

BAB 1: PEMUDA YANG DITOLAK DUNIA
Hujan mengguyur kota Valcara dengan kejam.
Air memenuhi jalanan sempit berlumpur, menyeret sampah dan sisa makanan ke selokan yang sudah tersumbat sejak musim kemarau lalu. Langit di atas berwarna abu-abu tebal, seolah kerajaan Argentia sengaja menutup mata terhadap kota bawah yang terabaikan ini.
Kenzo Arvandis berlari.
Kakinya telanjang, menginjak bebatuan tajam dan pecahan kaca tanpa merasa apa-apa. Tubuhnya kurus, tulang-tulang rusuknya nyaris menembus kulit yang kusam dan kotor. Pakaian yang ia kenakan hanyalah sehelai kain tipis berwarna cokelat yang sudah sobek di beberapa bagian.
Di belakangnya, tiga orang berlari mengejar.
"Mau kabur ke mana, tikus?!" teriak salah satu dari mereka.
Suara itu milik Dargo. Pemuda bertubuh besar dengan bekas luka melintang di pipi kanannya. Dargo adalah preman yang menguasai distrik tujuh, wilayah termiskin di kota Valcara. Ia dikenal kejam, tidak punya belas kasihan, dan senang menyiksa orang yang tidak mampu membayar pajak perlindungannya.
Kenzo tidak menjawab. Ia tidak punya tenaga untuk berteriak. Paru-parunya terasa seperti terbakar. Kakinya mulai goyah. Ia sudah berlari sejak dua blok yang lalu, dan tubuhnya yang tidak pernah mendapat asupan makanan layak mulai menyerah.
"Keparat!"
Tangan besar Dargo mencengkeram bahu Kenzo dari belakang. Jari-jarinya seperti penjepit besi yang menghimpit tulang. Kenzo terjerembap ke tanah. Lututnya membentur batu. Air hujan membasahi seluruh tubuhnya.
Dua orang lainnya segera datang dan menendang perut Kenzo tanpa kata.
"Bugh!"
Kenzo mengerang. Sakit. Tapi bukan kali pertama. Ia sudah terbiasa dengan rasa sakit. Dua puluh dua tahun hidup di jalanan mengajarkannya satu hal: rasa sakit adalah teman terbaik, karena setidaknya itu membuktikan ia masih hidup.
"Kau kira bisa lari dari aku?" Dargo membungkuk, menatap Kenzo dari atas. Air hujan menetes dari rambutnya yang dikepang kasar. "Kau sudah tiga bulan tidak bayar pajak. Tiga bulan, Kenzo."
Kenzo menatap tanah. "Aku... tidak punya uang."
"Tidak punya uang?" Dargo tertawa. Suaranya keras dan kasar, bergema di antara dinding-dinding bangunan kumuh di sepanjang jalan. "Semua orang di distrik ini tidak punya uang. Tapi mereka semua bisa bayar. Kenapa kau tidak bisa?"
Karena Kenzo benar-benar tidak punya apa-apa. Tidak punya pekerjaan tetap. Tidak punya keluarga yang bisa dimintai tolong. Tidak punya tetangga yang peduli. Ia adalah bayangan yang berjalan di antara manusia-manusia yang saling menginjak demi bertahan hidup.
"Tolong," desah Kenzo. "Berikan aku waktu. Aku akan mencari cara."
"Waktu?" Dargo mencondongkan tubuhnya. Mata kecilnya menyipit. "Aku sudah kasih waktu tiga bulan. Kau pikir aku ini badan amal?"
Dargo mengangkat tangannya lalu menampar wajah Kenzo dengan penuh tenaga.
"Pagh!"
Kepala Kenzo terpental ke samping. Rahangnya bergetar. Rasa logam menyebar di mulutnya. Darah menetes dari sudut bibirnya ke genangan air hujan di bawah, menciptakan pola merah yang segera terhanyutkan arus.
"Satu minggu lagi," geram Dargo. "Kalau kau masih tidak bayar, aku potong jarimu satu per satu. Mulai dari yang paling kecil."
Dargo berdiri dan meninggalkan Kenzo tergeletak di jalan. Dua orang preman lainnya mengikutinya, menendang tubuh Kenzo sekali lagi sebelum pergi.
Kenzo tidak bergerak.
Ia terbaring di tengah hujan, menatap langit abu-abu di atasnya. Air hujan memukuli wajahnya tanpa henti, mencampur darah dan kotoran.
Kapan ini berakhir?
Pertanyaan itu sudah muncul di kepalanya ribuan kali. Sejak ia masih kecil. Sejak ia ditinggalkan di depan panti asuhan yang tidak pernah benar-benar mengasuhnya. Sejak ia keluar dari panti itu pada usia lima belas tahun dan menyadari bahwa dunia ini tidak punya ruang untuk orang yang tidak punya apa-apa.
Kenzo menutup matanya.
Malam itu, Kenzo berbaring di lorong belakang sebuah toko roti yang sudah tutup. Tubuhnya masih basah. Bibirnya membiru. Rasa sakit di seluruh tubuhnya membuatnya sulit bernapas.
