebakan yang mematikan.
Setibanya di sebuah kamp di wilayah terpencil Kamboja yang dikelilingi pagar kawat berduri, realitas menghantam Irfan seperti godam. Tidak ada kantor mewah dengan AC. Yang ada hanyalah barak sempit dengan bau apek dan ratusan komputer tua. Di sana, Irfan dipaksa bekerja 18 jam sehari sebagai operator penipuan daring. Jika target harian tidak tercapai, cambukan atau setruman listrik adalah imbalannya.
Irfan bekerja di bawah tekanan yang menyengsarakan, ia harus menipu dan merayu calon korban, pekerjaan yang jauh dari naluri kemanusiaan. Sudah empat bulan bekerja dan berakhir dengan 'tidak dibayar' setiap bulannya karena tidak pernah mencapai target. Dalam keputusasaan yang mencekik, ia ingin pulang ke Indonesia, tapi tak ada uang penghasilan sama sekali.
Namun, kengerian yang sebenarnya baru dimulai ketika Irfan secara tidak sengaja mendengar percakapan sang "Big Boss" dengan seorang pria berpakaian medis di kantor belakang.
"Kita baru mengeksekusi lima orang untuk pengambilan ginjal. Kita butuh lima orang lagi untuk dieksekusi. Kau cari orang-orang itu yang tak berguna lagi untuk bekerja daring. Anak yang namanya Irfan itu, fisiknya bagus. Ginjalnya pasti laku mahal di pasar gelap Thailand. Dia sudah tidak produktif menipu, lebih baik kita 'preteli' saja minggu depan," ujar suara serak di dalam sana.
"Sudah lima orang korban berhasil di 'preteli' organnya. Apakah mereka yang berangkat bersama dari Banjarnegara atau dari tempat lain?" pikir Irfan merinding karena ngeri. Dan kini mereka menargetkan dirinya untuk dieksekusi.
Dunia Irfan seakan runtuh. Ia bukan lagi seorang pekerja; ia hanyalah sebuah suku cadang manusia yang menunggu waktu untuk dibongkar. Tapi Irfan tidak bodoh seperti yang mereka kira. Setelah mendengar rencana mereka untuk mem 'preteli' nya, ia tidak tinggal diam. Ia pun berencana harus melarikan diri dari tempat di ambang penderitaan, bahkan kematian.
Malam itu, di bawah hujan lebat yang mengguyur Poipet, Irfan tahu ia harus lari, atau ia tidak akan pernah melihat matahari terbit lagi. Dengan sisa tenaga dan keberanian yang muncul dari rasa takut akan kematian, ia mulai merencanakan pelarian mautnya menuju perbatasan, berharap ada keajaiban yang membawanya kembali ke tanah air, meski itu berarti ia harus terdampar di tempat yang sama sekali asing baginya: Batam.