Ia tahu ia harus bergerak. Jika tertidur dalam kondisi ini, ia mungkin tidak akan pernah bangun lagi. Tapi tubuhnya tidak mau mendengar perintahnya.
Sekarang juga mati pun tidak masalah, pikirnya. Tidak ada yang akan merasa kehilangan.
Lalu, tepat ketika kesadarannya mulai menghilang, sesuatu terjadi.
Ruangan di sekitarnya berubah.
Bukan secara fisik. Jalanan tetap sama. Dinding bata tua tetap di tempatnya. Hujan tetap turun. Tapi ada sesuatu yang berubah di dalam matanya—atau mungkin di dalam pikirannya.
Sebuah layar muncul.
Layar itu transparan, berwarna kebiruan, melayang tepat di depan wajahnya. Tulisan-tulisan di dalamnya bercahaya lembut, seolah ditulis dari cahaya bulan. Kenzo mengira itu halusinasi. Mungkin otaknya sudah mulai rusak karena kelaparan.
Tapi tulisan itu terlalu jelas. Terlalu terstruktur. Terlalu nyata.
[ DETEKSI MAKHLUK HIDUP ]
[ Nama : Kenzo Arvandis ]
[ Usia : 22 Tahun ]
[ Status Ekonomi : Titik Terendah ]
[ Kondisi Fisik : Kritis ]
[ Kesesuaian : 99,97% ]
[ ... ]
[ SISTEM DUNIA EKONOMI AKTIFKAN? ]
[ Ya / Tidak ]
Kenzo menatap layar itu tanpa berkedip. Hujan menetes melewati hologram itu tanpa gangguan, membuktikan bahwa layar itu bukan benda fisik.
Sistem dunia ekonomi?
Ia tidak mengerti apa artinya. Tapi kata "Ya" dan "Tidak" terasa seperti undangan yang tidak bisa diabaikan. Seolah seluruh alam semesta menunggu keputusannya.
Kenzo tidak punya alasan untuk hidup. Tapi ia juga tidak punya alasan untuk mati. Dan rasa penasarannya—satu-satunya hal yang belum mati di dalam dirinya—membuatnya memilih.
Ia mengangkat tangannya yang gemetar dan menyentuh kata "Ya".
Seketika, tubuhnya tersentak.
Bukan sakit. Tapi seperti gelombang energi yang mengalir dari ujung rambut hingga ujung kaki. Seluruh sel tubuhnya bergetar. Napasnya yang sebelumnya tersengal menjadi panjang dan dalam. Rasa sakit di tulang-tulangnya memudar. Bibirnya yang membiru kembali mendapat warna.
Dan di depan matanya, layar berubah.
[ SISTEM DUNIA EKONOMI : TERPASANG ]
[ Pengguna : Kenzo Arvandis ]
[ Tingkat : Level 1 ]
[ Kemampuan Aktif : ]
[ - Pengaruh Ekonomi Pasif (Menghasilkan kekayaan otomatis sesuai tingkat) ]
[ - Pengaruh Keputusan (Setiap keputusan ekonomi pengguna akan diikuti oleh massal) ]
[ - Proteksi Kebangkrutan (Pengguna tidak dapat jatuh ke titik nol. Sistem akan menolak.) ]
[ ... ]
[ SAHAM DUNIA YANG DIKUASAI : 0,01% ]
[ Target Minimum : 80% ]
Kenzo membaca setiap baris dengan seksama. Ia tidak sepenuhnya memahaminya, tapi satu kalimat tertancap di kepalanya seperti pisau.
Pengguna tidak dapat jatuh ke titik nol. Sistem akan menolak.
Tidak bisa miskin?
Sebelum ia sempat memikirkan lebih lanjut, sebuah notifikasi baru muncul.
[ TRANSFER MASUK PERTAMA ]
[ Sumber : Akumulasi Pengaruh Ekonomi Level 1 ]
[ Jumlah : 5.000 Koin Perak ]
Koin perak. Di kerajaan Argentia, seribu koin perak setara dengan gaji satu bulan pekerja biasa. Lima ribu koin perak berarti lima bulan gaji. Dan itu masuk ke dalam akunnya yang bahkan tidak pernah ia miliki sebelumnya.
Sebuah kartu logam tipis muncul tanpa ia sadari di samping tubuhnya, tertanam di genangan air hujan. Kartu itu berwarna hitam pekat dengan lambang yang tidak ia kenali di permukaannya. Di bawah lambang itu, tertulis namanya: KENZO ARVANDIS.
Kenzo mengambil kartu itu dengan tangan yang masih gemetar.
Ia tidak tahu apa yang baru saja masuk ke dalam hidupnya. Ia tidak tahu apa itu sistem dunia ekonomi. Ia tidak tahu mengapa ia yang dipilih.
Tapi untuk pertama kalinya dalam dua puluh dua tahun, ia merasa bahwa mungkin—hanya mungkin—dunia tidak sepenuhnya menutup pintunya.
Kenzo menggenggam kartu itu erat-erat.
Lalu ia berdiri.